Tag Archives: haruki murakami

Simbolisme Haruki Murakami oleh Ardy Kresna Crenata

Simbolisme Haruki Murakami

Seorang perempuan menemukan sebuah batu berbentuk ginjal saat ia sedang berjalan sendirian menyusuri sungai di sebuah pegunungan. Ia seorang dokter penyakit dalam, sehingga ia bisa memastikan bentuk batu itu memang menyerupai ginjal saat ia menggenggamnya, menyentuh-nyentuhnya, merasakannya. Ia kemudian membawa batu itu bersamanya dan meletakkannya di meja kerjanya, sebagai “oleh-oleh” sekaligus penindih kertas-kertas dokumen. Besok harinya, tepat ketika ia memasuki ruang kerjanya itu, ia mendapati batu itu sudah tak di sana; tergeletak di tempat lain meski masih di ruangan tersebut.

Besok harinya lagi ia kembali mendapati hal yang sama, begitu juga besoknya dan besoknya lagi. Terus seperti itu. Ia yang semula melihatnya sebagai sesuatu yang ganjil dan tak masuk akal mulai mencoba menerimanya sebagai sesuatu yang nyata-meski-tak-terjelaskan. Lambat-laun ia mulai merasa batu berbentuk ginjal ini mengganggunya; perhatiannya terisap kuat oleh batu tersebut dan ia jadi merasa waktu dan energinya banyak berkurang dan ini mengacaukan ritme hidupnya. Di titik ini ia mulai mencoba menghubungkan kemunculan dan tingkah aneh batu berbentuk ginjal ini dengan realitas yang dijalaninya. Saat itu, ia sedang dalam sebuah hubungan gelap dengan seorang dokter bedah di rumah sakit yang sama, dan ia mulai berpikir hubungan tersebut tak lagi baik baginya.

Si narator memberitahu pembaca bahwa ketika si perempuan menemukan batu berbentuk ginjal itu bisa jadi ia sesungguhnya sudah mulai merasa terganggu oleh hal tersebut, hanya saja ia tak menyadarinya. Rasa bersalah di dalam dirinya muncul, bergerak di alam bawah sadarnya, baru kemudian ia menemukan batu berbentuk ginjal itu. Kelak ketika si perempuan melemparkan batu berbentuk ginjal itu ke laut dan besoknya ia mendapati batu itu terdiam tanpa dosa di meja kerjanya di dalam dirinya masih ada pertentangan yang kuat antara ia menginginkan hubungan gelapnya itu berakhir namun di sisi lain ia masih enggan melepaskan si dokter bedah. Lalu di akhir cerita, ketika si perempuan sudah memantapkan keputusannya untuk mengakhiri hubungan gelapnya dengan si dokter bedah itu, batu berbentuk ginjal tersebut tak lagi ditemukannya di meja kerjanya, tidak juga di tempat-tempat lain.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan si perempuan terhadap hubungan gelapnya dengan si dokter bedah sangat mungkin berhubungan dengan kemunculan dan perilaku aneh batu berbentuk ginjal itu. Masalahnya, si narator, ataupun tokoh-tokoh dalam cerita, tak memberikan pernyataan yang tegas dan terang-benderang tentang keterhubungan ini.

Ini saya kira sesuatu yang menarik; sebuah permainan yang cerdik, dan menarik. Kedua hal itu bisa jadi berhubungan namun bisa jadi tidak sama sekali; tiadanya pernyataan kentara dari si narator tentang hal ini membuat dua kemungkinan tersebut terus saling tarik-menarik tanpa henti. Pembaca kemudian jadi seperti berada dalam sebuah ambiguitas, sebuah situasi di antara.

Seandainya memang kedua hal itu berhubungan, maka situasi batu berbentuk ginjal itu bisa dilihat sebagai simbol dari situasi hubungan gelap yang tengah dijalani si perempuan. Kemunculan batu berbentuk ginjal adalah simbol dari mulai tidak yakinnya ia dengan perselingkuhan yang dijalaninya; tingkah aneh si batu di ruang kerjanya, adalah simbol dari rasa bersalah yang terus mengganggunya; munculnya kembali batu itu di ruang tersebut meski si perempuan telah membuangnya, adalah simbol dari belum relanya ia mengakhiri perselingkuhannya; dan tiba-tiba lenyapnya batu itu, adalah simbol dari totalitas dan keputusan bulat si perempuan atas hubungan gelapnya.

Si simbol dan apa yang disimbolkan, bisa dilihat, dihadirkan dalam satu tubuh cerita, dan keduanya disandingkan dengan arah gerak yang sama dan seperti saling memengaruhi namun juga tidak. Simbolisme yang ada, pada akhirnya, begitu ambigu dan begitu di antara. Ia tidak terang-terangan merupa simbol namun di saat yang sama “takdir cerita” begitu kuat mengarahkan sugesti pembaca ke sana. Seperti inilah, barangkali, simbolisme Haruki Murakami. Sebuah simbolisme yang penuh ambiguitas dan tarik-menarik. Cerita yang sedari tadi saya bahas ini sendiri adalah “The Kidney-Shaped Stone that Moves Everyday”.

___

Di cerita berjudul “Yesterday”, seorang lelaki yang lahir dan tumbuh di Tokyo, pada satu titik hidupnya, memutuskan untuk menjadi seorang pengguna dialek Kansai. Sebagai informasi, Kansai adalah sebuah kawasan di Jepang dengan dialeknya yang khas; dialek ini, dalam arti tertentu, menunjukkan betapa si pengguna seseorang yang santai dan riang dan cair dan berselera humor tinggi, berbeda sekali dengan dialek Tokyo yang, dalam arti tertentu, nyaris kebalikannya—formal, kaku, umum. Di mata orang-orang Jepang adalah normal dan biasa saja seseorang yang lahir dan tumbuh di kawasan Kansai berubah menjadi seorang pengguna dialek Tokyo ketika ia berada dan hidup di Tokyo; semacam bagian dari penyesuaian yang tak terhindarkan. Tetapi situasi sebaliknya, tidak.

Si lelaki itu benar-benar berusaha keras menjadi seorang pengguna dialek Kansai. Ia mempelajari dialek Kansai dengan giat, mengoceh tentang hal-hal yang akan mengingatkan lawan bicaranya kepada Kansai, membuat nada bicara dan gestur dan tingkah kesehariannya memperkuat kesan tersebut, bahkan sampai mencoba menjalani kehidupan di Kansai. Hasilnya sempurna. Seseorang yang berhadapan dengannya tanpa pernah lebih dulu mengenalnya akan mengira ia berasal dari Kansai. Hanya jika ia sendiri yang mengatakan ia lahir dan tumbuh di Tokyo, baru seseorang itu menyadari dugaannya keliru.

Adapun mengapa lelaki itu sampai berusaha keras mengubah bahasa sehari-harinya, itu dikarenakan ia ingin menjadi sosok yang berbeda. Ia yang seorang pengguna dialek Tokyo adalah ia yang ingin dilupakannya, yang ia ingin sekali melarikan (dan membebaskan) diri darinya—ia dengan segala persoalan masa lalu dan masa kini dan masa depan yang kadung ada padanya. Lelaki ini tipe seorang jenius yang prestasinya di sekolah cemerlang namun pada satu titik ia tak lagi tertarik pada kecemerlangan semacam itu. Setiap bulan, ia pergi ke seorang psikolog hanya untuk mendapati psikolog itu memancingnya bercerita dan ia jadi kesal dan menilai si psikolog itu telah “melabelinya” tanpa pernah mengenalnya. Ia punya kegelisahan yang menjadi-jadi terkait hubungan percintaannya dengan pacarnya, bahwa ia tak bisa membayangkan dirinya dan perempuan itu berhubungan seks sebab ia telah berteman dengan si perempuan sedari kecil, sehingga lambat-laun ia berpikir akan baik jika mereka tak lagi bersama dan perempuan itu mengencani lelaki lain.

Si narator, seperti dalam cerita tentang batu berbentuk ginjal tadi, di sini pun tidak terang-terangan mengatakan bahwa dua hal tersebut berhubungan, bahwa kerja keras si lelaki untuk menjadi seorang pengguna dialek Kansai adalah simbol dari keinginan kuat si lelaki untuk menjadi sosok yang berbeda, untuk meninggalkan dirinya dengan segala persoalan yang ada padanya. Perlu ditambahkan, pacar lelaki itu adalah sesosok perempuan yang menyenangkan baik dari segi tampilan maupun pembawaan, sehingga sangatlah aneh seseorang yang adalah pacarnya justru berusaha melepaskan diri darinya. Sedikit-banyak, situasi ini mirip dengan anggapan betapa anehnya seorang pengguna dialek Tokyo memutuskan untuk menjadi seorang pengguna dialek Kansai. Bukan sesuatu yang umum. Katakanlah begitu.

Sampai di titik ini bisa dilihat bahwa kerja keras si lelaki untuk menjadi pengguna dialek Kansai adalah simbol dari keinginannya yang begitu kuat untuk menjadi sosok yang berbeda. Seperti di kasus batu berbentuk ginjal tadi, ini pun semacam simbolisme yang ambigu, sebuah simbolisme yang di antara. Dan ada yang lebih menarik lagi. Si tokoh lain yang dipasangkan sebagai teman si lelaki itu berada pada situasi sebaliknya; ia lahir dan tumbuh di Kansai tetapi kemudian ia memutuskan untuk menjadi seorang pengguna dialek Tokyo demi beberapa alasan yang intinya ia tidak menyukai situasi yang dialaminya dulu ketika ia masih seorang pengguna dialek Kansai. Dua sosok yang bertolak belakang, namun dipasangkan sebagai teman; dan bertemunya dua sosok inilah yang, harus diakui, menjadi awal dari perubahan jalan hidup si lelaki ke depannya. Ini sendiri bisa jadi sebuah simbol. Di dalam kehidupan, yang putih dan yang hitam kerap bertemu dan mereka justru “berteman”, melebur, bahkan menyatu. Dan perubahan setelahnya adalah sesuatu yang niscaya.

___

Di cerita berjudul “UFO in Kushiro”, simbolisme serupa pun ada. Seorang lelaki mendapati istrinya tak ada di rumah di hari keenam setelah gempa hebat melanda Kobe. Perempuan itu pulang ke rumah orangtuanya di Yamagata. Ia mengemas nyaris semua barang kepunyaannya, dan meninggalkan sebuah memo yang berisi informasi—juga perintah—soal tak perlunya si lelaki menyusul dan bahwa ia akan segera mengirimkan dokumen-dokumen perceraian. Sebelumnya, selama enam hari berturut-turut, perempuan itu selalu dilihat si lelaki mengamati tayangan-tayangan berita di televisi tentang gempa Kobe dengan tingkat konsentrasi tinggi; seakan-akan, selama seharian, perempuan itu tak melakukan apa pun lagi selain menonton tayangan-tayangan tersebut.

Gempa besar di Kobe, penayangan berita-beritanya di televisi, sikap perempuan itu yang ganjil terhadap tayangan-tayangan tersebut, dan kepergian—lebih tepatnya kepulangan—perempuan itu, seperti sebuah mata rantai yang unsur-unsurnya saling memengaruhi satu sama lain, tetapi tak bisa dipastikan begitu sebab si narator, lagi-lagi, tak memberikan pernyataan yang terang-benderang akan hal ini. Pembaca hanya dibuat menduga-duga. Pembaca berada di antara dan harus merelakan dirinya terjebak dalam tarik-menarik tiada akhir antara yang simbol dan yang nyata. Sebuah ambiguitas. Sebuah simbolisme yang ambigu.

Dengan kesedihan dan kekosongan melingkupinya, si lelaki memutuskan untuk “berlibur” ke Kushiro, sebuah kawasan di Hokkaido. Ia ke sana memenuhi permintaan seorang rekan kerjanya; ia membawa sebuah kotak yang kata rekan kerjanya itu harus diserahkannya kepada seseorang di Kushiro, seorang perempuan yang kelak mempertemukannya dengan seorang perempuan lain. Hokkaido adalah pulau di bagian atas Jepang, sebuah kawasan yang dingin, dan saat itu sedang musim dingin. Maka keberangkatan si lelaki ke Kushiro, tak bisa dimungkiri, seperti simbol dari apa yang tengah dialami si lelaki di dalam dirinya, di dalam hatinya, di dalam hidupnya. Ia baru saja berpisah dengan seorang perempuan yang telah mendampinginya bertahun-tahun. Ia sedang dalam keadaan kosong, mati, dingin. Dan begitulah situasi di Kushiro, saat itu.

Di Kushiro, ia menyerahkan kotak yang dibawanya itu; sebuah kotak yang sampai cerita berakhir pun tak bisa dipastikan apa isinya; pembaca dibuat menduga-duga dan ini bisa jadi sebuah aktivitas tanpa garis finis. Memang, dari seorang perempuan yang ditemui si lelaki di Kushiro, pembaca memperoleh semacam informasi bahwa sesuatu di dalam kotak itu adalah situasi yang tengah dialami si lelaki, bahwa di detik si lelaki menyerahkan kotak itu kepada si perempuan yang satunya lagi di detik itu pula ia menyerahkan situasinya, merelakan dirinya yang tengah bersedih dan dilanda kekosongan itu lenyap dan terlupakan, sehingga ia bisa mulai menjadi dirinya yang baru, mengisi kekosongan itu dan mengenyahkan kesedihannya. Ia dan si perempuan berada di sebuah love hotel, sebuah tempat yang akan dipilih seseorang ketika ia ingin bercinta dengan pasangannya. Tapi lelaki itu tak berpikir ke arah sana; ia bahkan tak bergairah sama sekali dan ketika ia dan si perempuan telah sama-sama telanjang pun mereka tak jadi bercinta karena ia tak merasa ia ingin (dan pantas) melakukannya. Sebuah simbol dari keragu-raguan. Sebuah simbol dari kegelisahan. Sebuah simbol dari kekosongan yang coba diisi namun tak juga terisi. Khas Haruki Murakami.

Sebelum si lelaki dan si perempuan berada di love hotel itu, mereka, juga satu perempuan lain, si perempuan yang kepadanya si lelaki menyerahkan kotak misterius itu, sempat mampir ke sebuah kedai mi. Itu sebuah kedai yang cukup luas dan hangat, dan ia ada di kawasan dingin di musim dingin. Untuk bisa sampai di sana, mereka menempuh perjalanan bermobil dari bandara, dengan sebuah mobil Subaru kecil. Hal-hal ini pun bisa dilihat sebagai simbol, dengan penafsiran kurang lebih seperti ini: bertolaknya si lelaki dari bandara adalah sebuah langkah awal ia mengatasi kesedihan dan kekosongannya; perjalanan bermobil yang tak begitu terasa nyaman, adalah situasi yang harus dihadapinya untuk bisa mengatasi kesedihan dan kekosongan itu; tibanya ia di kedai mi yang hangat, adalah buah awal, sesuatu positif, yang diperoleh si lelaki dalam proses penyembuhannya; bertolaknya si lelaki dari kedai mie yang hangat itu ke love hotel yang intim-privat, adalah titik kritis yang mau tak mau akan dihadapi si lelaki dalam upaya pembebasannya itu.

___

Demikianlah simbolisme Haruki Murakami. Ia sebuah simbolisme yang ambigu, yang menempatkan pembaca dalam sebuah situasi di antara, dan ia hadir dalam satu tubuh cerita yang sama dengan sesuatu yang disimbolkannya, dan di antara keduanya seperti terjadi sebuah interaksi tarik-menarik namun tak bisa dipastikan itu benar. Dan satu hal lagi: simbol-simbol itu terlihat juga sebagai unsur-unsur bawah sadar, sehingga pergerakannya tak ubahnya pergerakan alam bawah sadar; mereka bergerak dalam upaya mengemukakan sesuatu namun pembaca harus lebih dulu coba-coba menafsirkannya dengan menghubungkannya ke realitas di cerita barulah ia bisa (sedikit) memahaminya. Sebuah tubuh cerita dengan simbol dan realitas. Sebuah tubuh cerita dengan alam bawah sadar dan alam sadar. Seperti itulah simbolisme Haruki Murakami.(*)

—Bogor, 18 Nopember 2016

– Ardy Kresna Crenata, cerpenis dan esais –

Kutipan Favorit dari Haruki Murakami di Buku ” What I Talk About When I Talk About Running”

Kepada siapa saja yang tengah belajar menulis, aku sarankan untuk membaca buku Haruki Muramai yang berjudul What I Talk About When I Talk About Running. Banyak kutipan yang menjadi favoritku di sana. Murakami berhasil menjalin ikatan metafora antara lari (maraton), menulis, dan kehidupan.

“First there came the action of running, and accompanying it there was this entity known as me. I run; therefore I am.”

Saat pertama berlari, ada entitas yang dikenal sebagai saya. Saya lari, maka saya ada.

Saya lari maka saya ada. Saya menulis maka saya ada. Saya berpikir maka saya ada. Kita semua akan mengingat Rene Descartes yang menyatakan satu-satunya yang adalah pikiran. Satu-satunya yang membuat seorang penulis adalah karena dia menulis.

“Most runners run not because they want to live longer, but because they want to live life to the fullest. If you’re going to while away the years, it’s far better to live them with clear goals and fully alive then in a fog, and I believe running helps you to do that. Exerting yourself to the fullest within your individual limits: that’s the essence of running, and a metaphor for life — and for me, for writing as whole. “

Kebanyakan pelari lari bukan karena mereka ingin hidup lebih lama, tapi karena mereka ingin menjalani hidup dengan maksimal.

“All I do is keep on running in my own cozy, homemade void, my own nostalgic silence. And this is a pretty wonderful thing. No matter what anybody else says.”

Yang saya lakukan adalah terus berlari dalam kekosongan diri saya yang nyaman, keheningan nostalgia saya. Dan ini adalah hal yang sangat indah. Tidak masalah apa kata orang.

“I’m often asked what I think about as I run. Usually the people who ask this have never run long distances themselves. I always ponder the question. What exactly do I think about when I’m running? I don’t have a clue.”

Saya sering ditanya apa yang saya pikirkan saat saya berlari. Biasanya orang yang bertanya ini tidak pernah berlari jauh. Saya selalu merenungkan pertanyaan apa sebenarnya yang saya pikirkan saat saya berlari? Saya tidak punya petunjuk.


Baca Juga: Kutipan Inspiratif Haruki Murakami

Continue reading Kutipan Favorit dari Haruki Murakami di Buku ” What I Talk About When I Talk About Running”

Cerpen Haruki Murakami: The Wind Cave (Segera Diterjemahkan)

When I was fifteen, my younger sister died. It happened very suddenly. She was twelve then, in her first year of junior high. She had been born with a congenital heart problem, but since her last surgeries, in the upper grades of elementary school, she hadn’t shown any more symptoms, and our family had felt reassured, holding on to the faint hope that her life would go on without incident. But, in May of that year, her heartbeat became more irregular. It was especially bad when she lay down, and she suffered many sleepless nights. She underwent tests at the university hospital, but no matter how detailed the tests the doctors couldn’t pinpoint any changes in her physical condition. The basic issue had ostensibly been resolved by the operations, and they were baffled.

“Avoid strenuous exercise and follow a regular routine, and things should settle down soon,” her doctor said. That was probably all he could say. And he wrote out a few prescriptions for her.

But her arrhythmia didn’t settle down. As I sat across from her at the dining table I often looked at her chest and imagined the heart inside it. Her breasts were beginning to develop noticeably. Yet, within that chest, my sister’s heart was defective. And even a specialist couldn’t locate the defect. That fact alone had my brain in constant turmoil. I spent my adolescence in a state of anxiety, fearful that, at any moment, I might lose my little sister.

 

My parents told me to watch over her, since her body was so delicate. While we were attending the same elementary school, I always kept my eye on her. If need be, I was willing to risk my life to protect her and her tiny heart. But the opportunity never presented itself.

She was on her way home from school one day when she collapsed. She lost consciousness while climbing the stairs at Seibu Shinjuku Station and was rushed by ambulance to the nearest emergency room. When I heard, I raced to the hospital, but by the time I got there her heart had already stopped. It all happened in the blink of an eye. That morning we’d eaten breakfast together, said goodbye to each other at the front door, me going off to high school, she to junior high. The next time I saw her, she’d stopped breathing. Her large eyes were closed forever, her mouth slightly open, as if she were about to say something.

 

And the next time I saw her she was in a coffin. She was wearing her favorite black velvet dress, with a touch of makeup and her hair neatly combed; she had on black patent-leather shoes and lay face up in the modestly sized coffin. The dress had a white lace collar, so white it looked unnatural.

Lying there, she appeared to be peacefully sleeping. Shake her lightly and she’d wake up, it seemed. But that was an illusion. Shake her all you want—she would never awaken again.

I didn’t want my sister’s delicate little body to be stuffed into that cramped, confining box. I felt that her body should be laid to rest in a much more spacious place. In the middle of a meadow, for instance. We would wordlessly go to visit her, pushing our way through the lush green grass as we went. The wind would slowly rustle the grass, and birds and insects would call out all around her. The raw smell of wildflowers would fill the air, pollen swirling. When night fell, the sky above her would be dotted with countless silvery stars. In the morning, a new sun would make the dew on the blades of grass sparkle like jewels. But, in reality, she was packed away in some ridiculous coffin. The only decorations around her coffin were ominous white flowers that had been snipped and stuck in vases. The narrow room had fluorescent lighting and was drained of color. From a small speaker set into the ceiling came the artificial strains of organ music.

I couldn’t stand to see her be cremated. When the coffin lid was shut and locked, I left the room. I didn’t help when my family ritually placed her bones inside an urn. I went out into the crematorium courtyard and cried soundlessly by myself. During her all too short life, I’d never once helped my little sister, a thought that hurt me deeply.

After my sister’s death, our family changed. My father became even more taciturn, my mother even more nervous and jumpy. Basically, I kept on with the same life as always. I joined the mountaineering club at school, which kept me busy, and when I wasn’t doing that I started oil painting. My art teacher recommended that I find a good instructor and really study painting. And when I finally did start attending art classes my interest became serious. I think I was trying to keep myself busy so I wouldn’t think about my dead sister.

For a long time—I’m not sure how many years—my parents kept her room exactly as it was. Textbooks and study guides, pens, erasers, and paper clips piled on her desk, sheets, blankets, and pillows on her bed, her laundered and folded pajamas, her junior-high-school uniform hanging in the closet—all untouched. The calendar on the wall still had her schedule noted in her minute writing. Itwas left at the month she died, as if time had frozen solid at that point. It felt as if the door could open at any moment and she’d come in. When no one else was at home, I’d sometimes go into her room, sit down gently on the neatly made bed, and gaze around me. But I never touched anything. I didn’t want to disturb, even a little, any of the silent objects left behind, signs that my sister had once been among the living.

I often tried to imagine what sort of life my sister would have had if she hadn’t died at twelve. Though there was no way I could know. I couldn’t even picture how my own life would turn out, so I had no idea what her future would have held. But I knew that if only she hadn’t had a problem with one of her heart valves she would have grown up to be a capable, attractive adult. I’m sure many men would have loved her, and held her in their arms. But I couldn’t picture any of that in detail. For me, she was forever my little sister, three years younger, who needed my protection.

For a time, after she died, I drew sketches of her over and over. Reproducing in my sketchbook, from all different angles, my memory of her face, so I wouldn’t forget it. Not that I was about to forget her face. It will remain etched in my mind until the day I die. What I sought was not to forget the face I remembered at that point in time. In order to do that, I had to give form to it by drawing. I was only fifteen then, and there was so much I didn’t know about memory, drawing, and the flow of time. But one thing I did know was that I needed to do something in order to hold on to an accurate record of my memory. Leave it alone, and it would disappear somewhere. No matter how vivid the memory, the power of time was stronger. I knew this instinctively.

I would sit alone in her room on her bed, drawing her. I tried to reproduce on the blank paper how she looked in my mind’s eye. I lacked experience then, and the requisite technical skill, so it wasn’t an easy process. I’d draw, rip up my effort, draw and rip up, endlessly. But now when I look at the drawings I did keep (I still treasure my sketchbook from back then), I can see that they are filled with a genuine sense of grief. They may be technically immature, but they were the result of a sincere effort, my soul trying to awaken my sister’s. When I looked at those sketches, I couldn’t help crying. I’ve done countless drawings since, but never again has anything I’ve drawn brought me to tears.

My sister’s death had one other effect on me: it triggered a very severe case of claustrophobia. Since I saw her placed in that cramped little coffin, the lid shut and locked tight, and taken away to the crematorium, I haven’t been able to go into tight, enclosed places. For a long time, I couldn’t take elevators. I’d stand in front of an elevator and all I could think about was it automatically shutting down in an earthquake, with me trapped inside that confined space. Just the thought of it was enough to induce a choking sense of panic.

These symptoms didn’t appear right after my sister’s death. It took nearly three years for them to surface. The first time I had a panic attack was soon after I’d started art school, when I had a part-time job with a moving company. I was the driver’s assistant in a box truck, loading boxes and taking them out, and one time I got mistakenly locked inside the empty cargo compartment. Work was done for the day and the driver forgot to check if anyone was still in the truck. He locked the rear door from the outside.

About two and half hours passed before the door was opened and I was able to crawl out. That whole time I was locked inside a sealed, totally dark place. It wasn’t a refrigerated truck or anything, so there were gaps where air could get in. If I’d thought about it calmly, I would have known that I wouldn’t suffocate.

But, still, a terrible panic had me in its grip. There was plenty of oxygen, yet no matter how deeply I breathed I wasn’t able to absorb it. My breathing got more and more ragged and I started to hyperventilate. I felt dizzy. “It’s O.K., calm down,” I told myself. “You’ll be able to get out soon. It’s impossible to suffocate here.” But logic didn’t work. The only thing in my mind was my little sister, crammed into a tiny coffin and hauled off to the crematorium. Terrified, I pounded on the walls of the truck.

The truck was in the company parking lot, and all the employees, their workday done, had gone home. Nobody noticed that I was missing. I pounded like crazy, but no one seemed to hear. I knew that, if I was unlucky, I could be shut inside there until morning. At the thought of that, I felt as if all my muscles were about to disintegrate.

It was the night security guard, making his rounds in the parking lot, who finally heard the noise I was making and unlocked the door. When he saw how agitated and exhausted I was, he had me lie down on the bed in the company break room and gave me a cup of hot tea. I don’t know how long I lay there. But finally my breathing became normal again. Dawn was coming, so I thanked the guard and took the first train of the day back home. I slipped into my own bed and lay there, shaking like crazy for the longest time.

Ever since then, riding in elevators has triggered the same panic. The incident must have awoken a fear that had been lurking within me. I have little doubt that it was set off by memories of my dead sister. And it wasn’t only elevators but any enclosed space. I couldn’t even watch movies with scenes in submarines or tanks. Just imagining myself shut inside such confined spaces—merelyimagining it—made me unable to breathe. Often I had to get up and leave the theatre. That was why I seldom went to movies with anyone else.

When I was thirteen and my little sister was ten, the two of us travelled by ourselves to Yamanashi Prefecture during summer vacation. Our mother’s brother worked in a research lab at a university in Yamanashi and we went to stay with him. This was the first trip we kids had taken by ourselves. My sister was feeling relatively good then, so our parents gave us permission to travel alone.

Our uncle was single (and still is single, even now), and had just turned thirty, I think. He was doing gene research (and still is), was very quiet and kind of unworldly, though an open, straightforward person. He loved reading and knew everything about nature. He enjoyed taking walks in the mountains more than anything, which, he said, was why he had taken a university job in rural, mountainous Yamanashi. My sister and I liked our uncle a lot.

Backpacks on our backs, we boarded an express train at Shinjuku Station bound for Matsumoto, and got off at Kofu. Our uncle came to pick us up at Kofu Station. He was spectacularly tall, and even in the crowded station we spotted him right away. He was renting a small house in Kofu along with a friend of his, but his roommate was abroad so we were given our own room to sleep in. We stayed in that house for a week. And almost every day we took walks with our uncle in the nearby mountains. He taught us the names of all kinds of flowers and insects. We cherished our memories of that summer.

One day we hiked a bit farther than usual and visited a wind cave near Mt. Fuji. Among the numerous wind caves around Mt. Fuji this one was the largest. Our uncle told us about how these caves were formed. They were made of basalt, so inside them you heard hardly any echoes at all, he said. Even in the summer the temperature remained low; in the past people stored ice they’d cut in the winter inside the caves. He explained the distinction between the two types of caves: fuketsu, the larger ones that were big enough for people to go into, and kaza-ana, the smaller ones that people couldn’t enter. Both terms were alternate readings of the same Chinese characters meaning “wind” and “hole.” Our uncle seemed to know everything.

At the large wind cave, you paid an entrance fee and went inside. Our uncle didn’t go with us. He’d been there numerous times, plus he was so tall and the ceiling of the cave so low he’d end up with a backache. “It’s not dangerous,” he said, “so you two go on ahead. I’ll stay by the entrance and read a book.” At the entrance the person in charge handed us each a flashlight and put yellow plastic helmets on us. There were lights on the ceiling of the cave, but it was still pretty dark inside. The deeper into the cave we went, the lower the ceiling got. No wonder our lanky uncle had stayed behind.

My kid sister and I shone the flashlights at our feet as we went. It was midsummer outside—ninety degrees Fahrenheit—but inside the cave it was chilly, below fifty. Following our uncle’s advice, we were both wearing thick windbreakers we’d brought along. My sister held my hand tightly, either wanting me to protect her or else hoping to protect me (or maybe she just didn’t want to get separated). The whole time we were inside the cave that small, warm hand was in mine. The only other visitors were a middle-aged couple. But they soon left, and it was just the two of us.

My little sister’s name was Komichi, but everyone in the family called her Komi. Her friends called her Micchi or Micchan. As far as I know, no one called her by her full name, Komichi. She was a small, slim girl. She had straight black hair, neatly cut just above her shoulders. Her eyes were big for the size of her face (with large pupils), which made her resemble a fairy. That day she was wearing a white T-shirt, faded jeans, and pink sneakers.

After we’d made our way deeper into the cave, my sister discovered a small side cave a little way off the prescribed path. Its mouth was hidden in the shadows of the rocks. She was very interested in that little cave. “Don’t you think it looks like Alice’s rabbit hole?” she asked me.

My sister was a big fan of Lewis Carroll’s “Alice’s Adventures in Wonderland.” I don’t know how many times she had me read the book to her. Must have been at least a hundred. She had been able to read since she was little, but she liked me to read that book aloud to her. She’d memorized the story, yet, still, each time I read it she got excited. Her favorite part was the Lobster Quadrille. Even now I remember that part, word for word.

“No rabbit, though,” I said.

“I’m going to peek inside,” she said.

“Be careful,” I said.

It really was a narrow hole (close to a kaza-ana, in my uncle’s definition), but my little sister was able to slip through it with no trouble. Most of her was inside, just the bottom half of her legs sticking out. She seemed to be shining her flashlight inside the hole. Then she slowly edged out backward.

“It gets really deep in back,” she reported. “The floor drops off sharply. Just like Alice’s rabbit hole. I’m going to check out the far end.”

“No, don’t do it. It’s too dangerous,” I said.

“It’s O.K. I’m small and I can get out O.K.”

She took off her windbreaker, so that she was wearing just her T-shirt, and handed the jacket to me along with her helmet. Before I could get in a word of protest, she’d wriggled into the cave, flashlight in hand. In an instant she’d vanished.

A long time passed, but she didn’t come out. I couldn’t hear a sound.

“Komi,” I called into the hole. “Komi! Are you O.K.?”

There was no answer. With no echo, my voice was sucked right up into the darkness. I was starting to get concerned. She might be stuck inside the hole, unable to move forward or back. Or maybe she had had a convulsion in there and lost consciousness. If that had happened I wouldn’t be able to help her. All kinds of terrible scenarios ran through my head, and I felt choked by the darkness surrounding me.

If my little sister really did disappear in the hole, never to return to this world, how would I ever explain that to my parents? Should I run and tell my uncle, waiting outside the entrance? Or should I sit tight and wait for her to emerge? I crouched down and peered into the hole. But the beam from my flashlight didn’t reach far. It was a tiny hole, and the darkness was overwhelming.

“Komi,” I called out again. No response. “Komi,” I called more loudly. Still no answer. A wave of cold air chilled me to the core. I might lose my sister forever. Perhaps she had been sucked into Alice’s hole, into the world of the Mock Turtle, the Cheshire Cat, and the Queen of Hearts. A place where logic did not apply. We never should have come here, I thought.

But finally my sister did return. She didn’t back out like before but crawled out head first. Her black hair emerged from the hole first, then her shoulders and arms, and finally her pink sneakers. She stood in front of me, without a word, stretched, took a slow, deep breath, and brushed the dirt off her jeans.

My heart was still pounding. I reached out and tidied her dishevelled hair. I couldn’t quite make it out in the weak light inside the cave, but there seemed to be dirt and dust and other debris clinging to her white T-shirt. I put the windbreaker on her and handed her the yellow helmet.

“I didn’t think you were coming back,” I said, hugging her to me.

“Were you worried?”

“A lot.”

She grabbed my hand tightly. And, in an excited voice, she said, “I managed to squeeze through the narrow part, and then, deeper in, it suddenly got lower, and down from there it was like a small room. A round room, like a ball. The ceiling was round, the walls were round, and the floor, too. And it was so, so silent there, like you could search the whole world and never find any place that silent. Like I was at the bottom of an ocean, in a crater that went even deeper. I turned off the flashlight and it was pitch dark, but I didn’t feel scared or lonely. That room was a special place that only I’m allowed into. A room just for me. No one else can get there. You can’t go in, either.”

“ ’Cause I’m too big.”

My little sister bobbed her head. “Right. You’ve gotten too big to get in. And what’s really amazing about that place is that it’s darker than anything could ever be. So dark that when you turn off the flashlight it feels like you can grab the darkness with your hands. Like your body is gradually coming apart and disappearing. But since it’s dark you can’t see it happen. You don’t know if you still have a body or not. But even if, say, my body completely disappeared, I’d still be there. Like the Cheshire Cat’s grin staying on after he vanished. Pretty weird, huh? But when I was there I didn’t think it was weird at all. I wanted to stay there forever, but I thought you’d be worried, so I came out.”

“Let’s get out of here,” I said. She was so worked up it seemed as if she were going to go on talking forever, and I had to put a stop to that. “I can’t breathe well in here.”

“Are you O.K.?” my sister asked, concerned.

“I’m O.K. I just want to go outside.”

Holding hands, we headed for the exit.

“Do you know?” my sister said in a small voice as we walked, so no one else would hear (though there wasn’t anyone else around). “Alice really existed. It wasn’t made up. It was real. The March Hare, the Mad Hatter, the Cheshire Cat, the Playing Card soldiers—they all really exist.”

“Maybe so,” I said.

We emerged from the wind cave, back into the bright real world. There was a thin layer of clouds in the sky that afternoon, but I remember how terribly glaring the sunlight seemed. The screech of the cicadas was overpowering, like a violent squall drowning everything out. My uncle was seated on a bench near the entrance, absorbed in his book. When he saw us, he grinned and stood up.

Two years later, my sister died. And was put in a tiny coffin and cremated. I was fifteen, and she was twelve. While she was being cremated I went off, apart from the rest of the family, sat on a bench in the courtyard of the crematorium, and remembered what had happened in that wind cave: the weight of time as I waited for my little sister to come out, the thickness of the darkness enveloping me, the profound chill I felt. Her black hair emerging from the hole, then her shoulders. All the random dirt and dust stuck to her white T-shirt.

At that time, a thought struck me: that maybe, even before the doctor at the hospital officially pronounced her dead two years later, her life had already been snatched from her while she was deep inside that cave. I was actually convinced of it. She’d already been lost inside that hole, and left this world, but I, mistakenly thinking she was still alive, had put her on the train with me and taken her back to Tokyo. Holding her hand tightly. And we’d lived as brother and sister for two more years. But that was nothing more than a fleeting grace period. Two years later, death had crawled out of that cave to grab hold of my sister’s soul. As if her time were up, it was necessary to pay for what had been lent to us, and the owner had come to take back what was his.

Years later, as an adult, I realized that what my little sister had confided to me in a quiet voice in that wind cave was indeed true. Alice really does exist in the world. The March Hare, the Mad Hatter, the Cheshire Cat—they all really exist. ♦

(Translated, from the Japanese, by Philip Gabriel.)

 

Cerpen Haruki Murakami: Kino

Penerjemah Ika Yuliana. Sumber: Ceruk Aksara

LAKI-LAKI itu selalu duduk di tempat yang sama, di bangku terjauh di ujung meja bar. Ketika tempat itu kosong, tentu saja, tapi bangku itu nyaris tidak pernah ditempati. Barnya jarang penuh sesak, dan tempat duduk itu adalah yang paling tersembunyi sekaligus paling tidak nyaman. Tangga di belakangnya membuat atapnya miring dan rendah, jadi sulit sekali berdiri di sana tanpa membuat kepalamu terbentur. Laki-laki itu tinggi, tapi karena suatu alasan, memilih tempat yang menyempil dan sempit itu.

Kino ingat kali pertama laki-laki itu datang ke barnya. Penampilannya langsung menarik perhatian Kino—kepala gundul kebiruan, tubuh yang kurus tapi berbahu lebar, kilatan mata tajam, tulang pipi menonjol, dan kening yang lebar. Laki-laki itu tampaknya berumur tiga puluhan, dan dia mengenakan jas hujan panjang berwarna abu-abu meskipun tidak sedang turun hujan. Awalnya, Kino menganggap laki-laki itu anggota yakuza yang sedang berjaga di daerahnya. Waktu itu pukul 7.30, pada suatu malam yang dingin di bulan April, dan barnya sedang tak berpengunjung. Laki-laki itu memilih duduk di ujung meja bar, menanggalkan jas hujannya, memesan bir dengan suara pelan, kemudian membaca buku tebal dengan tenang. Setengah jam kemudian, birnya sudah habis, dia mengangkat tangannya satu atau dua inci untuk memanggil Kino, kemudian memesan wiski. “Merek apa?” tanya Kino, tapi laki-laki itu bilang dia tidak punya merek favorit. Continue reading Cerpen Haruki Murakami: Kino

Cerpen Haruki Murakami: Monyet Shinagawa

Penerjemah:  

Wanita itu kesulitan mengingat namanya sendiri. Biasanya masalah ini terjadi saat ada orang yang tiba-tiba menanyakan namanya. Di butik, misalnya. Saat hendak mengukur jahitan untuk gaunnya, pramuniagawati akan bertanya, “Nama Anda, Bu?” lalu sekejap pikirannya buyar. Ia mengakalinya dengan mengeluarkan surat izin mengemudi, lalu perlahan membaca tulisan yang tertera pada kolom nama—yang tentu agak aneh buat lawan bicaranya. Jika kejadian macam ini berlangsung di telepon, tanpa sadar ia menciptakan kecanggungan, harus merogoh dompetnya dulu hingga membuat orang lain bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di ujung sana.

Ia bisa ingat perkara-perkara lain. Ia tak pernah lupa nama orang lain di sekitarnya. Alamatnya sendiri, nomor telepon, tanggal lahir, dan nomor paspor bukanlah masalah. Ia bisa menyebutkan nomor telepon teman-temannya, juga milik beberapa klien penting. Dan saat ia sendiri yang mencoba mengingat-ingat namanya, ia selalu bisa. Selama ia tahu yang ia inginkan, memorinya baik-baik saja. Tapi dalam keadaan terburu-buru atau tidak siap, ingatannya bak sirkuit listrik yang korsleting. Makin ia berusaha, makin ia tak bisa mengingat namanya sendiri.

***

Namanya sekarang Mizuki Ando, nama gadisnya Ozawa. Tak satupun dari namanya unik atau keren, meski begitu ketidakunikan itu tetap tak dapat menjelaskan bagaimana namanya hilang dari memorinya. Dia telah menjadi Mizuki Ando selama tiga tahun, sejak menikahi pria bernama Takashi Ando. Pada awalnya, ia belum terbiasa memakai nama barunya. Nama itu tak terlihat dan terdengar cocok untuknya. Namun perlahan, setelah berungkali melafalkannya, ia mulai nyaman menggunakannya. Dibanding dengan kemungkinan nama-nama lain—Mizuki Mizuki, contohnya, atau Mizuki Miki (ia memang pernah pacaran sebentar dengan lelaki bernama Miki)—Mizuki Ando sebenarnya tak begitu buruk.

Saat ia mulai pikun soal namanya, usia pernikahannya telah menginjak dua tahun. Awalnya masalah ini memang cuma terjadi sebulan sekali, tapi lama-lama makin kerap. Sekarang, paling tidak ia lupa namanya sendiri seminggu sekali. Kalau dompetnya ada bersamanya, maka tidak masalah. Namun, jika satu hari ia kehilangan dompetnya, ia juga akan kehilangan dirinya sendiri, pikirnya. Sebenarnya, ia pun tak akan betul-betul menghilang—ia masih ingat alamat dan nomor teleponnya. Kasus ini tidak seperti adegan-adegan amnesia yang ada di film-film. Tapi tetap, fakta kau melupakan namamu sendiri memang menyedihkan. Hidup tanpa nama seperti terperangkap dalam mimpi yang tak kunjung usai.

Mizuki mengunjungi toko perhiasan, beli gelang sederhana, dan mengukir namanya di situ: “Mizuki (Ozawa) Ando.” Ia merasa seperti kucing atau anjing, tapi tetap saja, ia terus membawa gelang itu ke mana pun. Kalau tiba-tiba lupa namanya, yang perlu ia lakukan hanya melirik pergelangan tangannya. Tak perlu panik mencari SIM-nya, tak ada lagi orang yang menatapnya aneh.

Mizuki tak memberi tahu suaminya. Ia tahu suaminya hanya akan berpikir bahwa itu artinya ia tak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya sangat logis pada segala sesuatu. Bukannya bermaksud jahat, suaminya memang begitu—suka berteori. Suaminya juga cerewet, sekali mulai satu topik pembicaraan, dia akan terus mengoceh tanpa henti. Karena itu, Mizuki menyimpan semua masalah rapat-rapat. Tetap saja, pikirnya, perkataan suaminya—atau yang mungkin dikatakan kalau suaminya tahu masalahnya—kadang ada benarnya. Bukannya tak bahagia dengan pernikahannya, tapi suaminya terlalu rasional. Meski begitu, suaminya tak pernah menggerutu sedikitpun.

Baru-baru ini, Mizuki dan suaminya mengajukan kredit untuk membeli sebuah apartemen di Shinagawa. Suaminya, sekarang tiga puluh tahun, bekerja di laboratorium sebuah perusahaan farmasi. Usia Mizuki dua puluh enam tahun dan kini bekerja di sebuah dealer Honda, menjawab telepon, membuat kopi untuk calon pembeli, membuat salinan arsip, dan memperbarui database pembeli. Paman Mizuki, seorang eksekutif di Honda, menariknya setelah ia lulus dari sebuah perguruan tinggi khusus wanita di Tokyo. Tentu pekerjaan ini bukan pekerjaan idamannya, tapi setidaknya ia punya beberapa tanggungjawab, dan itu tak begitu buruk. Setiap para sales sedang keluar ia menggantikan mereka, dan Mizuki cukup piawai saat menjawab pertanyaan pembeli. Ia memperhatikan sales-sales itu saat bekerja, lalu menyerap semua informasi penting dengan cepat. Ia hafal perbandingan jarak yang bisa ditempuh oleh mobil-mobil yang ada di galeri dan bisa membuat siapa pun percaya bahwa Odyssey dapat dikendarai seperti minivan daripada seperti sedan pada umumnya. Mizuki juga pencengkerama handal, ia senantiasa memunculkan senyum kemenangan yang membuat pembeli merasa nyaman. Dia juga tahu cara halus mengarahkan pembicaraan ke topik-topik tertentu, pengetahuan ini ia dapat dari kesehariannya mengamati jenis karakter setiap pembelinya. Sayangnya, dia tak punya wewenang untuk memberi diskon, atau sekadar negosiasi tukar-tambah, atau menawarkan pilihan, jadi, jika calon pembeli sudah setuju untuk tanda tangan, akhirnya ia tetap mengembalikannya kepada sales, di mana sales itu lah yang mendapat komisi. Satu-satunya upah yang diterimanya hanya traktiran makan malam sekali-dua kali dari sales-sales yang kebagian jatah penjualan Mizuki.

Pernah terlintas di benaknya kalau saja ia diperbolehkan mengurusi transaksi, perusahaan dealer itu bisa menjual lebih banyak mobil. Sayangnya ide itu tak terpikirkan orang lain. Memang begitu cara perusahannya beroperasi: divisi penjualan mengurusi transaksi, staf administrasi mengurusi hal lain, dan, di saat-saat tertentu, batas-batas ini tak bisa diterobos. Tapi persoalan itu tak jadi masalah; Mizuki tidak ambisius dan memang tidak mencari jenjang karir. Ia nyaman bekerja delapan jam, berangkat jam sembilan pagi dan pulang jam lima sore, mengambil jatah liburan dan menikmati waktu senggangnya.

Saat bekerja, Mizuki masih menggunakan nama gadisnya. Untuk menggantinya, ia harus berurusan dengan segala hal merepotkan perihal sistem data di komputer. Karena itu, ia malas menggantinya. Untuk urusan pajak, statusnya pun terdaftar sebagai karyawati yang sudah menikah, tapi namanya belum diganti. Ia tahu ini bukan cara administrasi yang benar, tapi sejauh ini tak ada yang protes. Yang tertera di kartu namanya pun masih “Mizuki Ozawa.” Suaminya juga tahu, Mizuki masih memakai nama gadisnya saat bekerja (ia meneleponnya beberapa kali), tapi ia tak mempermasalahkannya. Suaminya paham, ini cuma soal nyaman-tidak nyaman. Selama ia melihat sisi logis dari segala hal yang dilakukan istrinya, ia takkan mengeluh. Pendek kata, ia lelaki yang tak banyak menuntut.

***

Mizuki khawatir, lupa nama sendiri barangkali gejala penyakit ganas, mungkin Alzheimer. Dunia memang dipenuhi penyakit mematikan yang sering datang tiba-tiba. Dia bahkan baru tahu kalau penyakit macam myasthenia dan Huntington benar-benar ada. Pasti di luar sana tak terhitung jumlah penyakit-penyakit yang belum pernah ia dengar, pikirnya. Penyakit seperti itu biasanya diawali gejala sepele. Sepele tapi tak biasa, seperti -lupa nama sendiri?

Ia ke rumah sakit dan menjelaskan masalahnya. Tapi dokter muda itu—tampak pucat dan lunglai, lebih terlihat seperti pasien daripada seorang dokter—tak serius menanggapi keluhan Mizuki. “Begini, jadi apa Ibu juga lupa hal-hal lain selain nama Ibu?” tanya dokter itu. “Nggak,” jawabnya. “Sekarang sih, baru nama saja.” “Hmm. Sepertinya ini terdengar seperti kasus psikiatrik,” kata dokter itu, suaranya tak menyiratkan ketertarikan atau simpati. “Barangkali kalau Ibu mulai lupa hal-hal lain, silakan kembali lagi. Kami bisa melakukan serangkaian tes untuk Ibu.” Saat ini kami sedang banyak pasien yang penyakitnya lebih serius dari Ibu, mungkin itu maksud sebenarnya.

Satu hari di surat kabar untuk distrik lokal, Mizuki membaca sebuah artikel pengumuman pembukaan pusat konseling di kantor distrik. Artikel itu terselempit artikel lain, sesuatu yang biasanya ia lewatkan. Pusat konseling itu akan buka dua kali sebulan dan diisi para konselor profesional yang menawarkan sesi privat berbiaya murah. Penduduk Shinagawa yang berusia di atas delapan belas tahun dipersilakan menggunakan layanan ini dan dijamin kerahasiaannya. Awalnya, Mizuki meragukan kualitas segala hal yang dimiliki pemerintah, tapi apa salahnya mencoba. Kantornya sibuk di akhir pekan, tapi izin kerja sehari dalam seminggu bukanlah hal sulit. Kini ia bisa menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal pusat konseling, di mana kurang memungkinkan bagi pekerja lain. Biaya untuk satu sesi berdurasi tiga puluh menit adalah dua ribu yen, bukan jumlah yang besar untuknya.

Saat tiba di pusat konseling, Mizuki sadar dia adalah satu-satunya klien. “Sebetulnya, program ini agak mendadak,” jelas resepsionis. “Kebanyakan orang belum tahu. Begitu orang tahu, kami pasti jadi lebih sibuk.”

Konselornya bernama Tetsuko Sakaki, seorang wanita gemuk berusia kira-kira akhir empat puluhan. Rambut pendeknya dicat coklat terang, wajah lebarnya dilingkari senyum yang senantiasa menenangkan. Ia mengenakan setelan musim panas berwarna pucat, blus sutera berkilau, kalung mutiara sintetis, dan sepasang sepatu hak rendah. Ia terlihat lebih cocok seperti ibu-ibu rumah tangga yang gemar menebar sapa di pagi hari daripada seorang konselor.

“Suami saya bekerja di kantor distrik,” katanya memperkenalkan diri. “Dia kepala seksi di Dinas Pekerjaan Umum. Makanya kami dapat dukungan dari kantor distrik dan membuka pusat konseling ini. Kebetulan, Anda klien pertama kami. Saya tak punya janji lain hari ini, jadi santai saja, kita bisa bicara dari hati ke hati.” Wanita itu berujar dalam kecepatan yang terukur; semua yang ia ucapkan mengalir pelan dan terdengar terencana.

“Senang berjumpa dengan Ibu,” kata Mizuki. Padahal, saat itu Mizuki bertanya-tanya apa benar orang macam dia bisa membantunya.

“Tak perlu khawatir, saya punya gelar di bidang konseling dan segudang pengalaman,” wanita itu seperti bisa membaca pikiran Mizuki.

Bu Sakaki duduk di balik meja logam polos. Mizuki duduk di atas sofa kuno yang terlihat seperti baru saja diangkut dari gudang penyimpanan. Pegas-pegasnya tak lagi responsif, bau apeknya membuat hidung Mizuki berkedut-kedut.

Mizuki bersandar ke belakang dan mulai menjelaskan kesialannya. Bu Sakaki mengangguk senada. Ia tak bertanya, juga tak sedikitpun terlihat terkejut. Ia mendengarkan Mizuki dengan saksama, dan, kecuali sesekali mengerut seolah-olah ia sedang menimbang sesuatu, wajahnya tetap tak berubah; senyum samarnya, bak bulan musim semi saat senja, tak tergoyah.

“Mengukir nama di gelang itu ide bagus, lho,” komentar Bu Sakaki setelah Mizuki selesai menjelaskan. “Saya suka cara Anda mengatasinya. Tujuan awalnya memang memberikan solusi praktis, meminimalisir ketidaknyamanan. Lebih baik mencari solusi realistis daripada mengeluh, kan? Saya lihat, Anda lumayan pintar. Dan, yah, gelang itu bagus. Cocok sekali dengan Anda.”

“Menurut Anda lupa nama sendiri ada hubungannya dengan penyakit ganas?” tanya Mizuki.

“Saya ragu ada penyakit yang gejalanya lupa nama sendiri,” kata Bu Sakaki. “Saya agak khawatir. Dari cerita Anda, gejalanya sudah semakin parah setahun belakangan. Asumsi saya, bisa jadi gejala ini mengarah ke gejala berikutnya, atau hilangnya memori soal nama mungkin bisa menyebar ke memori lain. Jadi, mari kita selangkah demi selangkah mencari awal mula masalahnya.”

Bu Sakaki mulai dengan menanyakan beberapa pertanyaan mendasar soal kehidupan Mizuki. “Sudah berapa lama menikah?” “Seperti apa pekerjaan Anda?” “Bagaimana kesehatan Anda secara umum?” Ia lalu bertanya mengenai masa kecilnya, keluarganya, sekolahnya. Hal-hal yang ia sukai, dan hal-hal yang kurang ia sukai. Hal-hal di mana ia menonjol, dan hal-hal yang menjadi kelemahannya. Mizuki menjawab setiap pertanyaan sejujur-jujurnya.

Mizuki tumbuh di keluarga biasa. Ayahnya bekerja untuk perusahaan asuransi, dan meski orang tuanya tidak begitu kaya, mereka tak pernah kesulitan soal uang. Ayahnya orang yang serius; ibunya di sisi lain adalah orang yang halus meski sesekali mengomel. Kakak perempuannya selalu jadi juara kelas, kendati Mizuki tak pernah mengakuinya. Tetap saja, Mizuki tak bermasalah dengan keluarganya. Mereka tak pernah berkelahi. Mizuki sejak dahulu tidak butuh perhatian lebih. Ia tak pernah jatuh sakit. Ia tak mempermasalahkan penampilannya, meski tiada seorang pun yang pernah memujinya cantik. Ia menilai dirinya lumayan pintar, dan selalu berada lebih dekat di peringkat atas kelas daripada peringkat bawah, tapi ia juga tak unggul-unggul amat di mata pelajaran apapun. Ia punya beberapa teman dekat, tapi kebanyakan dari mereka sudah menikah dan pindah ke luar kota, dan sekarang mereka jarang berkabar satu sama lain.

Ia tak mengatakan apapun seputar perkawinannya. Di masa-masa awal perkawinannya, ia dan suaminya memang membuat kesalahan-kesalahan yang sewajarnya dilakukan pasangan muda, tapi seiring berjalannya waktu mereka bisa menyesuaikan satu sama lain. Suaminya memang tak sempurna, tapi punya berbagai kelebihan: baik, bertanggungjawab, bersih, mau makan apa pun, dan tak pernah mengeluh. Ia juga menjalin hubungan baik dengan kolega dan atasan-atasannya.

Sepanjang menjawab pertanyaan, Mizuki tersentak oleh kenyataan betapa membosankannya hidupnya. Tak satupun peristiwa dramatis pernah menyentuhnya. Jika hidupnya adalah sebuah film, filmnya lebih seperti film dokumenter beranggaran terbatas yang dijamin akan membuatmu tidur seketika. Hamparan lanskap pemandangan meregang hingga horizon, terus berulang, tak ada habisnya. Tak ada pergantian adegan, closeup, konflik, atau sesuatu yang menginspirasi. Mizuki tahu benar, memang tugas konselor untuk mendengarkan keluhan kliennya, tapi ia kasihan pada perempuan yang mendengarkan cerita hidupnya. Jika kami bertukar tempat dan harus mendengarkan cerita seperti ini, pikir Mizuki, aku sudah terjungkal di jurang kebosanan yang terlampau curam.

Meski begitu, Tetsuko Sakaki tetap mendengarkan saksama keluhan Mizuki, sambil sesekali membuat catatan kecil. Saat mulai bicara, suaranya tak menyiratkan kebosanan sama sekali, malah terasa hangat dan menunjukkan perhatian yang tulen. Mizuki tenggelam dalam ketenangan yang asing. Ia sadar, tidak seorangpun pernah mendengarkan ceritanya setelaten itu. Waktu sesi itu selesai, setelah satu jam berlalu, Mizuki merasa seperti satu beban terangkat dari pundaknya.

“Bu Ando bisa datang di jam yang sama Rabu depan?” tanya Bu Sakaki tersenyum lebar.

“Bisa,” jawab Mizuki. “Ibu tak keberatan, kan?”

“Nggak, lah. Selama Anda masih tertarik, sih. Butuh banyak sesi untuk melihat progresnya. Ini bukan seperti acara-acara curhat di radio dan penyiar menyuruh si penelepon menunggu sebentar, lalu langsung diberi solusi. Pelan-pelan saja, kita nikmati sesi-sesi kita ke depan.”

***

“Punya memori yang ada hubungannya dengan nama-nama?” tanya Bu Sakaki di sesi kedua. “Nama Anda, nama orang lain, nama binatang peliharaan, nama tempat yang pernah Anda kunjungi, atau nama julukan, barangkali? Kalau punya, ceritakan pada saya. Bisa dimulai dengan hal sepele, selama ada hubungannya dengan nama. Silakan coba ingat-ingat.”

Mizuki berpikir untuk beberapa saat.

“Setelah dipikir-pikir, saya tak punya ingatan tertentu yang berhubungan dengan nama,” katanya. “Setidaknya belum, sih. Oh, tunggu… ada ding. Sebuah papan nama.”

“Sebuah papan nama. Bagus.”

“Tapi bukan punya saya,” kata Mizuki. “Punya orang lain.”

“Tidak apa-apa,” balas Bu Sakaki. “Coba ceritakan.”

“Saya sudah singgung minggu lalu, saya sekolah di sekolah swasta khusus perempuan saat SMP dan SMA,” Mizuki mengawali. “Rumah saya di Nagoya dan sekolah saya di Yokohama, jadi saya tinggal di asrama dan pulang tiap akhir pekan. Saya pulang naik Shinkansen di hari Jumat dan kembali ke sekolah Minggu malam. Hanya dua jam ke Nagoya, jadi saya tak begitu kesepian.”

Bu Sakaki mengangguk. “Bukannya banyak sekolah swasta bagus di Nagoya? Kenapa jauh-jauh ke Yokohama?”

“Kebetulan itu sekolah ibu saya dan dia kepengin salah satu putrinya sekolah di sana juga. Saya pikir lumayan enak kalau jauh dari orang tua. Sekolah saya dikelola misionaris, tapi lumayan bebas. Saya punya beberapa teman dekat di sana. Kebanyakan seperti saya—berasal dari tempat berbeda di mana ibu kami juga dulu sekolah di sana. Saya enam tahun di sana. Secara umum, sih, saya menikmatinya. Sayang, makanannya tidak enak.”

Bu Sakaki tersenyum. “Anda bilang, Anda punya kakak perempuan?”

“Ya betul. Dia dua tahun di atas saya.”

“Kenapa bukan dia saja yang sekolah di sana?”

“Dia anak rumahan, dan yah, penyakitan. Jadi dia memilih sekolah dekat rumah. Saya pikir, kalau dibandingkan, saya jauh lebih independen. Begitu saya lulus SD, orang tua meminta saya sekolah di Yokohama, saya langsung jawab oke. Naik Shinkansen tiap akhir pekan ternyata menyenangkan, lho.

“Sewaktu di asrama, saya punya teman sekamar. Tapi begitu jadi senior, saya diberi kamar sendiri. Kebetulan saya dipilih jadi perwakilan asrama. Setiap siswi di asrama punya papan nama yang digantung di dekat pintu masuk asrama. Bagian depan papan nama itu tertulis nama dengan warna hitam, sedangkan bagian belakangnya berwarna merah. Setiap keluar, Anda harus membalik papan nama Anda, kemudian membaliknya lagi saat kembali. Jadi, waktu nama yang tertera berwarna hitam, orang itu sedang berada di dalam asrama; tapi kalau warnanya merah, Anda jadi tahu orang itu sedang di luar. Kalau mau menginap di luar, atau barangkali mau pergi beberapa hari, Anda harus mencopot papan nama Anda dari gantungan. Begitulah sistem kenyamanan kami. Para siswi punya giliran jaga di resepsionis dan kalau ada panggilan telepon, kami tinggal melirik ke arah gantungan untuk mengecek keberadaan para siswi.

“Ngomong-ngomong, peristiwa ini terjadi di bulan Oktober. Satu hari sebelum makan malam, saat saya di kamar mengerjakan pekerjaan rumah, adik kelas saya Yuko Matsunaka tiba-tiba menemui saya. Dia perempuan yang paling cantik di asrama kami—kulitnya putih, rambutnya panjang, wajahnya macam barbie. Orang tuanya punya losmen yang lumayan terkenal di Kanazawa jadi saya pikir sih keluarganya cukup berada. Kami tidak sekelas, makanya saya kurang yakin, tapi konon nilainya bagus-bagus. Dengan kata lain, sepertinya dia cukup pintar. Siswi-siswi lain memujanya. Tapi Yuko sendiri orangnya ramah dan tidak sombong sedikitpun. Dia lumayan pendiam, jarang menunjukkan perasaanya. Karena itu, sulit menebak isi pikirannya. Meski banyak junior tergila-gila padanya, tapi saya kasihan, temannya sedikit.”

Waktu Mizuki membuka pintu kamarnya, Yuko Matsunaka berdiri di depan pintu, mengenakan sweater turtleneck ketat dan celana jeans. “Punya waktu sebentar? Kalau boleh aku mau ngomong sesuatu,” tanya Yuko. “Boleh,” kata Mizuki terkejut. “Aku lagi nggak ngapa-ngapain sih.” Meski ia kenal Yuko, sebelumnya Mizuki tak pernah bicara empat mata dengannya, dan tak pernah terpikir olehnya Yuko minta nasehatnya, apalagi mengenai persoalan pribadi. Mizuki mempersilakannya duduk sambil menyeduh teh dengan air panas dari termosnya.

“Mizuki, kau pernah cemburu?” kata Yuko tiba-tiba.

Mizuki dikagetkan oleh pertanyaan itu, tapi ia tetap mencoba menjawab serius.

“Hmm belum sih,” jawabnya.

“Sekalipun?”

Mizuki menggelengkan kepalanya. “Duh, bagaimana ya. Kalau kau tanya tiba-tiba begitu, aku nggak kepikiran. Cemburu yang seperti apa maksudmu?”

“Seperti saat kau sayang seseorang, tapi dia sayang orang lain. Seperti ada sesuatu yang kau inginkan, tapi orang lain mengambilnya lebih dulu. Atau ada sesuatu yang kurang mahir kau lakukan, tapi orang lain dengan mudah bisa melakukannya… yah kira-kira seperti itu lah.”

“Kok aku nggak pernah ya,” kata Mizuki. “Kamu pernah?”

“Sering.”

Mizuki bingung memilih kata. Bagaimana bisa gadis sesempurna Yuko ingin sesuatu yang lebih di hidupnya? Ia cantik, kaya, pintar, dan populer. Orang tuanya juga memanjakannya. Mizuki pernah dengar gosip kalau pacar Yuko adalah seorang mahasiswa, ganteng pula. Jadi, kira-kira apa lagi yang masih kurang?

“Kalau sering, kapan? Coba ceritakan,” tanya Mizuki.

“Tak perlu,” kata Yuko berhati-hati memilih kata-katanya. “Lagipula, dijelaskan panjang-panjang juga percuma. Sebetulnya aku cuma mau tanya aja sih—siapa tahu kau pernah cemburu.”

Mizuki tak tahu apa yang Yuko inginkan darinya, tapi ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Yuko sejujur mungkin. “Kupikir aku tak pernah mengalami cemburu,” ulangnya. “Aku tak tahu kenapa, dan mungkin ini agak aneh buatmu. Maksudku, ini bukan seolah-olah aku begitu percaya diri atau bisa mendapatkan semua yang kuinginkan. Sebenarnya, banyak persoalan yang seharusnya membuatku frustasi, tapi, biar bagaimanapun, persoalan itu tak membuatku cemburu pada orang lain. Aku sendiri juga bingung.”

Yuko Matsunaka tersenyum samar. “Menurutku, rasa cemburu tidak ada sangkut-pautnya pada keadaan-keadaan obyektif tertentu—seperti kalau sedang bahagia maka kau tak merasakannya, tapi kalau hidup sedang tak memberkatimu barulah cemburu datang padamu. Cemburu tak sesederhana itu. Cemburu seperti daging tumbuh yang menggerogotimu sedikit demi sedikit, lama-lama daging itu membesar dan semakin membesar tanpa alasan yang jelas. Sekalipun kau tahu rasa itu ada di sana, kau tak mungkin bisa menghentikannya.”

Mizuki mendengarkan Yuko dengan saksama. Yuko tak pernah berbicara sepanjang ini sebelumnya.

“Sulit sih menafsirkan cemburu pada orang yang belum pernah merasakannya,” lanjut Yuko. “Satu hal yang kutahu, tak mudah menjalani hidup bila dipenuhi rasa cemburu. Seperti membawa neraka kecil ke mana pun, hari demi hari. Kau seharusnya bersyukur belum pernah cemburu.”

Yuko berhenti bicara dan menutup penjelasannya dengan senyuman kecil. Ia memang sungguh cantik, pikir Mizuki. Bagaimana rasanya menjadi perempuan seperti Yuko—sangat cantik sampai-sampai semua kepala berpaling padamu ke mana pun kau pergi? Apa itu sesuatu yang kau banggakan? Atau kecantikan malah seperti beban buatmu? Kendati begitu, Mizuki tak pernah sekalipun cemburu pada Yuko.

“Aku pulang ya,” kata Yuko, memandangi tangannya di pangkuannya. “Saudaraku meninggal dan aku harus ke pemakamannya. Aku sudah izin ke kepala asrama. Senin pagi aku sudah kembali, kok. Tapi, sebelumnya apa kau keberatan kalau kutitipkan papan namaku padamu?”

Ia mengeluarkan papan nama miliknya dari sakunya dan memberikannya pada Mizuki.

“Aku nggak keberatan sih,” kata Mizuki. “Tapi kenapa harus dititipkan padaku? Kenapa tak kau taruh saja di laci?”

Yuko menelan tatapan Mizuki. “Aku cuma ingin menitipkannya padamu,” katanya. “Ada sesuatu yang menggangguku, dan aku malas menyimpannya di kamarku.”

“Oke,” kata Mizuki.

“Aku takut ada monyet yang mencurinya saat aku pergi,” kata Yuko.

“Monyet? Mana ada monyet di sekitar sini,” kata Mizuki. Tapi saat itu raut Yuko tidak sedang bercanda. Sesaat kemudian Yuko keluar, meninggalkan papan namanya, secangkir teh yang belum diminum, dan kekosongan yang aneh di tempat tadi ia berada.

***

“Senin pagi, Yuko tak kembali ke asrama,” jelas Mizuki ke Bu Sakaki. “Guru kelasnya khawatir, jadi dia menelepon orang tuanya. Ternyata, Yuko tidak pernah sampai rumah. Tak satu pun anggota keluarganya meninggal, jadi tidak ada upacara pemakaman. Itu artinya, cerita dia ke saya bohong semua, kan? Hampir seminggu kemudian, pihak sekolah menemukan tubuhnya tergeletak. Saya juga baru dengar pada hari Minggu setelahnya, waktu saya kembali dari Nagoya. Konon dia mengiris pergelangan tangannya di hutan. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Dia juga tak meninggalkan wasiat. Teman sekamarnya bilang kalau sebelum bunuh diri, dia kelihatan seperti biasa, tak seperti orang yang dirundung masalah. Yuko bunuh diri tanpa bilang apa pun ke semua orang.”

“Tapi bukannya Yuko mencoba mengisyaratkan sesuatu?” tanya Bu Sakaki. “Saat dia datang ke kamar dan menitipkan papan namanya. Lalu dia juga bicara soal… cemburu.”

“Betul dia bicara soal cemburu. Saya juga kurang ngeh pada awalnya, tapi kemudian saya baru sadar pasti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan ke orang lain sebelum bunuh diri.”

“Pernah cerita ke orang lain kalau Yuko mendatangi Anda malam itu?”

“Tidak, saya merahasiakannya.”

“Kenapa?”

Mizuki memiringkan kepalanya lalu memikirkan sesuatu. “Kalau bilang-bilang ke orang, yang ada hanya makin memperkeruh kebingungan. Menurut saya, tak ada seorang pun yang bisa mengerti.”

“Maksud Anda, Yuko bunuh diri karena cemburu?”

“Kurang lebih. Seperti yang saya bilang, gadis seperti Yuko mau cemburu sama siapa sih? Semua orang sedang kacau waktu itu. Jadi saya putuskan, lebih baik saya menyimpan rahasia ini sendiri saja. Bisa Anda bayangkan suasana asrama kami saat itu—bicara sedikit tentang Yuko seperti memantik korek di ruangan penuh gas elpiji.”

“Dan papan nama Yuko?”

“Ada di saya. Di kotak kardus di dalam lemari. Saya simpan bersama papan nama saya.”

“Kenapa Anda simpan?”

“Keadaan di sekolah makin memburuk jadi saya tak sempat mengembalikannya. Semakin lama menunggu, semakin sulit untuk mengembalikannya begitu saja. Saya juga tak sampai hati kalau mau buang. Lalu, saya pikir mungkin Yuko memang sengaja minta saya menyimpan papan namanya. Kenapa dia pilih saya, saya kurang tahu.”

“Barangkali Yuko tertarik pada Anda karena satu atau dua hal. Mungkin ada sesuatu dalam diri Anda yang menyita perhatiannya.”

“Entahlah.”

Bu Sakaki terdiam, menatap Mizuki beberapa saat seperti mencoba memastikan sesuatu.

“Di samping itu, Anda memang tak pernah cemburu?”

Mizuki tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Saya kok nggak merasa pernah ya. Tentu banyak orang yang lebih beruntung dari saya. Tapi bukan berarti saya lantas cemburu pada mereka. Saya kira hidup setiap orang memang ditakdirkan berbeda.”

“Dan karena hidup orang ditakdirkan berbeda, hidup bukan untuk dibanding-bandingkan?”

“Saya rasa begitu.”

“Pola pikir yang menarik,” kata Bu Sakaki sambil melipat tangannya di atas meja, suaranya yang tenang mengkhianati segenap kegirangan yang terbentuk di ruangan itu. “Jadi itu artinya, Anda takkan pernah bisa memahami rasa cemburu?”

“Kurang lebih saya paham penyebab perasaan cemburu muncul. Tapi, begitulah, saya tidak tahu kira-kira seperti apa sih rasanya saat cemburu—bagaimana cara kita menghadapi cemburu, berapa lama rasa itu bertahan, seberapa banyak kita menderita karenanya.”

***

Begitu Mizuki sampai di rumah, ia memeriksa lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak kardus di mana ia menyimpan papan nama Yuko, juga papan namanya. Benda-benda memorabilia lawas Mizuki disatukan dalam kotak tersebut—surat-surat, buku diari, album foto, dan kartu-kartu laporan. Ia memang berencana membuang benda-benda tertentu, tapi tak pernah sempat untuk memilah-milah satu-persatu, jadi ia selalu membawa kotak kardus itu ke mana pun ia pindah tempat tinggal. Tapi saat itu, meski seberapa keras ia mencari, ia tak menemukan amplop tempat ia menyimpan papan namanya. Ia bingung. Ia yakin pernah melihat amplop itu di dalam kardus saat pertama kali pindah ke apartemen barunya. Semenjak itu, ia juga tak pernah membuka kotak kardus tersebut. Jadi, amplop itu seharusnya ada di dalam. Di mana lagi kalau bukan di dalam sana?

***

Mizuki merahasiakan sesi konselingnya dari suaminya. Ia tak bermaksud jahat, tapi menjelaskan kondisinya ke suaminya bisa berbuah lebih banyak masalah. Selain itu, kenyataan bahwa Mizuki lupa namanya sendiri lalu pergi seminggu sekali ke konselor sebenarnya takkan membuat suaminya terganggu sama sekali.

Mizuki juga merahasiakan hilangnya papan nama miliknya dan Yuko. Ia menyimpulkan, hal itu takkan membuat perbedaan signifikan pada sesi konselingnya jika Bu Sakaki tak tahu.

Dua bulan berlalu. Setiap Rabu, Mizuki mendatangi kantor distrik untuk konseling. Jumlah klien di sana mulai bertambah, Bu Sakaki terpaksa mengurangi jatah sesi Mizuki dari satu jam menjadi tiga puluh menit. Meski begitu, toh kini mereka lebih saling mengerti satu sama lain, jadi waktu bukan lah masalah. Kadang-kadang, Mizuki berharap mereka bisa bicara lebih lama, tapi, mengingat biayanya yang murah, ia tak bisa mengeluh.

“Ini pertemuan kita yang kesembilan,” kata Bu Sakaki, lima menit sebelum pertemuan berakhir. “Anda masih sering lupa nama sendiri, tapi kondisinya tak memburuk, kan?”

“Untungnya tidak,”

“Bagus,” kata Bu Sakaki. Ia mengembalikan pulpen hitamnya ke saku kemejanya lalu mengepal erat tangannya di atas meja. Kemudian ia diam sebentar. “Barangkali—barangkali, lho—minggu depan akan ada kemajuan pesat terkait masalah Anda.”

“Maksudnya, tentang saya lupa nama sendiri?”

“Betul. Kalau sesuai rencana, seharusnya minggu depan saya sudah tahu penyebabnya, bahkan bisa memperlihatkannya kalau Anda bersedia.”

“Penyebab utama saya lupa nama saya?”

“Tepat sekali.”

Mizuki kurang bisa menangkap maksud Bu Sakaki. “Tadi Anda bilang memperlihatkan penyebab utamanya… maksudnya, sesuatu yang bisa dilihat?”

“Oh, jelas kelihatan,” kata Bu Sakaki sambil mengusap tangannya puas. “Saya belum bisa bilang apa-apa sampai minggu depan. Untuk saat ini, saya juga belum yakin rencana saya bisa berjalan lancar atau tidak. Saya harap sih, semua baik-baik saja.”

Mizuki mengangguk.

“Bagaimanapun juga, kita sudah banyak jatuh bangun menyelesaikan masalah ini, tapi syukurlah akhirnya semua ini mengarah ke sebuah solusi. Anda tahu, pepatah mengatakan, hidup itu tiga langkah maju dan dua langkah mundur? Jadi jangan khawatir. Percaya pada saya, dan Anda tunggu tanggal mainnya. Lalu, jangan lupa membuat janji baru begitu Anda keluar lewat resepsionis nanti,” tukas Bu Sakaki diselingi sebuah kedipan.

***

Sepekan berikutnya, saat Mizuki memasuki ruangan konseling, Bu Sakaki menyambutnya dengan senyum terlebar yang pernah ia lihat seumur hidupnya.

“Saya sudah tahu penyebab masalah Anda,” umumnya bangga. “Juga solusinya.”

“Jadi, saya tidak akan lupa nama saya lagi?” tanya Mizuki.

“Dijamin. Anda tidak akan lupa nama Anda lagi. Misteri terpecahkan.”

Bu Sakaki mengambil sesuatu dari tas kecil miliknya dan meletakkannya di atas meja. “Saya yakin, ini milik Anda.”

Mizuki bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja Bu Sakaki. Di atas meja tergeletak dua papan nama. “Mizuki Ozawa” tertulis di salah satunya, “Yuko Matsunaka” di papan yang lain. Mizuki mendadak pucat. Ia kembali ke sofa dan duduk terdiam untuk beberapa saat. Ia melekapkan kedua telapak tangannya ke arah mulut seperti mencegah kata-kata yang tak diinginkan tercecer dari mulutnya.

“Saya sih tidak heran Anda kaget,” kata Bu Sakaki. “Tapi tak usah takut.”

“Bagaimana Anda bisa…” kata Mizuki.

“Menemukan papan nama Anda?”

Mizuki mengangguk.

“Saya mencarikannya untuk Anda,” kata Bu Sakaki. “Dua bilah papan itu dicuri dan itulah mengapa Anda lupa nama Anda.”

“Tapi, siapa yang…”

“Masuk ke rumah Anda, mencuri dua papan nama, dan untuk apa tujuannya?” kata Bu Sakaki. “Lebih baik Anda tanya langsung ke pelakunya.”

“Pelakunya di sini?” tanya Mizuki terkaget-kaget.

“Oh jelas. Kami berhasil menangkapnya dan menyita papan nama Anda. Tapi, sebenarnya bukan saya sih yang menangkapnya. Suami saya dan anak buahnya yang terjun langsung. Ingat kan, saya pernah bilang suami saya kepala seksi di Dinas PU?”

Mizuki mengangguk tanpa berpikir.

“Jadi, mari bertemu pelakunya. Anda bisa bicara empat mata.”

Mizuki membuntuti Bu Sakaki keluar dari ruangan konseling, turun ke lobi, lalu memasuki lift. Mereka turun ke lantai bawah tanah kemudian berjalan melalui koridor panjang yang tampak tak terurus, hingga menuju pintu yang berada di ujung.

Di dalam, berdiri seorang pria kurus, tinggi, kira-kira berusia lima puluhan, dan seorang pria yang berbadan lebih besar, kira-kira pertengahan dua puluhan, keduanya mengenakan kemeja seragam kerja berwarna hijau khaki terang. Di dada pria yang lebih tua tersemat papan nama yang terbaca “Sakaki”; sedangkan yang lebih muda “Sakurada.” Sakurada sedang membawa sebuah tongkat polisi berwarna hitam.

“Bu Ando, ya?” tanya Pak Sakaki. “Saya Yoshio Sakaki, suaminya Bu Tetsuko. Dan ini Pak Sakurada, beliau kerja bersama saya.”

“Senang bertemu dengan Anda,” kata Mizuki.

“Apa dia merepotkanmu?” Bu Sakaki bertanya pada suaminya.

“Nggak, kupikir dia semacam menyerahkan dirinya pada situasi,” kata Pak Sakaki. “Sakuradasejak pagi menjaganya, dan sebetulnya dari tadi kelakuannya biasa saja. Kalau begitu, mari kita lanjutkan.”

Ada satu pintu lain di bagian belakang ruangan itu. Pak Sakurada membukanya dan menghidupkan lampu. Ia menengok sebentar ke seluruh sisi ruangan, lalu kembali menghadap yang lainnya. “Aman,” katanya. “Silakan masuk.”

Mereka memasuki sebuah ruangan, semacam gudang kecil; di dalamnya hanya terdapat satu kursi, seekor monyet duduk di atasnya. Tubuhnya termasuk besar untuk ukuran monyet—lebih kecil dari manusia dewasa, tapi lebih besar dari, katakanlah, anak SD. Rambutnya sedikit lebih panjang dari monyet-monyet kebanyakan, dan juga beruban. Sulit menebak usianya, tapi yang jelas ia tak lagi muda. Kedua tangan dan kaki monyet itu diikat pada kursi kayu yang ia duduki, ekor panjangnya terkulai di lantai. Begitu Mizuki masuk, monyet itu menatap matanya, lalu kembali menunduk ke tanah.

“Monyet?” Mizuki terkejut.

“Betul,” jawab Bu Sakaki. “Monyet ini lah yang mencuri papan nama Anda dari apartemen Anda, kira-kira saat Anda mulai lupa nama sendiri.”

Aku takut ada monyet yang mencurinya, Yuko sendiri pernah mengatakannya. Jadi saat itu Yuko memang tidak sedang bercanda, Mizuki baru sadar. Sensasi ngeri tiba-tiba menjalar liar di sekujur tulang belakangnya.

“Maafkan aku,” kata monyet, suaranya rendah tapi terdengar hidup. Sangat hidup, sampai-sampai seperti ada sejentik kualitas musik yang terkandung di dalamnya.

“Dia bisa bicara!” teriak Mizuki terkejut, ia tampak tolol.

“Lalu kenapa kalau bisa bicara?” balas monyet itu, mimik mukanya tak berubah. “Ada hal lain yang harus kuakui. Saat masuk apartemenmu, aku cuma berniat mengambil papan nama, tapi aku lapar jadi aku mengambil dua buah pisang yang tergeletak di atas meja. Maaf ya, tapi dua pisang itu sepertinya sayang kalau sampai kulewatkan.”

“Bajingan! Lancang sekali, ya,” kata Pak Sakurada, sambil menepuk-nepukkan tongkat polisinya ke telapak tangannya beberapa kali. “Siapa tahu ada lagi barang lain yang dia curi? Kita bakar saja dia untuk cari tahu.”

“Santai dulu,” kata Pak Sakaki. “Pengakuannya soal pisang itu sukarela, lho. Selain itu, sejak tadi dia juga tak melawan. Buat sekarang, jangan bertindak ekstrim dulu sampai kita mengerti kejadian yang sebenarnya. Kalau ada yang tahu kita menganiaya binatang di wilayah kantor, bisa-bisa kita kena masalah.”

“Kenapa kau mencuri papan namaku?” tanya Mizuki pada si monyet.

“Kenapa? Memang itu yang kulakukan,” jawab monyet itu. “Aku ini monyet yang mengambil nama manusia. Itu adalah penyakit yang kuderita. Sekalinya mataku tertuju pada sebuah nama, aku bisa gila. Bukan sembarang nama, ya, kuperingatkan. Kalau ada nama yang menarik perhatianku, aku harus mengambilnya. Aku tahu itu salah, tapi aku tak bisa mengontrol diriku sendiri.”

“Jadi kau juga, yang mau ambil papan nama Yuko?”

“Benar. Aku benar-benar cinta mati pada Matsunaka. Seumur hidupku, aku belum pernah setertarik itu pada seseorang. Namun jika aku gagal memilikinya, paling tidak aku harus punya namanya. Begitu sudah punya namanya, baru aku bisa puas. Sayangnya, sebelum aku berhasil melakukannya, Yuko terlanjur mati.”

“Apa kau ada sangkut pautnya dengan kematian Yuko?”

“Yang benar saja,” kata monyet itu sambil menggeleng kepalanya penuh empati. “Aku tak melakukan apapun. Dia hanya terlalu dikuasai kegelapan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.”

“Tapi bagaimana kau bisa tahu, setelah selama ini, papan nama Yuko ada padaku?”

“Butuh waktu lama untuk menyadarinya. Segera setelah Matsunaka mati, aku berniat mengambil papan namanya dari gantungan, tapi tak kutemukan. Tak seorang pun tahu keberadaan papan nama itu. Aku mencarinya ke sana ke mari, tapi tetap tak ketemu. Waktu itu, sama sekali nggak kepikiran kalau Matsunaka bakal menitipkan papan namanya padamu, karena kupikir kalian tidak begitu dekat.”

“Memang nggak,” potong Mizuki.

“Tapi suatu hari aku dapat inspirasi kalau mungkin—masih kemungkinan—dia memberikannya padamu. Menyelidiki keberadaanmu memang lama dan melelahkan. Hingga kira-kira musim semi tahun lalu, akhirnya aku tahu kau sudah menikah, dan sekarang namamu Mizuki Ando, lalu kau tinggal di sebuah apartemen di Shinagawa. Menjadi seekor monyet, artinya memperlambat proses investigasi macam itu, kau bisa bayangkan. Pokoknya, begitulah, akhirnya aku berhasil mencurinya.”

“Tapi kenapa papan namaku harus kau curi juga? Kenapa nggak cuma ambil milik Yuko? Aku menderita karena kelakuanmu!”

“Aku benar-benar menyesal,” kata monyet seraya menjatuhkan kepalanya dalam rasa malu. “Begitu aku melihat nama yang kusuka, aku pasti mengambilnya. Yah, agak memalukan sih, tapi namamu benar-benar menggerakkan hatiku, lho. Seperti yang kubilang, ini sebuah penyakit. Kau tahu, aku tidak bisa dengan mudahnya menahan nafsu menggebu-gebu yang muncul sesukanya. Aku sadar itu salah, tapi tetap kulakukan. Aku benar-benar minta maaf atas semua masalah yang kusebabkan.”

“Monyet ini bersembunyi di kanal-kanal pembuangan di daerah Shinagawa,” potong Bu Sakaki. “Jadi saya minta suami saya agar rekan kerjanya yang lebih muda bisa menangkapnya.”

“Sakurada yang paling banyak berkontribusi,” ujar Pak Sakaki.

“Dinas PU memang harus selalu siaga mengawasi saluran-saluran pembuangan kita dari makhluk-makhluk seperti ini,” kata Sakurada bangga. “Dan rupanya, monyet ini punya markas di bawah Takanawa untuk menjalankan operasinya di seluruh Tokyo.”

“Kau pikir saja, tak ada tempat bagi kami di kota,” kata si monyet. “Sekarang pohon tinggal sedikit, juga tempat teduh saat matahari sedang panas-panasnya. Kalau kami keluar ke permukaan, orang-orang akan memburu kami. Anak-anak kecil melempari kami atau menembaki kami dengan senapan BB mereka. Anjing-anjing juga mengejar kami. Lalu kru stasiun televisi bisa tiba-tiba muncul dan menyoroti kami dengan lampu yang menyilaukan. Jadi, yah, mau tidak mau kami sembunyi di bawah tanah.”

“Bu, bagaimana Anda bisa tahu monyet ini sembunyi di got bawah tanah?” tanya Mizuki pada Bu Sakaki.

“Banyak hal yang akhirnya menjadi jelas di mata saya,” ujar Bu Sakaki. “Kurang lebih, bisa dibilang ini seperti kabut yang mulai terangkat. Saya sadar pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan pencurian nama, dan apapun bentuknya pasti bersembunyi di bawah tanah. Yah, kemungkinan terbatas macam itu—kalau bukan di stasiun bawah tanah ya di got. Jadi saya bilang ke suami saya kalau ada sesuatu yang, kalau pun bukan manusia, tinggal di saluran-saluran itu, lalu minta dia memeriksanya. Dan, benar kan? Dia tahu-tahu membawa monyet ini.”

Mizuki sekejap tak sanggup berkata-kata. “Tapi… bagaimana mungkin hanya mendengarkan celotehan saya, Anda langsung paham hal-hal macam itu?” ia akhirnya membuka mulut.

“Mungkin bukan tempat saya, sebagai suaminya, untuk bicara seperti ini,” sela Pak Sakaki dibarengi sorot mata yang serius, “Istri saya ini orang sakti. Selama dua puluh tahun kami bersama, saya sering melihat kejadian aneh. Makanya saya benar-benar mengusahakan supaya istri saya bisa membuka pusat konseling di kantor ini. Saya yakin, selama ia diberi tempat agar bisa menggunakan kesaktiannya untuk kebaikan, penduduk Shinagawa lah yang akan menuai untungnya.”

“Lalu, bagaimana nasib monyet ini selanjutnya?”

“Tak bisa dibiarkan hidup,” celetuk Sakurada sambil lalu. “Apapun yang dia bilang aku tak percaya. Yang namanya kebiasaan buruk itu, suatu saat pasti kembali lagi. Jangan percaya pada janji dia akan berubah. Sekali saja dia begini, maka ke depannya…”

“Tunggu dulu,” potong Pak Sakaki. “Apapun alasan kita, kalau sampai kelompok pecinta binatang tahu kita membunuh seekor monyet, kita bakal tak bisa berkelit. Apalagi kalau orang-orang mulai komplain, semua bisa kacau balau. Kau ingat waktu kita membantai gagak-gagak itu, ujung-ujungnya bagaimana? Saya sih maaf-maaf saja ya, kalau harus mengulang kejadian macam itu.”

“Kumohon, jangan bunuh aku,” kata monyet yang malang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Yang kuperbuat memang salah. Aku tak menyangkalnya, tapi beberapa hal baik juga berasal dari perbuatanku.”

“Hal baik macam apa yang mungkin dihasilkan dari mencuri nama orang?” tanya Pak Sakaki pedas.

“Aku memang mencuri nama orang. Tapi, dengan melakukannya, aku secara tak langsung membuang beberapa elemen negatif yang menempel pada nama-nama yang kucuri. Bukannya sesumbar, tapi kalau saja dulu aku berhasil mencuri papan nama Yuko Matsunaka, bisa jadi sekarang dia masih hidup.”

“Maksudmu?” tanya Mizuki.

“Kalau aku mengambil namanya, barangkali aku bisa sekalian mengambil beberapa kegelapan yang mengendap dalam dirinya,” jawab si monyet.

“Apa-apaan, sih,” kata Sakurada. “Aku tak percaya. Nyawa monyet ini sudah di ujung tanduk—tentu dia sedang melakukan segala cara buat membenarkan perbuatannya.”

“Hmm. Mungkin ya, mungkin tidak,” ujar Bu Sakaki sambil melipat kedua tangannya. “Bisa jadi ada benarnya.” Bu Sakaki menoleh ke arah monyet itu. “Waktu mencuri nama, kau tadi sempat bilang kau juga mengambil elemen baik dan buruk sekaligus?”

“Begitulah,” jawab monyet. “Tapi aku tak bisa pilih salah satu saja. Harus keduanya, utuh, seperti apa adanya.”

“Baiklah—memangnya apa saja hal-hal buruk yang dibawa namaku?” tanya Mizuki pada monyet.

“Wah, sebaiknya aku tak usah bilang,”

“Beri tahu aku,” Mizuki memaksa. Ia diam sejenak. “Kalau kau menjawab pertanyaanku, aku akan memaafkanmu. Dan aku akan meminta semua yang ada di sini untuk memaafkanmu.”

“Kau sungguh-sungguh?”

“Apabila monyet ini berkata jujur, maukah Anda memaafkannya?” Mizuki bertanya pada Pak Sakaki. “Secara alamiah, dia bukan binatang jahat, kan? Hanya saja, menurut saya ia terlanjur menderita. Jadi kita dengar bersama-sama penuturannya kemudian terserah saja, silakan bawa dia ke Gunung Takao dan membebaskannya. Saya pikir monyet ini tak akan mengganggu kita lagi. Pendapat Anda?”

“Saya sih tak apa-apa, selama Anda juga tak keberatan,” kata Pak Sakaki. Ia berbalik ke arah monyet. “Kalau kami melepaskanmu di gunung, kau berani sumpah tidak akan menapakkan kakimu sejengkal pun ke perbatasan kota Tokyo?”

“Yes, Sir. Aku berani sumpah tak akan kembali,” ujar monyet itu lembut. “Aku juga berjanji tidak akan membuat onar lagi. Lagipula, aku juga sudah tua, jadi kupikir ini tentu jadi awal baru dalam hidupku.”

“Baiklah, sekarang, lebih baik kau mulai ceritakan kejelekan-kejelekan yang tersangkut di namaku” pinta Mizuki, tatapanya menusuk tajam ke mata monyet yang mungil kemerahan itu.

“Kalau kuceritakan, nanti kau terluka.”

“Aku nggak peduli. Buruan.”

Untuk beberapa saat, si monyet berpikir keras hingga timbul garis-garis kerutan tegas yang melintang panjang pada dahinya. “Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kau tak perlu mendengarnya, sih,” katanya.

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku benar-benar ingin tahu.”

“Oke. Kalau begitu, aku akan cerita,” kata monyet. “Ibumu tak menyayangimu. Bisa dibilang, ia nggak pernah menyayangimu, tak semenit pun, bahkan sejak kau lahir dari rahimnya sendiri. Aku tak tahu kenapa, tapi memang begitu kenyataannya. Kakak perempuanmu juga dari dulu benci padamu. Ibumu mengirimmu sekolah ke Yokohama hanya karena ia tak ingin melihat rupa wajahmu berkeliaran di bawah atap yang sama dengannya. Sebisa mungkin, ia ingin membuangmu sejauh-jauhnya. Sebenarnya, kalau boleh jujur ayahmu bukan lah orang jahat, tapi ia bukan tipe ayah yang bisa kau andalkan, dan lagi, dia tidak cukup tegas untuk berdiri membelamu. Karena alasan-alasan ini, sedari kecil kau tak pernah memperoleh kasih sayang yang cukup. Kupikir seharusnya kau sudah punya firasat soal ini sejak lama, tapi kau terlanjur sengaja memalingkan matamu jauh-jauh dari kepahitan ini. Kau, pun, mengunci seluruh kenyataan menyakitkan ini dalam-dalam di suatu tempat kecil yang gelap di antara ujung dan pangkal hatimu lalu menutupnya rapat-rapat hingga kau sendiri kesulitan menggapainya, apalagi membukanya. Kau selalu berusaha menekan semua perasaan negatif yang seketika muncul begitu saja. Seribu kuda-kuda bertahan yang telah kau siapkan untuk melawan hal-hal seperti ini juga sudah menjadi bagian yang terlanjur menyatu dengan dirimu sekarang. Karenanya, kau tumbuh menjadi seseorang yang tidak pernah bisa benar-benar mencintai orang lain secara tulus dan ikhlas.”

Mizuki hanya terdiam kaku.

“Pernikahanmu terlihat bahagia dan bebas dari masalah. Dan barangkali memang begitu adanya. Tapi kau tak pernah benar-benar mencintai suamimu, kan? Bahkan kalau suatu saat kau punya anak nanti, kupikir keadaannya tak akan banyak berubah.”

Mizuki tetap diam seribu bahasa. Ia jatuh tersungkur ke lantai lalu menutup matanya. Ia merasakan seluruh tubuhnya mencoba memisahkan diri satu sama lain, tercerai berai sesuai kehendaknya masing-masing. Kulitnya, organ-organnya, tulang-tulangnya, semuanya berangsur remuk satu demi satu. Satu-satunya yang bisa ia dengar hanya suara nafasnya sendiri.

“Kontol! Mulutmu benar-benar keterlaluan, monyet!” kata Sakurada. “Bos, aku muak sekali. Kita habisi saja hewan ini!”

“Tahan dulu,” kata Mizuki. “Kata-kata monyet ini memang benar adanya. Saya sudah sadar sejak lama, tapi saya sendiri selalu berusaha menutup mata dan telinga. Dia mengatakan yang sebenarnya, jadi tolong, maafkan dia. Bawa dia ke gunung dan biarkan saja dia bebas di sana.”

Bu Sakaki dengan lembut menaruh tangannya di atas pundak Mizuki. “Benar, Anda baik-baik saja?”

“Saya tak apa-apa, yang penting nama saya kembali. Mulai sekarang, saya akan menjalani hidup apa adanya. Biar bagaimanapun, ini nama saya, ini hidup saya.”

***

Sewaktu Mizuki mengucap salam perpisahan kepada monyet itu, ia memberikan papan nama Yuko Matsunaka padanya sebagai kenang-kenangan.

“Kau yang seharusnya menyimpannya, bukan aku,” katanya. “Jaga baik-baik namanya. Dan, jangan pernah curi nama orang lain lagi.”

“Tentu. Aku takkan pernah mencuri lagi, janji,” kata monyet itu dengan raut serius.

“Ngomong-ngomong, kau tahu motivasi Yuko menitipkan papan namanya padaku? Kenapa dia memilihku?”

“Entahlah, aku juga bingung,” jawabnya. “Tapi, karenanya, kau dan aku bisa bertemu, kan? Kurasa ini yang disebut, takdir selalu bergerak dengan cara-cara misterius.”

“Mungkin saja,” balas Mizuki.

“Tapi, benarkah apa yang kusampaikan menyakitimu?”

“Menurutmu?”

“Maaf ya. Padahal aku tak berniat menyampaikannya padamu, kan?”

“Tak apa. Jauh di dalam sana, aku sudah tahu. Sebenarnya memang hal itu lah yang suatu hari nanti mau tidak mau harus kuhadapi.”

“Yah, mendengarnya saja aku lega, lho,” kata si monyet.

“Bye bye,” pamit Mizuki. “Sepertinya kita nggak bakal ketemu lagi.”

“Jaga dirimu,” jawabnya. “Terima kasih telah menyelamatkan nyawa yang tak berharga ini.”

“Sebaiknya batang hidungmu itu jangan sampai terlihat lagi di sekitar Shinagawa,” kata Sakurada memperingatkan, sambil menepuk-nepukkan tongkat polisinya ke telapak tangannya. “Kau mungkin beruntung hari ini karena Bos menyuruhku membebaskanmu, tapi kalau suatu hari aku menangkapmu lagi, kupastikan kau takkan keluar dari sini hidup-hidup.”

***

“Oke, kalau begitu apa yang akan kita bahas di sesi minggu depan?” tanya Bu Sakaki pada Mizuki sambil mereka berjalan menuju pusat konseling. “Masih punya masalah yang perlu didiskusikan?”

Mizuki menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Terima kasih banyak, berkat Anda masalah saya terselesaikan.”

“Anda tak merasa perlu mendiskusikan ucapan monyet tadi?”

“Tak usah, harusnya saya bisa menanganinya sendiri. Saya akan coba mereflesikan masalah itu sendiri sementara waktu.”

Bu Sakaki mengangguk. “Kalau memang Anda mau memikirkannya,” katanya, “saya yakin ke depannya hal itu akan banyak manfaatnya.”

Dua wanita itu berjabat tangan lalu berpamitan.

Sesampainya di rumah, Mizuki mengambil papan nama dan gelang miliknya dan memasukannya ke dalam sebuah amplop coklat. Ia lalu menaruh amplop itu ke dalam kotak kardus di dalam lemarinya. Akhirnya ia kembali mendapatkan namanya kembali dan bisa melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Selanjutnya, mungkin segalanya akan baik-baik saja. Mungkin juga tidak. Setidaknya sekarang ia kembali memiliki namanya, sebuah nama yang memang miliknya, dan miliknya seorang.

***

Cerpen di atas dapat dibaca di The New Yorker. Diterjemahkan oleh Philip Gabriel dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris.

Listening to : The Grateful Dead – Scarlet Begonias