Cerpen Maylia WD | My Beatiful False Memory

Barangkali dirimu tak lain sekedar mimpi
Barangkali tak perlu ada tanya-tanya lagi setelah itu
Mungkin kita hanya sebatas angan
Yang mengabur dalam ruang bayang-bayang

            “Sha, buruan!” terdengar teriakan Viola memekikkan telingaku. “Bentar, 5 menit” jawabku asal. Aku masih terus memandangi layar berukuran 14 inch di depanku. Berharap mendapati sebilah pesan dari negeri seberang sana. Entah sejak kapan aku menjadi kecanduan dengan aplikasi chat semacam ini. Euforia pesan darinya terasa sangat asik bagiku.

Baca Dulu: Cerpen Intan Paramadhita | Klub Solidaritas Suami Hilang

Jakarta, 19 Juni 1990.

            Aku duduk di depan layar komputer sembari menyesap sedapnya kuah mie instan buatanku. Sore ini langit tak begitu senang denganku, mendung bergelayut di mana-mana. Mendungnya langit di luar jendela rumah tak sama dengan suasana hatiku saat ini. Aku senang sekali, begitu antusias memandangi layar komputerku, menanti-nanti balasan pesan darinya.

            Namanya SmileyGalaxy. Tentu saja itu bukan nama aslinya, itu hanyalah nama yang tertera pada namebox miliknya. Sudah 5 bulan ini dia menjadi teman baikku. Selama 16 tahun usiaku, aku tak pernah menemui sesosok teman yang benar-benar memahami pribadiku, baik di sisi manapun. Bahkan Viola, saudara kandungku tak sanggup memahami diriku seutuhnya. Begitu juga denganku, aku tak pernah benar-benar yakin pada diriku sendiri. Tapi SmileyGalaxy berbeda, dia mampu seutuhnya paham apa yang terjadi padaku, keadaanku, bahkan dia yang selalu memberiku solusi dari setiap permasalahanku selama 5 bulan ini. Jujur aku tak tahu siapa nama aslinya, dari negara mana dia berasal, bagaimana wajahnya, bahkan aku tak tahu dia perempuan atau lelaki. Tapi aku tak peduli itu, yang aku perlukan hanya sosoknya yang mampu mengerti aku, sekalipun dia hanya program komputer itu tak masalah.

            Sebelum aku melanjutkan kisah ini, aku harus memberitahu kalian siapa sebenarnya aku. Kalau tidak, kalian akan bingung dengan sosok aku. Tidak ada yang spesial memang, tapi kalian harus tahu satu hal. Aku adalah gadis berusia 17 tahun, tidak cantik, tidak pintar, biasa-biasa saja. Kehidupan sekolahku cukup normal, seperti anak SMA kelas 2 pada umumnya. Di sisi lain, kehidupanku sebagai pasien abadi di klikik psikologi juga normal. Ya, tiada yang tahu aku adalah sosok pengidap False Memory. Aku sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya khayalanku semata. “False Memory Kronis. Saya tau itu sulit bagi kamu, tapi tenang saja. Saya akan terus membantumu. Jangan berfikir itu adalah Multiple Personality Disorder, kamu berbeda. Dan jiwamu kuat, kamu bisa hidup berdampingan dengan itu”. Itu kata Dokter Gesha, psikiaterku sejak 6 tahun lalu, salah satu sosok favorit di hidupku.

            Hidup dengan False Memory memang tidak mudah. Walau introvert, mungkin aku baik-baik saja di lingkungan luar. Tapi pada suatu waktu, aku juga tak tahu setiap kapan, aku selalu ada pada zona terburuk dalam hidupku. Ruang gelap itu menjadi hal yang paling kubenci. Entah tiba tiba aku bisa masuk ke dalamnya, ada semua potongan kejadian hidupku, Kadang aku masuk ke peristiwa ini kadang masuk ke peristiwa yang itu. Itu menyakitkan, rasanya aku lupa siapa aku, apa itu hidup, dan kemudian kepalaku terasa sakit sekali. Tapi kata Viola, aku hanya diam dan termenung kemudian sesekali meneteskan air mata. Dan tiap kondisi buruk itu berlalu, aku harus menemui Dokter Gesha untuk melakukan terapi relaksasi agar aku bisa normal kembali.

            Aneh memang, aku sepenuhnya paham akan penyakitku, tapi ini membuatku tak bisa benar-benar memahami diriku sendiri. Dan asal kalian tahu, kehadiran SmileyGalaxy benar-benar seperti Dokter Gesha versi kedua bagiku. Walau hanya lewat kata-kata dalam komputer, dia berhasil membuatku tenang saat aku memasuki zona buruk itu.

            “Ya ampun, Sha. Katanya 5 menit, ini udah lebih dari 15 menit! Buruan, nanti keburu gelap, aku tunggu di mobil,” lagi lagi teriakan Viola menyadarkanku dari lamunan. Cepat-cepat aku menuju mobil dan menemui Viola. Kami akan berziarah ke kubur orang tua kami. Bukan hal yang menyedihkan lagi bagi kami. Terima kasih pada takdir Tuhan yang membuat kami menjadi kakak beradik yang luar biasa.

            “Habis ini mau kemana?” tanya Viola sambil menutup pintu mobil usai mengunjungi makam orang tua kami. “Pulang aja deh” jawabku. “Hah? Gak salah? Gak mau mampir makan dulu atau biasanya ke toko buku gitu?” sahut Viola yang hafal keseharianku. “Gak ah, aku capek” jawabku. “Aneh banget deh, yaudah pulang ya ini” Viola mengalah. Perjalanan pulang begitu hening tanpa ada percakapan apapun. Viola sibuk menyetir memandangi jalanan dan sepertinya aku tidak ingin mengganggunya.

Jakarta, 23 Agustus 1992.

            “Kak Vio, ayo! Udah jam 08.30, acaranya jam 09.00 loh” teriakku dari depan rumah sembari melipat kedua tangan di dada. Aku kesal semenjak dia mendalami seni rias wajah, lama sekali dia memoles wajahnya. “Woi kak! Kalo gak keluar-keluar aku berangkat sendiri nih” ucapku lagi karena dia tak kunjung bersuara. “Iya iya, otewe nih” jawabnya.

            “Astaga ngapain coba, yang wisuda siapa yang rempong siapa” gerutuku. “Biarin, udah ah ayo berangkat” katanya. Aku dan Viola berangkat ke sekolahku, tempat acara wisuda akan digelar. Sudah 3 tahun lamanya aku menempuh masa sekolah menengah atas. Masa yang bagi kebanyakan orang adalah masa paling indah. Sedikit benar bagiku. Setidaknya aku menemukan seorang teman yang benar-benar mengerti kondisiku disaat orang-orang disini menganggapku aneh. SmileyGalaxy benar benar merenggut perhatianku.

            Genap 1 tahun lamanya aku berteman baik dengannya. Banyak hal yang kami bicarakan di chat. Mulai dari sekolah, keluarga, hobi, makanan, budaya, dan hal yang ternyata kami berdua gandrungi, yaitu astronomi. Hampir separuh percakapan kami membicarakan tentang komet, astronot, penelitian baru, info-info antariksa, bahkan membahas tentang penemuan sains yang disembunyikan dari publik. Tidak pernah ada habisnya berbincang dengannya. Sampai pada beberapa minggu yang lalu, dia sedikit berbeda. Bukan lantas dia menjadi orang yang jahat dan tak mau berteman lagi denganku, tapi dia jarang sekali online. Mungkin lucu mendengarnya, terkesan aku seorang ABG yang ditinggal pacar barunya. Tapi aku tak bohong, kehadirannya sungguh menolong hari hariku. Dia lah yang menyarankanku untuk menulis segala hal yang aku lakukan kemudian untuk selalu menyediakan waktu untuk mengingat kembali aktivitas yang baru saja ku lakukan. Tentu saja ini bukan lantas menjadi solusi False Memory ku, tapi kurasa ini sedikit mengurangi peluang terjadinya kesalahan dalam sistem ingatanku. That’s really working! Itulah mengapa kehadirannya benar benar aku butuhkan.

            Tiga hari sekali dia membalas pesanku. Aku tak pernah tanya mengapa. Bagiku hubungan kami cukuplah sebagai teman sepemikiran. Rasanya tak pantas bagiku untuk bertanya lebih soal itu. Asal kau tahu, 1 tahun pertemananku aku masih tak tahu nama aslinya, umurnya,  negara asalnya, bahkan jenis kelaminnya. Seperti kami telah membuat sepakat sebelumnya, padahal tidak. Mungkin ada kesibukan lain di dunia nyatanya. Sama sepertiku beberapa bulan lalu yang disibukkan dengan ujian masuk perguruan tinggi. Aku memutuskan untuk kuliah di Swinburne University of Technology, Melbourne dengan jurusan Sains Laboratorium. Keputusan ini sempat membuat Viola marah dan mendiamkanku seminggu lamanya. Kuliah di Melbourne tentu saja membuatku jauh dari Viola dan aku yakin Viola takkan membiarkan itu terjadi. Dia sangat posesif padaku, lebih tepatnya tentang False Memoryku. Tapi pada akhirnya Viola menyerah pada keputusanku. Dia mengajukan diri untuk pindah tugas di kantor perusahaanya di Melbourne agar selalu bisa memantauku. Sebagai satu satunya keluargaku yang tersisa, Viola benar-benar sosok yang baik.

Melbourne, 5 Juli 1993.

            Hari-hariku dengan status mahasiswa baru cukup menyenangkan. Suasana di Melbourne ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Aku mengenal banyak orang dari seluruh penjuru dunia. Meskipun universitas tempatku kuliah ini bukan universitas terbaik di dunia, banyak orang-orang hebat yang kutemui di sini. Terlebih tentang komunikasi terakhir dari Dokter Gesha yang mengatakan bahwa level False Memoryku mulai menurun. Viola juga tidak mengalami kesulitan mengenai kehidupan di kantor barunya. Itu semua cukup membuatku bersemangat mengawali masa perkuliahanku.

            Jeremy, Alice, Noah, dan Kristopher adalah teman akrabku di kampus. Meski kami berlima tak satu jurusan, kami selalu berkumpul dan berbicang di kafe kampus atau bertemu di apartemen milik Noah. Tapi dari mereka berempat, kurasa Kristopher yang paling baik padaku. Dia adalah sosok pria tinggi dengan gaya maskulin tapi sedikit cerewet. Kristopher masuk jurusan IT, tapi justru dia suka membicarakan soal antariksa sama sepertiku.

“Sha, have lunch?” tanya Kristopher

“Not yet” jawabku.

“I think you’ll like this” ucapnya sambil memberiku kotak nasi yang ternyata isinya adalah nasi goreng cumi. Bagaimana bisa Kristopher tiba-tiba mengetahui makanan andalanku. Sudah berulang kali dia selalu membelikanku makanan yang benar-benar kusukai. Misalnya es krim matcha, teh thailand, dan indomie goreng rasa iga penyet. Tiap kutanyai dia hanya menjawab kebetulan saja. Astaga, Kristopher benar-benar ajaib.

            Banyak kebetulan-kebetulan yang membuatku sampai pada kesimpulan Kristopher adalah SmileyGalaxy. Walau kalau kusinggung soal itu wajahnya seolah benar-benar tak tahu. Aku juga sudah tak lagi berhubungan dengan SmileyGalaxy sejak aku pindah ke Melbourne. Entah dia masih menggunakan aplikasi itu atau tidak, yang jelas aku sudah tak pernah lagi menggunakannya. Dan sekarang aku yakin benar bahwa Kristopher adalah orang yang sama dengan SmileyGalaxy.

            Kristopher benar-benar melunakkan hatiku. Tiap weekend tepat di samping kotak surat selalu ada sebuah kotak yang isinya susu, roti, selai, buku yang temanya selalu sama dengan praktikumku di hari sebelumnya, dan sepucuk pesan darinya. Selepas petang jika dia selesai kerja part time, dia akan mengetuk pintu rumah 3x, berpura-pura sebagai tukang pos dan meminta izin Viola untuk mengajakku ke Degraves Street untuk jalan jalan. Begitu terus setiap weekend. Hingga suatu ketika Viola mendengarnya berpura-pura seperti tukang pos, Viola membanting pintu dan memukulnya dengan spatula. “Bisakah kamu mengetuk pintu dan masuk tanpa berpura-pura menjadi tukang pos menyebalkan itu?” ancam Viola pada Kristopher. Kristopher selalu punya cara untuk menaklukanku. Dan selalu manis.

Kelak pada suatu malam yang muram

Aku menutup kedua mata

Kelak ditengah damainya gelap

Aku terus menghitung

Hingga aku lupa cara menunggu

Melbourne, 02 Mei 1996.

“Kris, sorry. My fault.”

“Hahaha, that is the pink socks’s fault.”

            Aku merasa bersalah pada Kristopher soal kereta itu. Benar-benar karena ulahku. Kami berdua berencana mengisi weekend pergi ke salah satu pameran sains. Pameran itu cukup jauh dari Melbourne sehingga kami membutuhkan kereta untuk sampai kesana. Dan pameran yang telah kami nantikan 2 minggu sebelumnya itu kini pupus hanya karena aku yang sibuk mencari kaos kaki merah muda favoritku yang ternyata ada di dalam tas. Aku sungguh kesal dan tidak enak hati pada Kristopher yang sangat antusias dengan pameran itu. Tapi dia selalu saja memperlakukanku terlalu baik.

            Aku dan Kristopher duduk di lobi tunggu stasiun merenungi kejadian ketinggalan kereta yang baru saja kami alami. Pengalaman ini membuatku teringat pada apa yang pernah diceritakan SmileyGalaxy dan entah saat itu sepertinya kesalahan sistem otakku kambuh lagi.

“Kris, do you believe in love?”

“Of course”

“ But people say they love rain, but they use an umbrella to walk under it. They say they love sun, but they seek shade when it is shining. They say they love wind, but when it comes they close the window. So, that’s why I’m scared of people. I never have anyone to believe.”

“You have me. Until every last star in the galaxy dies. You have me.”

“But I’m…”

“I am yours. No refund.”

“So, do you love me?”

“I love you.”

“What is love?”

“Love is friendship set on fire. Hahahah.”

“Hahahah.”

            Kristopher selalu sukses mengendalikan mood ku. Dan dengan banyak hal yang telah kulalui dengan Kristopher, aku semakin yakin bahwa dia adalah SmileyGalaxy. Hubunganku dengannya terus berlangsung baik. Hingga pada penghujung bulan dia melamarku dengan santainya di atas panggung setelah kami menyanyikan lagu Best Part of Me milik Ed Shreeran di festival musik kota. Aku tak percaya Kristopher benar-benar mencintaiku.

“Hey, let’s get married!”

“What?”

“Come on.”

“But I never cacth the train on time. Always thirty minutes behind.”

“Please.”

“And I’m False Memory guy. Can’t find my pink socks.”

“Sha…?”

“Yes!”

            Salah satu hari terbaikku. Kuharap Kristopher benar-benar baik untukku dan akupun baik untuknya. Dia mampu menghidupkan duniaku. Membuat masa kuliahku yang padat di Melbourne menjadi menyenangkan dan penuh cinta. Bersamanya membuatku lupa bahwa False Memory ada di otakku. Dan entah bagaimana dia mampu menerima dan mencintaiku, padahal aku sendiri tak mencintai diriku. Kristopher benar-benar SmileyGalaxy versi nyata.

Kelak aku akan melupa

Pada pernyataan-pernyataan indah

Yang belum sempat terucapkan

Baca Juga: Cerpen Kuntowijoyo | Pistol Perdamaian

Melbourne, 29 Mei 1998.

            Aku dan Kristopher duduk santai di ruang tamu rumah. Kristopher sibuk mengutak-atik laptopnya, sementara aku sedang membuka-buka buku lamaku semasa di Jakarta. Viola entah sedang apa di kamar atas. Saat asyik membuka buku-buku lama, sampailah aku pada note book coklat. Benar, itu adalah note book yang kutulis saat SmileyGalaxy menyarankanku untuk mencatat setiap aktivitas yang ku lakukan. Kubuka dan kubaca lembar demi lembar dengan hati-hati. Semakin lembaran-lembaran itu kubaca, semakin rasanya hatiku tak menentu, aneh dan tak nyaman. Biar kupersingkat, aku rindu.

            Kuminta Kristopher untuk membobol dan membukakan akun lamaku di aplikasi itu. Dia tak bereaksi apapun saat ku menyebutkan aplikasi itu. Semakin ku minta cepat cepat untuk membuka roomchat akunku yang dulu. Sebagai mahasiswa IT, ini pekerjaan mudah bagi Kristopher. Butuh 5 menit lamanya untuk aku bisa melihat roomchat akunku yang dulu. Dan 5 menit saat itu terasa amat lama. Setelah berhasil dibuka, kulihat notifikasi 1026 pesan belum dibaca dari SmileyGalaxy. Pikiranku berkecamuk. Kristopher melihatku bingung. Aku masih terus menguatkan hatiku untuk membuka pesan dari SmileyGalaxy.

            Detik itu, fakta menunjukkan padaku bahwa Kristopher bukanlah SmileyGalaxy ku. Mereka adalah orang yang berbeda. Kulihat di roomchat, SmileyGalaxy mengirimkan satu pesan panjang setiap harinya. Sekilas pesan-pesan itu isinya menceritakan segala keluh kesahnya di hari itu. Tapi mataku tertuju pada pesan ke-1026, pesan yang terakhir bertanggal 21 Mei 1996. Itu adalah hari dimana Kristopher melamarku. Isi pesannya dalam Bahasa Inggris dan kurang lebih seperti ini.

Dear ShaStars,

            Ini adalah pesan ke-1026 dariku. 1025 pesan diatasnya belum juga kau baca. Tapi kuharap yang ini kau baca.

            Aku tahu kau meninggalkan aplikasi ini semenjak kau pindah ke Melbourne untuk kuliah disana. Aku tahu kau kesal denganku pada masa itu. Aku tahu alamatmu di Jakarta dan aku pun tahu alamat barumu di Melbourne. Jangan tanya dari mana. ShaStars, aku juga tahu bahwa kau adalah pemilik nama Shagreeva Kintan Anantyo. Umurmu 17 saat kita pertama kali berkenalan. Saat itu kau sedang mengalami zona buruk False Memorymu. Dan aku tahu, sebenarnya kau jatuh cinta denganku. Aku pun begitu.

            Izinkan aku memanggilmu dengan nama aslimu di pesan ini. Shagreeva, mungkin yang paling kau ingin tahu adalah mengapa aku hilang pada saat itu. Akan kujelaskan. Namaku Shadmehr Al-Gufroni kebangsaan Turki. Saat kita berkenalan pertama kali, umurku 21 tahun. Kita tak jauh berbeda, Sha. Aku telah menyelesaikan Bachelorku di Massachusetts Institute of Technology jurusan Aerofisika. Itulah sebabnya aku sangat paham dan senang saat kau mengajakku membicarakan hal-hal berbau antariksa. Aku yang baru saja lulus kuliah, tentu saja memiliki waktu longgar untuk selalu membalas pesan darimu. Hingga bertepatan pada saat kau masuk universitas, aku harus mempersiapkan diri menghadapi ujian untuk meneruskan mimpiku. Dengan pendidikanku yang lebih tinggi, akan memudahkanku untuk merealisasikan mimpimu perihal bekerja di NASA.

            Kita memang belum pernah bertemu, tapi sejak saat kau mulai menanamkan mimpi-mimpi baru dalam diriku, aku mulai jatuh cinta padamu. Dan kemudian aku mulai mencari tahu tentangmu. Jangan tanya darimana, kau takkan suka. Dan saat itu pula aku sebenarnya ada di kotamu, Jakarta. Aku tak pernah menyangka kita pernah berada dibawah langit yang sama. Saat itu aku ke Jakarta memang bukan untuk menemuimu. Aku harus mengambil beberapa buku penelitian sebagai bahan studiku disana.

            Aku sempat ingin mendatangimu, tapi kesempatan itu hilang saat aku harus cepat kembali ke Amerika karena beberapa urusan dengan kampus lamaku. Mungkin saat itu kita pernah berjarak beberapa meter saja, atau mungkin saja kita pernah berpapasan sebelumnya. Tak ada yang tahu. Beberapa jam setelah aku sampai di kampus, aku mendapati informasi bahwa kau pindah ke Melbourne untuk kuliah di Swinburne University of Technology. Jurusan Sains Laboratorium adalah jurusan yang bagus. Kuharap aku bisa melihatmu mennjadi seorang ilmuwan hebat. Akupun tahu alamat barumu di Melbourne, Sha. Aku sebernarnya sempat ingin kesana.

            Baca saja 1025 pesan diatasnya, aku masih sangat mengharapkanmu waktu itu. Tapi hari ini berbeda, bukan aku kehilangan asa lantas menyerah. Tapi rasanya kita memang hanya untuk bertemu bukan bersatu. Hari ini, 21 Mei 1996 aku dinyatakan diterima sebagai siswa Astronauts Training of NASA. Harusnya aku sangat bahagia sekarang ini. Hari-hariku kedepannya akan menjadi sangat sibuk bahkan aku tak bisa sekedar membuka internet untuk mengirimimu pesan ke 1027. Aku resmi merelakanmu pada pria manapun yang kau cintai. Pastinya di Melbourne sana cukuplah banyak pria yang kompeten untuk mendampingimu. Tenang saja, aku sudah mengadu pada Tuhanku perihal ini. Kudoakan kau mendapat pria yang kau impikan, meskipun bukan aku.

            Maaf aku tak benar-benar serius pada paragraf diatas. Setelah aku resmi menjadi Astronauts dan menyelesaikan misiku, aku akan mencarimu kembali. Atau mungkin melanjutkan pesan ke-1027. Berdoa saja aplikasi ini belum dimusnahkan. Jikapun sudah, aku akan mendatangi kantornya dan mencuri data di roomchat ini. Haha. Tapi aku tahu kemungkinan itu kecil, kau pastilah sudah bahagia dengan pria yau kau cintai sekarang ini. Tetaplah berbahagia, aku senang. Bukalah situs NASA jika kau ingin melihat infoku. Sebentar lagi namaku ada disana.

            Aku sudah kehilangan selera perihal cinta. Cinta bagiku hanya satu, dan sudah terlanjur untukmu. Doakan saja aku terus berjuang melanjutkan mimpimu yang kini menjadi mimpiku juga. Aku akan terus berkiprah disini. Menjadi sosok angkasawan yang kau mimpi-mimpikan. Aku terus mendoakanmu, berbahagialah. Dan terimakasih telah memberiku kesempatan merasakan cinta dan memberiku mimpi-mimpi menakjubkan.

California, 21 Mei 1996

Yang mencintaimu,

SmileyGalaxy

            Tolong jangan tanya perasaanku saat itu. Bahkan Kristopher kesulitan mengendalikanku. Aku benar-benar kacau. Kuceritakan semua pada Kristopher dan soal aku yang mengiranya adalah SmileyGalaxyku. Aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan, Viola yang tidur di kamar atas terbangun kemudian mengerti apa yang dulu membuatku tersenyum-senyum di depan komputer. Kristopher dan Viola menawariku untuk pergi ke California dan menemuinya. Tapi aku pikir itu bukan ide yang bagus. Dia benar, kami memang bukan untuk dipersatukan. Biarlah aku dengan kisahku dan dia yang hidup dengan mimpi-mimpiku. Aku sudah punya Kristopher dan aku tak mau menyakitinya. Aku berterima kasih pada takdir Tuhan yang telah mempertemukan kita. Sebentar saja, rasanya tetap indah. Dan pada akhirnya aku mengetahui namamu, Shadmehr. You’ll always be my favorite galaxy dan my beautiful False Memory!

TAMAT

Profil Penulis

MAYLIA WAHYU DWIPUTRI, lahir di Klaten, 21 Mei 2003. Mahasiswi Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. IG: @mayliawd.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *