Bagaimana Saya Harus Merencanakan Keuangan di Masa Pandemi?

Merencanakan keuangan di masa pandemi memang menjadi perhatian kita saat ini. Sebab, tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Krisis ekonomi bisa saja terjadi mengingaat saat ini kita sudah di tepi jurang resesi. Pertumbuhan ekonomi triwulan II dilaporkan minus 5,38%. Kita benar-benar harus memikirkan masalah perencanaan keuangan ini.

Baru saja, hari ini, di grup angkatan, lahir sebuah grup baru. Grup yang membahas soal investasi. Kami saling berbagi ilmu soal investasi. Ada yang bermain saham. Ada yang bermain deposito berjangka. Ada yang mengikuti tren P2P Lending. Seorang teman bertanya, harus darimana memulai investasi ini?

Saya ikut menjawab, semuanya harus dimulai dengan manajemen keuangan rumah tangga.

Pembagian Proporsi Manajemen Keuangan

Dalam merencanakan keuangan, saya selalu memakai proporsi 10:20:30:40. Apa maksudnya itu?

  • 40% diperuntukkan untuk kebutuhan operasional rumah tangga, mulai dari kebutuhan sehari-hari, biaya anak sekolah, bensin, hingga pulsa dan listrik.
  • 30% diperuntukkan untuk cicilan yang bersifat produktif. Dalam hal ini cicilan tersebut boleh saja berupa cicilan rumah atau tanah karena nilainya yang tidak mungkin berkurang. Bisa juga berupa cicilan untuk modal usaha.
  • 20% diperuntukkan untuk investasi, asuransi, atau tabungan terencana.
  • 10% sisanya digunakan untuk dana sosial, having fun, dan dana darurat.

Misalkan penghasilanmu 20 juta per bulan, berarti:

  • Kebutuhan Operasional maksimal 8 juta per bulan
  • Cicilan yang bersifat produktif 6 juta per bulan
  • Investasi, asuransi, atau tabungan terencana 4 juta per bulan
  • Dana sosial, having fun, dan dana darurat 2 juta per bulan

Untuk dua poin di atas sepertinya sudah jelas bagaimana. Nah, yang bingung itu bagaimana pembagian untuk investasi, dkk? Harus investasi ke mana? Berapa lagi pembagiannya?

Pertama, milikilah emas. Saya selalu memandang emas sebagai hedging (lindung nilai), bukan investasi. Kecuali dalam masa krisis seperti sekarang, yang nilainya naik sekitar 300.000 per gram dalam waktu beberapa bulan, emas hanya bersifat melindungi diri karena secara nilai ya sama saja. Secara nominal yang hanya sedikit di atas inflasi.

Namun, bukan berarti kita tidak perlu menyimpan emas. Tabunglah emas, dengan alokasi 20% dari 20% alokasi untuk investasi, dkk tadi. Atau bila mengikuti contoh penghasilan 20 juta sebulan tadi, kita menabung emas sebesar 800 ribu per bulan. Ya, kalau sebelum naik gila-gilaan kayak sekarang, estimasinya cukup 1 gr/bulan. Lalu berhenti pada batas nisabnya, yaitu 85 gram. Visi saya sih seperti itu, saya hanya cukup punya emas batangan maksimal 85 gram selama hidup.

Selain itu, 30% dari alokasi investasi, dkk saya peruntukkan untuk investasi betulan. Dana ini adalah dana idle dan sudah harus diikhlaskan apa pun yang terjadi. Sebab prinsip investasi adalah selalu memiliki risiko. Dalam hal ini, saya mencari cara yang lebih aman, yaitu memilih P2P Lending seperti Tanifund. Banyak P2P Lending tapi kita harus mempelajari betul-betul syarat dan ketentuannya.

20% berikutnya adalah untuk tabungan berencana. Banyak layanan bank yang sudah mengakomodasi hal ini.

30% lainnya bisa kita pergunakan untuk asuransi. Saya sarankan untuk tidak pernah memilih unit link. Dan kalau merasa sudah puas dengan BPJS, alokasi ini bisa diperuntukkan baik itu untuk tabungan terencana atau investasi.

Bagaimana Bila Mengalami Kesulitan Keuangan?

Aku sih sadar, untuk bisa mengikuti resep 10:20:30:40 itu idealnya adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan di atas 10 juta per bulan. Sedangkan masa pandemi ini membuat orang kehilangan banyak penghasilan. Bahkan muncul wacana, negara akan menyubsidi pekerja yang penghasilannya di bawah 5 juta.

Kesulitan keuangan menjadi suatu keniscayaan. Buat makan saja susah, apalagi mikirin investasi.

Langkah pertama bila memang harus serius mengatasi masalah keuangan adalah membuang latte factor, atau hal-hal kecil yang menyebabkan pengeluaran. Langkah kedua, membuat penganggaran dengan lebih mendetail, dengan menjabarkan seluruh pengeluaran yang sifatnya wajib terlebih dahulu. Bila kurang, terpaksa kita ikuti resep pembiayaan Keynes: Utang.

Sekarang ini banyak banget platform pinjaman online. Karena itu kita juga harus hati-hati. Tidak sedikit yang justru terjebak juru utang sehingga harus menanggung malu datanya dibocorkan ke mana-mana.

Salah satunya adalah Tunaiku. Syarat paling minimum yang harus diperhatikan adalah sudah terdaftar di OJK. Tunaiku sebagai KTA Online sudah terdaftar di OJK.

Tunaiku merupakan salah satu situs pinjaman online pertama di Indonesia dan sudah berdiri sejak tahun 2014. Tunaiku salah satu produk dari Amar Bank, salah satu institusi finansial berbentuk bank resmi di Indonesia yang sudah beroperasi pada tahun 1991. Selain di bawah naungan bank
resmi, Tunaiku dan Amar Bank juga berdiri di bawah bendera perusahaan multinasional yaitu Tolaram Group. Karena berada di bawah naungan bank, KTA online di Tunaiku aman terpercaya dan kemudahannya.

Ya, jadi bagi yang membutuhkan dana cepat untuk pinjaman modal usaha, Tunaiku bisa jadi salah satu alternatif. Limitnya hingga 20 juta dengan tenor panjang hingga 20 bulan.

Baca Juga: Cari Tahu Pinjaman KTA Terbaik

Mimpi Bebas Finansial

Merencanakan keuangan dengan baik adalah demi meraih mimpi bebas finansial. Siapa yang nggak mau di hari tua nanti kita nggak perlu membebani anak-anak kita, bahkan bisa mewariskan sesuatu kepada mereka?

Yuk, mulai disiplin merencanakan keuangan dari sekarang!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

  1. Baru tahu kalau ada wacana, negara akan menyubsidi pekerja yang penghasilannya di bawah 5 juta. Weh, aku bisa dapet juga nih. Wekekek

    1. iya ada wacana demikian
      meski nggak tahu mekanisme detailnya bakal gimana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *