Tag Archives: puisi

Puisi Pringadi Abdi di Pikiran Rakyat, 21 Oktober 2018

Jalanan Berlubang

Setiap malam ia berdoa
hujan turun tak lebih panjang
dari segala drama
Jalan-jalan telah berlubang
seperti dada seseorang
yang lama menunggu
kepastian sebuah hubungan
Air mata Tuhan turun bersimpati
dan kanak-kanakNya terlahir kembali

Sejatinya, ia tak begitu mencintai
masa kanak-kanak, ia juga
tak merasa begitu dicintai Tuhan.

Memahami Dirimu

aku terpaksa membantah, tak semua hal di dunia ini masuk akal
cinta dan kau telah membuatku menjadi orang buta
yang berjalan menggunakan tongkat demi temukan kebahagiaan

belum juga kupahami kenapa tuhan menciptakan kesedihan
kehidupan telah dipenuhi air mata
dan banyak yang terbiasa menambangnya setelah mengkristal
bak ladang garam yang luas membentang

aku menjadi tak acuh melihat orang meminta-minta
karena seperti negara, kadang kala meminta padahal tak butuh
cicilan utang masa lalu lebih besar dari utang baru
lalu di belakang berlagak besar dan kaya, berhasil dan kuasa

aku juga tak ada beda, begitu kerdil di hadapanmu
tak bisa kupahami dirimu dan kucari-cari alasan
agar semua orang setuju, kaulah yang rumit
pemasalahan demi permasalahan tak bisa diselesaikan

hati ini bagaikan pohon pisang yang ditanam di jalan berlubang
kau boleh saja menabrak dan menumbangkannya
atau mengerti, ada hal yang harus diperbaiki

Puisi Pringadi Abdi di Solo Pos, 7 Oktober 2018

 

 

Pulang

 

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku adalah yahudi terkutuk
yang berjalan, tak sampai-sampai

hingga malam demi malam hanya untuk
sebuah gerhana penuh
berwarna merah darah

yang kemudian dikhianati mendung
hanya seekor burung muda tersesat
di langit, terbang, tak tahu pulang

Hatiku bersamanya, tetapi
pikiranku begitu muda, ingat pulang
tapi tak punya tempat.

Jatuh ke Senyummu

 

aku terjatuh ke dalam senyummu
dan aku terperangkap, terpenjara
sia-sia sudah kemerdekaan
bertambah lagi duka
setelah kemiskinan, intoleransi
kini aku papah padamu

isi kepalaku berubah, bukan lagi
kolam berair jernih
ikan-ikan tak berkumpul, pergi
menujumu

bagaimana caramu menjatuhkan aku
lebih cepat dari pukulan ali
ketika menjatuhkan foreman

senyummu adalah sebuah lubang
yang memaksaku jatuh
dan tak ingin aku bangkit kembali
biarlah kini duniaku di dalammu

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan

 

 

Memeluk Seluruhmu

Aku ingin memeluk seluruhmu
dirimu yang lebih luas dari seluruh nama
kedua lenganku yang tak terbiasa
mengukur dunia—kelilingnya telah diaku
oleh columbus, menemukan dunia baru
tempat orang-orang lari atau mencari kesunyian

dunia baruku adalah kamu, tetapi seluruhmu
di luar nalarku

aku tak bisa berpikir jernih
sungai musi, sungai kapuas, sungai bengawan
diberi tawas setempayan masih
sekeruh ingatan

sampai aku merasa khianat
sampai aku mengusir sepenuh kalimat
yang diciptakan daun-daun merah kemarin
disematkan cicit-cicit burung sriti muda
yang terbang setinggi-tingginya

aku ingin memeluk seluruhmu
seperti lengan sayap burung itu
ketika hendak memeluk langit

Puisi: Donquixote

trully, aku bukan bagian donquixote family
yang kehilangan ibu di umur delapan
lalu membunuh ayahnya di umur sembilan
benang-benang yang tak dapat ditebas pedang
mengurung kebahagiaan
seperti sebuah sangkar burung yang memerangkap
nyanyian merdu nuri
segala hal, dari kacamata doflamingo adalah
ketidakadilan dari keadilan. anak-anak yatim piatu
karena perang, anak-anak kelaparan karena
pemerintahan, dan anak-anak yang lebih memilih
belajar menembakkan senjata ketimbang pena
ini semua hanyalah permainan mencari raja
menjadi cinta damai tapi lemah atau bahagia
karena kekuatan buah setan semakna khuldi
yang memunculkan pengetahuan terlarang
agar bagaimana bisa menjadi tuhan
lalu semuanya bagaikan isshou yang meragukan
segala yang dilihat, menutup mata dan menempuh
keadilan buta sebagai perintah, benar dan salah
gravitasi yang memanggil meteor-meteor dari langit
tapi benang-benang tak dapat ditebas pedang
batu-batu menjadi pasir dan debu
lalu aku, trully, bukan bagian donquixote family
meski tak menertawakan suara tinggi peeka
tapi menertawakan hidupku sendiri
sebagai seekor burung yang tak mengerti
indahnya bertengger di sebuah pohon eva

Lomba Menulis Puisi Ramadhan 2017 oleh Majelis Sastra Bandung (DL: 7 Juni 2017)

Majelis Sastra Bandung (MSB) menggelar Lomba Menulis Puisi Ramadhan 2017.

Lomba menulis puisi ini mengambil tema “Ramadhan dan Kondisi Sosial Negeri”.

Lomba terbuka untuk semua usia dan pengiriman puisi yang dilombakan dimulai 1 Mei sampai 7 juni 2017 (cap pos).

Syarat

Memakai Bahasa Indonesia, diketik rapi font 12, Time New Roman, dan diprint rangkap tiga.
Peserta boleh mengirim 2 sampai 3 puisi, dan belum pernah dipublikasikan.

Lomba tahun 2017 ini adalah kedelapan kalinya diadakan rutin setiap Ramadhan, seiring dengan usai MSB yang sudah berusia lebih dari 8 tahun. Untuk lomba kali ini MSB menyediakan hadiah uang THR sebesar Rp 2 juta untuk empat pemenang puisi terbaik. Masing- masing mendapat Rp 500 ribu.

Puisi dikirim ke:
Panitia Lomba Puisi Ramadhan MSB
(Kyai Matdon)
Jalan Cijerah, Gang Sukarame Nomor 394A,
Kota Bandung 48213

atau

Panitia Lomba Puisi Ramadhan MSB
Gedung Indonesia Menggugat Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5, Kota Bandung.

Lomba Menulis Puisi “Sail Cimanuk”

 Bagi Anda yang menyukai dengan dunia tulis menulis terutama karya sastra berupa puisi, ada kabar gembira bagi Anda karena ada lomba menulis puisi tahun ini dengan judul “Sail Puisi Cimanuk” yang diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan HUT (Hari Ulang Tahun) Kabupaten Indramayu ke 489.

Tema kegiatan tahun ini adalah “Sungai Cimanuk Sebagai Sumber Kehidupan”. Hadiahnya tidak tanggung-tanggung dengan total hadiah sebesar Rp. 12.000.000. Penasaran dengan lomba ini berikut syarat dan ketentuannya :

Lomba Menulis Puisi

Tingkat Nasional
“sail puisi cimanuk”
Tema: “Sungai Cimanuk sebagai Sumber Kehidupan”
Berhadiah Total Rp 12 Juta

Persyaratan Peserta
1)    Terbuka untuk seluruh penyair atau penulis puisi se-Indonesia, baik yang berdomisili di dalam negeri maupun luar negeri;
2)    Peserta tidak dibatasi usia;
3)    Peserta tidak dipungut biaya;
4)    Peserta mengirimkan 1 (satu) puisi bertema “Sungai Cimanuk sebagai Sumber Kehidupan”;
5)    Peserta wajib mengirimkan 3 (tiga) puisi sebagai pendamping, bertema bebas, dan tidak harus baru;
6)    Puisi yang diikutsertakan adalah karya sendiri, bukan plagiat ataupun saduran;
7)    Puisi tidak mengandung asusila, pornografi, kekerasan berlebihan, tidak menghina atau melecehkan keyakinan dan ras tertentu.
8)    Peserta wajib menuliskan biodata singkat (disertai alamat rumah, nomor kontak telepon yang bisa dihubungi, dan email);

Pengiriman Puisi
1)    Puisidan biodata bisa dikirimkan ke email sailpuisi.cimanuk@gmail.com
2)    Puisi dan biodata bisa pula dikirim lewat pos / langsung  ke Panitia Lomba Menulis Puisi 2016 Tingkat Nasional, Gedung Dewan Kesenian Indramayu (DKI), Jalan R.A. Kartini No. 1 Indramayu, Jawa Barat, pukul 09.00 – 17.00;
3)    Pengiriman paling lambat tanggal 7 Oktober 2016 pukul 24.00.

Puisi Terpilih dan Pemenang

1)    Dewan Juri menentukan 100 (seratus) puisi terpilih, yang masuk dalam buku antologi;
2)    Dewan Juri juga menentukan 6 (enam) puisi pemenang di antara 100 (seratus) puisi terpilih tersebut;
3)    Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu-gugat;
4)    Penerbitan atas 100 puisi terpilih tersebut menjadi hak Panitia;
5)    Penyair yang puisinya terpilih akan mendapatkan 3 (tiga) eksemplar buku antologi puisi, dan akan dikirimkan melalui pos ke alamat masing-masing.

Penghargaan
1)    Hadiah total untuk para pemenang sebesar Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah). Masing-masing untuk:
–    Terbaik Pertama: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 4.000.000,-
–    Terbaik Kedua: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 3.000.000,-
–    Terbaik Ketiga: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 2.000.000,-
–    Terbaik Harapan Pertama: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 1.000.000,-
–    Terbaik Harapan Kedua: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 1.000.000,-
–    Terbaik Harapan Ketiga: Piagam, Trophi, dan Uang Apresiasi Rp 1.000.000,-
2.    Penganugerahan puisi terbaik akan dilakukan dalam “Malam Puisi Cimanuk” pada tanggal yang ditentukan kemudian di Panggung “Bale Kambang” Sungai Cimanuk, Indramayu;
3.    Di antara puisi-puisi yang masuk dalam antologi akan dibacakan dalam acara “Malam Puisi Cimanuk” oleh para aktor, deklamator, ataupun pembaca puisi terkenal.

Dewan Juri
Dewan Juri terdiri dari para penyair dan akademisi, yakni:
1)    Hamdi Salad
2)    Kijoen
3)    Raudal Tanjung Banua

Lomba Cipta Puisi Taman Sastra

Riaurealita.com menggelar Lomba Cipta Puisi untuk menyambut hari ulang tahun (HUT) yang pertama sekaligus sebagai perayaan peluncuran laman baru, Taman Sastra (sastra.riaurealita.com).

Ketentuan umum:

Tidak ada pembatasan usia

Lomba terbuka untuk semua warga negara Indonesia

Semua naskah puisi yang diterima secara berkala diterbitkan di rubrik Taman Sastra (sastra.riaurealita.com)

Naskah puisi pilihan akan dibukukan

Ketentuan naskah:

Tema puisi bebas
Jumlah minimal naskah 3 judul puisi, maksimal 5 judul puisi
Panjang puisi tak terbatas
Diutamakan puisi yang ditulis tahun 2016
Naskah puisi belum pernah diterbitkan di buku, media cetak, online/blog dan media sosial
Naskah belum pernah dan tidak sedang diikutkan dalam perlombaan cipta puisi
Naskah puisi ditulis di Ms. Word, font Arial, ukuran 12, spasi 2
Menyertakan biodata dalam bentuk narasi pada halaman terpisah di akhir halaman
Menyertakan file foto diri dalam bentuk attachment email (bukan di dalam file naskah)
Subject email: LOMBA CIPTA PUISI HUT PERTAMA RIAUREALITA.COM
Naskah puisi dikirim dalam bentuk attachment ke email sastra.riaurealita@gmail.com

Jadwal lomba:

Pengiriman naskah: 10 Agustus 2016 s/d 31 Agustus 2016 pukul 00.00 Wib
Penjurian: 1 September 2016 s/d 9 September 2016 pukul 00.00 Wib
Pengumuman Pemenang: 10 September 2016 pukul 00.01 Wib

Hadiah:

Pemenang utama mendapatkan uang tunai sebesar Rp500.000 + piagam elektronik
puisi pilihan masing-masing mendapatkan uang tunai sebesar Rp250.000 + piagam elektronik
Hadiah hiburan untuk karya peserta terbanyak diklik atau dibaca mendapatkan pulsa sebesar Rp50.000
Semua peserta mendapatkan piagam elektronik

Catatan: Keputusan pemenang berada di tangan dewan juri dan tidak dapat diganggu gugat.