Penulisan Huruf Kapital Sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.

Misalnya:

Apa maksudnya?
Dia membaca buku.
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam. Continue reading Penulisan Huruf Kapital Sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Sewa Apartemen Jogja yang Eksklusif dan Premium

Berlibur ke Jogja memang menjadi pilihan yang tepat jika ingin pergi ke destinasi wisata favorit dengan biaya yang relatif lebih ramah di kantong. Di Jogja, ada banyak sekali pilihan akomodasi dengan harga terjangkau yang dapat disesuaikan dengan budget liburan pribadi. Jika ingin merasakan sensasi menginap di hotel bintang lima dengan tarif hotel bintang tiga, pertimbangkan opsi sewa apartemen Jogja. Apartemen-apartemen di Jogja yang disewakan biasanya memiliki fasilitas kamar yang setara dengan hotel berbintang, tentunya dengan harga yang lebih murah. Beberapa apartemen bahkan memberikan pengalaman yang lebih eksklusif dengan fasilitas-fasilitas ala hotel bintang lima. Berikut diantaranya. Continue reading Sewa Apartemen Jogja yang Eksklusif dan Premium

Pengertian Paragraf dalam Bahasa Indonesia

Dalam sebuah tulisan atau karangan biasanya terdapat bagian yang agak menjorok ke dalam. Bagian yang itulah  yang disebut paragraf.

Pada dasarnya paragraf merupakan seperangkat kalimat yang saling berhubungan yang secara bersama dipakai untuk menyatakan atau mengembangkan sebuah gagasan. Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan dan didukung oleh himpunan kalimat yang saling berhubungan untuk membentuk sebuah gagasan. Continue reading Pengertian Paragraf dalam Bahasa Indonesia

Penulisan Huruf Miring Sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Bagaimana sih penulisan huruf miring yang benar sesuai Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)? Apa kamu tahunya cuma kalau sebuah kata berasal dari bahasa asing berarti harus dimiringkan? Adakah ketentuan lainnya?

Penulisan huruf miring dalam PUEBI digunakan untuk beberapa hal, yaitu: Continue reading Penulisan Huruf Miring Sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

Perbedaan Kata “Akut” dan “Kronis”

Saya pernah menulis puisi. Kemudian, puisi itu dianalisis. Dalam analisis tersebut, sang penulis mengkritik (atau mempertanyakan) kata “akut” yang saya gunakan. Menurutnya, saya lebih tepat menggunakan “kronis”. Kayaknya, kedua kata tersebut sama, tetapi berbeda lho. Apa sih perbedaan kata “akut” dan “kronis”?

Sebelum menjawab itu, mungkin teman-teman mau membaca bagaimana puisi yang saya buat:


Sajak Cinta Buat Nda – Pringadi Abdi

di palembang, nda. hanya
di palembang, burung-burung tidak lagi
kepingin terbang, udara dingin menusuk
tulang, dan syalmu menanti
aku datang

rindu ini begitu akut, mengalahkan
gagak-gagak di tiang listrik
yang khusuk menanti kematian
di palembang, nda, jembatan ampera
masih tegak membelah sungai musi
yang keruh; cinta ini selalu penuh, meski
terkadang angkuh tetapi sungguh
tak ada kata-kata dari kesunyian
yang lebih indah dari kenangan
perjalananku denganmu

Terdapat baris “rindu ini begitu akut”. Kenapa bisa dibilang kata akut di sana tidak tepat?
Baiklah, kita simak bedanya arti akut dan kronis:
“Akut” diserap dari bahasa Belanda acuut (Ing. acute) dan berarti ‘timbul mendadak dan cepat memburuk’. Penyakit akut contohnya demam berdarah. “Kronis” diserap dari bahasa Belanda chronisch (Ing. chronic) dan berarti ‘berjangkit terus dalam waktu lama’. Penyakit kronis contohnya diabetes.
Singkatnya, akut = cepat; kronis = lambat.
Pertanyaannya, adalah apakah yang kumaksudkan adalah rindu tersebut datang mendadak lalu menjadi buruk ataukah rindu tersebut menjangkitku sedemikan lama?
Dan aku harus mengakui, kesalahan lirikku bukanlah pada “rindu yang begitu akut” karena lirik tersebut bisa menghasilkan dua tafsir di atas. Namun, perbandinganku dengan menuliskan gagak-gagak di tiang listrik yang khusuk menanti kematian yang telah menspesifikkan (atau menyempitkan) makna bahwa rindu itu telah menjangkit lebih lama. Sehingga benar, jika aku tetap mempertahankan perbandingan tersebut, kata yang tepat digunakan seharusnya adalah kronis.

Bangsa Banyak Gawe

Dilahirkan di Palembang oleh orangtua berdarah Jawa membuat saya berbangga hati, sebab keduanya identik dengan etos kerja yang tinggi. Tanya saja para pemuda Palembang yang hendak bepergian. Mereka bakal menjawab ado gawe, yang berarti ada pekerjaan. Begitu pula orang-orang Jawa yang sering berkata nyambut gawe, alias bekerja.

Saya membayangkan lelucon semasa baru lulus SMA itu menjadi kenyataan. Barangkali begitu juga jawaban banyak orang saat ditanya Badan Pusat Statistik. Sehingga dari tahun ke tahun, angka pengangguran kita makin membahagiakan. Dalam laporan terbaru (November 2019) yang merangkum situasi ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2019, BPS melaporkan tingkat pengangguran kita kembali turun menjadi 5,28% dari tahun sebelumnya 5,34%.  Continue reading Bangsa Banyak Gawe

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan