Honor 10 Lite menyita perhatian publik sejak peluncurannya. Banyak orang pengen tahu lebih detail tentang Honor 10 Lite. Dalam tulisan sebelumnya (ini), aku mengungkapkan kenapa Honor 10 Lite menarik buatku. Kamera depan dan baterai adalah dua alasan penting itu. Honor 10 Lite memang berupaya mengambil segmen orang-orang yang suka berswafoto. Saya sih sebenarnya nggak gitu…
Category: Pikiran Pringadi
Sastra Kita dan Ia yang Mendapat Tiket Kelas Menulis Tempo
Bagaimana sastra kita? Bagaimana kamu menilai penulis muda kita? Pertanyaan itu pernah diajukan Irwan Bajang dalam suatu kesempatan. Dengan disclaimer pengetahuanku yang terbatas, kujawab eksplorasi yang dilakukan kebanyakan penulis muda saat ini semata soal bentuk. Menulis pada dasarnya hanyalah tentang dua hal. Pertama, apa yang mau kita tulis. Kedua, bagaimanakah cara menuliskannya. Eksplorasi yang dilakukan…
Omong Kosong “Menteri Pencetak Utang”
Pembahasan tentang utang masih menjadi tema yang menarik. Yang terbaru, ucapan Prabowo yang menyebut kondisi perekonomian Indonesia sudah carut marut seiring bertambahnya utang luar negeri hingga menyebut Menteri Keuangan sebagai Menteri Pencetak Utang. Sontak saja, hal itu menimbulkan reaksi dari Kementerian Keuangan. Kepala Biro Kehumasan dan Layanan Informasi (KLI) Nufransa Wira Sakti langsung menanggapi hal…
Tidak Kapok Berbisnis, Itulah Saya
Satu-satunya kegelisahan yang masih membuncah dari dada saya adalah kegagalan untuk membangun bisnis yang mapan sebelum usia 30 tahun. Ya, sudah 30 tahun usiaku, dan rasanya belum berhasil juga membangun bisnis yang dapat diandalkan. Bisnis yang pernah saya lakukan paling sebatas “berjualan”. Ketika di Sumbawa, saya sempat berjualan ponsel blackberry murah dari Batam. Namun, karena…
Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog
oleh W. Hanjarwadi Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika. Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram…