Paus Moby Dick

Paus Energi di Hati Manusia

Ada sebuah kenyataan menarik yang ditunjukkan dalam film In the Heart of the Sea. Film yang diadaptasi dari novel Moby Dick karya Herman Melville tersebut memperlihatkan pada awal abad ke-19, eksplorasi minyak bumi belum dikenal luas sehingga manusia masih memburu paus untuk diambil minyaknya. Tidak kurang dari 50.000 ikan paus dibunuh setiap tahun untuk “ketamakan manusia”.

Ketamakan manusia itu mewujud dalam bentuk kebutuhan energi yang selalu bertambah. Minyak bumi dan gas yang turut menandai revolusi industri diyakini tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan energi manusia.

Cadangan energi yang ada terkuras–dan di Indonesia, dalam postur APBN, kita sudah mengalami peralihan tersebut. Dari mulanya aspek penerimaan negara terdiri dari Penerimaan Migas dan Non-Migas, kini telah berubah menjadi Penerimaan Perpajakan dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Penerimaan Migas sendiri kini menjadi bagian dari Penerimaan Sumber Daya Alam di PNBP. Nomenklatur dalam postur APBN tersebut ingin mengatakan kepada kita bahwa cadangan energi yang kita miliki terus menipis, apalagi bila dibandingkan dengan kebutuhan yang ada. Produksi minyak tahun-tahun belakangan tinggal tidak sampai setengah dari produksi puncak tahun 1980.

Hal itu menyadarkan kita untuk mencari sumber energi baru, sumber energi yang dapat diperbarui, yang bisa menjamin kebutuhan energi manusia di masa yang akan datang. Berbagai negara pun berlomba menemukan teknologi baru yang dapat mengakomodasi sumber energi tersebut dengan biaya yang seefisien mungkin. Energi baru itu bukan hanya akan menjawab isu krisis energi, melainkan juga isu lingkungan dan kesehatan yang lebih baik, karena bahan bakar fosil menghasilkan polusi.

Usaha untuk mencari dan mengembangkan sumber energi alternatif itu juga dilakukan di Indonesia. Sebab, potensi energi terbaharukan di Indonesia sangatlah besar.

Pertama, Indonesia adalah negara tropis yang tidak pernah kekurangan sinar matahari. Sinar matahari sebagai sumber energi tidak akan pernah habis sampai kiamat. Saat ini sudah banyak perusahaan di seluruh dunia yang menggunakan pelat sinar matahari untuk dijadikan energi listrik. Sebut saja Apple, IKEA, Walmart, jingga Amazon. Pemerintah Indonesia sendiri sudah pernah berkomitmen untuk menggunakan listrik tenaga matahari di kantor-kantor Pemerintah dan bahkan rumah dinas dengan LenSOLAR, yang merupakan Sistem Rooftop PV (Photovoltaics) yang dipasang di atap untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Potensi energi dari sinar matahari di Indonesia ini diperkirakan hingga berkapasitas 560.000 MW meski untuk mencapainya butuh waktu dan investasi yang tidak sedikit. Terbaru, 64.620 hamparan panel surya tersusun rapi di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Ribuan panel surya tersebut membentang di atas ladang seluas 29 hektar. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Likupang ini menyalurkan listrik mencapai 15 MW.

Potensi terbesar kedua adalah angin yang diperkirakan mencapai 107.000 MW. Cerita tentang pembangkit listrik tenaga angin ini mau tidak mau mengembalikan ingatan kita kepada Ricky Elson.

Ricky Elson membangun pembangkit Listrik Angin Nusantara (LAN) di Ciheras, sebuah desa terpencil di kawasan pantai selatan Tasikmalaya. Ricky dan teman-temannya juga membangun Taman Listrik Tenaga Angin Berbasis Kincir Angin Kecil di pelosok Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Di tiga desa. mereka membangun taman dengan 28 kincir bergenerator di Desa Kemanggih, taman dengan 48 kincir di Desa Tanarara, dan taman dengan 26 kincir di Desa Palindi. Semuanya ada di Sumba Timur.

Pemerintah sendiri sudah memiliki pembangkit listrik tenaga bayu di Sidrap dan Jeneponto. Namun, kapasitasnya masih 135 MW, masing-masing 75 MW di Sidrap dan 60 MW di Jeneponto. Dibandingkan negara-negara seperti Tiongkok, India, atau negara-negara Timur Tengah, Uni Eropa, Amerika Selatan, bahkan Afrika, Indonesia masih jauh tertinggal. Total penambahan kapasitas listrik dari tenaga angin ini sudah mencapai 62 GW tahun lalu.

Selain, matahari dan angin, Indonesia punya laut yang luas, juga hydro (air), serta panas bumi yang mencukupi untuk dijadikan sumber energi. Selain itu kekayaan lain yang menjadi kekuatan Indonesia adalah sumber energi dari makhluk hidup (bio energi).

Isu yang paling menarik dari bio energi adalah kehadiran B100. April 2019, mantan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, sudah mengklaim menemukan teknologi B100. B100 adalah biodiesel yang murni 100% menggunakan minyak kelapa sawit untuk dijadikan bahan bakar mesin (tanpa harus mencampurkannya dengan bahan bakar fosil lagi). Meski masih dalam tahap uji coba akhir, klaim ini memunculkan harapan Indonesia menjadi salah satu raksasa energi mengingat lahan kelapa sawit yang dimiliki. Meski di sisi lain, ada isu lingkungan yang harus dipikirkan. Sampai Predisen Jokowi memberi perhatian khusus dengan mengharapkan lahirnya khusus jurusan kelapa sawit agar efek samping seperti kerusakan air dan unsur hara tanah bisa diatasi.

Tidak berhenti sampai di situ, Pemerintah juga terus mencari inovasi energi terbarukan yang lain. Kompetisi inovasi energi baru dan terbarukan terus digelar baik itu bagi Pelajar, Profesional (akademisi, peneliti, praktisi, pekerja) dan Perusahaan. Tahun ini misalnya, ada kompetisi Sobat Bumi yang diadakan Pertamina.

Pengembangan energi terbarukan ini sebenarnya menciptakan ruang kesempatan baru, terutama bagi masyarakat Indonesia di wilayah-wilayah terpencil yang justru sekarang belum merasakan manfaat energi seperti listrik. Pelosok pedesaan dan daerah terpencil merupakan wilayah yang ideal bagi pengembangan teknologi Energi Terbarukan karena hal tersebut memberi peluang bagi peningkatan nilai tambah terhadap sumber Energi Terbarukan di pedesaan, dan beberapa pemanfaatan Energi Terbarukan dapat diusahakan dengan memanfaatkan kandungan lokal yang tinggi.

Pernah saya berjalan-jalan ke Air Terjun Ai Putih di Kuang Amo, Sumbawa Besar. Jauh dari kota Sumbawa. Saat baru masuk hutan, saya bertemu dengan tim dari kantor vertikal ESDM yang hendak mengukur debit air untuk menilai kelayakan pembangunan pembangkit tenaga listrik mikro hidro agar bisa menerangi desa-desa kecil di sekitarnya. Adik kelas saya punya cerita. Ia memenangkan lomba karya tulis ilmiah tingkat SMA dengan menulis tentang briket arang dari limbah kayu gelam yang banyak ditemukan di Sumatra Selatan terutama di pedalaman dan perairan pedalaman dan perairan yang sering didera mati lampu berkepanjangan dan distribusi bahan bakar yang tidak merata.

Hanya saja, tantangan dalam pengembangan energi terbarukan ini utamanya adalah biaya investasi yang tidak sedikit. Harga listrik dari pembangkit energi terbarukan masih mahal.  Contohnya, harga listrik dari pembangkit surya untuk kapasitas kurang dari 10 MWp berkisar US$10,19—US$25 sen (Rp1430-Rp3.000) per kWH, sedangkan untuk kapasitas di atas 10 MWp berkisar US$5,80—US$10,59 sen (Rp850-Rp1485) per kWh. Sebagai perbandingan, India telah mampu mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan harga yang murah, yakni bisa mencapai sekitar US$3,3 sen atau Rp460 per kWh. Perlu investor untuk mengembangkan teknologi agar harga produksi yang dihasilkan semakin efisien.

Presiden perlu fokus pada aksi strategis untuk mendorong investasi di sektor energi terbarukan. Selain memberikan insentif ke PLN untuk mengembangkan energi terbarukan lewat Performance Based
Regulation
(PBR), berdasarkan target pencapaian energi terbarukan atau pun memberikan insentif pada daerah untuk mengembangkan energi terbarukan, misalnya lewat parameter kapasitas ET sebagai basis perhitungan dana transfer/dana perimbangan (DAU), APBN perlu dioptimalkan untuk menarik investasi swasta.


Perjalanan dalam mencari energi baru dan terbaharukan ini hendaknya membuat kita tetap melihat paus-paus yang mati di dalam Moby Dick. Ya, paus adalah makhluk hidup. Pikiran pendek kita akan berkata paus-paus itu dapat kawin, beranak, berkembang biak. Tidak masalah jika diburu.

Namun, paus-paus itu semakin langka. Dan kini menuju kepunahan.

Minyak bumi pun demikian. Ditemukan di perut bumi. Ditambang di daran dan di dasar laut. Ternyata cadangan itu pun terbatas. Suatu saat akan habis.

Ada pelajaran penting yang dipetik, yaitu pada titik terpentingnya, manusia harus hormat dengan alam. Manusia harus meyakini alam sebagai sebuah siklus yang harus dijaga keseimbangannya. Jangan sampai kebutuhan energi malah menyingkirkan unsur lain yang pada akhirnya akan merusak keseimbangan alam tersebut.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

22 Comments

  1. Aku sempet ke pulau buru ada beberapa lokasi yang listrik aja bahkan dibatasi hanya bisa nyalain lampu satu dan kipas angin satu. Jam 2 malam listrik mati. Jadi penerangan di sana seadanya. Air bahkan susah. Kembali dari sana lebih banyak bersyukur.

  2. Kasihan sekali, paus-paus itu. memang makin langka ya. Dan sekarang minya bumi juga langka.
    Saya akan makin perketat pemakaian sumber daya perminyakan deh, sebagai upaya untuk melestarikann juga

  3. Ini sama dengan kesombongan orang-orang yang mengatakan aspal Buton itu tidak berbatas.
    Nyatanya, setelah berpuluh tahun ditambang tanpa prosedur yang baik, pada akhirnya di satu titik udah habis dan kosong melompong, mereka lalu berpindah ke titik satunya, di mana hanya ada 2 titik itu, hhh..

    Sama kayak hewan-hewan yang langka ya, kayak paus-paus itu

  4. Saya berharap semoga ke depannya pemerintah semakin serius dengan sumber energi terbarukan. Saya dengar di beberapa tempat, masyarakatnya bisa swadaya. Semoga bisa didukung pemerintah.

  5. Pada akhirnya, sebagai sesama mahluk kita harus saling menjaga dan melestarikannya ya. Satu sama lain dalam bumi ini saling berkaitan. Kita harus bersama menjaga dan saling melindungi…

  6. Di Kementerian ESDM itu kan ada Direktorat Jenderal Energi Baru dan Terbarukan ya, Bang. Saya berharap sekali Indonesia bisa memaksimalkan sumber energi tersebut sebagai pengganti minyak bumi. Mungkin teknologinya belum kita ketahui atau berbiaya besar, tapi terus terang, saya suka salut sekaligus iri pada negara seperti Jepang yang sudah memanfaatkan panel surya hingga ke desa-desa, Singapura yang menggunakan limbah sampah untuk pembangkit listrik, dan negara di Eropa (lupa namanya) yang menunggu impor sampah untuk kebutuhan bahan bakar energi mereka.

    1. Bukannya di artikel ini saya tulis ya Indonesia juga sudah punya pembangkit listrik tenaga surya?

  7. Menarik sekali, jadi teringat film dokumenter Semes7a (2019), yang membicarakan hubungan manusia dengan alam.

  8. Daku setuju mas bahwa kan isi harus hormat dengan alam, karena alam yang lebih dulu diciptakan oleh Allah Swt dan sebagai makhluk yang berakal haruslah menjaga dan merawat dengan baik

  9. Sudah saatnya kita menggarap potensi energi terbarukan yang bisa dimiliki Indonesia ya mas. Teknologi B100 bisa, B29 juga ada buat nyuci 😜

  10. Iya banget nih, sumber energi nanti pada saatnya akan habis ya. Perlu semakin ditingkatkan pada penggunaan sumber energi terbarukan, dan bukan sumber energi berbasis fosil lagi. Dan tentu, perlu dimasyarakatkan lebih luas lagi program penghematan energi.

  11. Kemarin banget aku baca sekilas tentang B100 dan minyak sawit. Selain masalah isu lingkungan, kepikiran juga “apa nggak rebutan ya dengan kebutuhan sawit buat produksi pangan?” Tapi mungkin nggak ya, kalo pohon sawit tuanya diremajakan dulu biar produksinya meningkat lagi.

    Btw, apa kabar biji jarak yang beberapa tahun lalu digadang-gadang bisa jadi sumber energi pengganti BBM?

  12. Iya nih minyak bumi makin langka, apa2 yang ada di dalam bumi kalau kita eksplor tentu lama-lama akan habis. Aku juga sudah nulis tentang tips menghemat listrik untuk ibu rumah tangga nih secara listri juga kan bahan baku pengelolaannya dari batu bara yang terbentuk dari fosil. Lama-lama fosil habis nih padahal untuk membentuknya butuh jutaan tahun… huhu…

  13. memang ya kadang kita manusia terlalu serakah. hanya mencari keuntungan sendiri tanpa memikirkan alam. Semoga pemerintah bisa tegas untuk hal ini dan masyarakat nurut dengan hukum. jadinya alam bisa lebih baik lagi dan manusia lebih banyak bersyukur.

  14. Selalu suka sama tulisan Kak Pring. Kali ini tentang energi terbarukan, ketamakan manusia, kebutuhan akan investasi untuk pengembangan energi terbarukan, hingga manusia memang harus hormat pada alam.

    Senang bisa mendapat insight menarik dari tulisan ini.

  15. Ketika bahan bakar yg dibutuhkan untuk kesejahteraan masyarakat di pedalaman justru penemuan brilian dari anak-anak bangsa ini akan sangat berguna ya

  16. Suka banget sama gaya kakak mengulas sebuah masalah dan dikaitkan dengan solusi sehingga energi terbarukan kedepan dapat tercipta dan konsisten. Semangat kak

  17. Energi yang disediakan bumi ini sungguh banyak dan harus digunakan sebaik mungkin. Tak semua bisa terbarukan jadi harus bijaksana

  18. Setelah membaca tulisan ini, saya telah mendapatkan wawasan baru serta menyadarkan saya bahwa harus berhemat juga sebab energi pasti ada habisnya.

  19. Menjaga keseimbangan alam memang penting. Apalagi dalam kehidupan ini kita saling melengkapi, jadi kalau ada makhluk yang dibinasakan untuk merauk kepentingan diri semata, rasanya kejam banget.

  20. potensi energi terbarukan bisa membantu untuk mendapatkan sumber energi terbaru ya

  21. Kita musti bijak ya dalam mengolah energi dan saat memakainya untuk kelangsungan nya ke depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *