Tag Archives: pringadi abdi

Jatuh ke Senyummu

aku terjatuh ke dalam senyummu
dan aku terperangkap, terpenjara
sia-sia sudah kemerdekaan
bertambah lagi duka
setelah kemiskinan, intoleransi
kini aku papah padamu

isi kepalaku berubah, bukan lagi
kolam berair jernih
ikan-ikan tak berkumpul, pergi
menujumu

bagaimana caramu menjatuhkan aku
lebih cepat dari pukulan ali
ketika menjatuhkan foreman

senyummu adalah sebuah lubang
yang memaksaku jatuh
dan tak ingin aku bangkit kembali
biarlah kini duniaku di dalammu

Tujuh Buku yang Wajib Dibaca Pegawai Perbendaharaan

 

                Menjadi sederhana bukan berarti tidak menyisihkan waktu dan uang untuk membeli dan membaca buku. Hanya manusia bar-bar yang mengabaikan buku sebagaimana mal yang bar-bar kalau tidak punya toko buku dan koran yang bar-bar kalau tidak punya lembar sastra di dalamnya.

Apalagi yang penempatan di daerah-daerah, yang tidak tahu bagaimana cara membelanjakan uangnya selain untuk makan dan tiket pulang, mubazir sekali rasanya kalau uang cuma menumpuk di rekening dan menunggu berbunga setiap bulannya. Investasi pengetahuan tentu lebih baik dari pada investasi rumah. Tapi kalau ada yang mau kasih saya rumah, alhamdulillah.

Setidaknya ada 7 buku yang wajib dibaca pegawai Perbendaharaan untuk membunuh sepi, sambil melihat gunung, ombak di tepi pantai, atau merasakan angin semilir yang paham makna kesepian dari perantauan.

Trilogi 1Q84, Haruki Murakami

10357575

Tujuan beasiswa pegawai Kementerian Keuangan selain Australia adalah Jepang. Alasannya klise, dana untuk beasiswa-beasiswa itu berasal dari utang luar negeri, dengan kontribusi Australia dan Jepang. Nah, Haruki Murakami adalah salah satu penulis Jepang paling dahsyat yang pernah ada. Dengan membaca novel penulis Jepang, bisa jadi motivasi untuk berangkat ke Jepang itu semakin besar.

Di 1Q84, para pegawai Perbendaharaan bisa belajar dari Tengo yang jago matematika, berbadan atletis, tapi dianggap tak punya peran penting dalam kehidupan. Ayahnya hanyalah seorang penagih iuran saluran televisi. Dan selain mengajar les, kehidupannya hanya ada di dalam kamar.

Tengo dapat mengajarkan perasaan kesepian sesungguhnya, sambil mengenang cinta pertama yang entah di mana. Sehingga ketika ada yang merasa kesepian, ingatlah Tengo.

Itu sebelum Tengo bertemu Fuka-Eri. Fuka-eri menulis tentang kepompong dan orang kecil. Boleh jadi pegawai Perbendaharaan dianggap orang kecil, tapi boleh jadi juga sekarang ini Perbendaharaan masih seperti kepompong. Tapi, jangan jadi kupu-kupu. Karena kupu-kupu maksimal hanya hidup selama 40 hari.

Grotesque, Natsuo Kirino.

51xmyMydf3L._SY344_BO1,204,203,200_

Kalau 1 orang Jepang tak cukup untuk motivasi ke Jepang, tambahkan 1 orang Jepang lagi.

Natsuo Kirino mengajarkan bahwa nama itu tidak penting. Sampai akhir cerita, buku yang tebalnya cukup untuk menimpuk seseorang ini tidak menuliskan nama tokoh utamanya. Tokoh utamanya tidak cantik, tidak seksi, tidak menonjol di kelas, karirnya pun biasa-biasa saja. Ia hidup menjadi manusia pada umumnya, meski dikelilingi orang-orang yang istimewa, unik, sampai ambisus sekalipun.

Nah, barangkali ini bisa menghiburkan perasaan pegawai Perbendaharaan. Biar tidak dianggap, biar tidak dikenal oleh masyarakat luas, kita tetap bisa menjadi tokoh utama dalam cerita.

 

Lelaki Harimau, Eka Kurniawan.

wpid-img_20150228_051341

Sayangnya, jumlah lelaki harimaunya bukan tujuh. Kalau ada tujuh lelaki harimau, pasti sudah jadi judul sinetron.

Lelaki Harimau setidaknya berhasil menguliti sisi kebinatangan manusia yang sering bertindak tanpa berpikir, mengabaikan akal sehat pada segala bentuk persoalan.

Persoalannya dimulai dari seorang lelaki yang tak mau berkirim surat pada seorang perempuan. Mereka berdua orang tua Margio. Mereka berpisah karena sang lelaki hendak mamantaskan diri untuk menjadi pasangan sang wanita. Ketika berpisah, dan tak ada surat lagi, sang wanita dinikahi lelaki lain.

Margio mengajarkan kita betapa keutuhan keluarga itu penting. Peran seorang ayah dipadu peran seorang ibu dalam pertumbuhan dibutuhkan. Janganlah ada lagi pegawai-pegawai Perbendaharaan yang suaminya bekerja di mana, istrinya di mana, anaknya ikut kakeknya bila tidak mau sang anak berubah menjadi Lelaki Harimau.

 

4 Musim Cinta, Mandewi Puguh Gafur Pringadi

10984214_10152814673939794_8329987928236371049_n

Panjang sekali ya nama pengarangnya. Oh, tidak, novel itu ditulis oleh empat orang dan keempat-empatnya adalah pegawai Ditjen Perbendaharaan.

Sungguh terlalu sekali, jika keluarga sendiri yang menulis, tapi tidak dimiliki?

Novel ini berkisah mengenai lika-liku cinta dan kehidupan birokrat muda di Perbendaharaan. Keempat karakternya memiliki latar belakang daerah yang berbeda, penempatan yang berbeda, dan juga memiliki masalah-masalah yang berbeda. Subplot itu kemudian berada di bawah satu plot besar dalam pertanyaan apakah kita telah siap atas sebuah pilihan hidup yang telah kita ambil?

Pringadi meyakini tak ada yang salah dari perasaan. Tapi perasaan itu menjadi salah ketika ia sudah menikah, terlebih ia jatuh hati kepada Gayatri. Sementara Arga dan Gafur terlibat dalam cinta segitiga dengan seorang barista. Bagaimanakah kemudian mereka harus memilih, pada cinta atau persahabatan?

Sampai akhir, tak ada yang tahu siapa yang paling berbahagia di antara apa yang sudah terjadi, dan tak ada yang menemukan jawaban, kenapa Tuhan menciptakan kebahagiaan?

 

Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih, Pringadi Abdi Surya

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

Apalah arti hidup tanpa puisi, barangkali seperti makan garam tanpa sayur.

Ini adalah buku kumpulan puisi yang ditulis Pringadi selama di Sumbawa Besar. Terlebih ia menulisnya di komputer KPPN, selama ia menjadi FO Pencairan Dana.

Ketika kita masih dan terus bersedih, puisilah obatnya. Puisi diyakini Pringadi dapat membuat orang tersenyum, jatuh cinta, merindu, dan mengobati luka demi luka akibat kesepian. Tapi puisi juga bisa menghadirkan kesepian paling sepi juga.

Hebatnya, buku ini tidak dijual di toko buku. Buku ini indie. Hanya bisa dibeli di penulisnya dan di Indie Book Corner

 

 

 

Itulah 7 buku yang wajib dibaca pegawai Perbendaharan!

 

 

 

Kafka di Tepi Pantai

Tentu sudah banyak yang membaca Dunia Kafka atau Kafka on The Shore milik Haruki Murakami ini. Karena itu aku tidak akan membahas novel ini.

Siapa tokoh paling menarik di novel ini? Aku suka Kolonel Sanders. Bukan Kafka Tamura ataupun Satoru Nakata.

Kemunculan Kolonel Sanders adalah kritik sekaligus satir terhadap kapitalis. Dia adalah pencetus salah satu restoran ayam goreng itu. Simbol kapitalis yang lain, semisal Coca Cola juga pernah digambarkan dalam sebuah film Korea yang menceritakan hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Ketika itu, Coca Cola dilarang masuk ke Korea Utara karena dianggap sebagai bentuk infiltrasi barat ke Korut.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Ketika aku kecil, Coca Cola dianggap sebagai minuman mewah. Pada saat lebaran, anak-anak berebut ke rumah orang-orang yang menyajikan Coca Cola, Sprite dan Fanta yang hanya dimiliki orang-orang berpunya. Sementara di tempat lain, hanya ada sirup orson atau minuman Sugus.

Continue reading Kafka di Tepi Pantai

Sayembara Penulisan Resensi 3 Novel

Pemenang 1: Rp 1.500.000,-
Pemenang 2: Rp 1.000.000,-
Pemenang 3: Rp 500.000,-
Pemenang 4: Paket Buku dari Penerbit Exchange
Pemenang 5: Paket Buku dari Penerbit Exchange

Ketentuan dan Persyaratan:

1. Peserta bisa memilih 1 dari 3 judul novel yang hendak diresensi: 4 Musim Cinta, ToBa Dreams, dan A Girl Who Loves A Ghost.
2. Tidak ada batasan panjang resensi.
3. Resensi diunggah di blog/website pribadi peserta atau di akun media sosial peserta seperti FB, Goodreads, Kompasiana, dll. dengan menampilkan kover buku yang diresensi.
4. Peserta boleh membuat lebih dari 1 resensi.
5. Yang dinilai hanyalah kualitas konten resensi.

Kirimkan email berisi link resensi Anda dan biodata Anda ke: ptkaurama@gmail.com, cc: bunda_laksmi@yahoo.com dan fiksiexchange@gmail.com, paling lambat 25 Mei 2015. Cantumkan tulisan “Sayembara Resensi 3 Novel” di judul email.

Pemenang akan disiarkan di situs Penerbit Exchange (www.kaurama.com) dan via email peserta pada 05 Juni 2015.

 

Info novel

4 Musim Cinta, Harga Rp59.500,-

Toba Dreams, Harga Rp49.500,-

A Girl Who Loves The Ghost, Harga Rp80.000,-

Bisa didapatkan di toko buku di Indonesia

atau pemesanan langsung ke 085239949448.

4 Musim Cinta

 

 

Ketika Timor Timur di ambang disintegrasi, kerusahan pecah. Banyak kantor pemerintahan tutup. Semua pegawai negeri pusat pulang ke daerahnya masing-masing. Namun, satu kantor harus bertahan. Kantor itu dikenal dengan nama Kantor Kas Negara. Sampai seorang pegawainya yang memberanikan diri dan harus datang ke kantor dicegat oleh Fretilin, ditanyai, ditodong senjata, hendak kemana dan siapa. Ia menjawab ia pegawai Kantor Kas Negara. Seketika itu juga ia dilepaskan. Kantor Kas Negara adalah kantor terakhir yang bertahan dan menjadi identitas negara saat itu.

Begitu pun ketika terjadi tsunami di Aceh. Kantor yang pertama kali harus dipulihkan adalah KPPN Khusus Aceh. Kantor Kas Negara (sekarang bernama KPPN) adalah jantung sekaligus darahnya negara. Keberadaannya adalah keniscayaan. Ia hadir bukan karena ada potensi pendapatan yang besar di daerah itu, melainkan karena ia harus hadir untuk menghidupi perekonomian dengan salah satunya mencairkan dana APBN.

Sekelumit cerita itu menjadi pendahuluan atas betapa setiap kita adalah penting. Kenek yang menagih uang angkutan penting, sopir yang mengemudi angkutan juga penting, tak kalah pentingnya pihak yang membeli angkutan tersebut.

Empat orang pegawai Perbendaharaan yang memiliki pengalaman di Manado, Ruteng, Kendari dan Sumbawa pun ingin berkata, harapan sekecil apapun adalah penting. Bahkan para setan pun suka bersemayam dalam hal yang kecil dan detil. Jika dilupakan, hal kecil itu bisa merusak hidup.

Itulah yang kemudian mendasari sebuah novel ini. 4 Musim Cinta mengejewantahkan harapan dan keyakinan, serta realitas yang harus mereka hadapi. Mulai dari idealisme hingga hubungan persahabatan dan percintaan menjadi riskan dalam situasi-situasi yang rumit.

Di dalam novel ini pun sebenarnya, jika ditelaah lebih lanjut, banyak gugatan atas kebijakan pemerintah. Mulai dari penyerapan anggaran yang tidak proporsional, quality of spending, sampai ke pemberian tunjangan ke instansi perpajakan yang banyak dipertanyakan oleh bahkan sesama pegawai Kementerian Keuangan.

“Kita kurang alasan apa lagi? Pajak buat kebijakan. Sedangkan yang mengadministrasikan setiap rupiah pajak yang masuk ke kas negara, siapa? Kita. Yang membuat laporan penerimaan setiap harinya siapa? Kita. Yang dimintai laporan penerimaan pajak oleh Pak Menteri siapa? Kita. Pajak menyumbang sekian persen dari sisi pendapatan negara. Selebihnya kita.”

Mata Sera tampak berapi-api. Tidak ada senyum di wajahnya yang membuat ia terlihat ramah. Aku mengikik pelan mendengar betapa gigih Sera mengungkapkan pendapatnya. Dan ternyata Sera belum selesai dengan kalimatnya. “Yang mengurusi pencairan 1800 T APBN kita siapa? Kita. Yang buat LKPP siapa? Kita.”

Sera mengempaskan pensil yang sedari tadi ia mainkan di antara jemarinya, ke atas meja lalu ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya bersungut-sungut. Aku melirik Carlo yang masih bingung memilih dan memilah berkas yang akan diberikan padaku. Ia tampak tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi dengan ketiga orang itu.

Setelah memperlihatkan sikap bertahan seperti itu, kedua laki-laki yang ada di samping Sera tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama. Barangkali, baru kali ini mereka mengetahui kenyataan seperti ini. Agung, laki-laki kurus berkacamata itu, sempat melihat Sera dengan wajah yang terlihat berpikir. Bisa jadi ia sedang mencari-cari pembelaan atas pendapatnya yang bertentangan dengan kata-kata Sera. Sementara Somad, laki-laki bongsor berpotongan rambut ala tentara, duduk tegak menghadap ke depan. Ia melihatku lama.

“Apa mungkin kita hanya melihat dari luarnya saja. Maksudku, kita boleh saja merasa bahwa kita telah bekerja keras, tapi siapa yang tahu seberapa keras ‘saudara’ kita bekerja sehingga dihargai sedemikian tinggi?” Somad mengangkat bahu. Agung mengangguk setuju.

“Ya. Mereka memang bekerja keras. Keras sekali.” Sera menjawab sinis.

“Jangankan di tingkat kementerian. Bahkan antara kamu dan Agung, bisa jadi ada ketidakadilan jumlah penghasilan. Kalau saya tanya, siapa yang lebih berdedikasi terhadap instansi, apa kalian bisa jawab?”

Carlo nimbrung dalam percakapan mereka. Kali ini aku tersenyum terang-terangan. Kali ini Carlo menjawab dengan tepat. Setidaknya jawaban retoris macam itu diperlukan untuk meredakan gejolak pemberontakan yang bisa saja muncul di dada tiga orang itu.

“Kita ini pelayan masyarakat. Lebih tinggi lagi, kita ini bekerja untuk yang di atas. Nabung pahala istilahnya. Pada akhirnya, apa yang kita dapat pasti sesuai dengan apa yang kita berikan. Seberapa banyak yang kita berikan? Hati kita sendiri yang tahu jawabannya.”

Rasanya ingin tertawa mendengar lanjutan pernyataan Carlo. Apa dia lupa pada larangan cuti yang ditujukan kepadaku waktu itu. Lalu sekarang dia berbicara tentang pahala? Sangat bertentangan dengan sikapnya sehari-hari.

“Tapi, Pak…” Sera tampak tidak terima.

“Sssttt… Perdebatan macam ini tidak akan memberi dampak apa-apa. Semakin kalian menyesali kondisi tempat kalian berada, semakin kalian merasakan sakit hati. Benar, nggak, Gayatri?” Dari mejanya, Carlo melihatku tajam. Aku mengangguk wagu, tak tahu harus menjawab apa.

Sayang, karena pertimbangan editor, dialog tersebut di atas dihapus di dalam cerita ini. Katanya terlalu teknis.

Pada akhirnya, semoga saja jika ke toko buku, dan melihat bibir merah merekah di sampulnya, teman-teman segera mengambil dan membawanya ke kasir. Atau bisa pesan langsung dengan mengirimkan nama dan alamat ke 085239949448 atau via SMS/WA. Semoga.

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

Paperback, 332 pages

Published March 13th 2015 by Exchange

original title 4 Musim Cinta

ISBN13 9786027202429

edition language Indonesian

url http://kaurama.com/exchange/

harga Rp59.500,-

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan

Pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku adalah yahudi terkutuk
yang berjalan, tak sampai-sampai

hingga malam demi malam hanya untuk
sebuah gerhana penuh
berwarna merah darah

yang kemudian dikhianati mendung
hanya seekor burung muda tersesat
di langit, terbang, tak tahu pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku begitu muda, ingat pulang
tapi tak punya tempat.