Tag Archives: puisi pringadi

Sajak Setelah Umur 30 Tahun

 

Setiap kereta datang, kukenang masa kecil. Bapak pulang
di Kertapati, membawa sisa keringat di bajunya.
Lalu malam demi malam bersama, setelah Maghrib berjamaah
Ia mengajariku Hijaiyah. Di sana ada Tuhan, dan Ia
berharap aku menemukannya, lalu menyimpannya baik-baik di dada.

Sebelum kereta lain merampasnya, dan aku hanya bisa
memberikan lambaian tangan paling sempurna. Lalu di satu titik
Ia menghilang. Dan aku meraba dadaku, berdoa pada Tuhan di sana
Sesegera mungkin Bapakku dikembalikan.

Aku tidak pernah tahu, nasib seorang lelaki ternyata
harus menanggung kedewasaan. Setelah kereta datang
aku masuk ke gerbong nasib, berdiri, dan sedemikian karib
dengan waktu yang sia-sia. Sambil kuingat tangisan
anakku yang tak rela Bapaknya pergi, setelah terpaksa
kulepas pelukannya yang gigih.

Aku baru tahu, ternyata hati yang pergi
tak kalah pedihnya
dengan hati yang ditinggalkan.

Shin Berhadapan dengan Jenderal Houken

Jenderal Houken mengaku
mewakili kemanusiaan
Meski berjuta kepala melayang
oleh ujung tombaknya

Shin-kita tumbuh dari tempat kumuh
Ia belajar memegang pedang
dari persahabatan
Setiap berada di peperangan
Ia mewakili orang-orang yang mati,
orang-orang yang menderita

Dengan tubuhnya yang kecil,
ia berhadapan dengan Jenderal Houken
Di atas kertas, bahkan dewa
Tak mampu menghadang alat-alat kekuasaan
Senjata terkuat bernama kebohongan

Tapi Shin-kita punya ketegaran
lebih dari gunung-gunung
Setiap satu serangan jatuh di dadanya
Terluka, berdarah
Itu tidak ada apa-apanya
dibandingkan pembantaian demi pembantaian
yang terjadi atas nama kemanusiaan

Jenderal Houken tak mengerti
Kenapa Shin yang kecil dan tampak ringkih
selalu bangun kembali
dan pelan-pelan berhasil berbalik
melukainya

(2019)

Puisi Pringadi Abdi di Majalah Horison

Lima puisi di bawah ini dimuat di Majalah Horison, pada bulan Maret 2011.

Majalah Horison Maret 2011

Ubin

Ia sebetulnya benci sapu ijuk tiap kali disuruh ibunya
membersihkan teras rumah yang berubin itu.
Bentuknya yang persegi membuat ia membayangkan
luasnya adalah kuadrat tiap sisi dan matematikanya yang
selalu dapat nilai lima.

Dua buah kursi dibiarkan menganggur di dekat pintu, ia
duduk sejenak dan menyaksikan ubin-ubin itu menggodanya.
Ia tertawa gembira, diangkatnya satu kaki, dan bermain
cak ingkling semaunya sendiri.

Di Ayunan

Bermain ayunan sendirian sore itu, seekor kucing melompat
manja ke pangkuannya. Ia ingat, dulu, seorang temannya pernah
meninggalkan tanda hati di ayunan ini. Cinta masa lalu tak lebih
dari cinta monyet.

Diraba dadanya, seperti ada sesuatu yang kosong.

Diraba yang kosong itu, sungai lahir dari matanya.

Menyeberang Jalan

Jalan di depan rumahnya sulit diseberangi. Ia harus menoleh
ke kanan dan ke kiri, sampai benar-benar yakin tak ada kendaraan
yang sedang ditunggangi malaikat maut. Ia takut, pesan ibu
di kantong bajunya tercecer di aspal yang berlubang itu. Karena itulah,
ia menyeberang pelan-pelan sambil memegangi dadanya yang
menyimpan kesepian.

Ia tak pernah percaya pada zebra cross.

Ia juga tak pernah percaya lampu merah.

Hujan dalam Sebuah Ingatan

Sepanjang Jalan Bungur, hujan mengantarkan jejak
kaki yang ia tinggalkan. Ada yang terselip di antara roda
kendaraan. Didedahkannya betis kaki, bulu-bulu halus
berlomba-lomba memanjat sampai pangkal paha.

Mungkin hujan adalah wanita.

Seketika ia berharap tak ada degam di dadanya.

Musim Penghujan

Musim hujan terpanjang waktu itu, kita berteduh di
beringin yang rimbun. Selalu ada yang memercik ke balik
kemejamu, titik-titik air yang lincah, berkelit dari dedaunan
yang rapat.

Aku tidak sudi, melihatmu berlari sambil menangkupkan
jaket di rambutmu yang pecah oleh sinar matahari. Jejak-jejak
sepatumu lengket di tanah yang becek. Lalu menjadi kolam-kolam
kecil yang merindukan ikan dan kehidupan.

Mungkinlah, seorang pengembara tidak pernah takut
musim penghujan.

Puisi Pringadi Abdi: Sarimbit Lebaran

Aku memesan sarimbit
Biar tampak serasi saat lebaran nanti

Rencana kupakai pada hari pertama
Setelah khotbah kedua
Kutunggu istriku di gerbang masjid
Kugamit lengannya mesra
Seolah tengah kukatakan
Segalanya baik-baik saja

Tak ada yang perlu dikhawatirkan
Sarimbit ini begitu sempurna
Tidak punya cacat sedikit saja
Seumpama Tuhan menjahitnya sendiri
Hadiah bagi pasangan yang beriman

Tetapi imanku rapuh
Seperti ranting
Setelah ditinggalkan seekor burung
Yang lama pernah bertengger
Rasanya ingin patah

Bagaimana hatiku,  yang telah merasa
Kau meninggalkan aku?

Aku memesan sarimbit itu
Yang tidak akan sama dengan sarimbit
Di Matahari atau Ramayana

Sarimbit yang berbeda, yang membuatku
Merasa berbeda, istimewa
Seolah segalanya baik-baik saja

Begitulah seharusnya ketika lebaran tiba
Semua orang tersenyum sumringah
Bersalam-salaman, berkunjung ke tetangga
Sambil bercerita kabar tanah rantau
Kesehatan baik-baik saja
Pekerjaan baik-baik saja
Isi kantong celana baik-baik saja
Segalanya baik-baik saja
Termasuk jika ada yang bertanya
Apakah negara juga baik-baik saja?

Puisi Pringadi Abdi Surya | Dari Kucing Hingga ke Parkiran

Seekor Kucing di Kehidupan Lalu

Sambil kupandangi hujan
Dari jendela kamar
Kubayangkan aku seekor kucing
Di kehidupan lalu
Yang mengingat malam
Tanpa lagu pengantar tidur
Menunggu seseorang memungutku
Setelah seseorang membuangku

(2019)


Hanya Nasib

Hanya nasib yang paham
Suara jangkrik pada suatu malam
Bercerita tentang negara
Yang hancur bukan karena perang
Seorang anak perempuan
Memegang sekerat roti basi
Menatap nanar ke arah kamera
Milik wartawan yang bercita-cita
Mendapatkan penghargaan fotografi

Nasib juga yang paham
Keesokan hari, aku tak lagi mampu
Mendengar rintih jangkrik itu
Entah karena ia tertangkap untuk umpan
Atau aku yang keburu dikangeni Tuhan

(2019)


Baca: Puisi Pringadi Abdi Surya yang Lain


Menampal Ban

Aku hanya pergi menampal ban
biar esok kukhidmati lagi perjalanan
Tak perlu kucari sebab semisal
terbentur batu, tertusuk paku
atau memang ban itu letih menemaniku

Kubayangkan udara di dalamnya adalah kita
yang terkurung, bak di sebuah negara
bersesak ria, berteriak ingin segera
saling bercerai-berai, melupakan janji
betapa pernah kita berjuang bersama

Sambil kurenungkan makna setia
Setiap ada yang terluka
Kita akan saling berusaha mengobatinya

(2019)


Parkir Motor

Kita tidak mengenal tukang parkir itu
Tetapi kita tinggalkan motor padanya
Setiap menuju stasiun

Kita tidak tahu namanya, siang nanti
Dia makan apa, atau apakah ia berpikir
Negara baik-baik saja dan sudah baik padanya

Kita titipkan begitu saja, tanpa mengunci
Stang, lalu kita naiki gerbong kereta
Dan berdoa di perjalanan tiada yang merintang

Itulah satu-satunya doa yang kita ucapkan
Dan bersyukur perjalanan ke kantor
Membuat kita masih percaya Tuhan

Lupa atau tak peduli pada hati yang kotor
Dan lebih beriman pada tukang parkir motor

(2019)