Mourinho, Disrupsi, dan Kepemimpinan Transformatif

Sejenak, kita harus mengangkat topi kepada Jose Mourinho yang berhasil mencatat sejarah sebagai pelatih pertama yang memenangkan 3 kompetisi Eropa berbeda. Kemenangannya bersama AS Roma kali ini menambah rekornya yang tidak pernah kalah di 5 final piala di Eropa.

Yang tampak dari Mourinho adalah kepemimpinannya. Seorang manajer dalam sepak bola modern memang dituntut untuk memiliki kualitas manajerial sekaligus kualitas kepemimpinan yang luar biasa untuk memegang sebuah tim. Sosok seperti Mourinho itu yang diharapkan hadir dalam organisasi publik dengan menerapkan kepemimpinan transformatif.

Kepemimpinan transformatif merupakan gaya kepemimpinan yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh bawahan untuk mendukung visi dan tujuan organisasi. Melalui transformasi nilai-nilai tersebut, diharapkan hubungan baik antar anggota organisasi dapat dibangun sehingga muncul iklim saling percaya di antara anggota organisasi.

Kepemimpinan transformatif ini pertama kali dikemukakan oleh Mc Gregor Burns yang secara garis besar adalah tentang leadership and performance beyond expectations. Seperti itulah kehadiran Mourinho tatkala membawa Porto dan Inter Milan juara, termasuk mengakhiri puasa gelar AS Roma dalam 14 tahun terakhir.

Kepemimpinan transformatif memiliki beberapa ciri. Pertama, Idealized Influence, yang mempunyai makna bahwa pemimpin transformatif adalah sosok pemimpin yang mempunyai pengaruh yang sangat kuat yang membuat bawahannya untuk mengikuti pimpinan. Pemimpin transformatif menjadi role model yang dikagumi, dihargai, dan diikuti oleh bawahannya. Karisma yang dimilikinya ditunjukkan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi Organisasi, pendiriannya yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap keputusan yang telah diambil serta menghargai bawahan. Kedua, Inspirational Motivation yang berarti karakter pemimpin yang mampu mendorong bawahannya kepada tingkat yang lebih tinggi. Ketiga, Intellectual Stimulation yang berarti mampu mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat dan rasional. Karakter ini mendorong bawahan untuk selalu kreatif dan inovatif dalam mencari cara baru yang lebih efektif didalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Keempat, Individualized Consideration. Seorang pemimpin harus mampu memahami sebuah perbedaan dan karakter individu bawahannya. Pemimpin transformatif juga mampu mendengarkan aspirasi bawahannya serta melihat potensi dan keinginan bawahannya.

Mourinho berkata, “Bagi saya kepemimpinan dan pemimpin lebih dari sekadar kualitas dan status. Pemimpin adalah orang yang mampu mengajak setiap orang untuk mengikutinya tanpa berpikir dua kali.”

Seorang pemimpin yang transformatif juga harus mampu melakukan beberapa hal sebagai berikut :

  1. memahami visi dan misi organisasi;
  2. memahami lingkungan organisasi melalui analisis lingkungan strategis (SWOT);
  3. merumuskan rencana strategis organisasi;
  4. menginternalisasikan visi, misi, kondisi lingkungan strategis, dan rencana strategis pada seluruh anggota organisasi;
  5. mengendalikan rencana strategis melalui manajemen pengawasan yang tepat;
  6. memahami kebutuhan para anggota;
  7. memahami kapasitas para anggota;
  8. mendistribusikan pekerjaan sesuai dengan kapasitas anggota;
  9. mengapresiasi hasil pekerjaan anggota.

Dalam era disrupsi, kepemimpinan transformatif di dalam organisasi publik seperti di atas sangat dibutuhkan. Perubahan terjadi dengan begitu cepat. Konteks perubahan yang sedang dihadapi sekarang ini adalah era revolusi industri 4.0 dan era Society 5.0. Secara umum, era ini ditandai dengan adanya kecanggihan teknologi yang dapat mempermudah dan mempercepat semua akses informasi yang juga turut mempengaruhi kecepatan aktivitas dimensi lain dalam kehidupan manusia. Sebutan lain era ini adalah era digital atau revolusi digital karena semua terjadi dan dilakukan di dunia maya yang ditandai oleh adanya proliferasi komputer dan otomatisasi pencatatan di semua bidang. Clayton M. Christensen dalam buku The Innovator’s Dilemma menggambarkan era ini penuh dengan inovasi dilematis, yaitu inovasi yang melahirkan kemudahan sekaligus menimbulkan masalah karena hal yang lazim atau konvensional berubah menjadi tak lazim.

Menurut Saefudin (2008), pengertian proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui oleh individu, mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. Proses keputusan inovasi bukan kegiatan yang dapat berlangsung seketika, tetapi merupakan serangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan yang baru itu sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau menerima inovasi dan menerapkannya.

Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, hingga pendidikan. Termasuk juga dalam pelayanan publik.

Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah. Perubahan ini dituntut terjadi tidak hanya tersentralisasi yang didorong oleh pusat semata, tetapi juga lahir dari tangan-tangan pemimpin di daerah.

Namun, yang perlu diingat adalah inovasi itu bukan tanpa risiko. Karena itulah menjadi penting bagi para pemimpin di daerah untuk mempersiapkan dan menantang keterbatasan yang ada dan proses dengan mengambil risiko dan mengeksperimenkannya. Di sinilah hal yang dikatakan Mourinho, tentang percaya pada pemimpin menjadi krusial. Di sisi lain, para pemimpin mendorong para bawahannya untuk mengambil risiko dan bereksperimen serta memperlakukan kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar daripada diperlakukan sebagai celaan. Dimensi ini fokus pada sejauh mana pemimpin dapat menumbuhkan komitmen inovasi dalam organisasi.

Baru-baru ini viral tentang Bima Arya, Walikota Bogor, menerapkan kebijakan kewajiban penggunaan brand lokal bagi para jajarannya. Kebijakan ini penting untuk membangkitkan UMKM di daerah sekaligus mengubah citra wajah birokrat menjadi lebih ramah. Di sisi lain, pemimpin harus memahami perubahan teknologi menuntut kebijakan ini tidak sekadar gimik, dengan cara memasarkan produk lokal tersebut di marketplace, di media sosial. Karena itulah, Bima Arya secara tidak langsung memasarkan merek-merek lokal tersebut di Twitternya, dengan model para kepala dinas yang memakai brand lokal tersebut. Warganet pun tertarik untuk mendalami produk-produk tersebut. Contoh lain kepemimpinan transformatif juga dilakukan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Ia dan timnya merespons cepat aduan di media sosial tentang fasilitas publik yang rusak di Jawa Barat dan dengan cepat memperbaikinya.

Tentu saja, prestasi kinerja yang baik dari para birokrat harus dibarengi dengan pelayanan ke internalnya. ASN harus diperlakukan bak profesional sejati, bukan semata pengabdi. Pemimpin transformatif memperhatikan perkembangan bawahannya dan memberikan apresiasi yang layak.

Hal tersebut sejalan dengan Chandra dan Priyono (2016). Pemimpin transformasional bertugas membangun kerangka kerja struktur organisasi dengan mengedepankan perkembangan dan keinginan karyawan dengan tetap terstandar secara global dan mengikuti perubahan. Pemimpin harus dapat menumbuhkan tingkat kepercayaan diantara karyawan, serta mengakumulasi nilai-nilai pemikiran untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik, sehingga atribut dalam gaya kepemimpinan transformasional terdiri dari pengaruh yang ideal, pertimbangan individual, motivasi inspirasional dan stimulasi intelektual. Sejalan dengan hal tersebut, Avilla (2017) memberikan pandangan bahwa sebaiknya gaya kepemimpinan transformasional diterapkan karena dapat meningkatkan kemampuan pimpinan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan, membuat karyawan lebih percaya diri, menciptakan kreativitas, dan membantu karyawan mengembangkan kemampuannya.

Sebagai simpulan, bila diibaratkan disrupsi adalah lautan, pemimpin transformatif tidak takut menghadapi gelombangnya. Bila ia yakin ada cara untuk menaklukkannya, meski belum pernah ada yang mencobanya, bawahannya akan percaya dan melakukannya. Seperti ucapan Tammy Abraham tentang Jose Mourinho, bahwa ia hanya akan percaya dan melakukan apa yang diperintahkan pelatihnya itu. Seluruh pemain percaya padanya—percaya ia akan membawa mereka ke podium juara meski banyak orang meragukannya.

(2022)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *