Review Film Ilo Ilo, Anthony Chen

Review film Ilo Ilo ini ditulis oleh Rama Firdaus.

Judul: Ilo Ilo
Tahun: 2013
Sutradara: Anthony Chen
Genre: Drama
Negara: Singapura
Durasi: 1 jam 39 menit
Skor: 5/5

Mengambil setting tahun 1998 ketika krisis moneter menyapu nyaris seluruh dataran Asia, Anthony Chen menyajikan dinamika keluarga kelas menengah di Singapura. Debut film fitur Anthony Chen ini sukses menjadi film Singapura pertama yang menyabet piala Camera d’Or di festival Cannes.

Baca Dulu: Review Film House of Hummingbird

Premisnya sederhana, dikisahkan pasutri di Singapura yang memutuskan menyewa pembantu sebab kesibukan mereka bekerja dan juga untuk mengurus anak mereka yang nakal. Meski premisnya sesederhana itu, apa yang dikandung film ini lebih dari itu.

Dengan naskah yang ditulisnya, Anthony Chen berhasil memotret kondisi pasang-surut keluarga kelas menengah yang terdampak krisis moneter, bagaimana periode pelik ini juga mengakibatkan disfungsi pada keluarga tersebut.

Keluarga ini sendiri terdiri dari sang suami, Teck (Chen Tianwen), istri, Hwee Leng (Yeo Yann Yann), anak pertama yang masih kecil, Jiale (Koh Jia Ler), dan anak kedua yang masih dikandung Hwee Leng. Angela Bayani memerankan sosok pembantu imigran Filipina, Terry (Teresa), yang disewa oleh Teck dan istrinya.

Di awal-awal film, kita disodori kenakalan-kenakalan Jiale, hingga akhirnya Terry hadir sebagai pengasuhnya. Pada awalnya Jiale menolak Terry dan berlaku kurang ajar kepadanya, tapi lama-kelamaan terjalin hubungan yang erat di antara mereka. Jiale sebenarnya hanya butuh sosok seorang ibu, dan tanpa disadarinya, ia menemukannya pada Terry. Terry yang memandikannya, Terry yang menjemputnya ke sekolah, Terry yang menegurnya saat ia berbuat salah, dsb. Pendeknya, Terry melengkapi satu kepingan puzzle yang hilang di masa kanak-kanak Jiale: kasih sayang dan kehangatan orang tua/ibu.

Tentu kedua orang tua Jiale tidak bisa disalahkan begitu saja. Amarah Hwee Leng yang berlebihan ketika melihat anaknya bermain tamagotchi saat makan siang dan amarah Teck ketika membuang Tamagotchi beralasan. Pengabaian mereka terhadap Jiale ada juntrungannya. Kondisi ekonomi yang carut-marut membuat mereka kalang kabut. Seperti banyak karyawan lain di masa itu, Teck terkena PHK massal, banting stir menjadi satpam, sementara Hweng Lee bekerja mati-matian sambil dihantui kecemasan bahwa sewaktu-waktu ia bisa saja terkena PHK seperti banyak rekan kerjanya. Kecemasan merekalah biang keladi goyahnya keharmonisan keluarga, memberi suasana murung yang cukup berat pada film yang justru didominasi warna pastel dengan pencahayaan yang cerah ini.

Dari sinilah secara implisit kita diajak melihat bagaimana krisis moneter di tahun 1997 menutupi peran orang tua dalam sebuah keluarga, membuat mereka menjadi robot tanpa perasaan yang gila kerja. Adegan ketika Teck dan Hwee Leng merayakan ulang tahun anaknya nampak artifisial dan jauh dari kata hangat. Justru di adegan inilah, Terry menunjukkan perannya yang lebih dari sekadar hubungan di antara pembantu dan anak majikannya. Kecemburuan Hwee Leng kepada Terry ketika anaknya lebih menyukai masakan pembantunya itu menunjukkan bahwa identitas seorang ibu itu sebetulnya masih melekat padanya.

Saya suka akting Koh Jia Ler dan Angela Bayani. Chemistry di antara mereka begitu kuat. Kehangatan di antara mereka tumbuh perlahan, natural, lewat adegan dan dialog yang sederhana dan acapkali lucu.

Koh Jia Ler bermain dengan baik, kenakalan menyebalkan khas bocah bau kencur tersampaikan lewat mimik wajah dan bahasa tubuhnya.

Pun Angela Bayani, ia bermain dengan sangat apik. Terry diketahui menjadi TKA demi menghidupi bayinya di kampung halamannya. Kegelisahannya sebagai single parent ditunjukkan lewat akting yang natural. Kita bisa melihat kegelisahan itu dari wajahnya yang kusam dan berminyak, dari gurat kelelahan di wajahnya, dari tatapan murungnya di saat ia hendak tidur di malam hari. Kita juga diberi petunjuk dari mana kegelisahan itu berasal, juga tentang masa lalunya yang kelam. Ketika menyaksikan tetangga majikannya bunuh diri, ia memandangnya dengan raut kaget bercampur ngeri, lantas kamera membidik samar-samar bekas luka sayat di pergelangan tangannya. Terry pernah mencoba bunuh diri. Saya menduga ia melakukannya ketika mengetahui dirinya hamil di saat masa-masa sulit akibat krisis moneter. Kemampuan Anthony Chen menyampaikan sesuatu secara singkat dan padat lewat bahasa visual/adegan subtil tanpa dialog patut dipuji. Ini didukung akting Angelina Bayani lewat mimik wajahnya. Adegan ini juga menunjukkan maraknya fenomena bunuh diri di saat krisis moneter 1998. Kita juga mendapat gambaran betapa peliknya situasi ketika itu, sampai-sampai mengandung anak dianggap musibah, alih-alih anugerah.

Film ini juga menyorot goyahnya hubungan di antara pasutri Teck dan Hwee Leng, bagaimana krisis moneter membuat hubungan di antara mereka menjadi gersang. Meski Hwee Leng hamil, sepanjang film kita tidak melihat suka cita sepasang pasutri yang menanti kelahiran anak mereka. Keharmonisan mereka hanya tertinggal pada sebuah foto pernikahan mereka di kamar. Nyaris sepanjang film mereka nampak sibuk memikirkan kondisi ekonomi keluarga dan uang untuk mengurus calon bayi. Calon jabang bayi itu seakan-akan menjadi tidak lebih dari sesuatu yang mau tidak mau harus mereka terima dengan terpaksa.

Tadinya saya mengira film ini akan diberi formula film-film tearjerker tentang pembantu atau tenaga asing yang mendapat perlakuan abusif majikannya. Nyatanya Anthony Chen membuat filmnya menjadi sajian drama bersahaja yang dibumbui konflik-konflik kecil. Hal ini yang membuat filmnya nampak realistis dan relatable. Konflik seperti seorang ibu rumah tangga yang cemburu sebab merasa perannya sebagai seorang ibu direnggut oleh pembantunya, sebab anaknya lebih menyukai masakan pembantunya mungkin pernah dialami ibu rumah tangga lainnya. Film ini hanya membutuhkan rentetan konflik kecil untuk menggambarkan disfungsi keluarga dibanding ledakan-ledakan konflik seperti di adegan “lempar sepiring asparagus brengsek” di film “American Beauty” misalnya. Anthony Chen juga menyelipkan humor-humor kecil yang mampu membuat saya tersenyum tipis.

Film “Ilo Ilo” pada akhirnya bisa menjadi representasi kondisi keluarga ekonomi kelas menengah di masa krisis moneter 1997, tidak hanya di Singapura, tapi di negara-negara Asia lainnya. Fenomena gelombang tenaga kerja asing (terutama perempuan) juga terjadi pada masa itu di Indonesia. Isu diskriminasi terhadap TKA dan perlakuan abusif majikan tidak urung terselip di film ini.

“Ilo Ilo” layaknya makanan lezat dan bergizi yang digarap dengan bahan-bahan sederhana, dan sebagai makanan penutup, Anthony Chen menyajikan adegan terakhir yang begitu mengharukan di saat Jiale melakukan ucapan selamat tinggal kepada Terry dengan cara yang mengejutkan, kekanak-kanakan, tetapi begitu sentimentil. Saya pun tidak kuasa menahan air mata saya.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *