Inpirasi Rumah Pertama Chogah

Saya termenung membaca catatan Setiawan Chogah. Penulis asal Banten itu membagikan pengalamannya yang gagal memenuhi impian untuk memiliki rumah pertama di usia 26 tahun. Inflasi gaya hidup tanpa disadari menghalangi mimpinya itu.

Ada terlalu banyak pengeluaran, yang tampaknya kecil, namun sering terjadi, hanya untuk memenuhi tuntutan gaya hidup yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya penghasilan. Latte factor namanya. Chogah akhirnya bisa mengendalikan gaya hidup tersebut dan berhasil memiliki rumah pertamanya di usia 30 tahun.

Ya, November 2018, ia berhasil memenuhi mimpinya itu. Sebuah rumah subsidi sederhana berukuran 30/60 di Serang. Ia memilih rumah itu karena lokasinya yang dekat dengan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten. Plus, uang muka dan cicilannya yang ringan.

Penampakan Rumah Chogah saat baru dibeli.

Biasanya orang ogah menoleh ke perumahan subsidi karena penampakan perumahan yang terlalu sederhana. Dan inilah menariknya Chogah, selama 1 tahunan, ia mengubah rumah sederhana itu pelan-pelan, dan mendesainnya menjadi tak kalah indah dengan rumah-rumah di komplek mewah. RUMAH CHOGAH, ia namai rumah itu, menjadi sarang kreativitasnya sebagai pekerja media, tempat segala kegiatan kreatif dilaksanakan.

Saya menyaksikan transformasi RUMAH CHOGAH itu dan belajar, bahwa memiliki rumah pertama, tidak harus mewah. Mulai dari sesuatu yang sederhana, sesuaikan dengan kemampuan, lalu ubah pelan-pelan, sehingga frasa “Rumahku Surgaku” itu terwujud.

Secara proses, Chogah bahkan menceritakan berapa biaya yang ia keluarkan untuk merenovasi. Misal, untuk ruang kerjanya, ia menghabiskan dana tidak sampai 1,5 juta rupiah. Biaya terbesar hanya untuk meja dan kursi. Lain-lainnya seperti quotes canvas print kuning, 2. Menara Banten, jam dinding, bunga, dan Wiremesh tidak sampai menghabiskan Rp500 ribu.

Satu yang membuat saya begitu terinspirasi adalah estetika dan pemahaman Chogah terhadap kebutuhan estetikanya itu. Ia bisa mengecat sendiri, mendekorasi sendiri segalanya (dengan dibantu temannya).

Kelebihan Rumah Subsidi

Pada tahun 2015, Presiden Joko Widodo mencanangkan Program Sejuta Rumah. Program ini ingin menjembatani warga yang berpenghasilan rendah untuk dapat memiliki rumah pertamanya.

Berdasarkan data yang dirilis oleh KemenPU-PR, capaian pada tahun 2019 ini sudah 1.257.852 rumah yang terbangun dalam program tersebut. Di antaranya ada 945.161 rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan 312.691 Non-MBR. Nah, program ini ternyata terbukti memfasilitasi masyarakat berpenghasilan rendah maupun generasi milenial seperti Chogah yang ingin memiliki rumah pertamanya.

Kehadiran rumah subsidi di berbagai daerah sebenarnya memiliki kelebihan tersendiri. Apa saja kelebihan itu?

Lokasi yang Strategis

Rumah subsidi memiliki lokasi yang strategis. Rumah Chogah di Serang dekat dengan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten. Chogah menyadari rumahnya bukan hanya akan memfasilitasi dirinya, tetapi juga nilainya akan menjadi investasi jangka panjang.

Di Citayam, perumahan subsidi juga terletak di lokasi yang sangat strategis. Letaknya hanya sekitar 3 km dari Stasiun Citayam. Bahkan perumahan subsidi yang berada di Maja letaknya hanya sekitar 3 menit dari Stasiun Maja. Dekat sekali.

Ini membuktikan bahwa perumahan subsidi memperhatikan letak yang sangat strategis, baik itu dari akses transportasi, maupun potensi pengembangan wilayahnya.

Harga yang Murah

Rumah subsidi bisa dibilang sangat murah. Uang mukanya rata-rata di bawah 10 juta. Cicilannya 1 jutaan per bulan selama 25 tahun. Bahkan ketika saya sempat bertanya ke perumahan subsidi di Citayam itu (Tahun 2017), harganya masih Rp140 juta dan cicilannya Rp850 ribu per bulan.

Developer Relatif Tepercaya

Rumah murah biasanya memiliki kekurangan yang membuat kita ragu. Ya, developernya tidak tepercaya. Namun, dalam pembangunan perumahan subsidi, Kemenpera bekerja sama dengan banyak sekali developer atau pengembang yang memiliki kemungkinan kecil munculnya developer nakal karena KemenPU-PR bekerja sama hanya dengan pengembang yang terdaftar resmi dan berlisensi. Beberapa pengembang terdaftar diasosiasi seperti APERSI dan REI.

Meraih Mimpi Rumah Pertama

Buat kawan-kawan yang ingin meraih mimpi rumah pertama seperti Chogah, syarat untuk mendapatkan rumah subsidi tidaklah begitu sulit. Dalam Peraturan Kemenpera No. 3 Tahun 2014, disebutkan bahwa bila calon pembeli ingin membeli secara Kredit Perumahan Rakyat Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR-FLPP), maka harus memenuhi persyaratan, antara lain:

  • WNI berusia minimal 21 tahun;
  • Memiliki penghasilan tetap. Maksimal penghasilan Rp 4 juta untuk rumah tapak dan maksimal Rp 7 juta untuk rumah sejahtera susun;
  • Memiliki NPWP;
  • Menyerahkan fotokopi SPT dan PPh;
  • Belum memiliki rumah pribadi;
  • Belum pernah menerima subsidi pemerintah untuk proses pemilikan rumah.

Dua syarat terakhir ini yang sangat penting yang kadang saya sesalkan. Sebab pernah dalam suatu kesempatan, saya ditawari untuk memiliki rumah subsidi. Sayangnya, saya memiliki rumah di kampung, atas nama saya. Sehingga saya katakan saya tidak memenuhi syarat. Namun, sang sales malah tetap menggoda saya untuk berlaku tidak jujur dalam pengisian data. Penting kiranya, ketatnya pengawasan agar rumah subsidi memang jatuh ke tangan yang berhak.

Belajar dari Chogah untuk Meraih Mimpi Rumah Pertama

Mungkinkah kita memiliki rumah pertama pada usia 26 tahun? Jawabannya sangat mungkin.

Hasil survei The Future of Money mengatakan bahwa sekitar 69 persen dari generasi milenial Indonesia tidak memiliki strategi investasi. 81 juta generasi milenial Indonesia (atau ~30% penduduk Indonesia) belum memiliki rumah.

Langkah pertama yang dilakukan Chogah adalah mencatat semua pengeluaran yang ia lakukan selama satu bulan penuh. Lalu ia evaluasi pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting dan di bulan berikutnya ia disiplin dalam menerapkan manajemen pengeluaran. Dengan demikian, ia jadi disiplin dalam menyisihkan penghasilan sehingga ia berani mengambil keputusan membeli rumah. Sebab, ia yakin mampu membayar cicilan rumah tersebut.

Pemerintah pun terus berupaya memenuhi kebutuhan hunian yang layak bagi generasi muda. Fasilitas KPR untuk generasi milenial pun hadir dari bank-bank BUMN. Selain itu, yang terbaru, Pemerintah melakukan perluasan Bapertaperum yang tadinya hanya untuk PNS, TNI/POLRI, kini menjadi untuk setiap pekerja yang menerima gaji atau upah, lewat Peraturan Pemerintah (PP) No.25/2020 yang diketok 20 Mei 2020 lalu. Lewat program Tapera ini akan disiapkan 500 ribu unit hingga tahun 2024.


Saya pribadi mulai bekerja sejak tahun 2011 sebagai PNS. Tidak sedikit senior saya yang hingga pensiun belum memiliki rumah karena mendapat fasilitas rumah dinas selama bekerja. Mereka terlena dan lupa menyiapkan rumah untuk pensiun kelak.

Memiliki rumah pertama di usia muda bukanlah impian. Chogah mungkin gagal mewujudkan mimpi punya rumah pertama di usia 26 tahun, tapi dia menunjukkan kita caranya setelah ia sadar. Semuanya dimulai dari kedisiplininan diri dalam mengontrol keuangan. Kalau itu sudah bisa dilakukan, rumah pertamamu pasti akan dalam genggaman!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *