Sajak-sajak SM Ardan
FRÉSKO
Garis membagi-bagi kesatuan
Dalam satu yang tidak kuakui:
Lembah dan bukit, ada!
Ada pada anak perempuan rahasia lumrah, kita Dan di mana saja
Apa yang kita tidak mau datang juga
Ranting-ranting hémat dikumpul orang utas Hangat mentari pagi itu adalah pemberian diri kemarin
Dan angin gunung datangkan kaca, danau bening:
Diri ada dalam genggaman sendiri
Penghuni puncak bukit pasir, menari di senja – diam yang renungkan batas –
Malam mati dibunuh bulan dan bintang. (*).
MALAM
I
senja turun, di barat naik fajar
jatuhlah sepotong bumi dalam kuasa kelam, terkaca
pada wajah anak kecil mata bening
lelap dalam teduh laut sendiri
nyelang seisi rumah
“ruhan di dekat kami”
II
kelam mengusir ke kamar
bunga sedap malam harumnya melambang dinding yang diam
mengapa tertawa?
ada yang lucu! (ayahku mati karena tertawa) atau sudah jemu? (manusia sama dengan héwan)
kamar yang bisa saksi setia
adikku telah di alam impian (mimpi dalam mimpi)
lampu kupadamkan
masihkah dapat menyaksi fajar bésok pagi
dan mencium si mata bening? (*).
PERLANJUTAN
Kemarau tiba juga seperti musim lain
mencekik dirindu hati akan segar kuntum
titik penghabisan kejam diisap mentari
Seorang kakék setengah mati dalam gubuk anaknya dilindung bayang pohon berdaun layu cucunya bermain tertawa di langit terbuka Kemarau ini bukan punya si kakék
musim kemarau ini cucunya punya
Kemarau berakhir juga seperti musim lain
dan datang lagi pada waktunya
muda dalam masanya
dunia dan manusia baru semakin tua. (*).
PERJALANAN
Aku salah seorang penumpang kereta api dari dan ke satu jurusan
Seperti juga yang lain: bermata sangsi, belum punya pegangan
Berasakasakan, duduk diikat benda mati, gantungan harap
Melihat keluar jendela, melupa kepadatan-perpacuan
Beriri pada manusia-manusia berkeliaran di keluasan
Keréta api berlari, penumpangnya bertanya:
di mana aku mesti turun, hé kawan
disambut teduh atau disongsong panas?!?
- Kawan di sebelahku ini tak mengerti kataku. (*)
SM ARDAN
S.M. Ardan = Singkatan dari Seno Marto Ardan
Lahir: 20 Agustus 1943, Tegal
Wafat: 21 Mei 1990, Jakarta
Kumpulan karya utama
- Nyanyian Orang-Orang Jalanan (1981) – ini yang paling ikonik
- Sajak-Sajak Tegal
- Rumah di Pinggir Kali
- Catatan Pinggir Jakarta
Dia juga aktif di majalah Zaman, Sastra, dan jadi redaktur.
