kiat sukses beasiswa bappenas

Tips Mendapatkan Skor TPA Lebih dari 600 dan Kiat Sukses Tembus Beasiswa Bappenas

Judul di atas begitu wah. Saya mau berbagi cerita sedikit soal dua hal. Yang pertama tentu tips mendapatkan skor TPA lebih dari 600. Yang kedua, kiat sukses tembus beasiswa Bappenas. Seolah-olah demikian….

Sudah 1 tahun lebih aku menempuh pendidikan Magister Administrasi Publik di Universitas Sriwijaya. Tugas belajar ini adalah beasiswa dari Bappenas. Kayaknya sih beasiswa Bappenas kurang populer dibandingkan dengan beasiswa lain seperti beasiswa dari LPDP, Australian Award Scholarship (AAS), Chevening, atau bahkan dari internal Kementerian Keuangan sendiri.

Alasan utama kurang populernya beasiswa Bappenas adalah jumlah uang saku dan layanan yang diuangkan. Ya, uang saku dari Bappenas tergolong rendah, tidak sampai Rp2 juta/bulan. Hal itu cukup memberatkan bagi pegawai dari instansi yang sudah mendapatkan tunjangan tambahan, sebab tunjangan itu dihapuskan sebagian/seluruhnya yang biasanya nilainya lebih besar dari uang saku.

Keuntungannya, alur seleksi beasiswa Bappenas lebih cepat dan “mudah”. Dari syarat administrasi, kita hanya harus membuat sebuah esai pendek yang cukup mewakili apa yang ingin kita teliti, yang sebaiknya ada hubungannya dengan perencanaan. Setelah itu tesnya hanyalah Tes Potensi Akademik (TPA) dan Tes TOEFL.

Terlihat “mudah” karena kita sudah familiar dengan tesnya. TOEFL toh dianggap lebih mudah dan murah dibanding IELTS. Faktanya, karena kefamiliaran ini, tugas berat sesungguhnya adalah mendapatkan nilai lebih tinggi dari peserta lain. Ini yang jauh lebih berat dibanding mencapai target standar kelulusan nilai TPA 500 dan TOEFL 500.

Saat itu, kedua tes tersebut kuikuti secara daring. Tes Potensi Akademik tidak kuketahui nilainya langsung. Aku harus menunggu pengumuman apakah aku akan melaju ke tes berikutnya. Tes berikutnya yakni TOEFL langsung menampilkan hasil nilai kita. Saat itu nilaiku 540 kalau tidak salah. Jadi ya sudah GR akan lulus sebelum pengumuman final. Alhamdulillah lulus beneran.

Kiat sukses tembus beasiswa Bappenas sebenarnya sesederhana itu. Bikin esai yang apik. Dapatkan nilai TPA dan TOEFL yang tinggi.

Sebenarnya ada satu lagi yang perlu dipertimbangkan yakni pemilihan universitas dan jurusannya. Ada hal-hal teknis yang kami pahami setelah berdiskusi dengan sesama teman yang lulus. Yakni penempatan jurusan dan universitas belum tentu ditentukan dari pemeringkatan secara umum, tetapi mengisi kuota-kuota yang ada terlebih dahulu.

Bagaimana maksudnya?

Begini, tentu universitas dalam negeri yang menjadi pilihan favorit adalah Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, IPB, ITB, ya pokoknya yang di pulau Jawa. Sementara itu, universitas yang bekerja sama dengan Bappenas itu tidak hanya di pulau Jawa, tetapi juga ada di Aceh (Unsyiah) sampai ke Makassar (Unhas). Nah, peserta yang memilih universitas-universitas non favorit itu pun didahulukan untuk ditempatkan di sana. Dipenuhi dulu kuotanya. Jadi, agaknya sia-sia meski kamu memilih universitas favorit di pilihan 1-2, tetap saja yang dilihat pertama kali adalah pemenuhan kuota universitas non favorit tersebut.

Tentu hal di atas masih spekulasi. Tapi mendengar bahwa beberapa kawan misalnya memilih Universitas Brawijaya di pilihan pertama, dan Universitas Sriwijaya di pilihan ketiga, lulusnya di Universitas Sriwijaya. Eh ada kawannya yang nilainya lebih rendah dari dia lulus di Universitas Brawijaya karena pilihannya adalah UGM dan UB.

Ya nilai TPA kami akhirnya dibagikan. Jadi kami bisa saling tahu nilai kami. Lalu berapa nilaiku?

Nilai TPA-ku 613,27. Nilai ini kayaknya lumayan ya. Sayangnya, saya pun tidak lulus pilihan pertama dan kedua di Universitas Indonesia.

Jadi dengan nilai 613,27 sudah pantas belum kalau menulis tips mendapatkan skor TPA tinggi? Hehe.

Sebenarnya, mau cerita sedikit, jenis soal TPA ini memang sudah biasa menemaniku dari masa sekolah. Tes masuk STAN pun dulu jenisnya TPA. Ditambah bahasa Indonesia dan Inggris waktu itu. Sekarang nggak tahu gimana. Nah, untuk tes model ini, waktu sekolah aku rajin ikut try out. Pas tubel DIV juga jenis soalnya masih sama. Jadi saat persiapan ikut beasiswa Bappenas ini, aku hanya mencoba meraih ritmeku dalam mengerjakan soal itu.

Ya, pada dasarnya semua orang bisa mengerjakan soal TPA. Yang membedakan adalah kecepatan dan ketepatan. Sebab, ketika mau cepat, seringkali ketepatan jadi terabaikan.

Pertama, tentu saja kita harus pahami jenis soal TPA. Ada tiga subtes dengan jumlah 250 soal dengan waktu pengerjaan 60 menit per subtesnya.

Susahnya tes online adalah bisa dibilang tidak ada waktu untuk kembali. Jadi, kita kudu memiliki kemampuan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Saran dariku jangan pernah kosongkan jawaban. Agak nekat?

Untuk memahami jenis soal ini kita perlu latihan yang konsisten. Saya selalu menggunakan simulasi. Artinya, kita kudu memaksa diri kita untuk membiasakan diri seperti berada dalam tes. Set waktu 60 menit per subtes. Lalu kerjakan. Dengan latihan simulasi ini, kita jadi punya jam tubuh yang bisa mengenali waktu ujian dan mempunyai mental untuk mengatasi tekanan saat mengerjakan soal.

Kedua, apabila punya waktu persiapan yang lebih panjang, kita harus jujur kepada diri sendiri saat latihan soal. Saya biasanya menuliskan jawaban beserta caranya di buku tulis. Saya haramkan menebak jawaban saat latihan. Sehingga saya tahu di bagian mana saya lemah. Dan saya jadi tahu tipe soal yang akan saya bisa jawab bagaimanapun soal itu nantinya. Karena saya sudah tahu caranya.

Nah, di bagian yang lemah itu saya pelajari konsepnya. Saya latih lagi dengan berbagai jenis soal.

Maka saya selalu yakin, pada soal-soal yang memiliki cara menjawab, saya tidak mungkin salah, kecuali khilaf. Pertaruhan terjadi paling pada soal-soal yang mengetes kemampuan verbal, logika, dan gambar berpola. Nah di situ saya tidak bisa merumuskannya.

Demikian kiranya, tips mendapatkan nilai TPA lebih dari 600 dan menjadi bagian dari kiat sukses tembus beasiswa Bappenas. Selamat mencoba!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

2 Comments

  1. Salam mas.
    Bisa dicontohkan essai yg apik itu yg seperti apa ya mas? atau bisa mas share kisi-kisinya. Terima kasih sebelumnya..

    1. Esai tersebut kudu menggambarkan sesuatu yang riil, didasarkan dari pekerjaan kamu, dikaitkan dengan jurusan yang kamu pilih. Misal, administrasi publik. Pilih kebijakan publik di kantormu yang kira-kira ada “masalah” dan bisa dijadikan topik penelitian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *