Para Lord Sastra dan Kelas Omong Kosongnya

Julukan ‘Lord’ seharusnya memang tidak eksklusif untuk pemain bola saja. Kehormatan tersebut harus diberikan juga ke tokoh-tokoh di bidang lain, termasuk di bidang sastra.

Tidak sembarang orang layak dipanggil ‘Lord’. Butuh alasan yang berbeda-beda dan sangat istimewa hingga kita tergerak menggunakannya. Sebut saja, Nicklas Bendtner. Mantan pemain Arsenal itu mendapatkan gelar tersebut karena kepercayaan dirinya. Dalam suatu wawancara, ia ditanya rencana jika kontraknya habis bersama Arsenal. Bendtner menjawab ingin pindah ke Madrid atau Barcelona. Nyatanya, setelah itu karirnya mandek. Ia sempat tidak mendapatkan klub dan menjual dirinya di Instagram untuk menunjukkan kondisinya yang fit.

Tentu saja ada ‘Lord’ jenis lain seperti Jesse Lingard dan Choupo-Moting. Jesse Lingard yang sangat berbakat itu menjadi ‘Lord’ karena gaya hidupnya dan momen-momen konyol di lapangan hijau (meski setengah musim lalu, ia bangkit bersama West Ham). Sementara Choupo-Moting mendapat panggilan kehormatan serupa tatkala malah menghadang bola yang sebenarnya sudah mau masuk ke gawang lawan.

Orang-orang dengan kepercayaan tinggi ini bertebaran di dunia sastra. Semangat sekali mereka menyebut diri penulis, penulis yang bagus, pengampu kelas paling ahli, hingga kurator paling cadas. Padahal, kita bisa mempertanyakannya.

Beberapa waktu lalu, Bung Besar mengajakku ngobrol. Dia membagikan tulisan seorang kurator di media massa besar yang hendak mengampu kelas menulis. “Hei Pring, kenapa kau tak ikut kelas menulis ini saja?” tanyanya dengan nada sarkas. Sebab sudah rahasia umum bahwa banyak orang ingin ikut kelas tersebut karena akses untuk berkenalan dengan kuratornya… yang kautahulah, rahasia kesuksesan itu adalah orang dalam.

Jangan-jangan aku berlebihan mensikapi gejala ini. Jangan-jangan sikap berlebihan ini yang justru membuat gejala sakitku meningkat. Bukankah hati yang riang itu obat segala penyakit? Kalau panik begini bukankah malah tambah sakit?

Tentu saja, Bung Besar ingin mengetesku. Ia seolah berkata carilah kesalahan dalam tulisan tersebut.

Yang jelas terlihat adalah kata mensikapi. Harusnya menyikapi. Namun, ini masalah permukaan saja. Bisa saja Lord Sastra mengelak dengan berkata, aturan berbahasa itu tidak mengikat.

Yang fatal jelas logikanya. Di kalimat pertama, sang tokoh masih merasa “jangan-jangan aku berlebihan”. Artinya, sang tokoh belum 100% merasa berlebihan. Namun, di kalimat kedua, sang tokoh berkata, “jangan-jangan sikap berlebihan ini yang justru bla bla”. Artinya, dia sudah merasa 100% berlebihan.

Bung Besar mengirimkan baris lain kepadaku:

Sayangnya ini serupa kesia-siaan
yang mungkin akan aku sesap sampai remah

Apa yang keliru?

Begini, sebelum bermajas, kita harus memahami makna kamus/leksikal. Hal itu perlu sekali dilakukan agar kemudian kita mampu melahirkan imaji/citraan yang tepat.

Silakan cek di kamus, apa arti kata sesap? Apa pula arti kata remah?

Sesap adalah isap. Berhubungan dengan benda cair. Remah adalah konsistensi tanah yang bersifat mudah pecah. Berhubungan dengan benda padat.

Pertanyaannya, bagaimana baris-baris tersebut mampu menghasilkan citraan utuh? Nggak perlu dibahas tepat atau tidak dulu.

