Tokoh Paling Sempurna untuk Sebuah Fiksi | Bab I

Aku berani bertaruh, orang-orang di gerbong kereta ini sama sekali tak peduli kebenaran tentang bentuk bumi. Ketimbang memperdebatkan bumi bulat atau bumi datar, di dalam hati, mereka kebanyakan berdoa dan bertanya-tanya, semoga kereta yang melaju ini tidak mengalami hambatan di perjalanan. Rel anjlok, gangguan sinyal masuk stasiun, dan antrean di Manggarai, jauh lebih penting dari kenyataan yang sebenarnya terjadi di Antartika.

Kematian Stephen Hawking tidak menjadi penting di gerbong ini. Peninggalannya, bahkan buku-buku populernya seperti The Brief History of Time dan Grand Design, tidak mungkin menjadi bahan pemikiran para rombongan penunggang kuda besi—yang sebenarnya lebih mirip rangkaian kaleng sarden. Tidak mungkin ada yang membincangkan prinsip nonlokalitas, yang menyatakan saling ketergantungan partikel di alam semesta. 

Bila ada orang yang memahami mekanika kuantum seperti cara Hawking memahaminya, tak akan ada orang yang takut mati. Orang yang tak takut mati tak mungkin takut terlambat masuk kantor. Kereta tak mungkin penuh sesak seperti ikan-ikan dari Laut Cina Selatan yang dijaring lalu dijejalkan ke dalam kaleng.

Aku belum sepintar Hawking. Aku masih takut mati. Aku masih takut terlambat datang ke kantor. Aku masih terjebak di kaleng sarden ini. Sial!

***

Baru saja kubaca penelitian yang mengatakan bahwa kadar kebahagiaan seseorang sangat rendah pada hari Senin sebelum pukul 11 siang. Aku mengaminkan itu sambil membayangkan atasanku yang kerap dijuluki sebagai Kim Jong Un versi Perempuan. Bukan karena gaya rambutnya, bukan pula karena bentuk tubuhnya, melainkan kebiasaannya dalam memarah-marahi anak buah yang sudah terkenal seantero organisasi.

Aku terpaksa terbiasa mendengarkan omelannya yang seakan tak pernah habis, meski bisik-bisik yang beredar, ia punya jatah mengomel 20.000 kata per hari atau apabila dikonversi ke halaman A4 dengan spasi normal, kemarahannya itu setara dengan 80 halaman. Cukup tebal untuk menjadi sebuah skripsi.

Hari Senin akan menjadi hari yang paling istimewa karena jatah kemarahan pada Sabtu dan Minggu yang tidak terlampiaskan, dirapel sekaligus pada Senin. Jadi, dari pagi hingga matahari terbenam, kami akan di-hair dryer satu per satu, dan aku akan mulai memahami apa perasaan David Beckham diperlakukan serupa oleh Sir Alex Ferguson sehingga membuatnya hengkang ke Real Madrid.
Aku juga ingin hengkang dari tempat ini… tapi sayangnya, aku bukan pemain bintang seperti Beckham. Ah!

Kereta terus berjalan dan tak peduli dengan semua sampah di dalam hatiku. Lima belas stasiun dari Citayam, aku baru akan sampai di Gondangdia. Waktu yang diperkirakan kira-kira 1 jam 7 menit. Itu belum memperhitungkan antrian masuk Manggarai yang sewaktu-waktu bisa terganggu oleh kereta jarak jauh yang melintas. Sebentar lagi antrian itu bisa makin menjadi-jadi karena mempertimbangkan kereta khusus bandara. Sementara ini, kereta khusus ke bandara itu berangkat dari Stasiun Soedirman, dan hanya parkir menginap di Manggarai.
1 jam 7 menit itu bisa menjadi limbah waktu—momen yang akan menjadi sia-sia di dalam hidup manusia. Bayangkan, jika tak melakukan apapun dalam pada itu, dalam sehari aku membuang limbah waktu 2 jam 14 menit. Dalam sebulan, limbah waktuku setidaknya 48 jam atau 2 hari. Dalam setahun, 24 hariku sia-sia di jalan. Limbah waktu itu belum termasuk waktu menunggu datangnya kereta. Pantas saja, hasil riset Opera Software pada 2016 lalu mengatakan limbah waktu yang terbuang oleh penduduk Indonesia selama 6 hari sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk membangun Burj Khalifa, yaitu 22 juta jam.
Tentu, aku tak ingin waktuku menjadi limbah dari segala limbah karena memikirkan “Kim Jong Un” yang lagaknya selalu menjadi orang paling pintar sedunia, padahal mengartikan mandatory spending saja salah. Saking menyebalkannya beliau itu, salah satu teman sekantorku, sebut saja Sahabat F, menawarkan pembunuh pembayaran seharga Rp60 juta untuk menghabisi sang diktator tersebut. Tawaran tersebut sempat kami pertimbangkan betul-betul sampai teman lain yang bermanhaj Salaf, yang sering dituduh Wahabi a.k.a radikalis/garis keras oleh Abu Janda dkk., berkata “Seorang muslim tidak boleh menghilangkan nyawa orang lain, sebrengsek apapun orang yang ingin kalian bunuh itu. Kecuali bila memang dalam keadaan perang… dan kita tengah tidak berperang, melainkan memerangi hawa nafsu kita sendiri.” Seketika, kami sadar bahwa kami juga muslim, meski mungkin hanya di KTP.
Pilihan untuk mengatasi limbah waktu adalah membaca buku di kereta. Namun, apa daya, dalam keadaan berdesak-desakan, memegang buku adalah hal paling mewah yang bisa dilakukan. Tak mungkin sambil membaca buku, di dalam hati bersenandung, “Aku memang pintar, tapi bukan sok pintar…” dengan lagu ala-ala Siti Badriah, lalu berharap seseorang di sudut lain memfotonya, mengunggahnya ke media sosial dengan caption “Seorang PNS Pria Ganteng Memancarkan Aura Kegantengannya di KRL dengan Membaca Buku” hingga viral. Kenyataannya bisa-bisa disikut oleh penumpang yang berdiri di sebelah yang tidak membaca buku dan kita hanya bisa menggerutu “Dasar orang-orang bodoh yang tidak membaca buku, bisanya hanya bahasa kekerasan.”
Pilihan kedua adalah bermain ponsel. Oke, kuakui ini juga favoritku. Namun, sejak kusadari ponsel buatan China yang kumiliki punya kualitas baterai yang tidak mumpuni (baca: soak), aku tidak berani terlalu sering bermain ponsel karena harus kusimpan energinya untuk melakukan pemesanan ojek online dari Gondangdia ke kantor. Sejak itu pula, aku jadi punya kebiasaan baru, yakni mengintip orang memainkan ponselnya. 
Di sebelahku, sialnya laki-laki, tengah memegang ponselnya. Kutengok-tengok ia membuka laman berita sepakbola. Tampaknya ia mengagumi Mo Salah karena berita yang dibacanya berkaitan dengan tangis Mo Salah manakala mengalami cedera di final Liga Champion kemarin. Basi, pikirku. Orang harusnya sudah gegap gempita menantikan Piala Dunia di Rusia. Di sanalah, sudah saatnya politik dilucuti, tidak ada lagi ketegangan antara Timur dan Barat (yang sebenarnya sudah istilah usang untuk mewakili perseteruan Amerika dan konconya dengan  Rusia dan gengnya yang kini berpusat di Suriah). Indonesia? Jangan tanya! Tetap konsumen terbesar di dunia.

Laki-laki itu menutup berita sepakbola, membuka tab baru, dan mengetikkan sebuah situs berita umum. Berita-berita di bagian atas sungguh tidak menarik perhatian. Apalagi kalau bukan soal politik. Pemilu tahun depan menjadi fokus tersendiri bagi para pencinta politik. Perhelatan besar itu memiliki pendahuluan berupa pilkada serentak di sejumlah provinsi. Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur setidaknya menjadi magnet menarik karena total dari kelima provinsi ini sudah cukup menjadi bekal untuk pemilu. Kestrategisannya memiliki dampak yang signifikan sehingga kemenangan di kelima provinsi tersebut harus dipastikan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan pada Pemilu dan Pilpres mendatang.

Tampaknya sang pemilik ponsel punya kebosanan serupa denganku. Ia melewatkan semua judul itu, dan menge-klik sebuah judul tentang berita kecil tentang kematian seorang pengarang. Penulis muda. Sungging Raga.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

  1. terakhirnya bikin kaget sadja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *