Tag Archives: Misteri Batu Bedil

Misteri Pantai Batu Bedil di Belitung

Perjalanan ke Belitung, Oktober tahun lalu, menyingkap misteri batu bedil di Belitung. Bukan cuma Pantai Batu Bedil yang indah dan menawan, ternyata di sana juga menyimpan cerita sejarah dan bukti geologi yang menakjubkan.

Wisata Batu Bedil memang belum populer seperti Tour Island of Hope dari Tanjung Kelayang ke pulau-pulau kecil seperti Pulau Garuda dan Pulau Lengkuas yang terkenal karena mercusuarnya. Batu Bedil masuk dalam kawasan Geopark Belitung. Ia terletak di Desa Sungai Padang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Pantainya menghadap ke Pulau Limau Seri dan Pulau Umang. Geosite Batu Bedil ini berjarak sekitar 41 kilometer dari Tanjungpandan.

Batu bedil

Saat itu, aku diajak ke Batu Bedil oleh Bu Yen Yen, Kepala KPPN Tanjung Pandan, setelah sebelumnya puas keliling Belitung dengan motor, bahkan hingga Tanjung Tinggi. Kami ke sana bersama Pak Yudi yang merupakan aktivis Geopark Belitung. Pak Yudi sedang berusaha mengembangkan Geopark Batu Bedil dan lokasi lainnya.

Perjalanan memakan waktu 1 jam lebih dari KPPN. Sebagian jalan masih berupa tanah yang dipadatkan. Sepanjang jalan Pak Yudi bercerita banyak soal Batu Bedil.

Asal Mula Nama Batu Bedil

Ada beberapa cerita asal mula nama batu bedil. Pertama, karena bentuknya bila dilihat dari atas berupa 3 gugusan batu sejajar yang masing masing dipisahkan oleh laut sehingga membentuk formasi meriam alias bedil,

Kedua, asal mula nama Batu Bedil adalah berdasarkan adanya sebuah lubang atau rongga di gugusan batu ketiga yaitu yang paling landai dan besar. Lubang ini kerap menimbulkan bunyi seperti bedil ketika air terdorong masuk ke celah lubang. Bunyinya mirip bedil yang ditembakkan.

Peta Batu Bedil
Peta Batu Bedil oleh Cornelis De Groot

Soal ini pun dicatat oleh penulis Belanda, Conerlis de Groot yang terbit 1887 dengan judul Herinneringen aan Blitong. Cornelis de Groot menuliskan, “Sebagai suatu keanehan yang perlu dicatat, bahwa di sebelah timur Tanjung Sadei dekat pantai utara ada beberapa granit yang di antaranya berupa pulau dan yang lainnya menghadap laut, yang menghasilkan suara tembakan, saat pantai bergejolak dan angin kencang. Yang paling terkenal adalah Batu Bedil yaitu batu yang menyembul; pulau kedua dan ketiga disebut Batu Bish dan Batu Pong, di mana Bish dan Pong itu menunjukkan suara tembakan.”

View this post on Instagram

Peluru untuk Randi Seketika ia ambruk. Aku melihatnya seperti pahlawan dalam sajak Toto Sudarto Bachtiar. Padahal belum lelah ia berteriak, meninju udara kosong seolah-olah metafora sempurna untuk kekuasaan yang tiada berarti diduduki atau tidak diduduki. Aku melihatnya digotong, melewati kerumunan Air mataku ingin mendobrak habis bendungan Peluru istimewa untuk Randi bersarang di ketiak kiri Melewati pembuluh jantungnya dan menuju dada kanan. Aku patah hati. Peluru tak punya perasaan. #pantaibatubedil #batubedil #geoparkbatubedil #geoparkbelitung #wisatabelitung #destinasi_id_official #id_pejalann #mytripmyadventure #idpetualang #mainkemana #travelingyuk #kompasnusantara #lingkarindonesia

A post shared by Pringadi Abdi Surya (@pringadisurya) on

Misteri Batu Bedil

Di Batu  Bedil, terdapat perigi beracun. Di sela pepohonan, kita akan menemukan sabana luas dan dari kejauhan tampak pagar bambu mengelilingi sebuah bidang. Di sini terdapat sebuah sumur yang terbentuk alami dari bebatuan granit, sebuah celah dengan diameter sekitar 50 cm dan kedalaman satu meter. Masyarakat meyakini sumur ini sangat beracun dan tak satu pun yang berani meminumnya.

Berdasarkan cerita turun temurun, Sumur beracun di buat oleh Datuk Faqih yang bergelar Datuk Macan Garang. Beliau dahulu tinggal di daerah ini yang ditugaskan menjaga keaamanan laut di wilayah ini. Zaman dahulu perigi ini sebagai salah satu senjata perangkap bagi para perompak dan bajak laut yang datang merapat ke Pulau Bedil.  Saat mereka minum air maka akan sakit dan mati.

Kelompok lanun atau bajak laut yang sering datang menyerang warga setempat. Lanun itu membunuh dan menangkap warga untuk dijadikan pengikutnya. Hal tersebut membuat warga ketakutan hingga melarikan diri ke Padang Batu dan Padang Pendam. Hanya Datuk Faqih dan beberapa warga yang tinggal di tempat itu.

Datuk Faqih yang geram lalu menghentakkan kakinya pada batu. Di batu yang retak itu, Datuk Faqih menggali sumur.

Suatu ketika, kelompok lanun kembali menyerang tempat tersebut. Datuk Faqih kemudian menantang pemimpin lanun adu kesaktian dengan memantrai sumur tersebut. Sebelum bertarung, Datuk Faqih telah memasukkan racun dan batu penawar agar anak cucunya tak terpengaruh racun dari sumur tersebut.

Batu Bedil

Di Batu Bedil juga terdapat batu granit berdiameter kurang dari satu meter yang berbentuk lambang hati. Masyarakat sekitar biasa menyebut batu tersebut batu love. Keberadaan mangrove di batu Bedil juga menambah keindahan pantai ini.