Lord Sastra jenis ini banyak sekali. Bertebaran, terutama di media sosial. Mereka menulis dengan bahasa yang meliuk-liuk, tapi tidak jelas logikanya. Kalimat saktinya: semakin susah dipahami, semakin sastra.

Nah, Lord Sastra jenis ini digugat oleh Lord Sastra jenis lain, meski sama-sama satu klan dengan Bendtner, sama-sama narsis.

Dalam suatu kesempatan dia menulis, “Cerpen buruk lebih mengerikan dari kusta. Ia menulari banyak orang.

Membaca itu, aku nggak tahu di mana bagian yang “lebih mengerikan” dari kusta. Tidak ada penjelasan yang memadai. Apakah kusta tidak menulari banyak orang?

Lord Sastra ini adalah seorang penulis kawakan. Ia menggugat kurator media yang dianggap tidak memiliki kompetensi untuk memilih cerpen yang baik. Cerpen-cerpen koran buruk karena itu.

Puncaknya, Lord Sastra ini bertingkah seolah Bendtner setelah membobol gawang Barcelona. Padahal hasil akhirnya, 4 gol balasan disarangkan ke gawang Arsenal.

Dia bertindak manipulatif. Mengirim cerpen ke sebuah media massa. Padahal cerpen itu karya murid kelas menulisnya. Tulisan seorang Lord pasti dimuat walau buruk. Tapi tulisan yang ia kirim itu bagus karena selain paragraf pertamanya ia yang tulis, keseluruhan cerita sudah ia sunting.

Pada titik itu, aku menyadari wajar dia diberi gelar Lord. Otaknya konslet.

Apa yang hendak ia buktikan? Cerpen itu dimuat karena bikinan seorang Lord? Atau karena apa?

Aku merasa premis-premis dalam klarifikasi yang ditulis begitu heroik itu nggak jelas. Seperti kata Bung Besar, kalau premisnya saja sudah ngaco, bagaimana simpulannya?

Namun, Lord yang satu ini banyak pengikutnya. Mazhab tersendiri dalam sastra, sampai-sampai ketika ia kalah dalam sebuah penghargaan sastra, ada orang-orang yang membela bahwa ia yang seharusnya menang. Eh, yang bela juga segeng ding.

Pada saat itu, aku merasa buku yang digadang-gadang itu biasa saja. Ya bagus, tapi kalau dibandingkan dengan yang menang, ya bagusan yang menang. Kedua buku itu aku punya dan aku baca.

Cuma memang siapa yang berani bersuara melawan Lord? Dalam kondisi jelas-jelas pidana, karena sudah masuk penipuan, masih banyak orang yang bela. Terutama murid yang karyanya dipakai. Malah merasa bangga. Otaknya konslet juga.

Mungkin Lord kita mengajarkan di kelasnya, bahwa dimuat di media massa sama mulianya dengan naik haji!

Terus terang, membaca baris-baris klarifikasinya, aku membayangkan Aldi Taher, Lord kita di bidang yang lain. Yang terbaca: saya punya kelas menulis, cerpen saya bagus, dan saya pasti dimuat. Konslet.

Aku pun mencoba membaca cerpen itu, yang sayangnya jarang dibaca dekat oleh orang. Lebih asik bahas skandalnya ya, kan?

Ia adalah Akina, wanita Jepang bersepatu merah tumit tinggi, sepatu yang berbunyi seperti tapak kuda setiap ia melangkah. Aku tak pernah melihat perempuan secantik itu datang ke rumahku.

Begitulah salah satu paragraf di dalam cerpen tersebut. Bagus? Nggak.

Paragraf ini tidak nyambung. Ia tidak menampakkan Akina sama sekali. Ia malah menampakkan sepatu merah tumit tinggi. Dan setelah itu dia bilang, Akina adalah perempuan secantik itu.

Sebenarnya saya mau kasih contoh paragraf-paragraf lain untuk menunjukkan bagaimana kalimat yang berdarah-darah itu ditulis. Tapi malas.

Sebagai penutup, saya ingat Bung Besar lagi. Mungkin Bung Besar benar. Katanya, kalau ketemu para Lord, suruh mereka menulis premis cerita yang mereka tulis. Pasti kelimpungan.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *