Gender dan Jalan Spiritual dalam Novel Siwa dan Calabai

Ketika SMA, saya pernah bertanya kepada kakak kelas, kenapa kata ganti Tuhan dalam bahasa Inggris memakai kata He, bukan She. Tidak seperti bahasa Indonesia yang tidak membedakan kata ganti orang ketiga (dia/ia), bahasa Inggris menggunakan He untuk kata ganti orang ketiga laki-laki dan She untuk perempuan. Lalu, apakah Tuhan adalah laki-laki?

Tuhan dalam ajaran Tauhid tidaklah mengenal jenis kelamin. Ia (Tuhan) bukan laki-laki juga bukan perempuan. Ia mewadahi semua aspek gender, baik maskulin maupun feminim. Salah satu contoh sisi feminim Tuhan adalah sifatnya dalam arrahim, Maha Penyayang, yang kemudian kata tersebut diserap dan bertransisi menjadi rahim yang dimiliki oleh perempuan.

Penggunaan He juga sesuai dengan kata Huwa dalam bahasa Arab. Kedua kata tersebut sebenarnya tidaklah merujuk pada jenis kelamin, melainkan pada sifat maskulin. Setiap kata dalam bahasa tersebut memiliki salah satu sifat (maskulin/ feminim), dan tidak ada kata yang netral. Maka, satu kata harus dipilih, dan kata tersebut akan mempengaruhi kata selanjutnya. Inilah salah satu keterbatasan bahasa, sekaligus keterbatasan manusia, bahkan untuk hanya mengungkap Tuhan yang mewadahi sifat baik maskulin maupun feminim.

Dari sini, bisa dilihat beberapa hal. Pertama, gender berbeda dengan jenis kelamin. Gender bisa dibilang sebagai peran, fungsi, dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan. Dan hal tersebut lahir dari hasil konstruksi sosial dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kedua, pemilihan kata He atau Huwa bisa jadi juga akibat karakteristik zaman ketika wahyu diturunkan masih menyajikan dominasi laki-laki atas perempuan.

Dominasi tersebut, menurut Kate Millet dalam bukunya Sexual Politics (1970) bersifat politis. Hubungan laki-laki dan perempuan merupakan paradigma dari semua hubungan kekuasaan. Patriarkalisme melebih-lebihkan perbedaan fisik laki-laki dan perempuan yang menyebabkan laki-lakilah yang seharusnya mempunyai peran yang dominan dan lebih baik dari perempuan.

Dalam metafora pun, perspektif tentang dominasi ini begitu kental. Paling sederhana, penyebutan matahari dan rembulan yang sering dipakai di berbagai puisi juga mewakili laki-laki dan perempuan. Matahari untuk laki-laki, karena sinarnya yang terik dan keberadaannya yang tegas. Bulan untuk perempuan karena cahayanya yang lembut dan keindahannya yang tak terperanai.

Metafora ini pun kemungkinan datang dari dewa-dewa di dalam Mitologi Yunani. Dalam mitologi Yunani kuno adalah Helios atau Dewa Matahari. Kata dewa digunakan sebagai simbol dominasi laki-laki. Sementara itu, dewi bulan dalam mitologi Yunani kuno bernama Selene. Selene merupakan adik dari Helios—ini juga menunjukkan kekuasaan Helios yang lebih tinggi dari Selene.

Dalam sebuah novel berjudul Siwa karya Amish, perspektif matahari dan bulan ini juga disebut berhubungan dengan keseimbangan alam semesta. Dalam ajaran darma Hindu, ada dua wangsa yang pernah berseteru. Ialah Wangsa Surya (matahari) dan Wangsa Chandra (rembulan). Dalam perjalanan spiritualnya menuju Mahadewa, Siwa mendapatkan pengajaran dari para pendeta Basudewa. Salah satu pendeta Basudewa itu mengatakan, Wangsa Surya identik dengan laki-laki, dan Wangsa Chandra identik dengan perempuan. Kedua Wangsa tersebut memiliki cara hidup yang berbeda.

Novel Siwa, Rahasia Kaum Naga

Tentang cara hidup ini: satu hal yang membuat manusia istimewa dibandingkan makhluk lain adalah kemampuan manusia bekerja sama (sekaligus bersaing), bukan hanya dalam perdamaian, tetapi juga menciptakan peperangan. Karena keistimewaan inilah, manusia yang hidup bersama, juga memerlukan cara hidup bersama. Dan dari cara hidup apa saja, sebenarnya ada dua cara hidup, yakni cara hidup laki-laki dan cara hidup perempuan.

Cara hidup laki-laki adalah cara hidup berdasarkan aturan, yang berpusat pada sosok pemimpin yang hebat. Cara lelaki sangatlah jelas. Aturan tidak bisa diubah dan juga harus dipatuhi secara penuh. Tak boleh ada rasa ragu. Sami’na wa ato’na. Kami dengar, kami taat. Kehidupan yang seperti ini sangat normatif. Wangsa Surya yang hidup di Meluha adalah contoh dari cara hidup laki-laki.

Cara hidup perempuan adalah hidup berdasarkan kemungkinan-kemungkinan. Tak ada yang sifatnya mutlak. Tak hanya ada hitam atau putih, juga ada abu-abu dan warna lainnya. Orang tidak akan bertindah sesuai aturan yang telah ditetapkan sebelumnya, tetapi berdasarkan sebab dan akibat yang berbeda yang bisa dipahami pada waktu tertentu sesuai dengan konteksnya. Cara hidup seperti ini punya aturan yang lunak. Suatu aturan bisa diartikan dengan cara yang berbeda pada waktu yang berbeda. Semua bisa berubah, tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Wangsa Chandra di Swadipa merasa nyaman hidup dengan perbedaaan.

Lalu manakah yang terbaik dari kedua cara hidup tersebut? Tidak ada!

Dua jenis peradaban itu harus ada di dunia ini karena mereka saling menyeimbangkan. Cara hidup laki-laki pernah jaya dengan lahirnya peradaban yang teguh, luhur dan bisa dipercaya. Masyarakat pun jadi teratur dan rapi. Namun, jika mengalami kemunduran, peradaban ini akan berubah menjadi kaku, keras, dan picik. Para penguasa akan berusaha mengubah orang lain menjadi yang mereka kehendaki. Hal semacam ini biasanya terjadi ketika zaman mengalami transisi, dan cara hidup lelaki rentan terhadap perubahan zaman. Cara hidup perempuan menyatukan semua perbedaan. Toleransi terhaga dan orang yang berbeda-beda bisa hidup berdampingan dengan damai. Dalam semangat toleransi inilah lahir semangat kebebasan yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun, semangat kebebasan ini bisa kebablasan. Pada saat ia telah melampaui batas, terjadilah penyelewengan dan kemerosotan.

Di satu sisi, manusia membutuhkan keteraturan dan keberadaban. Di sisi lain, manusia membutuhkan kebebasan dan menerima perbedaan. Kedua sisi ini akan selalu hadir di alam semesta, dan saling menyeimbangkan.

Tentang keseimbangan ini: uniknya, dalam satu kaum di Nusantara, mengakomodasinya dalam perspektif gender yang lain. Di Sulawesi Selatan, tidak hanya ada dua gender, laki-laki dan perempuan saja, melainkan juga ada gender ketiga, yang disebut calabai atau laki-laki yang menyerupai perempuan (untuk perempuan yang menyerupai laki-laki disebut Calalai).

Calabai karya Pepi Al Bayqunie

Dalam novel berjudul Calabai karya Pepi Al-Bayqunie misalnya, diungkap kisah perjalanan seorang Calabai menjadi seorang bissu. Bissu adalah pendeta dalam kepercayaan setempat yang menjaga keseimbangan alam (dua dunia).

Pepi secara tersirat mengatakan bahwa kehadiran Calabai ke dunia adalah bentuk dari ketidakseimbangan. Ayah Saidi adalah seorang tentara yang memiliki kebencian berlebihan terhadap kaum bissu yang pernah secara membabi buta membantai kaum bissu. Kebencian yang berlebihan ini adalah ketidakseimbangan itu. Sebagaimana cara hidup lelaki, yang ketika mengalami kemunduran, akan merindukan cara hidup perempuan. Jiwa perempuan yang lahir akibat ketidakseimbangan itu menjadi jiwa pada anak laki-lakinya yang sudah lama ditunggu kelahirannya.

Seorang Calabai pada dasarnya harus menyadari jalan menjadi Bissu. Menjadi Bissu dalam kepercayaan leluhur bukanlah sebuah aib. Menurut Pepi, Bissu sendiri bermakna bersih atau suci. Bissu yaitu para pemuka spiritual yang telah melampaui sifat laki-laki dan sifat perempuan di dalam dirinya. Bissu bukan pria. Bukan juga perempuan. Tapi, juga bisa disebut pria dan perempuan. Maksudnya, Bissu telah melampaui jenis kelamin. Mereka bertugas untuk menjaga keseimbangan alam. Seorang calabai harus membersihkan diri dari hasrat duniawi ketika menempuh jalan bissu. Seorang Bissu tidak memiliki nafsu seksual yang berkobar-kobar. Seorang Bissu sejati adalah dia yang telah melampaui nafsu seksualnya. Karena sifat-sifat itulah, seorang Bissu menjadi penghubung antara alam Dewata dan alam manusia.

Sifat Bissu yang melampaui jenis kelamin ini sejalan dengan sifat Tuhan. Maskulin atau pun feminim, keduanya ada. Dan jika kita bicara gender dan keberagamannya pada hari-hari ini, kita juga sudah sepatutnya mengembalikannya pada jalan spiritual.

Ketika sekelompok pria ditangkap di Kelapa Gading, ketika sebuah grup di Facebook membincangkan anak-anak kecil untuk hasrat seksual mereka, apakah itu adalah bagian dari jalan spiritual? Ataukah semua itu hanyalah nafsu belaka? Lalu apakah nafsu di hadapan jalan spiritual?

Dalam perjalanannya menuju Mahadewa, Siwa juga mempertanyakan kejahatan. Apakah kejahatan itu?

Siwa sudah mendapatkan jawaban bahwa setiap manusia bisa menemukan sifat Tuhan di dalam dirinya sendiri. Hara Hara Mahadewa. Setiap orang bisa menjadi Mahadewa. Namun, ternyata ucapan itu juga memiliki sisi lain. Jika ada potensi menjadi Dewa dalam diri setiap manusia, maka juga ada potensi untuk menjadi kejahatan dalam setiap orang. Dan potensi itu berupa hawa nafsu.

Tuhan dan hawa nafsu dalam diri manusia ibarat mata koin dengan dua sisi berbeda.

Sampai kapan pun kejahatan akan tetap ada. Bukan karena kejahatan begitu kuatnya, melainkan kejahatan mempunyai peran untuk menunjukkan kebaikan. Seperti halnya kisah Batara Rudra dan bangsa Ashura.

Begitu juga keberagaman gender dan seksualitas akan selalu ada di setiap zaman, tidak akan musnah. Hal itu bisa dilihat sebagai suatu ketidakseimbangan menuju jalan keseimbangan, seperti kisah Calabai menjadi Bissu. Tinggal sejauh mana kita memaknainya.

Comments

comments

One thought on “Gender dan Jalan Spiritual dalam Novel Siwa dan Calabai”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *