Strategi Ngemil Bijak Biar Tetap Sehat

Bagaimana rasanya berat badan bertambah lebih dari 10 kg selama hanya 3-4 bulan?

Aku yang menggemuk.

Aku pernah mengalami hal tersebut. Pada waktu itu, aku masih berkuliah di ITB, Bandung. Tiba-tiba aku mengalami tragedi patah hati yang membuatku tertekan. Anehnya, bukan kehilangan selera makan, patah hati membuatku ingin selalu mengunyah. Persediaan cokelat selalu tidak pernah habis. Sambil bermain game, menonton drama Korea, batang demi batang cokelat kuhabiskan. Kalau merasa kurang, malam-malam aku keluar kos, nongkrong di warmindo (istilah untuk warung mi) dan menandaskan semangkuk mi rebus atau mi goreng pakai telur.

Alhasil, beratku semula yang hanya 54-56 kg naik menjadi 68 kg. Alamakjang!

Efek pertama yang kurasakan adalah aku tidak lagi kuat berdiri lama. Sepertinya tulang kakiku kaget harus menahan bobot tubuh yang berlebih. Lebih-lebih lagi, di bagian tumitku terasa nyeri. Ketika ke dokter, aku baru tahu aku terkena plantar fasciitis atau peradangan jaringan ikat pada bagian bawah tumit dan telapak kaki yang menghubungkan tulang tumit dan jari-jari kaki.

Akhirnya aku bertekad menurunkan berat badan. Sejumlah olahraga kulakukan mulai dari jogging pagi hari, sit up dan push up, hingga bermain bulu tangkis. Alhasil, dalam 2 bulan berikutnya, berat badanku kembali ke 60 kg.

Namun, satu hal yang tidak bisa hilang. Kebiasaan ngemilku. Untuk mengatasi agar berat badanku tidak bertambah lagi, aku pun perlu memikirkan strategi ngemil secara bijak.

Strategi Ngemil Bijak

Pertama, hitunglah kalori dengan cermat. Kita harus membangun kesadaran bahwa kalori yang masuk ke dalam kita harus lebih sedikit dari kalori yang kita keluarkan. Hal itu mengandung dua alternatif konsekuensi yaitu kita harus cermat memilih atau mengurangi camilan atau kedua kita harus menambahkan waktu berolahraga untuk membakar kalori yang sudah masuk ke tubuh kita.

Sumber: Yonatandi

Perhatian kita terhadap kalori itu akan membuat kita bijak dalam memilih. Misalnya yang paling sederhana adalah minum teh manis. Saya tidak bisa tidak minum teh manis dalam sehari. Itu wajib. Namun, saya sudah tidak pernah dan tidak mau membeli minum teh dalam kemasan.

Tahukah teman-teman bahwa kandungan gula teh dalam kemasan itu rata-rata melebihi 20 gr atau sama dengan minimal 4 sendok teh. Angka itu sama dengan 8 sendok makan nasi. Kalorinya sekitar 110 kkal. Kalau teman-teman nekat minum teh dalam kemasan, artinya teman-teman harus komitmen jogging minimal 15 menit. Atau teman-teman bisa memilih untuk tidak minum teh dalam kemasan lagi, dan memilih membuat teh sendiri dengan pemanis yang rendah kalori.

Begitu pula dalam memilih camilan yang dijajan di warung-warung. Saya pasti akan selalu melihat informasi kandungan di bungkus camilan bagian belakang. Biar saya tahu dan bisa menotal kalori yang masuk dalam tubuh.

Kedua, perhatikan waktu ngemil. Pada prinsipnya seperti puasa. Kita perlu mengistirahatkan perut kita kalau bisa 12 jam sehari. Jadi, mulai dari jam 7 malam sampai jam 7 pagi, sebisa mungkin tidak ada makanan/camilan yang masuk ke perut kita. Dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam adalah waktu mencamil. Kalau saya sih biasanya waktu Dhuha (jam 10-an) atau bakda Ashar tuh dialokasikan khusus buat minum teh manis dan camilan.

Ketiga, jauhi gorengan. Gorengan yang kumaksud adalah gorengan yang biasa dijajakan di jalanan. Aku mengharamkan gorengan karena kandungan minyaknya yang tinggi dan minyak buat menggorengnya pun sudah entah jelantah ke berapa. Kalau gorengan yang diolah sendiri, masih makruhlah. Kadang-kadang aku masih suka menggoreng otak-otak sendiri.

Keempat, stok buah-buahan. Camilan terbaik bagiku tetap buah-buahan. Aku beruntung sekarang tinggal di daerah yang stok buah-buahannya murah dan melimpah. Aku juga menanam sendiri pepaya, mangga, jambu biji yang bisa dengan mudah kukonsumsi. Sebagian ahli berpendapat, ada beberapa buah-buahan yang mengandung gula yang tinggi sehingga tidak bagus juga untuk menjaga berat badan. Namun, sebagian ahli yang lain mengatakan, gula buah, yaitu fruktosa, tidak memiliki efek seberbahaya glukosa.

Sumber: SehatQ

Camilan buah-buahan ini berguna juga apabila dalam jam puasa malam tadi kita tiba-tiba pengen menguyah tak tertahankan. Buah-buahan bisa jadi solusi karena tidak akan berefek banyak ke berat badan.

Kelima, camilan rendah kalori. Pada intinya, poin 1, 3, dan 4 juga adalah tentang memilih camilan rendah kalori. Namun ini lebih spesifik karena pasti ada di antara kita yang berpikir masa sih buah bisa disebut sebagai camilan? Camilan itu kan harus yang dibungkus plastik-plastik gitu lho.

Sumber: BPGuide.

Sekarang sudah banyak banget produk camilan rendah kalori. Istriku tuh misalnya, kalau beli roti tawar atau biskuit, selalu minta yang terbuat dari gandum. Karena katanya, kandungan serat roti gandum itu lebih bagus buat pencernaan.

Tahu kuaci? Aku punya pengalaman menarik waktu kelas 2 SMA. Jadi kami saat itu kompak banget sekelas, setiap hari urunan buat beli kuaci. Setiap jam pelajaran kosong, kami akan pesta kuaci di kelas. Ternyata, kuaci itu punya kandungan vitamin dan mineral yang tinggi lho dan tidak bikin kita gemuk. Malah imut kayak hamster. Eh.

Aku pun selalu menjaga persediaan camilan di rumah. Apalagi di masa pandemi ini. Tahu kan tadi aku cerita, ternyata aku itu punya eskapisme mengunyah kalau stress. Pengennya makan melulu. Makanya benar juga kata orang-orang, bukan cuma di luar rumah yang harus pakai masker, melainkan di dalam rumah juga, biar menjaga mulut nggak makan saja.

Apa yang kuutarakan di atas tidak jauh berbeda dari kiat yang diberikan oleh Mondelez.

3 Tips #NgemilBijak dari Mondelez :

  • Kenali isyarat tubuh mengapa teman bloger ingin ngemil, misalnya apakah karena lapar ataukah perlu untuk mengembalikan mood.
  • Kemudian teman bloger bisa memilih apa camilan yang tepat berdasarkan isyarat tubuh tersebut, tentunya dengan memperhatikan porsi camilan dan waktu ketika ngemil.
  • Perhatikan bagaimana teman bloger ngemil, dengan memaksimalkan semua indera kita, karena kita akan dapat mengenali isyarat tubuh, kapan harus berhenti ngemil.

Penyebab kebiasaan ngemil itu hampir selalu bukan karena lapar. Entah kenapa, ngemil bisa bikin bahagia, bisa mengembalikan mood yang rusak karena tekanan yang dihadapi. Kebiasaan ngemil yang tidak terkendali berarti juga menunjukkan ketidakmampuan kita menghadapi masalah dan mengelola stress. Karena itu, buat yang senasib dengan saya, cara penyerta untuk bisa ngemil bijak adalah mencari eskapisme yang lain. Biasanya saya ke air terjun. Jangan jadikan ngemil sebagai satu-satunya jalan keluar.

Dan ngemil itu harus dengan kesadaran. Istriku yang tidak lelah mengingatkan bahwa aku harus makan pelan-pelan. Kunyah dan rasakan camilan yang kita makan. Ini kayaknya sederhana ya, tapi berkhasiat banget karena kita jadi tahu kapan harusnya berhenti.

Satu hal yang haru kutekankan kenapa kita harus ngemil bijak. Seperti pengalamanku di awal, kelebihan berat badan itu nggak enak. Bukan cuma terlihat gemuk, tidak ganteng/cantik, tapi kegemukan bisa mendatangkan penyakit. Dan kita nggak pernah tahu penyakit apa yang akan menimpa kita apabila makan tidak bisa kita kontrol. Karena itu yuk, mari jaga kesehatan kita dengan ngemil bijak, sadar penuh pada apa yang kita masukkan ke dalam tubuh kita. Caiyo!

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Ngemil Bijak yang diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis” dengan menyertakan tautan https://bit.ly/lombablogngemilbijak dan memasang banner lomba.”

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *