Tag Archives: preposisi

Penggunaan Preposisi Pada, Kepada, Ke, dan Di dalam Puisi

Penggunaan preposisi/kata depan seperti pada, kepada, ke, dan di di dalam kalimat seringkali keliru. Ketiga kata tersebut mempunyai arti yang berbeda.

Sebelumnya, seperti kata Ivan Lanin. untuk menentukan kata depan apa yang sesuai, ada dua hal yang perlu dilihat, yaitu (1) apa kata yang didahului dan (2) apa arti yang ditandai.

Dari matriks di atas, kita dapat melihat apabila kata yang didahului adalah tempat, preposisi/kata depan yang digunakan adalah di atau ke. Bedanya, di digunakan untuk menunjukkan posisi/keberadaan, sedangkan ke untuk menunjukkan tujuan/arah. Apabila kata yang didahului bukan tempat, preposisi yang digunakan adalah pada dan kepada. Lalu, lihat apa arti yang ditandai oleh kata depan tersebut. Untuk menandai posisi atau keberadaan, gunakan pada sedangkan untuk menandai tujuan atau arah, gunakan kepada.

Penggunaan Kata Depan pada Puisi

Penggunaan preposisi/kata depan tersebut sebenarnya sangat menarik apabila kita menggunakannya dalam ragam bahasa sastra, terutama puisi. Kita dapat menukar fungsi masing-masing kata tersebut untuk tujuan estetika dan filosofi.

Bagaimana maksudnya?

Misalnya saja, saya pernah bikin puisi. Judulnya Jatuh ke Senyummu. Kita bisa saja bilang, seharusnya secara bahasa Indonesia, lebih tepat Jatuh di Senyummu. Karena menunjukkan posisi/keberadaan.

Namun, Jatuh ke Senyummu menunjukkan tujuan/arah, yang berkaitan dengan erat bahwa jatuhnya sang aku memang disengaja menuju pada senyummu. Sang aku sedang dalam proses jatuh, tetapi belum sampai, dan ia punya kuasa untuk menentukan arah jatuh tersebut.

Contoh lain adalah ketika kita ingin :menghidupkan” tempat. Kita tidak akan menulis Di Jakarta. Kita boleh menulis Pada Jakarta untuk memberikan nyawa. Dengan begitu, Jakarta punya kehendaknya sendiri, bukan seperti tempat yang diam, objek pasif, yang tidak punya kekuasaan.

Yang juga sering dilakukan adalah memindahkan konsep waktu ke tempat. Yang benar, seharusnya seperti lagu Pada Hari Minggu. Namun, tak sedikit yang menuliskan Di Hari Minggu dengan tujuan bahwa hari Minggu menjadi suatu tempat (bukan cuma waktu).

Nah, selain itu, ada juga yang menarik dari pada dan kepada. Kata kepada seringkali dikatakan khusus digunakan untuk nomina insani (manusia). Seperti dalam kalimat, “Aku jatuh cinta kepadamu.” Namun, tidak jarang yang menulis “Aku jatuh cinta padamu”. Jika itu ditemukan di dalam puisi, justru biasanya ada tujuannya. Kata pada sengaja dipilih untuk menghilangkan sifat insani mu sebagai sebuah kritik bahwa cinta terkadang justru menjadikan pelakunya sebagai objek yang tidak setara dan tidak punya kehendak seperti manusia.

Kesengajaan untuk menukar fungsi dalam puisi adalah bagian dari Licentia Poetica atau kebebasan penyair dalam menciptakan estetika. Seru nggak?