Mengenal Parikan, Pantun Jawa Koesalah Soebagyo Toer

Parikan adalah pantun Jawa, rangkaian kalimat yang terdiri dari dua baris, baris yang pertama adalah kalimat penarik sedangkan kalimat kedua merupakan isi. Koesalah Soebagyo Toer yang merupakan adik dari Pramoedya Ananta Toer, pernah menghimpun Parikan, Pantun Jawa dalam sebuah buku yang terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian pertama, parikan tunggal (398 parikan) dan bagian kedua, parikan ganda (410 parikan).

Baca Dulu: Mengenal Sastra Tutur di Sumatra Selatan

Berikut beberapa Parikan dalam buku di atas:

Ngina

Ojo lunga ojok ngelampra,
Banjarmasin akeh ulane;
Ojok ngina sak-padha-padha,
Sugih miskin wis ganjarane.            

Jangan pergi jangan mengembara            
Di Banjarmasin banyak ularnya;            
Jangan menghina sesama manusia,            
Kaya dan miskin sudah takdirnya.

Dak-kandhani

Wetan kali kulon kali,
Arep nyabrang gak ana wote;
Biyen mula dak-kandhani,
Wong berjuang abot sanggane.

Di timur sungai di barat sungai,
Mau nyeberang tak ada jembatannya;
Dari dulu sudah kuberitahu,
Orang berjuang berat tanggung jawabnya.

Benjing

Esuk enjing sore sonten,
Nandur tela dipun guluti;
Kula benjing ndherek sinten,
Sudulur sing jawa kula tumuti.

Pagi enjing, sore sonten,
Tanam singkong di atas gulutan;
Saya besok ikut siapa,
Ikut Saudara yang pengertian yang aku ikuti.

Semaya

Gathutkaca Pringgandani,
Ana Petruk irunge dawa;
Nek semaya ojok mblenjani,
Nik kepethuk nang ati lara.

Gatutkaca dari Pringgandani,
Ada Petruk panjang hidungnya;
Janganlah langgar kalau berjanji,
Kalau bertemu di hati luka.

Wirang

Sapa duwe sabuk lulang,
Tak-tukune selikur ece;
Sapa bisa nutupi wiring,
Tak-aku sedulurku dhewe.

Siapa punya sabuk kulit,
Biar dua satu ketip kubeli;
Siapa bisa menutupi aib,
Biar kuaku sanak sendiri.

Purik

Pitik cilik aja dikurung,
Nek dikurung metu jalune;
Wong purik aja ditulung,
Nek ditulung metu atine.

Anak ayam jangan dikurung,
Kalau dikurung keluar tajinya;
Orang ngambek jangan ditulung,
Kalau ditulung besar hatinya.

Kliwat

Liwat ae gak gelem mampir,
Kasur pandhan arane klasa;
Kliwat saking nggonku mikir,
Saking pena sing gak rumangsa.

Lewat saja tak mau mampir,
Kasur pandan tikar namanya;
Setengah mati aku mikirin,
Engkau saja yang tak merasa.

Ayu

Birua kaya mangsi,
Gedhang ijo gak ana isine;
Ayua kaya putri,
Gak duwe bojo gak ana ajine.

Meskipun sebiru tinta,
Pisang hijau tak ada isinya;
Cantik apa pun seperti putri,
Tanpa suami tak ada gunanya.

Iki kayu kayune sepur,
Ilang sepure kari endhase;
Iki ayu ayune pupur,
Ilang pupure kari kadhase.

Ini kayu, kayunya kereta,
Hilang gerbongnya tinggal lokomotifnya;
Ini cantik karena bedak,
Hilang bedaknya kelihatan kadasnya.

Nggak turu nggak melek,
Ngglundhung ngisore asem;
Nggak ayu nggak elek,
Luthung nggo tamba adhem.

Tidak tidur tidak juga melek,
Rebahan di bawah pohon asam;
Tidak cantik tidak juga jelek,
Lumayanlah daripada tidak sama sekali.

Njaluk

Jeruk ya jeruk,
Ning aja diirisi;
Njaluk ya njaluk,
Ning aja karo nangisi.

Jeruk, ya bolehlah,
Tapi jangan pula diiris;
Minta, ya bolehlah,
Tapi jangan sambil menangis

Tawar

Awar-awar godhonge jati,
Godhong kluwih diiris rata;
Sapa tawar rasane ati,
Nek digawe sak-mata-mata.

Awar-awar daun jati,
Daun keluwih diiris rata;
Siapa bisa menahan hati,
Diperlakukan semena-mena.

Landa

Kacamata ilang kacane,
Tuku wajik ning Semarang;
Melu Landa cilaka dadine,
Luwih becik melu berjuang.

Kacamata hilang matanya,
Beli wajik di Semarang;
Ikut Belanda celaka jadinya,
Lebih baik ikut berjuang.

Kuning

Kunir kuning temu ireng,
Temu lawak jamu galian;
Lencir kuning dhasar ngganteng,
Kapan awak jajar lenggahan.

Kunyit kuning dan temu hitam,
Temu lawak jamu galian;
Kuning semampai dasar tampan,
Kapan kubisa duduk berdampingan.

Nurut

Garut gak kurang garut,
Ganjarane dari Kanjeng Gusti;
Nurut tak kurang nurut,
Bayarane ora nyukupi.

Garut tak kurang garut,
Ganjaran dari Kanjeng Gusti;
Nurut tak kurang nurut,
Hanya gaji yang tak mencukupi.

Baca Juga: Mengenal Umpasa dan Umpama dalam Sastra Batak Toba

Tentang Koesalah Soebagyo Toer

Koesalah Soebagyo Toer lahir di Blora, 27 Januari 1935. Anak keenam dari ayah Mastoer dan ibu Oemi Saidah. Mulai belajar menulis dan menerjemahkan sejak usia 15 tahun. Sajak, cerpen dan terjemahannya tersebar di berbagai majalah. Masuk fakultas sastra jurusan bahasa Inggris, Universitas Indonesia (1954), menjadi penerjemah pada Kedutaan Besar Cekoslowakia (1957-1959) dan wartawan kebudayaan INPS (Indonesian National Press and Publicity Service, 1959-1961). Menerjemahkan dari bahasa Inggris, Rusia, Belanda, dan Jawa., antara lain menerjemahkan karya Nikolai Gogol, Anton Chekhov, Leo Tolstoi, Eiji Yoshikawa, Jan Breman, O.W. Wolters, dll. Merupakan adik dari Pram.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *