Metafora Padma dan Sejarah Sastra Kita

 

Saya termenung mendengar pernyataan Saut Situmorang setelah keluarnya putusan pengadilan atas kasus yang menimpanya. “Kalau dunia hukum merasa berhak menilai dunia sastra, kenapa dunia sastra tak berhak menilai dunia hukum?”

Tentu implikasi pernyataan ini bukan hanya mengenai keabsurdan kasus yang menimpa beliau—ketika berusaha membela sejarah sastra, menghadapi Fatin Hammama dan Denny Ja. Implikasinya juga menuju persoalan sastra itu sendiri.

Di saat yang sama saya baru berhasil menyelesaikan Metafora Padma, kumpulan cerpen karya Bernard Batubara. Hal yang menarik dari buku ini adalah, seperti paragraf pertama pada cerita pertamanya, adalah persoalan identitas.

“Siapa kamu?” Saya selalu mengingat ucapan Zen RS ini. Sepertinya itu mudah dijawab. Namun, jika kamu tengah berada di tengah supporter AC Milan saat Derby Milan dan kamu seorang internisti, kamu tak akan bisa menjawab “Saya internisti”. Ketika kamu berada di tengah konflik agama, kamu tak bisa mudah mengatakan “Saya Islam” di tengah amukan massa agama lain.

Implikasi kasus Saut, dan kenapa kita harus membela saut juga soal identitas sastra. Siapa saja boleh dan berhak menjadi sastrawan, tetapi tentu status itu tidak bisa didapatkan dengan uang seperti yang dilakukan DJA. Terlebih produk buku Tokoh Sastra Berpengaruh itu dibagikan ke sekolah-sekolah. Sampai hari ini saya bahkan beberapa kali mengobrol dengan siswa-siswa sekolah yang tersesat dengan mengatakan Denny JA adalah sastrawan, puisi-esai adalah sebuah genre baru puisi dan guru-guru di sekolah menyuruh mereka mengerjakan PR membuat puisi-esai! Naudzubillah.

Implikasi kedua, pesan yang ingin disampaikan Saut adalah seberapa berjaraknya pelaku sastra, karya sastra dengan dunia riil saat ini. Kenapa dunia sastra tak berhak menilai dunia hukum. Sejak Kritikus Adinan yang ditulis oleh Budi Darma, saya belum menemukan karya sastra lain yang mampu mendekati dunia hukum dengan baik dan terang.

Fiksi-fiksi yang ada sekarang terasa sumir. Hal ini terjadi karena pertama, pengenalan masalah yang kurang purna. Penulis kebanyakan hanya menangkap gejala yang ada di masyarakat, tetapi tak mampu menjangkau persoalan. Sedikit lebih baik, karya sastra kita mampu memotret lingkungan. Namun yang luput adalah akar persoalan itu.

Metafora Padma punya kabar baik. Dari seluruh karya Bernard Batubara yang ada, di buku inilah Bernard mencoba mencari akar persoalan. Beberapa cerita Bernard masih terasa di permukaan. Ia mengangkat konflik perbedaaan suku, perbedaan agama—perbedaan identitas, namun ia hanya memotret persepsi. Ada korban hilang kepala. Ada konflik massa. Ada—

Namun, ada pernyataan Bernard yang menarik di salah satu cerpennya. Ia (atau tokohnya) berkata agama bukanlah alasan manusia saling bunuh. Manusia akan selalu punya alasan untuk saling bunuh meski tidak ada agama ataupun agama mereka sama. Ini pernyataan eksistensialisme yang paling keren yang ada di buku ini.

Bernard juga menyinggung konflik SARA kadang dimulai dari persoalan individu yang diabaikan pemerintah. Hal ini benar adanya. Di Sumbawa, yang saya alami, konflik SARA diawali oleh sebuah kisah cinta antara dua insan yang berbeda agama. Lalu suatu waktu, pulang berkencan mereka kecelakaan motor, si perempuan tewas, si lelaki masih hidup. Digosoklah isu yang behubungan dengan SARA sehingga muncul konflik massa yang tak terelakkan. Pengabaian oleh kepolisian (pemerintah) di awal untuk menyelesaikan kasus kecelakaan motor ini.

Kegagalan pemerintah (government failure) ini sebenarnya jauh lebih dalam, yakni kegagalan pemerintah dalam distribusi keadilan. Distribusi keadilan itu terjadi di berbagai bidang. Pembangunan yang tidak merata. Pendidikan yang ala kadarnya. Persoalan ekonomi yang membuat jurang antara si miskin dan kaya. Semua terjadi begitu saja dan melahirkan eksternalitas negative ke masyarakat.

Saya menyebutnya motif. Penulis kerap memilih motif yang biasa-biasa saja di dalam ceritanya. Cinta. Klise. Namun, di sini Bernard sudah berusaha masuk lebih jauh dari cinta. Ia jadikan cinta sebagai bungkus cerita. Ia mencoba masuk lebih dalam, sesekali menggunakan lensa tele, mengatur bukaan lensanya, dan klik, ia memotret permasalahan. Tentu, di buku berikutnya saya mengharapkan Bernard mengubah lensanya, fix atau wide, memotret dalam jarak dekat dan menghasilkan gambar yang lebih tajam dan lebar.

Judul buku ini, entah kebetulan atau tidak, juga menarik. Padma. Entah Bernard mengacukan kata ini ke lotus atau teratai. Baik lotus atau teratai punya makna yang menarik. Jika Padma/lotus sering dikaitkan dengan singgasana, motif politik, kesucian, sedangkan teratai muncul dalam kisah Narcissos.

Mendengar pidato Saut Situmorang dan menyelesaikan buku ini di hari yang sama tampaknya memang sengaja dihadirkan Tuhan buatku agar tulisan ini terwujud.

 

Comments

comments