Tanifund Gagal Bayar, Mau Bangkrut?

Frasa Tanifund Gagal Bayar ini sekarang paling banyak muncul di kepala para lender Tanifund. Pasalnya, P2P lending yang sebelumnya berkinerja dengan baik kini semakin tidak memuaskan. Hal itu ditunjukkan dengan turunnya TKB90 dari semula (sebelum triwulan IV 2021) masih 100% dan kini (saat tulisan ini dibuat) hanya menjadi 93,20%.

Buat yang belum tahu TKB90 adalah ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara fintech-peer-to-peer (P2P) lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo. Sederhananya, Tanifund tidak bisa membayar setelah 90 hari dari tanggal jatuh tempo itu. Alias gagal bayar.

Otak purba saya berpikir, turunnya TKB90 secara siginifikan tersebut sudah sebuah red flag, pertanda bahwa terjadi sesuatu d Tanifund. Apakah ada fraud di sana ataukah manajemennya menjadi sangat buruk?

Sudah lama saya ingin menulis soal itu, tetapi perasaan tidak enak muncul karena Co-Founder Tanifund, yang sekarang menjadi CEO-nya, Pamitra Eka, adalah kawan seangkatan saya di Matematika ITB 2005. Bahkan kami masih berada di grup yang sama. Ingin bertanya langsung, tapi nggak enak.

Keanehan-keanehan dalam Proses Bisnis Tanifund

Kabar keterlambatan pengembalian pertama yang saya terima tahun lalu adalah pada proyek budidaya kambing. Nilainya 5 juta. Tidak begitu besar, sehingga saya masih merasa biasa-biasa saja.

Saat terlambat dari jatuh tempo, statusnya menjadi terlambat. Ketika dalam 30 hari belum ada pengembalian, statusnya menjadi kurang lancar. Lalu ketika lebih 90 hari belum ada pengembalian juga, statusnya menjadi macet.

Saya tampilkan alasan keterlambatan tersebut:

Melalui surat ini, kami bermaksud memberikan informasi penting terkait dengan perkembangan Proyek Budidaya Kambing Idul Adha Cianjur – 1, periode 1 Mei 2021 – 31 Oktober 2021. Pihak peminjam mengalami kendala pada budidaya yang dilakukan sehingga berdampak kepada pengembalian yang semestinya jatuh tempo pada tanggal 31 Oktober 2021. Saat ini, upaya penyelesaian pengembalian sedang dilakukan dan akan segera kami sampaikan perkembangan dari pengembaliannya.

Itu adalah isi email pada saat pengembalian hasil tidak bisa dilakukan pada tanggal jatuh tempo. Bandingkan dengan alasan yang diberikan pada saat proyek macet (sudah 90 hari):

Adapun keterlambatan pembayaran pinjaman Mitra Kelompok Ternak STJ dilatarbelakangi oleh situasi yang kurang kondusif pada saat Idul Adha 2021. Saat itu, gelombang varian Covid-19 yang baru, yaitu Delta, sedang melonjak. Hal ini menyebabkan permintaan ternak kambing menurun drastis dan kambing yang dibudidayakan belum dapat terjual dengan baik.

Bila kita berpikir kritis, ada keanehan dalam dua penjelasan tersebut. Pertama, pada email pertama dikatakan bahwa upaya penyelesaian pengembalian sedang dilakukan. Secara implisit, Tanifund mengatakan bahwa uangnya ada, tapi belum bisa dikembalikan. Atau pihak Tanifund belum memahami masalah yang ada hingga jatuh tempo? Kedua, alasannya adalah kondisi yang kurang kondusif pada saat Idul Adha 2021 yang jatuh pada tanggal 20 Juli 2021 yang notabene terjadi 3 bulan sebelum jatuh tempo. Lalu bagaimana kontrol Tanifund terhadap proses tersebut? Sebab hingga satu bulan sebelum jatuh tempo, status proyek masih dikatakan lancar. Pengembalian bunga per akhir bulan masih berjalan dengan baik. Ketiga, dikatakan bahwa permintaan ternak kambing menurun drastis dan kambing yang dibudidayakan belum dapat terjual dengan baik. Ini artinya, kambingnya ada, tidak mati. Hanya saja belum terjual. Lalu apa kontrol Tanifund terhadap itu?

Nah di sinilah saya kemudian bertanya melalui email tentang laporan realisasi dari proyek tersebut yang sampai hari ini tidak dikirimkan. Ketika TF meminta pendanaan, ada proposal rencana dari proyek. Ketika selesai, lender sama sekali tidak diberikan transparansi kejelasan jalannya proyek.

Manajemen Tanifund tampak sangat bobrok sekali karena tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Jangan-jangan benar bahwa pihak Tanifund tidak punya kontrol tentang jalannya proyek, atau bahkan tidak punya kekuatan untuk menagih?

Ada beberapa proyek lain yang bermasalah yang bisa dikulik satu-satu, tapi mungkin akan saya kulik pada edisi berikutnya.

Asuransi Tanifund yang Tidak Sesuai Kata-kata

Lalu bagaimana setelah gagal bayar? Awalnya saya berpikir, kalau pun gagal bayar, ya sudah, asuransinya kan 80%. Di aplikasi, masih tertera bahwa asuransinya “Guaranteed 80%”. Namun di penjelasan email ditulis “hingga 80%”. Tentu berbeda jauh ya maknanya.

Saat itu saya berpikir, ya walaupun hingga 80%, mungkin 70%. Ternyata tidak. Pihak asuransi hanya membayarkan hanya sekitar 30%.

Per tahun 2021, provider asuransi mulai memberlakukan kebijakan stop-loss, yakni bahwa P2P Lending hanya dapat melakukan klaim sebesar persentase dari premi yang sudah dibayarkan. Selama ini biaya premi asuransi dari proyek-proyek yang Anda danai sudah ditanggung oleh TaniFund. Untuk mengupayakan proteksi yang maksimal kepada pendana, TaniFund telah memilih mitra provider asuransi yang dapat memberikan persentase klaim terbaik bagi para pendana.

Jawaban dari Pihak Tanifund selalu template seperti itu. Saya punya bukti-bukti ucapan dari pihak Tanifund menulis asuransinya 80%, bukan hingga 80% yang mungkin akan saya sertakan di tulisan lain di media yang lebih umum. Dan apakah layak Tanifund mengklaim telah memilih mitra provider asuransi yang dapat memberikan persentase klaim terbaik bagi para pendana? Jancok kan!

Isu-isu Lain Terkait Tanifund

Sebenarnya banyak beredar isu lain terkait Tanifund yang mungkin akan saya tulis di tulisan lain di media yang berbeda. Mulai dari isu kebangkrutan misalnya.

Seperti kita tahu beberapa waktu lalu Tanihub menutup usahanya dan hanya menyisakan 2 tempat. Selain tidak melayani konsumen lagi dengan mengubah pola usahanya menjadi b2b. Isu liarnya adalah selama ini hasil pertanian dari Tanifund diserap oleh Tanihub. Karena Tanihub sudah mengerucut (kalau tidak mau dibilang menuju bangkrut), jadi tidak ada lagi yang membeli produk pertanian dari petani dari Tanifund.

Isu lain juga muncul, kalau kamu mengetik Tanifund di Twitter. Ya hanya Twitter tumpuannya sebab kolom Instagram dimatikan jadi lender tidak bisa sambat di sana. Ada yang mengatakan bahwa TKB90 100% itu akal-akalan Tanifund saja karena selama ini pihak Tanifund “bakar duit” untuk melakukan pengembalian tersebut. Saya bisa agak membenarkan ini karena pernah dalam obrolan santai di grup, Eka bilang bahwa Tanifund berbagi risiko dengan asuransi untuk menutupi kerugian. Namun tahun 2021, lupa pastinya kapan, ia bilang Tanifund tidak lagi menanggungnya. Tapi tenang saja katanya, “Tim Tanifund benar-benar menyeleksi para penerima dana yang hampir 0% gagal bayar.”

Hari-hari belakangan kalimat itu jadi omong kosong. Karena saya curiga, ekspansi Tanifund yang tadinya proyeknya sangat jarang (karena selektif) menjadi lebih banyak bisa jadi malah menimbulkan celah. Seperti tulisan investigasi di Deal Street Asia, ada petani yang melapor tidak pernah mengajukan pendanaan tapi mendapatkannya dari penjamin.

Belum lagi isu TKB90 di Tanifund bisa jadi lebih rendah karena ada beberapa proyek kecil yang dengan tempo singkat yang bisa berguna menaikkan TKB90 itu.

Apapun itu, shame on you, Tanifund. Saya tahu segala hal memiliki risiko, tapi ya jangan seanjing ini juga.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

6 Comments

  1. Case nya sama pak dengan yg saya alami, setelah triwulan 4 2021 TKB90 nya menurun drastis. Sekarang pendanaan saya yg berjalan di 2022 yang sudah jatuh tempo statusnya telat bayar semua 😣

  2. Sama.
    Terasa aneh karena saat project baru tidak lg keluar, semua project yg jatuh tempo statusnya jadi late

  3. sama nih pak..

  4. Sama nih pak.. Project2 pendanaan saya di Tanifund yang jatuh tempo sejak bulan Mei 2022 sampai sekarang ini beruntun gagal bayar semua ketika jatuh temponya tiba.. padahal kelompok tani yang dibiayai berlainan, dan daerahnya juga berbeda-beda.. ga ada berita juga bahwa daerah-daerah tsb terjadi force majeure seperti banjir bandang, gempa bumi atau sebangsanya..
    Bahkan proyek gagal bayar yang pertama yaitu Budidaya Nanas Malang – 3, itu aneh.. Karena beberapa hari sebelum proyek tsb jatuh tempo, Tanifund ada membuka pendanaan Budidaya Nanas Malang – 4, untuk kelompok tani yang sama dengan kelompok tani pada Budidaya Nanas Malang – 3, dan dengan total nilai pendanaan yang sama besar pula.. Kalau memang dana tersebut disalurkan ke kelompok tani tsb, tentunya mereka dapat membayar dong pinjaman yang sebelumnya.. jadi pinjaman yang baru menjadi rollover dari pinjaman sebelumnya.. tapi ini koq tidak bisa bayar..??
    Setelah ngomel-ngomel di email & WA, minta penjelasan yg masuk akal kenapa project budidaya nanas tsb tidak bisa dibayarkan, barulah sebulan kemudian muncul penyelesaian pembayarannya.. Tapi itu tampaknya untuk sekedar meredakan suasana saja.. karena beberapa hari kemudian 2 project pendanaan lain berturut-turut diinformasikan Terlambat bayar juga..

    Tidak satupun project pendanaan yang jatuh tempo di bln Mei 2022 sampai sekarang ini yang tidak gagal bayar… Hadeuh.. jadi kebayang sekian banyak project pendanaan lain yang belum jatuh tempo.. kemungkinan akan bernasib sama semua nih.. Ampunnn deh !

  5. Mas, saya juga sama ini, saya korban tanifund, proyek dari mei 2021 yang durasinya hanya 6 bulan, tapi sampai juni 2022 saya belum mendapatkan dana saya kembali. Mas bisa tolong balas email ke saya. saya ingin mendata siapa saja yang merasa dirugikan di P2P Tanifund.

    1. Saya juga ada 1 yang statusnya Macet dan belum dikembalikan, sudah lebih dari 90 hari.
      Saya baru tahu kalo Asuransi ternyata hanya janji manis.

      Baru saja dapat info mengenai keterlambatan satu lagi yang bulan ini jatuh tempo. Semoga tidak menjadi tanda buat keterlambatan yang lain. Apakah kita harus menuntut secara hukum?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *