Lika-Liku Menjadi Esmelon

Beberapa bulan lalu, Kepala Seksi menghubungiku. Dia bertanya, apa mau mengikuti Manajemen Talenta? Manajemen Talenta adalah tahap yang harus dilewati bila mau menjadi Esmelon. Dan langkah pertama untuk itu adalah mengisi surat pernyataan bersedia ditempatkan di mana saja yang dibubuhi juga tanda tangan istri.

Setelah bertanya kepada istri, apakah aku harus mengikuti semua lika-liku menjadi esmelon, ia menjawab: tidak semua orang punya kesempatan, dan yang namanya amanah harus dijalankan sebaik-baiknya, sisanya serahkan pada Tuhan.

Aku pribadi sama sekali tidak berambisi menjadi Esmelon. Malah kalau bisa ya sudahlah, minta penempatan di Sumatra Selatan sampai pensiun dan jadi pelaksana (baca: umbi-umbian) saja.

Proses itu terjadi sebelum pengumuman tugas belajar. Ternyata, aku lulus di Adm Publik UNSRI. Dan kupikir tidak bisa paralel. Aku harus menunggu sampai lulus baru mengikuti kembali prosesnya.

Sampai awal bulan lalu, aku diundang oleh Bagian TU untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian. Di rapat itu aku bertanya kembali, apa nggak masalah paralel? Pejabat TU menjawab sejauh ini tidak masalah.

Ya sudah, aku berpikir untuk ikuti saja prosesnya. Dan kalau sudah mengikuti proses ya aku akan belajar, mempersiapkan diri. Nggak baik menyia-nyiakan kesempatan, kufur banget. Soal hasilnya gimana, kumaha engke.

Namun, motif aku menulis ini bukanlah semua hal di atas. Beberapa hari lalu, aku emosi. Hingga meluat dengan seseorang. Sebut saja namanya Dona (bukan nama sebenarnya).

Bermula aku ditambahkan ke WAG persiapan assessment angkatan. Lalu komentar pertama yang kuterima adalah:

“Lho, kok ada Pring? Kamu kan tubel aktif.”

Kujawab saja, “Paralel.”

Tidak puas di WAG, Dona pun menjapriku. “Emangnya bisa?”

Kujawab, “Menurut TU nggak masalah.”

Dia pun berkata, “Kalau begitu filter di SDM belum baik nih.”

Aku diamkan. Aku sudah mulai emosi sebenarnya. Hubunganku dengan Dona tidak pernah kuanggap baik. Aku bahkan sama sekali tidak pernah menganggapnya teman. Hanya rekan kerja.

Dalam konteks ini, maksudku, apa pula wewenangnya dia untuk mempertanyakan. Bahkan dia sampai menghubungi rekan lain yang berada di SDM untuk memastikan bahwa aku tidak pantas. Lalu obrolannya itu di-forward pula ke aku.

Ada pihak lain yang berwenang untuk memberikan penjelasan. Lagian aku sudah paham duduk perkaranya. Sejak awal pengumuman kelulusan tugas belajar keluar, aku bertanya ke kepala seksi yang kubarengi saat ke Gorontalo. Dia pengalaman berada di sekretariat. Bagaimana kasusku. Dan nanti, Pejabat TU pasti akan mengabari statusku. Kan mereka yang akan membikinkan surat tugas untuk ujian.

Jadi, wahai Dona, aku nggak ngerti kenapa kamu berusaha menggarami lautan?

Lagian, Dona ini sama sekali nggak pantas bicara begitu padaku. Dia sendiri sedang tubel juga dan selama tubel dia masih bekerja dan menjadi narasumber dalam tusi di Subditnya. Maksudku, malulah sedikit jadi orang. Dengan dalih bekerja ikhlas, pengabdian, apalah-apalah, tubel itu sudah bebas tugas.

Kenapa harus mencampuri urusan orang lain yang jelas-jelas bukan wewenangnya?

Soal mencampuri urusan orang lain, Dona ini memang punya histori denganku. Kenapa aku nggak menganggapnya teman? Sebab, aku belum pernah sekelas dengannya selama D3 atau D4. Saat magang, aku nggak pernah sekelompok magang. Nggak pernah satu penempatan, satu ruangan kerja pun. Bahkan nggak pernah makan bareng atau ngopi cantik bareng sambil ngegosip.

Kami hanya satu angkatan saat D3, ditempatkan di instansi yang sama, dan terhubung di media sosial. Di Instagram pun tidak kufolbek. Hanya itu. Rekan kerja. Kenalan.

Tapi sering banget dia berkomentar atas yang kutulis di media sosial. Yang paling teringat adalah saat kasus plagiat Afi mencuat. Aku yang waktu itu viral dijustifikasi olehnya: aku ingin terkenal dan menikmati dibicarakan.

Maksudku, tahu apa dia tentangku? Tahu apa pula dia dengan ancaman yang kuterima saat itu? Aku menulis, seperti halnya menulis ini, benar-benar berasal dari kegelisahan dan pemikiran yang jernih. Bahkan ketika aku pernah menulis soal atasanku, yang dianggap emosi dan tanpa pikiran panjang, sesungguhnya kutulis dengan kepala yang sangat jernih sebagai sebuah strategi agar aku dipindahkan, sebagai sebuah jalan keluar agar aku dapat berkarya kembali.

Itu hanyalah salah satu momen dia terasa menggangguku. Entah apa aku berlebihan, tapi rasanya aku sudah jijik. Sampai akhirnya aku memblokir WA-nya, keluar dari WAG itu karena malas lihat namanya (sayangnya masih ada grup angkatan dan grup kantor).

Mungkin dia akan senang dan berpesta kalau suatu saat aku resign dari kantor. Karena mungkin aku tidak pantas menjadi birokrat di matanya. Karena memang aku terlalu bego untuk memikirkan berbagai persoalan. Hanya dia yang pantas. Hanya dia!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *