All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Aku Menyalakan Lilin Untukmu

aku merindukan mati lampu supaya kita dapat berpelukan
di sekitar lilin yang baru dinyalakan
bersama kita memainkan bayangbayang
dan menyaksikan dinding bak layar bioskop dengan film baru tayang

aku menciptakan seekor elang
yang mengepakkan sayapnya pedih
setelah menghabiskan sekepal daging sidharta
cakarnya yang biasa gigih menjadi letih
kau menyebut cakar itu hatiku
lalu tanganmu menyalak, menjadi anjing penjaga

aku telah lama meninggalkan rumah
kau telah lama menungguku pulang

aku merindukan mati lampu terutama
bila hujan turun di antara dua orang kasmaran
aku akan melihat nyala lilin itu tergoda
melepaskan diri dari sumbu ketimbang selalu disalahkan
di antara kita, siapa saja boleh mengaku salah
juga boleh mengaku saling kasmaran

aku tidak tahu mana yang mendekati kebenaran
aku tidak tahu mana yang benar kurindukan

Sesaat Sebelum Pesawatku Jatuh

aku ingin dibiarkan tenggelam dan menghilang
dimakan ikan-ikan kelaparan
atau membusuk tinggal tulang

sebelumnya aku akan menikmati kisah pi
dalam permainan gelombang laut
yang lebih dahsyat dari gelombang maut
dan menatap langit malam tahun baru
tanpa nyala kembang api yang memencar
ada rasi bintang yang malumalu mengintipku
mereka menahan diri agar
aku tak ingat jalan pulang

kau tak perlu mencariku
dengan menghabiskan uang rakyat bermilyar-milyar
dan lima ribu lima ratus ton bahan bakar
yang dapat menjadi ribuan ton pencacah lapar

aku akan tenang, bila tenggelam dan menghilang
dimakan ikan-ikan kelaparan
atau membusuk tinggal tulang

ini seperti seseorang menghamburkan abuku ke laut
aku menyatu dengan yang menyucikan segala
yang kembali kepadanya

suatu hari bila kau merindukanku pula
kau tak akan perlu meratap di pusara
pura-pura menggenggam tanah basah
tetapi pergilah ke pantai utara
dan berharap satu dari sekian banyak pasir di sana
adalah pecahan tulangku yang terdampar

tidak apa-apa, manusia terbiasa dengan kesedihan
juga perasaan kehilangan

Kumpulan Cerpen Tempo 2014

Ebook_Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Kumpulan cerita pendek Koran Tempo 2014 dapat diunduh pada link di atas. Terima kasih kepada Ilham Q. Moeddin yang telah bersusah payah mendokumentasikan cerpen-cerpen tersebut. Bagi teman-teman yang ingin mencoba mengirim cerita ke Koran Tempo, dapat mengirimkan karyanya ke ktminggu@tempo.co.id

Tolong Tebak, Ada Apa dalam Kepala 1 Januariku?

aku mencoba menumbuhkan pohon di dalam kepalaku, tetapi
tak ada unsur hara yang memadai.
ada hamparan tanah yang gersang, tak dihuni siapa pun
sebatang rumput yang masih bertahan menyebut dahaga
tetapi itu cara terbaik menguji iman

aku pikir-pikir tak pernah ada yang mondar-mandir
kecuali angin yang sudah milik seseorang

aku tak paham, kapan aku akan milik seseorang?

Emas, Tanah, dan Harga Diri

Aku pernah membuat sebuah puisi, yang menyatakan bahwa pasar bebas mengolok-olok asumsi makro ekonomi. Martabak mini yang lima tahun lalu berharga Rp1.000,- kini sudah menjadi Rp3.000,-. Padahal inflasi “hanya” 6% setahun. Jika di atas kertas, dihitung dari tingkat inflasi, harga martabak mini kini seharusnya tidak lebih dari Rp1.500,-.

Nilai sebuah mata uang pada faktanya semakin tidak berarti di hadapan nilai barang.

Setiap kali memandangi nominal angka di rekeningku, aku pun kian gelisah. Aku khawatir menabung uang artinya sama saja dengan menunggu uang-uang itu semakin turun nilainya. Tabungan 50 juta hari ini, sepuluh tahun lagi sudah tak memiliki kekuatan yang sama.

Seorang rekan menyarankan untuk membeli emas sebagai investasi. Aku pikir, emas bukanlah investasi. Emas adalah hedging atau lindung nilai. Dikatakan lindung nilai karena emas memiliki nilai yang tetap. Sementara definisi investasi di benakku adalah seperti kita menanam sebuah pohon, pohon itu tumbuh besar, lalu daunnya rindang, dan berbuah lebat. Ada nilai yang bertambah di sana.

Ketika kubincangkan hal ini dengan istriku, dia mengangguk setuju.

Continue reading Emas, Tanah, dan Harga Diri