Tag Archives: geopark ciletuh

Trip ke Geopark Ciletuh Bersama BackPacker Jakarta #1: 1200 Anak Tangga di Curug Puncak Manik

Sudah setahun lebih aku stalking akun Backpacker Jakarta di Instagram. Baru akhir pekan lalu, aku berkesempatan mengikuti trip bersama Backpacker Jakarta. Tujuannya, Geopark Ciletuh.

Begitu pengumuman dibuka, aku segera minta izin ke ibu negara. Kebetulan kali ini jadwalnya pas banget 29 Februari-1 Maret. Belum ada jadwal apa pun. Alhmdulillah, izin keluar. Meski agak menyayangkan sebenarnya karena aku pergi sendirian, nggak mengajak anak-anak. Soalnya, aku sendiri belum percaya diri mengajak anak-anak ikut perjalanan yang lumayan jauh dengan treking yang lumayan panjang.

Meeting point kami di Sekretariat Backpacker Jakarta, di sebelah RS UKI. Sebelum pukul 23.30 sudah harus berkumpul. Pukul 00.00 dijadwalkan berangkat.

Di sekre aku segera berkenalan dengan beberapa teman. Teman pertamanya namanya Sopian. Asal Cirebon. Jadi sebenarnya dia peserta cadangan. H-1 baru dikabari kalau ada yang cancel. Dia benar-benar datang dari Cirebon naik kereta. Cari tiket kereta di alfamart nggak dapat. Dia pun nekad cari tiket langsung. Alhamdulillah, dapat satu. Tinggal satu-satunya. Selain Sopian, ada Bella. Kesan pertamaku? Hmm, dia mirip Raline Shah. Udah itu saja ah.

Dalam trip ini, aku mengajak beberapa teman. Dunia kerja membuat mereka sok sibuk semua. Untunglah, Mas Dimas Whisnu Mahendra langsung mengiyakan. Dia adalah temanku di Komunitas Sastra Keuangan yang kuamati suka naik gunung. Teman lain yang menyatakan ikut serta adalah Gunawan, anak DJPb juga, tetapi ia membatalkan diri karena rumahnya kebanjiran. Sepertinya kepalanya pusing juga harus mengurus dampak kebanjiran itu.

Badanku agak meriang sebenarnya sebelum keberangkatan. Lelah. Makanya, begitu duduk di mobil elf (dan beruntung aku dapat kursi di belakang sopir, meski kepala sering banget kejedut di jendela), aku langsung tertidur lelap. Perjalanan sekitar 7 jam itu tak terasa. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi di perjalanan, selain sekali aku sempat turun saat sopir beristirahat, mencari kamar kecil, namun tak ada, sehingga aku terpaksa kencing di selokan.

Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan pertama, Meleset dari rencana perjalanan sebenarnya, karena seharusnya pukul 07.00 seharusnya kami sudah sampai di tujuan pertama. Namun, jam tujuh, kami baru sarapan dan sampai di Curug Puncak Manik hampir pukul 09.00.

1200 Anak Tangga Menuju Puncak Manik

Dalam perjalanan menjelajahi Geopark Ciletuh, kami ditemani guide lokal. Namanya Kang Suhan. Beliau mula-mula menjelaskan bahwa terdapat sekitar 1200 anak tangga menuju puncak manik. Di bawah tidak ada fasilitas apa pun. Jadi, bawa minum yang cukup. Jangan bawa tas yang berat-berat.

Oke, itu berarti perjalanan menuju Curug Puncak Manik menjadi saingan perjalanan menuju Grojogan Sewu di Tawangmangu yang memiliki 1250 anak tangga. Seharusnya aku mampu.

Mula-mula benar kata Kang Suhan, anak tangganya tidak curam. Dengan mudah aku menyusurinya. Namun, lama-kelamaan, tidaklah demikian. Lututku mulai gemetar seiring sudut elevasi anak tangga bertambah. Ada yang salah dengan caraku menuruni tangga. Bagi orang gemuk, disarankan berjalan agak miring saat menuruni tangga agar beban tubuh tidak langsung menopang ke lutut.

Katanya sih, cuma butuh waktu 15 menit untuk sampai. Nyatanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk menuruninya.

Mitos Curug Puncak Manik

Curug Puncak Manik menyimpan banyak mitos. Mitos pertama, masyarakat sekitar percaya bahwa dahulu air terjun ini sempat dikunjungi oleh Kentring Manik. Kentring Manik adalah istri dari Prabu Siliwangi. Air terjun ini sempat digunakan untuk mandi oleh Kentring Manik. Karena itulah, curug ini dinamai sebagai Curug Puncak Manik.

Mitos kedua menceritakan bahwa dahulu tempat ini digunakan sebagai tempat untuk menimbun harta karun saat zaman kerajaan. Dinamakan sebagai Curug Puncak Manik adalah karena pada siang dan malam hari, di puncak air terjun ini sering terlihat cahaya yang berkilauan (seperti manik/perhiasan) berkat hasil dari timbunan harta karun tersebut. Beberapa masyarakat yang pernah mengunjungi tempat ini sering menemukan batu-batu cincin yang berwarna-warni. Mereka percaya bahwa batu tersebut adalah sisa dari timbunan harta karun yang dulu pernah disimpan di tempat ini.

Mitos ketiga yang menyelimuti tempat ini adalah bahwa dahulu tempat ini sempat dijadikan tempat persembunyian bagi prajurit saat terjadinya babad Cirebon. 

Keindahan Curug Puncak Manik

Curug Puncak Manik

Curug Puncak Manik adalah curug tertinggi di Sungai Ciletuh dengan ketinggian lebih dari 100 m. Ia berada dalam satu rangkaian dengan Curug Awang dan Curug Tengah.

Terdapat dua danau di Curug Puncak Manik yang belum diketahui kedalamannya. Belum ada yang berani berenang di sana. Airnya keruh, seperti kopi susu. Danau yang berada di atas namanya Leuwi Ngoplak. Danau yang berada di bawah namanya Leuwi Kaca.

Aku sendiri sempat melihat foto traveler yang berfoto di sisi atas. Namun, tak kutemukan jalan yang layak untuk bisa mencapai tempat itu. Harus mengambil risiko menyeberangi sungai, lalu naik di bebatuan. Aku tak seberani itu mengingat aku masih merasa letih setelah perjalanan jauh dan menuruni anak tangga.

Aku bahkan merebahkan diriku sejenak sebelum mengambil foto diri dengan latar Puncak Manik. Agendaku dengan Mas Dimas, membaca puisi de bawah deru Curug Puncak Manik Pun Kesampaian.

Mendaki Lagi Anak Tangga

Tugas berikutnya menanti. Pukul 10.15 kami mulai bergerak naik. Kang Suhan mewanti-wanti, jangan buru-buru. Biar nanti di belakang sama dia. Aku tahu aku gemuk, jadi aku sadar diri nggak akan memaksakan diri.

Perjalanan mendaki yang dijadwalkan 30 menit itu ternyata kutempuh dalam waktu satu jam. berkali-kali berhenti. Terik matahari menyengat badan. Keringat keluar bercucuran. Kulepas baju, hanya mengenakan kaus dalam. Air minum yang dibawa pun habis tak bersisa. Aku tahu, aku dehidrasi ringan.

Namun, di belakangku ternyata ada yang lebih berkasihan. Perempuan. Aku tahu dia sudah kelihatan kepayahan saat menuruni anak tangga. Apalagi naiknya.

Aku melihatnya dibopong oleh temannya. Aku sendiri menemukan sebatang kayu yang kugunakan untuk menopang diri.

Sampai di atas, kami mendapat kabar, sang perempuan pingsan. Para panitia perjalanan yang sedang beristirahat pun turun, membawa tandu, mereka menunjukkan tanggung jawabnya.

Salut. Tak lama setelah korban berhasil dievakuasi, ambulans datang. Selamat. Nasib korban lebih penting dari kelanjutan perjalanan.

Dalam pada itu, saat menanti korban dievakuasi, para peserta mulai mengakrabkan diri satu sama lain. Kami banyak berbincang, bercerita tentang pernah ada peserta hilang di Gunung Rinjani. Selama 4 hari. Petugas SAR sudah membawa kantung mayat. Alhamdulillah, hari ke-4 ia ditemukan. Katanya sih disesatkan.

Mas Dimas pun menimpali, “Termasuk yang pingsan. Ada yang ikut dia.”

Saat itu aku menyadari, para makhluk gaib itu sudah berada di sekitar kami. Memang mereka sangat senssitif. Kalau diomongi, mereka akan datang dengan cepat. Makanya, kalau lagi jalan-jalan ke alam, jangan bahas yang gaib-gaib, ya!