Puisi | BiawaK Sisir

Setelah kau menceburkan diri ke lautan
kulihat kerompengmu lepas. Hari itu, kau belajar
makna bebas. Tak perlu memikirkan negeri
Mencintaiku lebih dari cukup.

Lalu aku angslup ke dadamu. Dan kau bopong aku
ke dalam hutan. Asmara kita membakar pepohonan.

Hingga tinggal asap, dan aku terkesiap
Sebuah istana telah terbangun. Kau kini raja
Tak lagi biawak sisir, yang begitu lahir
membuat malu, Aku kini ratu, melihat tanah rata
di depanku, setelah kata-kata serupa mantra
kuucap penuh kepada dewata.

Setelah kau menceburkan diri ke lautan
aku sepenuhnya perempuan. Dengan cinta
enyahkan segala perbedaan. Mengenang lagi
persahabatan yang sama rupa dengan kesetiaan.

(2020)

Puisi “Biawak Sisir” dibikin dari cerita rakyat Banyuasin berjudul sama. Puisi ini menjadi rangkaian upaya memuisikan cerita rakyat Banyuasin. Baca juga puisi-puisi lain:

Misteri Pantai Batu Bedil di Belitung

Perjalanan ke Belitung, Oktober tahun lalu, menyingkap misteri batu bedil di Belitung. Bukan cuma Pantai Batu Bedil yang indah dan menawan, ternyata di sana juga menyimpan cerita sejarah dan bukti geologi yang menakjubkan.

Wisata Batu Bedil memang belum populer seperti Tour Island of Hope dari Tanjung Kelayang ke pulau-pulau kecil seperti Pulau Garuda dan Pulau Lengkuas yang terkenal karena mercusuarnya. Batu Bedil masuk dalam kawasan Geopark Belitung. Ia terletak di Desa Sungai Padang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Pantainya menghadap ke Pulau Limau Seri dan Pulau Umang. Geosite Batu Bedil ini berjarak sekitar 41 kilometer dari Tanjungpandan.

Batu bedil

Saat itu, aku diajak ke Batu Bedil oleh Bu Yen Yen, Kepala KPPN Tanjung Pandan, setelah sebelumnya puas keliling Belitung dengan motor, bahkan hingga Tanjung Tinggi. Kami ke sana bersama Pak Yudi yang merupakan aktivis Geopark Belitung. Pak Yudi sedang berusaha mengembangkan Geopark Batu Bedil dan lokasi lainnya.

Perjalanan memakan waktu 1 jam lebih dari KPPN. Sebagian jalan masih berupa tanah yang dipadatkan. Sepanjang jalan Pak Yudi bercerita banyak soal Batu Bedil.

Asal Mula Nama Batu Bedil

Ada beberapa cerita asal mula nama batu bedil. Pertama, karena bentuknya bila dilihat dari atas berupa 3 gugusan batu sejajar yang masing masing dipisahkan oleh laut sehingga membentuk formasi meriam alias bedil,

Kedua, asal mula nama Batu Bedil adalah berdasarkan adanya sebuah lubang atau rongga di gugusan batu ketiga yaitu yang paling landai dan besar. Lubang ini kerap menimbulkan bunyi seperti bedil ketika air terdorong masuk ke celah lubang. Bunyinya mirip bedil yang ditembakkan.

Peta Batu Bedil
Peta Batu Bedil oleh Cornelis De Groot

Soal ini pun dicatat oleh penulis Belanda, Conerlis de Groot yang terbit 1887 dengan judul Herinneringen aan Blitong. Cornelis de Groot menuliskan, “Sebagai suatu keanehan yang perlu dicatat, bahwa di sebelah timur Tanjung Sadei dekat pantai utara ada beberapa granit yang di antaranya berupa pulau dan yang lainnya menghadap laut, yang menghasilkan suara tembakan, saat pantai bergejolak dan angin kencang. Yang paling terkenal adalah Batu Bedil yaitu batu yang menyembul; pulau kedua dan ketiga disebut Batu Bish dan Batu Pong, di mana Bish dan Pong itu menunjukkan suara tembakan.”

View this post on Instagram

Peluru untuk Randi Seketika ia ambruk. Aku melihatnya seperti pahlawan dalam sajak Toto Sudarto Bachtiar. Padahal belum lelah ia berteriak, meninju udara kosong seolah-olah metafora sempurna untuk kekuasaan yang tiada berarti diduduki atau tidak diduduki. Aku melihatnya digotong, melewati kerumunan Air mataku ingin mendobrak habis bendungan Peluru istimewa untuk Randi bersarang di ketiak kiri Melewati pembuluh jantungnya dan menuju dada kanan. Aku patah hati. Peluru tak punya perasaan. #pantaibatubedil #batubedil #geoparkbatubedil #geoparkbelitung #wisatabelitung #destinasi_id_official #id_pejalann #mytripmyadventure #idpetualang #mainkemana #travelingyuk #kompasnusantara #lingkarindonesia

A post shared by Pringadi Abdi Surya (@pringadisurya) on

Misteri Batu Bedil

Di Batu  Bedil, terdapat perigi beracun. Di sela pepohonan, kita akan menemukan sabana luas dan dari kejauhan tampak pagar bambu mengelilingi sebuah bidang. Di sini terdapat sebuah sumur yang terbentuk alami dari bebatuan granit, sebuah celah dengan diameter sekitar 50 cm dan kedalaman satu meter. Masyarakat meyakini sumur ini sangat beracun dan tak satu pun yang berani meminumnya.

Berdasarkan cerita turun temurun, Sumur beracun di buat oleh Datuk Faqih yang bergelar Datuk Macan Garang. Beliau dahulu tinggal di daerah ini yang ditugaskan menjaga keaamanan laut di wilayah ini. Zaman dahulu perigi ini sebagai salah satu senjata perangkap bagi para perompak dan bajak laut yang datang merapat ke Pulau Bedil.  Saat mereka minum air maka akan sakit dan mati.

Kelompok lanun atau bajak laut yang sering datang menyerang warga setempat. Lanun itu membunuh dan menangkap warga untuk dijadikan pengikutnya. Hal tersebut membuat warga ketakutan hingga melarikan diri ke Padang Batu dan Padang Pendam. Hanya Datuk Faqih dan beberapa warga yang tinggal di tempat itu.

Datuk Faqih yang geram lalu menghentakkan kakinya pada batu. Di batu yang retak itu, Datuk Faqih menggali sumur.

Suatu ketika, kelompok lanun kembali menyerang tempat tersebut. Datuk Faqih kemudian menantang pemimpin lanun adu kesaktian dengan memantrai sumur tersebut. Sebelum bertarung, Datuk Faqih telah memasukkan racun dan batu penawar agar anak cucunya tak terpengaruh racun dari sumur tersebut.

Batu Bedil

Di Batu Bedil juga terdapat batu granit berdiameter kurang dari satu meter yang berbentuk lambang hati. Masyarakat sekitar biasa menyebut batu tersebut batu love. Keberadaan mangrove di batu Bedil juga menambah keindahan pantai ini.

Air Terjun Ai Puti di Sumbawa

Selepas dari Air Terjun Ai Beling, Farhan Syadli bersama kak Endang, waktu itu menantangku untuk melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Ai Puti. Katanya, air terjun Ai Puti tak kalah megah dari Ai Beling. Hanya saja, menuju ke sana, lebih butuh perjuangan. Perjalanan harus ditempuh dalam waktu minimal 2 jam, menembus hutan rimba.

“Ini akan jadi kenangan terakhirmu di Sumbawa, Pring…” ujar Kak Endang.

Tentu saja, memikirkan aku akan segera pergi dari Sumbawa dan entah apakah bisa kembali lagi atau tidak (hingga sekarang sudah hampir 6 tahun berlalu pun belum kembali), aku menerima tantangan tersebut.

Baca Juga: Seri Air Terjun di Sumbawa
- Air Terjun Ai Nyember
- Air Terjun Teba Tewa
- Air Terjun Ai Beling
- Air Terjun Agal dan Sebra

Air terjun Ai Puti juga terletak di Dusun Kuang Amo. Patokannya kalau sampai di SD Kuang Amo, Pusat Dusun Kuang Amo tak jauh dari Ai Beling, hanya sekitar 10-15 menit. Ai Puti sendiri terletak jauh di dalam hutan. Dicek melalui GPS, bila berjalan lurus jarak dari Dusun ke Ai Puti, hanya 4,7 km. Namun, tak mungkin berjalan lurus di dalam hutan, bukan? Menurut Pak Kadus, jarak tempuh sekitar 2-3 jam berjalan kaki.

Kebetulan hari itu di perjalanan saya bertemu teman sekomunitas Adventurous Sumbawa yang juga bekerja di Dinas Pertambangan dan Energi. Dia bersama rombongannya akan menuju Ai Putih untuk mengukur debit air dan potensi KwH. Mereka bilang mau survei apakah layak pembangkit mikro untuk dibangun di sana. Dua setengah jam masuk hutan, kita akan menemukan Ai Putih.

Pusat Dusun Kuang Amo tak jauh dari Ai Beling, hanya sekitar 10-15 menit. Ai Puti sendiri terletak jauh di dalam hutan. Dicek melalui GPS, bila berjalan lurus jarak dari Dusun ke Ai Puti, hanya 4,7 km. Namun, tak mungkin berjalan lurus di dalam hutan, bukan? Menurut Pak Kadus, jarak tempuh sekitar 2-3 jam berjalan kaki.

Sebenarnya saya agak ragu karena membayangkan medannya adalah pendakian seperti menuju Mata Jitu di Pulau Moyo, atau ke padang di atas Danau Satonda di Pulau Satonda. Dua jam itu akan melelahkan. Tapi teman-teman meyakinkan bahwa saya bisa. Saya seringkali “diistimewakan” karena memang saya punya masalah dengan pernapasan.

Di awal, jalan sudah menanjak. Matahari mulai beranjak ke atas kepala. Butir peluh mulai membasahi seluruh tubuh. Namun semua lelah itu tak sebanding dengan perjalanan yang begitu unik.

Terbayang nggak sih perjalanannya? Selama kurang lebih 2,5 jam itu aku melewati hutan rimba, beralih ke hutan bambu, menyusuri sungai dengan sisi yang penuh bebatuan. Seru sekali.

Pokoknya mah jangan lupa bawa minum yang cukup ke sini. Kalau pun kurang, minum di aliran sungai yang jernih itu pun tak masalah.

Dinamakan Ai Puti karena aliran airnya berwarna seputih susu. Air terjun ini pun memang betul-betul megah karena bentuknya yang berundak-undak.

Bagi yang memiliki nyali lebih bisa mencoba menaiki air terjun ini lewat sisinya. Mungkin berbahaya ya kalau musim hujan karena air bisa datang kapan saja. Jadi, mending pas pancaroba biar nggak kering-kering amat juga.

Pada akhirnya memang, perjalanan ke air terjun Ai Puti menjadi kenangan yang sangat berharga. Sesampainya di air terjun, aku pun sempat berendam. Sementara itu Kak Endang memasak mi dan menggoreng ikan kecil.

Kami pun lalu makan bersama-sama, berbagi sedemikian rupa, sambil mencicipi tumbuhan-tumbuhan yang ternyata bisa dimakan juga (aku lupa namanya). Enam tahun berlalu, dan aku masih menjaga semua kenangan itu….

Trip ke Geopark Ciletuh Bersama BackPacker Jakarta #1: 1200 Anak Tangga di Curug Puncak Manik

Sudah setahun lebih aku stalking akun Backpacker Jakarta di Instagram. Baru akhir pekan lalu, aku berkesempatan mengikuti trip bersama Backpacker Jakarta. Tujuannya, Geopark Ciletuh.

Begitu pengumuman dibuka, aku segera minta izin ke ibu negara. Kebetulan kali ini jadwalnya pas banget 29 Februari-1 Maret. Belum ada jadwal apa pun. Alhmdulillah, izin keluar. Meski agak menyayangkan sebenarnya karena aku pergi sendirian, nggak mengajak anak-anak. Soalnya, aku sendiri belum percaya diri mengajak anak-anak ikut perjalanan yang lumayan jauh dengan treking yang lumayan panjang.

Meeting point kami di Sekretariat Backpacker Jakarta, di sebelah RS UKI. Sebelum pukul 23.30 sudah harus berkumpul. Pukul 00.00 dijadwalkan berangkat.

Di sekre aku segera berkenalan dengan beberapa teman. Teman pertamanya namanya Sopian. Asal Cirebon. Jadi sebenarnya dia peserta cadangan. H-1 baru dikabari kalau ada yang cancel. Dia benar-benar datang dari Cirebon naik kereta. Cari tiket kereta di alfamart nggak dapat. Dia pun nekad cari tiket langsung. Alhamdulillah, dapat satu. Tinggal satu-satunya. Selain Sopian, ada Bella. Kesan pertamaku? Hmm, dia mirip Raline Shah. Udah itu saja ah.

Dalam trip ini, aku mengajak beberapa teman. Dunia kerja membuat mereka sok sibuk semua. Untunglah, Mas Dimas Whisnu Mahendra langsung mengiyakan. Dia adalah temanku di Komunitas Sastra Keuangan yang kuamati suka naik gunung. Teman lain yang menyatakan ikut serta adalah Gunawan, anak DJPb juga, tetapi ia membatalkan diri karena rumahnya kebanjiran. Sepertinya kepalanya pusing juga harus mengurus dampak kebanjiran itu.

Badanku agak meriang sebenarnya sebelum keberangkatan. Lelah. Makanya, begitu duduk di mobil elf (dan beruntung aku dapat kursi di belakang sopir, meski kepala sering banget kejedut di jendela), aku langsung tertidur lelap. Perjalanan sekitar 7 jam itu tak terasa. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi di perjalanan, selain sekali aku sempat turun saat sopir beristirahat, mencari kamar kecil, namun tak ada, sehingga aku terpaksa kencing di selokan.

Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan pertama, Meleset dari rencana perjalanan sebenarnya, karena seharusnya pukul 07.00 seharusnya kami sudah sampai di tujuan pertama. Namun, jam tujuh, kami baru sarapan dan sampai di Curug Puncak Manik hampir pukul 09.00.

1200 Anak Tangga Menuju Puncak Manik

Dalam perjalanan menjelajahi Geopark Ciletuh, kami ditemani guide lokal. Namanya Kang Suhan. Beliau mula-mula menjelaskan bahwa terdapat sekitar 1200 anak tangga menuju puncak manik. Di bawah tidak ada fasilitas apa pun. Jadi, bawa minum yang cukup. Jangan bawa tas yang berat-berat.

Oke, itu berarti perjalanan menuju Curug Puncak Manik menjadi saingan perjalanan menuju Grojogan Sewu di Tawangmangu yang memiliki 1250 anak tangga. Seharusnya aku mampu.

Mula-mula benar kata Kang Suhan, anak tangganya tidak curam. Dengan mudah aku menyusurinya. Namun, lama-kelamaan, tidaklah demikian. Lututku mulai gemetar seiring sudut elevasi anak tangga bertambah. Ada yang salah dengan caraku menuruni tangga. Bagi orang gemuk, disarankan berjalan agak miring saat menuruni tangga agar beban tubuh tidak langsung menopang ke lutut.

Katanya sih, cuma butuh waktu 15 menit untuk sampai. Nyatanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk menuruninya.

Mitos Curug Puncak Manik

Curug Puncak Manik menyimpan banyak mitos. Mitos pertama, masyarakat sekitar percaya bahwa dahulu air terjun ini sempat dikunjungi oleh Kentring Manik. Kentring Manik adalah istri dari Prabu Siliwangi. Air terjun ini sempat digunakan untuk mandi oleh Kentring Manik. Karena itulah, curug ini dinamai sebagai Curug Puncak Manik.

Mitos kedua menceritakan bahwa dahulu tempat ini digunakan sebagai tempat untuk menimbun harta karun saat zaman kerajaan. Dinamakan sebagai Curug Puncak Manik adalah karena pada siang dan malam hari, di puncak air terjun ini sering terlihat cahaya yang berkilauan (seperti manik/perhiasan) berkat hasil dari timbunan harta karun tersebut. Beberapa masyarakat yang pernah mengunjungi tempat ini sering menemukan batu-batu cincin yang berwarna-warni. Mereka percaya bahwa batu tersebut adalah sisa dari timbunan harta karun yang dulu pernah disimpan di tempat ini.

Mitos ketiga yang menyelimuti tempat ini adalah bahwa dahulu tempat ini sempat dijadikan tempat persembunyian bagi prajurit saat terjadinya babad Cirebon. 

Keindahan Curug Puncak Manik

Curug Puncak Manik

Curug Puncak Manik adalah curug tertinggi di Sungai Ciletuh dengan ketinggian lebih dari 100 m. Ia berada dalam satu rangkaian dengan Curug Awang dan Curug Tengah.

Terdapat dua danau di Curug Puncak Manik yang belum diketahui kedalamannya. Belum ada yang berani berenang di sana. Airnya keruh, seperti kopi susu. Danau yang berada di atas namanya Leuwi Ngoplak. Danau yang berada di bawah namanya Leuwi Kaca.

Aku sendiri sempat melihat foto traveler yang berfoto di sisi atas. Namun, tak kutemukan jalan yang layak untuk bisa mencapai tempat itu. Harus mengambil risiko menyeberangi sungai, lalu naik di bebatuan. Aku tak seberani itu mengingat aku masih merasa letih setelah perjalanan jauh dan menuruni anak tangga.

Aku bahkan merebahkan diriku sejenak sebelum mengambil foto diri dengan latar Puncak Manik. Agendaku dengan Mas Dimas, membaca puisi de bawah deru Curug Puncak Manik Pun Kesampaian.

Mendaki Lagi Anak Tangga

Tugas berikutnya menanti. Pukul 10.15 kami mulai bergerak naik. Kang Suhan mewanti-wanti, jangan buru-buru. Biar nanti di belakang sama dia. Aku tahu aku gemuk, jadi aku sadar diri nggak akan memaksakan diri.

Perjalanan mendaki yang dijadwalkan 30 menit itu ternyata kutempuh dalam waktu satu jam. berkali-kali berhenti. Terik matahari menyengat badan. Keringat keluar bercucuran. Kulepas baju, hanya mengenakan kaus dalam. Air minum yang dibawa pun habis tak bersisa. Aku tahu, aku dehidrasi ringan.

Namun, di belakangku ternyata ada yang lebih berkasihan. Perempuan. Aku tahu dia sudah kelihatan kepayahan saat menuruni anak tangga. Apalagi naiknya.

Aku melihatnya dibopong oleh temannya. Aku sendiri menemukan sebatang kayu yang kugunakan untuk menopang diri.

Sampai di atas, kami mendapat kabar, sang perempuan pingsan. Para panitia perjalanan yang sedang beristirahat pun turun, membawa tandu, mereka menunjukkan tanggung jawabnya.

Salut. Tak lama setelah korban berhasil dievakuasi, ambulans datang. Selamat. Nasib korban lebih penting dari kelanjutan perjalanan.

Dalam pada itu, saat menanti korban dievakuasi, para peserta mulai mengakrabkan diri satu sama lain. Kami banyak berbincang, bercerita tentang pernah ada peserta hilang di Gunung Rinjani. Selama 4 hari. Petugas SAR sudah membawa kantung mayat. Alhamdulillah, hari ke-4 ia ditemukan. Katanya sih disesatkan.

Mas Dimas pun menimpali, “Termasuk yang pingsan. Ada yang ikut dia.”

Saat itu aku menyadari, para makhluk gaib itu sudah berada di sekitar kami. Memang mereka sangat senssitif. Kalau diomongi, mereka akan datang dengan cepat. Makanya, kalau lagi jalan-jalan ke alam, jangan bahas yang gaib-gaib, ya!

Sastra dan Kue Lapis

Bagaimana kamu memandang kue lapis?

Aku memandangnya sebagai kenangan. Dulu, ketika kecil, aku paling benci diajak kondangan. Sebab, aku benci keramaian. Namun nasib sebagai anak bungsu mengharuskanku mengikuti ibu setiap kali kondangan.

Jangan bayangkan kondangannya berpanggung dengan orkes sebagai hiburan. Kondangan ala ibu-ibu terjadi menjelang sore. Kami akan berjalan kaki hingga beberapa kilometer. Sesampainya kami akan duduk di ruangan. Tuan rumah akan menghidangkan nasi soto, nasi sop, atau mi celor. Kue-kue sudah diletakkan di piring. Bolu, lemper, dan kue lapis.

Dan satu-satunya alasan kenapa aku tidak jutek-jutek amat kalau diajak kondangan adalah kalau kue lapisnya enak.

Kue lapis itu dibuat dari tepung beras. Warna lazimnya adalah cokelat (gelap) dan putih. Bagian atas kue lebih keras. Warna lain yang kerap muncul adalah warna pandan (hijau).

Entah siapa yang bilang, sastra itu seperti kue lapis. Maksudnya, memiliki beberapa lapisan. Lapisan pemaknaan.

Pada lapis pertama, kau bisa menganggap karya sastra yang kaubaca sebagai kisah cinta biasa, puisi cinta pada umumnya. Bucin. Tengok saja bila tak percaya, karya sastra dunia yang terkenal. Romeo dan Juliet karya Shakspeare adalah kisah bucin. Layla dan Majnun juga kisah bucin. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Buya Hamka seperti yang diulas dalam Sociosastra juga bucin banget.

Tapi selalu ada lapisan selanjutnya. Saya pernah mengupas lapisan kebudayaan dalam karya Buya Hamka. Lebih dari sekadar kisah cinta. Begitu pula karya Shakespeare yang mengkritik tatanan masyarakat saat itu.

Kebucinan jangan diremehkan. Tema cinta abadi dalam sastra. Namun, sejauh mana kau mampu melihat lapisan demi lapisan di balik kebucinan itu?

Ada yang kenal puisi di atas? Puisi Doa Poyangku tersebut adalah puisi Amir Hamzah.

Mari lihat bait terakhir. Penafsiran seperti apa yang kaudapat?

Sah saja jika kita melihatnya sebagai puisi cinta biasa. Hati bercabang dua dianggap sebagai kisah cinta segitiga. Galau memilih antara dua perempuan.

Namun, lapis lain dari puisi tersebut bisa dilihat dari konteks yang lain. Hati bercabang dua antara Timur dan Barat mengingat saat itu perang ideologi terjadi dan infiltrasi budaya Barat ke Timur begitu masif. Lapis lainnya, hatiku bercabang dua antara tradisi dan revolusi. Karya sastra yang hadir saat itu banyak yang berusaha mendobrak tradisi yang dianggap sudah tidak representatif. Masih ada lapis yang lain? Ada. Hatiku bercabang dua antara cinta pada dunia atau pada Tuhan, mengingat betapa spritual, para penyair Pujangga Lama.

Itulah kue lapis dalam sastra. Lapisan makna satu demi satu bisa kita singkap. Meski sebenarnya, aku nggak gitu setuju bahwa lapisan makna itu dianalogikan dengan kue lapis. Karena siapa pula yang makan kue lapis, selapis demi selapis? Adanya langsung dimakan sekaligus.

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan