Jalan Melingkar Milik Takdir

Pernahkah kau merasa dirimu begitu terpuruk? Masa depan yang seharusnya cerah tiba-tiba kehilangan cahayanya dan kau tidak mampu melihat apa yang akan terjadi di depan sana?

Aku pernah. Dan saat itu aku berpikir, barangkali jalan hidupku sudah akan berakhir.

Saat itu aku kehilangan cita-cita. Perjalananku di Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) harus terhenti di semester IV. Hanya karena hal yang mungkin remeh. Aku jatuh cinta. Lalu aku patah hati. Dan patah hati itu membuatku begitu labil sehingga mengorbankan apa-apa yang sudah aku capai dengan susah payah.

Sejak kecil, duniaku lekat dengan matematika. Aku bisa menghitung dengan sangat cepat. Kemampuan menghitungku itu membuatku memenangkan lomba matematika tingkat kabupaten saat duduk di sekolah dasar. Dan itu berlanjut hingga SMA, aku beberapa kali mengikuti lomba matematika meski tidak memenangkannya.

Perjalanan itu membuatku berpikir bahwa matematikalah duniaku. Aku tidak ragu sama sekali mengisi Matematika ITB sebagai pilihan pertama saat SPMB. Dan aku lulus, satu dari tiga anak yang lulus ke ITB di SMA-ku. Bahagia sekali rasanya. Saat itu aku berpikir, jalanku menuju cita-cita sebagai pengajar matematika akan berjalan mulus.

Matematika ITB 2005

Namun apa daya, ada yang tidak bisa diprediksi oleh anak berusia 17 tahun yang tengah puber. Jatuh cinta. Sekaligus tidak tahu kapan bisa patah hati.

Aku kalah. Tidak lagi pernah masuk kuliah. Membolos dan hanya menghabiskan waktu sia-sia. Sampai sebuah lagu dari Sheila On 7 menginspirasiku untuk pulang. Jika aku tetap dalam keterpurukan semacam ini, orang tuaku akan bersedih. Gagal di ITB saja pasti akan membuat mereka kecewa.

Saat itulah aku memutuskan untuk berani lebih baik. Aku melihat sudah tidak ada yang bisa diselamatkan dari perjalananku di ITB. Aku pun pulang ke Palembang, naik bus Pahala Kencana, dan sialnya dompetku pun kecopetan saat di kapal laut.

Selama di rumah, tak lagi ada sapa dari kedua orang tua. Aku sudah begitu durhaka. Aku pun mengurung diri di kamar, tapi bukan terpuruk karena luka. Aku belajar. Ya, aku mempersiapkan diri agar kembali dalam keadaan lebih tangguh.

Selama dua bulan aku serius mempelajari segala soal. Aku akan ikut tes lagi.

Dan alhamdulillah, hasilnya tidak mengecewakan. Aku lulus di Fakultas Ilmu Komputer UNSRI dan Akuntansi Pemerintahan STAN. Tanpa ragu, aku memilih STAN.

Cita-cita Baru

Banyak temanku bekata aku berubah sesudah masuk STAN. Yang paling kentara adalah aku lebih cerewet. Aku lebih gamblang dalam mengungkapkan pikiran dan perasaanku dibanding sebelumnya yang sangat tertutup. Aku pun menjalani passion baru: menulis.

Kurenungkan kata-kata Alfred dalam film Batman:

“Why do we fall? So we can learn to pick ourselves up.”

Kukhidmati setiap abjad yang kutuliskan. Dan rahasia Tuhan itu begitu aduhai. Selama sekolah, aku tidak pernah memenangkan lomba matematika tingkat provinsi. Prestasi tertinggiku hanya tingkat kabupaten. Setelah itu kalah melulu. Namun, di menulis, aku mencapai banyak hal.

Di ASEAN Literary Festival 2016 bersama Triyanto Triwikromo, Budi Darma, dan Guntur Alam.

Mulai dari terpilih menjadi Duta Bahasa provinsi Sumatra Selatan pada 2009, memenangkan perlombaan menulis puisi dan cerpen tingkat provinsi, hingga menjadi salah satu penulis Indonesia terpilih pada ajang Makassar International Writers Festival 2014 dan ASEAN-Japan Residency di ASEAN Literary Festival 2016. Sungguh, tidak kubayangkan rahasia Tuhan itu mengantarkanku ke berbagai tempat di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Makassar, gratis, dan menjadi pemateri di sana. Cita-citaku yang dulu ingin menjadi pengajar Matematika hanya tercoret di bagian matematikanya saja. Aku tetap bisa menjadi pengajar dalam bidang menulis.

Sekarang, aku bekerja di Kementerian Keuangan. Hasrat menulisku masih terjaga. Mulai dari rajin menulis blog, hingga menulis buku-buku sastra. Di kantor pun kemampuan menulis itu terpakai dalam mengerjakan kajian dan publikasi.

Satu lagi rahasia Tuhan yang baru kumengerti. Aku pikir Tuhan terkadang sengaja memberi jalan melingkar bagi seseorang untuk menemukan dirinya. Diberikan kegagalan, kepahitan hidup, agar manusia mau dan mampu mengenali dirinya sendiri. Sebab, bukankah barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya?

Meski gagal di ITB, aku mendapatkan jodoh lulusan ITB lho. Gagal diwisuda lewat Sabuga, aku menjadi pendamping wisuda dia saat lulus pascasarjana. Jadi, nikmat mana lagi yang harus kita dustakan?

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

  1. inspiratif sekali bang pringadi. salam kenal dari dubas Aceh 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *