All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Bukan Hanya Mojang Bandung yang Cantik, Hotel Amaroossa Bandung Juga Cantik!

Pernah mendengar guyonan ala anak muda tentang mojang Bandung yang cantik atau geulis? Nah kalau kamu belum pernah dengar guyonan ini dan penasaran bener enggak sih kalau mojang Bandung itu cantik-cantik,langsung aja datang ke Kota  Kembang Bandung. Lakukan survey kecil-kecilan sendiri deh disana, bisa dengan cara melihat-lihat mojang yang seliweran sana-sini atau mungkin boleh bertanya ke anak muda khususnya yang laki-laki ya, benar enggak sih mojang Bandung itu cantik-cantik?

Kalo menurut pengamatan singkat dan ketika ditanya kepada beberapa traveler atau pelancong dari luar kota, dapat kesimpulan bahwa memang mojang Bandung teh geulis-geulis! Tapi data dan fakta ini hanya hasil pengamatan secara singkat dan random aja lho! Karena mungkin banyak wanita yang tidak setuju penerapatan standar cantik itu seperti apa. Tapi memang sih cantik itu relatif, tapi kalau jelek itu mutlak! Eh, jokes dikit!

Oke kali ini kamu bukan sedang diajak untuk menentukan standar kecantikan, atau bukan juga suruh voting tentang mojang Bandung itu cantik atau tidak, tapi yang pasti yang mungkin kamu enggak bisa elakkan kalau  kota Bandung itu itu emang cantik dan penuh pesona! Kota Bandung juga terpilih menjadi kota wisata favorit ke-4 di Asia! Duh, udah mojangnya cantik kotanya juga penuh pesona!

Sebagai kota wisata favorit tentu kehadiran berbagai tempat menarik yagn mengundang minat para pelancong atau traveler untuk datang ke Bandung tak terelakkan. Bukan hanya tempat wisatanya yang menjadi daya tarik, restoran dan berbagai tempat makan dan hang out di Bandung juga ngangenin! Tak ketinggalan salah satu tempat penting untuk traveler yang juga cukup dicari saat berkunjung ke Bandung ya hotel!

Keberadaan hotel di sebuah kota wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan seperti Bandung merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu di kota ini tersedia banyak penginapan dan hotel yang bisa dipilih para traveler untuk akomadasinya selama berada di Kota Kembang.  Kalau kamu mau cari hotel cantik yang instagramable di Bandung salah satunya adalah Amaroossa Bandung. Kamu bisa mencari tahu tariff hotel ini pada beberapa situs booking hotel salah satunya Traveloka.

Hotel Amaroossa Bandung berlokasi di Jalan Aceh nomor 71A, kota Bandung, Jawa Barat. Lokasi hotel ini juga cukup strategis, dekat dengan Bandara Husein Sastranegara. Jarak dari hotel ke Bandara tidak sampai 5 kilometer, kalau kamu berkendara dengan mobil atau taksi mungkin hanya menghabiskan waktu 30 menit, tapi tergantung sih macat atau enggak, secara Bandung itu kalo lagi akhir pekan atau musim liburan itu rame banget!

Hotel Amaroossa Bandung terlihat cantik dengan desain interiornya. Hampir di setiap sudut ruangan hotel ada bunga, lampu-lampu yang cantik dan sofa sehingga terlihat cantik, manis dan anggun, enggak lah deh mojang Bandung cantiknya! Katanya sih konsep desain interior yang cantik dari hotel ini sesuai dengan kesukaan owner. Beliau suka mengoleksi sofa dan lampu-lampu yang cantik!

gb1 gb2

Beberapa sudut ruangan di Amaroossa Bandung via lafamilledewijaya.com

Selain desain sudut ruangannya yang cantik, kamar dari Hotel Amaroossa Bandung juga tak kalah cantik. Terdapat 92 kamar dan dibagi menjadi beberapa tipe seperti deluxe, executive dan president suite. Desain kamar hotel terlihat begitu anggun dan cantik dengan dominasi warna cokelat krem. Hiasan lampu-lampu cantik dan sofa juga mempermanis tampilan kamar di sudut-sudut ruangan.

Selain cantik, kamar hotel di Amaroossa Bandung dilengkapi dengan fasilitas seperti TV, meja, laci, dan kursi.

gb3

Kamar Hotel Amaroossa Bandung via Traveloka.com

 

Tidak cukup kamar tidur dan ruangan-ruangan hotel yang cantik, hotel ini juga mendesain cantik kamar mandi di setiap kamarnya. Dominasi warna cokelat kayu ditambah hiasan cermin yang cantik dan bathub siap memanjakan  dan membuat nyaman pengunjung saat bersih-bersih. Ruangan shower juga tersedia dengan nuansa milenum. Amenetis yang tersedia juga cukup lengkap.

gb4

Kamar Mandi Hotel Amaroossa Hotel via Traveloka.com

 

Dengan segala desain ruangan dan kamarnya yang cantik, hotel ini juga cocok untuk kamu  yang ingin honeymoon bersama pasangan. Suasananya yang cantik dan anggun tentu akan membuat momen honeymoon terasa lebih romantis, dan jangan lupa abadikan di kamera setiap momen cantik di hotel ini. See you and have a nice trip!

 

Lomba Menulis Blog Kejujuran oleh KPK

Informasi lomba menulis blog kali ini diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tema “Anak Jujur” tema ini diangkat karena setiap orang memiliki pengalaman tentang masa kecilnya yng sudah ditanamkan kejujuran oleh kedua orangtuanya. Masa kecil ditanamkan kejujuran oleh kedua orangtuanya ternyata memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan kita, entah dalam hal apapun, misalnya hal sekolah, makan, minium, dan lain sebaginya.

Bagi kalian yang memiliki pengalaman tersebut silahkan daftar pada Lomba Menulis Blog dari KPK 2016 tentang “Anak Jujur” ayo segera di buat tulisanmu tersebut sebelum deadlinnya habis pada tanggal 21 September 2016.

Syarat dan Ketentuan lomba Blog

  • Lomba ini terbuka untuk umum, asal dia Warga Negara Indonesia
  • Tulisan sesuai dengan tema
  • Pengiriman karya terahir pada tanggal 21 September 2016
  • Pengiriman karya dilakukan dengan mengirimkan link postingan ceritanya ke alamat email: aaj.fas@gmail.com
  • Keputusan dewan juri tidak dapat dianggu gugat
  • Pendaftran lomba ini gratis, alis free
  • Tulisan yang di ikutsertakan dalam lomba bebas dari unsur plagiarisme
  • No Sara
  • No Pornografi

Informasi selengkapnya tentang penyelenggaraan Lomba Menulis Blog dari KPK 2016 kalian bisa membua FansPage Facebook “Aku Anak Jujur

Lomba Cipta Puisi Nusantara

Lomba cipta puisi nusantara tahun 2016 ini diselenggarakan oleh Halaman GPMH bekerjasama dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia (sebagai juri lomba). Dengan deadline pendaftaran sampai tanggal 20 September 2016.

Pendafatran lomba cipta puisi nusantara ini free alias gratis gratis, bagi temen-temen yang pengen ikut dalam lomba silahkan saja mendaftarkan diri sebelum semuanya berahir. Untuk tema yang dingkat dalam lomba adalah Senandung Cinta.

Syarat dan Ketentuan lomba adalah sebagai berikut:

  • Peserta lomba yang ingin mengikuti lomba cipta puisi nusantara harus menggunakan Bahasa Indonesia sesuai KBBI dan EBI.
  • Setiap peserta hanya diperbolehkan mengikutkan satu karya untuk setiap peserta. (Kami akan mendiskualifikasi peserta yang dianggap tidak mengindahkan Syarat dan Ketentuan Lomba, tanpa pemberitahuan)
  • Tulisan puisi minimal 12 baris/larik
  • Lomba ini akan dimulai dari tanggal 10 September, Deadline 20 September 2016.
  • Pengriman naskah harus dikirim atau di posting ke grup lomba: https://www.facebook.com/groups/LCPN.GPMH/
  • Naskah puisi yang diikutkan lomba adalah karya sendiri (bukan plagiat), dan belum pernah diikutkan lomba di lain tempat.
  • Setiap peserta lomba wajib untuk like (suka) pada getaran pena menggores hati, disini https://www.facebook.com/gpmh2013/
  • Peserta juga wajib untuk add akun PJ lomba: Alvin Shul Vatrick
  • Peserta wajib menyebarkan info lomba ini, minimal ke 10 orang teman yang hobi menulis puisi
  • Naskah yang diikutkan lomba belum pernah post di status FB atau media sosial mana pun.
  • Pengumuman pemenang tanggal 23 September 2016, di Halaman Getaran Pena Menggores Hati dan Halaman Bait Nusantara, Grup/Halaman Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Hadiah Bagi Para Pemenang lomba adalah sebagai berikut:

Karya Terbaik I : Rp. 300.000 (Transfer Rekening)
Karya Terbaik II : Rp. 200.000 (Transfer Rekening)
Karya Terbaik III: Rp. 100.000 (Transfer Rekening)
* Karya Terbaik (I, II, dan III) mendapatkan buku puisi dari FAM Indonesia.
* 10 Karya Nominasi (termasuk karya terbaik) mendapatkan E-Piagam Penghargaan.

Informasi Lomba Cipta Puisi Nusantara  2016 dengan pendaftaran gratis ini bisa kalian dapatkan di link berikut ini: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1767956806825028&set=a.1387003028253743.1073741827.100008321771359&type=3&theater

Lomba Menulis Cerpen 2016 dari Penebit Indiva Media Kreasi

lomba menulis cerpen 2016 terbaru dan diselenggarakan secara online ini akan berahir pada tanggal 10 Oktober 2016. Adapun untuk pihak penyelnggara lomba, yakni Penebit Indiva Media Kreasi mengangkat tema “Girls Talk Series: Jangan Jadi Cewek Cengeng”.

Tema ini diangkat karena pada saat ini setiap perempuan memiliki cerita dalam hidup yang ia jalani, cerita tersebut baik dalam perjuangan, kejatuhan, kebangkitan, atau ketegaran. Begitu juga bagi kamu para pembaca websaite lomba, pasti juga punya sosok heroine yang menjadi panutanmu.

Syarat dan Ketentuan Lomba Menulis Cerpen 2016 dari Penebit Indiva Media Kreasi adalah sebagai berikut:

  • Lomba menulis cerita atau cerpen ini terbuka untuk umum, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada batasan usia, yang terpenting adalah punya karya yang sesuai dengan tema
  • Setiap peserta diharuskan untuk mengisi formulir. Adapun untuk formulir tersebut dapat diunduh DISINI
  • Karya yang dikirimkan berupa tulisan non-fiksi kreatif bertema motivasi dengan tagline “Jangan Jadi Cewek Cengeng”.
  • Karya cerita atau cerpen tidak mengandung unsur sara
  • Karya cerpen juga tidak boleh mengadung unsur pornografi
  • Setiap karya yang diikutsertakan dalam lomba harus dilengkapi dengan biodata diri dalam bentuk narasi singkat (dicantumkan dalam satu file).
  • Naskah asli bukan bentuk plagiarisme, baik sebagaian atau secara keseluruhan
  • Naskah cerpen juga belum pernah diterbitkan/dipublikasikan di media apa pun
  • Panjang tulisan cerpen atau cerita yang diikutsertakan dalam lomba minimal vberjumlah 8 halaman, dan maksimalnya adalah 10 halaman, ditulis dalam ukuran kertas A4.
  • Satu peserta hanya boleh mengirimkan 1 naskah.
  • Format penulisan: file doc atau .docx. (disimpan dalam Ms. Word Versi 97-2003), spasi 1.5 Times New Roman, margin standar atas 3 cm, bawah 3 cm, kanan 3 cm, kiri 3 cm.
  • Kirim karya kamu beserta formulir yang telah kamu isi ke email panitia smileindiva2016@gmail.com dengan format email dan file: JJCC (spasi) nama (akun twitter).
  • Setelah mengirimkan karya jangan lupa mention di twitter Indiva (@penerbitindiva). Contoh: halo, Kak Admin @penerbitindiva aku ikutan sayembara JJCC dan udah kirim naskahnya.
  • Pendaftaran dalam lomba ini adalah gratis
  • Juri akan memilih 10 karya terbaik
  • Keputusan dewan juri tidak bisa dinggu gugat

Timeline dalam Lomba Menulis Cerpen 2016 dari Penebit Indiva Media Kreasi adalah sebagai berikut:

DeadlineWaktu
Pendaftaran15 September dan ditutup 10 Oktober 2016
Pengumuman15 Oktober 2016

Hadiah dalam lomba cerpen untuk 10 karya terpilih berhak mendapatkan beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut:

Karya terpilih akan diterbitkan dalam antologi Girls Talk Series: Jangan Jadi Cewek Cengeng. Antologi ini akan beredar dalam skala nasional.
Honor penerbitan.
Satu copy buku antologi Jangan Jadi Cewek Cengeng.
Diskon khusus untuk pembelian setiap produk Penebit Indiva Media Kreasi.

Jika kamu memiliki bakat dalam menulis, silahkan segara ikut dalam Lomba Menulis Cerpen 2016 dari Penebit Indiva Media Kreasi semoga diantara para pembaca ada yang bisa menjadi juara, untuk lebih lengkapnya silahkan menghubungi SMS/WA 082387457946 (Rida) atau bisa cek di dalam websaite panitia, dengan alamat http://indivamediakreasi.com/sayembara-indiva-cari-karya/

Puisi Pringadi Abdi Surya, Suara Pembaruan

dimuat di Suara Pembaruan, 5 Desember 2010

Di Palembang Square

Dan tak terbaca, yang dulu kukenali
sebagai kota. Perempuan-perempuan muda
memakai hot pants, high heels, dan tanktops seolah udara
telah benar begitu hangat. Duduk di Solaria itu, aku
merinding dan kedinginan. Dinding-dinding terasa
sempit, dan malam yang mengepungku di luar
siap mengubahku jadi kelelawar. Kecuali mawar,
menyelamatkanku dari ketersesatan. Dan
begitu pun kota yang dulu kukenali ini makin tak
terbaca. Mungkin saja mataku yang rabun
dan perlu kaca mata.

Motif, VI

Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah
mengisi rongga dadaku. Sebab di langit manapun kita
berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender
yang bertanggalan, seperti helai dedaunan—
terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali
tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan,
kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian
yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu
keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit,
tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah
melebihi semua gegabah yang sering kulakukan.
Andai kita berpisah, pastilah karena bulan
di langit sudah tak sama. Angin malam,
gerak bayangan di remang taman, dan
sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim;

Aku tergeletak. dadaku retak.

Motif, IV

Alhamdulillah, kakiku masih menjejak tanah. Aku
layangkan pandanganku ke sekitar, di mana engkau yang berjanji
menyambutku dengan tawa yang lebar? Dan merangkulku
seolah-olah tak akan pernah kau temukan
kehangatan yang sama itu; Langit mendung,
udara menciumi bunga bakung. Aku mengabungkan diri
pada musim ini. Tapi, alhamdulillah,
mataku yang basah tidak begitu perih, selain
sebuah koper yang rahasia, dan kotak mie bekas
berisikan kenangan-kenangan yang tak bisa lepas.
Tinggal menghabiskan sisa kopi kaleng, mengobati tubuhku
yang oleng. Siapa berpikir cinta ini telah selesai,
selama umur belum usai, dan sejarah hidup
begitu masai?

Motif, III

Aku tak terlambat masuk ke ruang tunggu. Sebagian kursi
sudah penuh. Seorang laki-laki sedang menopang dagu,
dan mengosongkan bola matanya yang abu.
Duduk di sebelahnya, aku memikirkan keberangkatan.
Berharap pramugari seksi memberikan kartu
namanya. Dan mengenalkan diri sebagai perempuan yang
sanggup menahan dadaku yang gemetar pada
ketinggian. Tetapi, masih lima belas menit lagi
sebelum semua jelas, apakah benar kematian itu
memang dekat adanya.

Motif, I

Dan barangkali di keningmu, hanya di
keningmu, kutinggalkan sajak cinta paling purba.
Tanpa ada kata-kata, kecuali hening yang
tersisa. Aku mengingat itu di sebuah taman—
sore hari, menaiki ayunan, memandangi langit
yang mulai gelap, seperti halnya kenyataan
—entah di mana terang. Aku, kemudian
berjalan ke arah kolam.
Keruh. Dan daun-daun tenggelam, cokelat
kemerahan, tetapi utuh. Barangkali,
udaralah yang bikin dada semakin busuk.
Sepotong ranting lunglai, lapuk
tergeletak pasrah
menanti sepasang tangan memungutnya
dan barangkali, aku mampu
menggambar keningmu di sana

SALAM KEPADA SISYPHUS

Begitu haus, kerongkongan meminta cium.
Sajak seperti udara, ada tetapi tak bisa
diraba. Begitulah puncak dalam pendakian panjang
itu. Seolah dekat, seolah dekat, padahal kematian
kian akrab. Daun-daun yang gugur diterpa angin
berserak, dan membusuk, entah ke arah lain
hanyut, mengapung,
tenggelam. Dan berabad
nasib telah menjadi sahabat. Di lereng gunung
yang curam, dan terjal. Sementara ajal
mengepung kesepian yang tak pernah habis.
Begitu haus, begitu haus, kerongkongan
akan nafasmu, yang melayang
dan tak pernah
kembali.

Puisi Nizar Qabbani

Nizar Qabbani lahir di Damaskus, 21 Maret 1923. Ia pernah bekerja di Departemen Luar Negeri Suriah dan bertugas di Mesir dan Inggris. Namun, pada tahun 1944 ia tinggalkan pekerjaannya untuk mencurahkan perhatian pada satu-satunya hal yang ia cintai: puisi. Karya-karya Qabbani terdiri dari lusinan antologi puisi yang sangat populer di dunia Arab. Banyak puisinya yang dijadikan lirik lagu para penyanyi Arab kontemporer. Karena sikap politiknya, ia pernah dimusuhi oleh para pemimpin negara-negara Arab hingga terpaksa mengasingkan diri ke London, Inggris. Ia meninggal pada tahun 1998 di London. 

 

Peramal (Qariul Finjan)

dengan mata yang cemas
dia duduk
merenungi gelas yang terbuka
kemudian berkata,
“tak usah bersedih, anakku
kau telah ditakdirkan untuk jatuh cinta.”
anakku, siapa pun yang mengorbankan dirinya
untuk kekasihnya
adalah seorang martir.

telah lama kupelajari ramalan
namun tak pernah kubaca gelas seperti milikmu
telah lama aku belajar ramalan
dan tak pernah kulihat penderitaan
seperti penderitaanmu
kau telah ditakdirkan
terus berlayar dalam lautan cinta
kehidupanmu telah ditakdirkan
menjadi buku air mata
dan terus terpenjara
di antara api dan air

namun di balik seluruh kepedihan
di balik kesedihan yang mengurung kita
siang dan malam
di balik angin
udara yang basah
dan hembusan siklon
ada cinta, anakku
yang akan tetap
menjadi hal terbaik
dari sebuah takdir

akan ada seorang perempuan
dalam hidupmu, anakku
maha besar tuhan!
matanya sungguh indah
mulut dan desah tawanya
dipenuhi bebungaan dan melodi
kecintaan dan kegilaannya pada kehidupan
melingkupi dunia

seorang perempuan yang kau cintai
adalah seluruh duniamu
namun langitmu akan tetap mendung
jalanmu tertutup,
tertutup, anakku

kekasihmu, anakku
tertidur dalam istana
yang dijaga ketat
siapa pun yang mencoba
mendekati dinding-dinding tamannya
atau memasuki ruangannya
dan menawarkan diri padanya
atau mengurai sanggulnya
hanya akan membuatnya musnah
hilang, anakku

kau akan mencarinya ke manapun, anakku
kau akan bertanya pada gelombang laut
kau akan bertanya pada pantai
kau akan mengarungi samudra
dan air matamu mengalir seperti sungai
dan di akhir kehidupanmu
kau akan mengetahui bahwa
kekasihmu tak memiliki tanah,
tempat tinggal, ataupun alamat

saat itu kau tersadar
kau telah mengejar
jejak-jejak kabut

akan sulit, anakku
mencintai perempuan
yang tak memiliki tanah
ataupun tempat tinggal

Kita Akan Dianggap Teroris

kita akan dianggap teroris
jika kita berani menuliskan
puing-puing tanah air
yang berhamburan dan membusuk
dalam kemunduran dan kekacauan

tentang sebuah tanah air
yang tengah mencari tempat
dan tentang sebuah bangsa
yang tak lagi memiliki wajah

tentang tanah air
yang tak mewarisi apapun
dari puisi-puisi masa lalunya
yang luar biasa
selain ratapan dan elegi

tentang tanah air
yang tak memiliki apapun
dalam horizonnya

tentang kebebasan
beragam kelompok dan ideologi

tentang sebuah tanah air
yang melarang kita
membeli surat kabar
atau mendengarkan segala sesuatu

tentang sebuah tanah air
yang melarang burung-burung bernyanyi

tentang sebuah tanah air
yang para penulisnya
terpaksa menulis
dengan tinta transparan
agar terhindar dari kekejaman

tentang tanah air
yang menyerupai puisi di negeri kita
disusun, diedarkan, hilang,
dan tak memiliki batasan
dengan lidah dan jiwa orang asing
memisahkan lelaki dan tanahnya
menghapus seluruh keadaan mereka

tentang sebuah tanah air
yang dinegosiasikan di sebuah meja
tanpa harga diri
atau pun sepatu

tentang sebuah tanah air
yang tak lagi memiliki lelaki-lelaki tabah
dan hanya berisi para wanita

kegetiran di mulut kita
dalam kata-kata kita
dalam mata kita
akankah kekeringan juga menjangkiti jiwa kita
sebagai sebuah warisan
dari masa lalu?

tak seorang pun tersisa di negeri kita
bahkan sedikit kemenangan
tak seorang pun berkata ‘tidak’
di hadapan mereka
yang menyerahkan tempat tinggal,
makanan, dan mentega kita
mengubah sejarah kita yang berwarna
menjadi sebuah sirkus

kita tak memiliki satu pun
puisi yang jujur
puisi yang tak kehilangan kemurniannya
di tangan para penguasa harem

kita telah terbiasa terhina
kita tumbuh dengan penuh kehinaan
apakah arti seorang lelaki
jika ia merasa nyaman
dalam keadaan seperti itu?

aku cari-cari buku sejarah
aku cari-cari orang-orang luar biasa
yang akan mengeluarkan kita
dari kegelapan
dan menjaga perempuan-perempuan kita
dari kekejian dan kekejaman

aku mencari lelaki masa lalu
namun yang kutemukan
hanyalah kucing pengecut
yang takut pada jiwa mereka sendiri
dan kekuasaan para tikus

apakah kita dipukul
oleh nasionalisme buta
atau kita menderita
buta warna

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak mati
di bawah kekuasaan tirani israel
yang merintangi persatuan kita
sejarah kita
injil dan quran kita
tanah para nabi kita
jika semua itu adalah dosa
dan kejahatan kita
maka terorisme
bukan sesuatu yang buruk

kita dianggap teroris
jika kita menolak
disingkirkan oleh orang-orang biadab,
mongol maupun yahudi

jika kita memilih menghancurkan
kaca-kaca dewan keamanan
yang dihuni oleh raja caesura

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak berunding
dengan serigala
dan berbicara pada pelacur

amerika menentang budaya manusia
karena tak memiliki sesuatu
dan melawan peradaban
karena membutuhkan sesuatu
amerika adalah bangunan raksasa
namun tak memiliki dinding

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak arus zaman
ketika amerika yang arogan, kaya, dan kuat
menjadi penerjemah orang-orang yahudi

Yerusalem (al-Quds)

Aku menangis
hingga air mataku mengering
aku berdoa
hingga lilin-lilin padam
aku bersujud
hingga lantai retak
aku bertanya
tentang Muhammad dan Yesus

Yerusalem,
O kota nabi-nabi yang bercahaya
jalan pintas
antara surga dan bumi!
Yerusalem, kota seribu menara
seorang gadis cilik yang cantik
dengan jari-jari terbakar

Kota sang perawan,
matamu terlihat murung.
Oasis teduh yang dilewati sang Nabi,
bebatuan jalananmu bersedih
menara-menara masjid pun murung.

Kota yang dilaburi warna hitam,
siapa yang akan membunyikan
lonceng-lonceng makam suci
pada hari Minggu pagi?
siapa yang akan memberi mainan
bagi anak-anak
pada perayaan natal ?

Kota penuh duka,
O, air mata yang sangat besar
bergetar di kelopak matamu,
siapa yang akan menyelamatkan Injil?
siapa yang akan menyelamatkan Quran?

siapa yang akan menyelamatkan Kristus,
siapa yang akan menyelamatkan manusia?
Yerusalem, kotaku tercinta

esok pepohonan lemonmu akan berbunga
batang dan cabangmu yang hijau
tumbuh dengan gembira
dan matamu berseri-seri.
merpati-merpati yang bermigrasi
akan kembali ke atap-atapmu yang suci
dan anak-anak akan kembali bermain

orang tua dan anak-anak akan bertemu
di jalananmu yang berkilauan
kotaku, kota zaitun dan kedamaian.

 

Diterjemahkan oleh Irfan Zaki Ibrahim

 

Syair

 

1

Kawan

Kata-kata lama telah mati.

Buku-buku lama telah mati.

Pembicaraan kita mengenai lubang seperti sepatu usang telah mati.

Mati adalah pikiran yang mengarahkan pada kekalahan.

 

2

Puisi-puisi kami sudah basi.

Rambut perempuan, malam hari, tirai, dan sofa

Sudah basi.

Segalanya sudah basi.

 

3

Negeri duka-citaku,

Secepat kilat

Kau merubah aku dari seorang penyair yang menulis puisi-puisi cinta

Menjadi seorang penyair yang menulis dengan sebilah pisau.

 

4

Apa yang kami rasa lebih dari sekadar kata-kata:

Kami harus malu lantaran puisi-puisi kami.

 

5

Dikendalikan oleh omong kosong Oriental,

Oleh sombongnya keangkuhan yang tak pernah membunuh seekor lalat pun,

Oleh biola dan beduk,

Kami pergi berperang,

Lalu menghilang.

 

6

Teriakan kami lebih lantang ketimbang tindakan kami,

Pedang kami lebih panjang ketimbang kami,

Inilah tragedi kami.

 

7

Pendeknya

Kami mengenakan jubah peradaban

Namun jiwa kami hidup di zaman batu.

 

8

Kau tak memenangkan perang

Dengan buluh dan seruling.

 

9

Ketaksabaran kami

Membayar kami lima puluh ribu tenda baru.

 

10

Jangan mengutuk sorga

Jika ia membuang dirimu,

Jangan mengutuk keadaan,

Tuhan memberi kemenangan pada siapa yang Ia kehendaki

Tuhan bukanlah seorang pandai yang dapat kau minta menaklukan senjata.

 

11

Betapa menyakitkan mendengar berita pagi hari

Betapa menyakitkan mendengar salak anjing.

 

12

Musuh-musuh kami tak melintasi perbatasan kami

Mereka merayap melalui kelemahan kami seperti semut.

 

13

Lima ribu tahun

Janggut tumbuh

Di goa-goa kami.

Mata uang kami tak diketahui,

Mata kami sebuah surga bagi serangga.

Kawan,

Bantinglah pintu,

Cucilah otakmu,

Cucilah pakaianmu.

Kawan,

Bacalah buku,

Tulislah buku,

Tumbuhkan kata-kata, anggur dan delima,

Berlayarkah ke negeri kabut dan salju.

Tak seorang pun tahu kau hidup di goa-goa.

Orang-orang mengambilmu untuk pengembangbiakan anjing liar.

 

14

Kami adalah orang berkulit tebal

Dengan jiwa yang kosong.

Kami habiskan hari-hari kami dengan belajar sihir,

Main catur dan tidur.

Adakah kami “Bangsa di mana Tuhan memberkati manusia?”

 

15

Minyak gurun kami bisa menjadi

Belati nyala api dan api.

Kamilah aib bagi nenek moyang kami yang mulia:

Kami biarkan minyak kami mengalir lewat jemari kaki para pelacur

 

16

Kami berlari serampangan di jalan-jalan

Menarik orang-orang dengan tali,

Menghancurkan jendela dan kunci.

Kami memuji bagai katak,

Mengubah orang kerdil jadi pahlawan,

Dan pahlawan menjadi sampah:

Kami tak pernah berhenti dan berpikir.

Di mesjid

Kami tertunduk malas

Menulis puisi-puisi,

Pepatah-pepatah,

Memohon pada Tuhan untuk kemenangan

Atas musuh kami.

 

17

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Dan dapat melihat Sultan,

Inilah yang akan kukatakan:
‘Sultan,

Anjing-anjingmu yang liar merobek pakaianku

Mata-matamu mengintaiku

Mata mereka mengintaiku

Hidung mereka mengintaiku

Kaki mereka mengintaiku

Mereka mengintaiku bagai Takdir

Menginterogasi istriku

Dan mencatat nama-nama kawanku.

Sultan,

Saat aku mendekati dindingmu

Dan bicara mengenai lukaku,

Tentara-tentaramu menyiksaku dengan boot mereka,

Memaksaku memakan sepatu.

Sultan,

Kau kehilangan dua perang,

Sultan,

Setengah rakyat kita tanpa lidah,

Apalah gunanya seorang manusia tanpa lidah?

Setengah rakyat kita

Terjebak bagai semut dan tikus

Di sela dinding.’

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Akan kukatakan padanya:

‘Kau kehilangan dua perang

Kau kehilangan kontak dengan anak-anak.’

 

18

Jika kami tak mengubur persatuan kami

Jika kami tak merobek tubuh-tubuh segar dengan bayonet

Jika ia berdiam di mata kami

Anjing-anjing tak kan mencincang daging kami membabi-buta.

 

19

Kami tidak menginginkan sebuah generasi yang marah

Untuk membajak langit

Untuk meledakkan sejarah

Untuk meledakkan pikiran-pikiran kami.

Kami menginginkan sebuah generasi baru

Yang tak memaafkan kesalahan

Yang tak membungkuk.

Kami menginginkan sebuah generasi raksasa.

 

20

Anak-anak Arab,

Telinga jagung masa depan,

Kalian akan memutuskan rantai kami,

Membunuh opium di kepala kami,

Membunuh ilusi.

Anak-anak Arab,

Jangan membaca generasi kami yang tercekik,

Kami hanyalah sebuah kotak tanpa harapan.

Kami sama tak berharganya dengan kulit semangka.

Jangan baca kami,

Jangan turuti kami,

Jangan terima kami,

Jangan terima pikiran kami,

Kami hanyalah bangsa bajingan dan pemain akrobat.

Anak-anak Arab,

Hujan musim semi,

Telinga jagung masa depan,

Kalian adalah generasi

Yang akan mengatasi kekalahan.

Pelajaran Menggambar

 

Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar seekor burung.

Kucelupkan kuasku pada cat abu itu

kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu.

Matanya terbelalak heran:

“… Ayah, bukankah ini penjara,

tahukah kau bagaimana menggambar burung?”

Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku.

Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.”
Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar tangkai gandum.

Kugenggam pena

lantas kugambar tangkai senapan.

Anakku menertawakan kebodohanku,

bertanya

“Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan

tangkai gandum dan senapan?”

Kukatakan padanya, “Nak,

aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum

sekerat roti

dan kembang mawar.

Tapi di saat segenting ini

pohon-pohon hutan telah bergabung

dengan pasukan tentara

mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam.

Kini saatnya tangkai gandum bersenjata

burung-burung bersenjata

budaya bersenjata

bahkan agama pun bersenjata.

Kau tak bisa membeli roti

tanpa menemukan peluru di dalamnya

kau tak bisa memetik mawar

tanpa duri memercik di wajahmu

kau tak bisa membeli sebuah buku

yang tak meledak di sela jemarimu.”

 

Anakku duduk di tepi tempat tidur

lalu memintaku membacakan sebuah puisi.

Sebutir airmata jatuh di atas bantal.

Anakku merabanya, heran, berkata:

“Ayah, ini airmata, bukan puisi!”

Lalu kukatakan padanya:

“Nak, saat engkau tumbuh dewasa,

dan membaca diwan-diwan puisi Arab

kau akan temukan bahwa puisi dan air mata tiada bedanya.

Dan puisi-puisi Arab

tak ubahnya kucuran airmata dari jemari yang menulis.”

 

Anakku meletakkan pena dan kotak krayon miliknya

di depanku

lalu memintaku menggambar sebuah tanah air untuknya.

Kuas di tanganku seketika gemetar

aku tenggelam, dan menangis.

 

 

Saat Aku Mencintaimu

 

Saat aku mencintaimu

sebuah bahasa baru terpancar,

kota-kota dan negeri-negeri baru ditemukan.

Jam bernapas seperti anak anjing,

gandum tumbuh di sela halaman-halaman buku,

burung-burung terbang dari matamu bersama gelombang madu,

para kafilah bertolak dari payudaramu membawa herbal India,

buah mangga berjatuhan di mana-mana, hutan menyergap nyala api

dan beduk Suku Nubia berbunyi.

 

Saat aku mencintaimu payudaramu melepaskan rasa malunya,

berubah menjadi petir dan guntur, pedang, dan badai pasir.

Saat aku mencintaimu kota-kota Arab berloncatan dan unjuk rasa

menentang abad penindasan

serta abad pembalasan dendam terhadap aturan suku.

Lalu aku, saat aku mencintaimu,

aku berjalan menentang keburukan,

menentang raja garam,

menentang pelembagaan gurun.

Dan aku akan terus mencintaimu hingga banjir dunia tiba,

aku akan terus mencintaimu hingga saatnya banjir dunia tiba.

 

 

Saat Aku Jatuh Cinta

 

Saat aku jatuh cinta

Kurasa akulah raja waktu

Aku pemilik bumi dan segala di atasnya

Kutuju matahari dengan kuda tungganganku.

 

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi cahaya cair

Yang tak kasat mata

Dan sajak-sajak dalam catatanku

Menjelma jadi ladang bunga poppy dan mimosa.

 

Saat aku jatuh cinta

Jemariku memancarkan air

Dan lidahku menumbuhkan rumput

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi waktu di luar segala waktu.

 

Saat aku jatuh cinta pada seorang wanita

Seluruh pohonan

Berlari telanjang kaki menghadapku.

 

 

Perbandingan

 

Cintaku, aku tak serupa kekasihmu yang lain.
Jika seseorang memberimu segumpal awan
kuberi kamu hujan.
Saat seseorang memberimu lentera

kuberi kamu bulan.
Saat seseorang memberimu dedahan
kuberi kamu pohonan
Dan jika seorang yang lain memberimu kapal
kuberikan padamu petualangan.

 

 

Cahaya Lebih Penting Ketimbang Lentera

 

Cahaya lebih penting ketimbang lentera,

Puisi lebih penting ketimbang buku catatan,

Dan lebih penting ketimbang bibir ialah ciuman.

 

Surat-suratku kepadamu

Lebih besar dan lebih penting ketimbang kita berdua.

Merekalah satu-satunya catatan

Di dalamnya orang-orang kan temukan

Kecantikanmu

Kegilaanku.

 

 

Percakapan

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sebatas cincin atau gelang.

Cintaku adalah kepungan,

Berani dan keras kepala.

Ia berlayar mencari kematiannya sendiri.

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sepotong rembulan.

Cintaku, percikan ledakan.

 

 

Kekasihku Bertanya Padaku

 

Kekasihku bertanya padaku:

“Apa beda diriku dan angkasa?”

Bedanya, kasihku,

ialah saat kau tertawa,

kulupakan angkasa.

 

 

Sajak Maritim

 

Di dermaga biru matamu

hujan cahaya berembus sendu

matahari dan layar-layar

melukis perjalanan menuju keabadian.

 

Di dermaga biru matamu

jendela bagi laut yang terbuka

burung-burung terbang jauh

mencari pulau yang belum tercipta.

 

Di dermaga biru matamu

salju jatuh di bulan juli

kapal-kapal dengan muatan pirus bertumpahan

melintasi laut, tapi tak tenggelam.

 

Di dermaga biru matamu

bagai seorang bocah aku lari di atas batu berserakan

menghirup aroma lautan

melepas seekor burung kelelahan

 

Di dermaga biru matamu

batu-batu bernyanyi malam hari

siapa yang menyembunyikan seribu puisi

pada buku tertutup pejam matamu?

 

Andai, aku seorang pelaut

andai saja seseorang memberiku perahu

setiap malam akan kugulung layarku

di dermaga biru matamu.

 

Diterjemahkan Zulkifli Songyanan