Tag Archives: cerpen pringadi

Tiga Catatan Terakhir, dimuat di Jurnal Bogor, 18 April 2010

Mereka Bilang Aku Kunang-Kunang

Seharusnya aku ikut mati bersamamu. Seharusnya aku tak lari meninggalkanmu. Seharusnya aku menggendongmu di pundakku ketika aku melihat kau yang tiba-tiba terbaring di tengah kerumunan orang-orang yang berlarian. Aku kerumunan itu. Aku orang-orang yang tak mampu menyembunyikan ketakutan. Aku orang-orang yang takut airmataku sendiri akan membunuh atau membuatku menggelepar-gelepar melebihi rasa lapar yang sudah aku koar-koarkan.

Di Jepang, musim Sakura belum lama berakhir. Dua minggu di awal April menandai musim semi dengan mekarnya kelopak bunga sakura. Mereka bilang itu adalah kelopak dari mata para dewa yang menitikkan kasihnya ke dunia. Kemudian kasih itu laun menjadi cinta di akhir tanggal, ketika kelopak-kelopak yang semula dominan putih berubah warna menjadi merah jambu. Aku ingat kau mengungkapkan itu sebelum kita berdiri di antara lautan orang-orang. Lalu kau mencium ujung-ujung tanganku. Aku tidak pernah tahu kalau itu akan menjadi ciuman terakhirmu untukku.

“Aku ingin sekali menemukan semanggi berkelopak empat, An…” kau berkata setalah ciuman itu. Aku diam mendekap pundakmu.

“Bukan Sakura?” aku bertanya.

“Ini dua hal berbeda, An. Kabarnya semanggi berkelopak empat mampu mengabulkan keinginan kita. Seperti bintang jatuh. Seperti doa-doa di kuil saat awal tahun baru. Seperti koin-koin yang dilempar di air mancur Roma…” kau bergelayut manja.

“Lalu apa keinginanmu?” aku menatap matanya.

Sesungguhnya aku tak pernah menemukan mata yang berbinar-binar seperti matanya. Mata yang jujur seutuhnya, tidak pernah berpura-pura. Mata yang membawa laut yang diam dan dalam, namun dapat menjadi ombak yang melumat.

“Aku ingin semua ini selesai, An. Secepatnya. Biar sejarah, suatu saat, akan mencatat tiga puluh tahun lebih ini adalah derita sebuah bangsa yang terkurung tirani. Biar segala yang sudah terpenjara itu bisa bebas menyuarakan suaranya. Biar aku dan kau bisa merajut senyum ketika melihat sebuah reformasi telah membebaskan negeri ini dari ketidakadilan, dari ketidakbebasan, An…” kau menjawab dan kulihat ada api yang menyala di matamu.

Akan tetapi, yang aku mengerti kemudian, api yang menyala di matamu malam itu telah berpindah ke mataku ketika aku saksikan kau terbaring tetapi bukan tidur. Tetapi bukan pula bersandiwara. Aku berteriak-teriak memanggil kau yang tergeletak begitu saja dan tak mampu menghindari ijakan orang-orang. Aku tidak pula pernah tahu, ketika semua ini selesai, tak pernah ada yang mengaku sebagai seseorang yang telah menyarangkan peluru di matamu. Mata yang begitu aku cintai itu.

Dari sekian banyak orang berpakaian hitam hari ini, harusnya akulah yang memakai pakaian paling hitam. Tetapi, aku tidak berpakaian hitam. Aku hanya memakai kacamata hitam sambil memejamkan mataku ketika aku tahu aku memang sudah tak dapat menyentuhmu lagi. Dan diam-diam aku takut, dari sepasang mataku yang memejam ini akan beterbangan jutaan kunang-kunang. Kunang-kunang kuning seperti daun lerai dari ranting.1

Mereka Bilang Aku Patah Arang

Tiba-tiba aku jatuh cinta melebihi seluruh jatuh cinta yang pernah menyakiti dadaku.2 Ranting-ranting patah. Jutaan kunang-kunang yang berhamburan dari balik mata tak lagi pernah kembali. Sebenarnya ingin sekali aku menyampaikan kata cinta ke telingamu, tetapi aku tak lagi memiliki suara. Malah suaramulah yang kembali terngiang-ngiang di telingaku.

“Negeri ini membutuhkan orang-orang yang berani bersuara, An…” kau berkata di malam yang sama sebelum kau terbaring.

“Pada kenyataannya, sudah banyak orang-orang berani yang hilang, mati, dan tinggal nama. Banyak pula tubuh-tubuh tak dikenal ditemukan di jalan-jalan sepi, di semak-semak, bahkan dikubur hidup-hidup.”

Aku laki-laki yang memiliki keraguan. Aku memang takut sekali jika namaku menghiasi kematian esok hari. Aku takut jika kemudian aku pulang dengan tubuh tinggal kulit dan tulang. Namun, sejak aku bertemu dengannya, wanita bermata laut, pelan-pelan aku diyakinkan akan kebenaran dan keberanian.

“Kamu salah, An,” jawabmu pelan dan tersenyum, “mereka tidak pernah mati. Mereka justru membangkitkan orang-orang mati. Seperti aku. Seperti kamu. Seperti puluhan ribu orang yang berkumpul malam ini dan jutaan orang lain di luar sana yang menyaksikan kita dengan mata yang berkaca-kaca. Mereka juga pasti mengharapkan perubahan, An… Itulah yang harus kita perjuangkan!” lanjutmu seperti nyala lilin di dalam kegelapan hati. Membuatku merasa aku adalah laki-laki paling beruntung di dunia ini karena telah ada seorang wanita berani melebihi masa lalu manapun.

Sekarang, di dalam sana, kau pasti sedang asik membayangkan dirimu telah menjadi salah satu yang menghidupkan kematian orang-orang. Kematian hati yang membuat negeri ini tak berkembang. Kematian informasi yang membuat rakyat mudah dibodoh-bodohi, ditakut-takuti, dan diatur seenak jidat dengan peraturan yang menjerat. Bukan melindungi. Bukan pula melayani.

Setelah semua itu berlalu, aku baru sadar, ternyata aku memang benar mencintaimu dan kehilanganmu adalah sakit hati yang paling pedih yang pernah kurasakan. Seharusnya, aku mencium bibirmu lama-lama malam itu. Seharusnya aku memelukmu erat malam itu. Seharusnya aku mengikatmu dalam tenda dan tak pernah membiarkanmu pergi keesokan hari. Tetapi, terlalu banyak kata seharusnya bagi lelaki patah arang seperti aku.

Dari Sekian Kematian

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. 3

Beberapa keluarga yang menangisi anak-anaknya hari itu, pasti tidak pernah tahu ada kau yang seharusnya tercantum menjadi nama ke-18. Pun ada nama-nama lain yang tak sempat tercatat oleh media-media yang masih main aman, takut jika terlalu banyak yang mereka catat, semakin banyak pula amarah rakyat. Sekian belas saja dirasa sudah cukup untuk mewakili duka yang dalam atas betapa lalimnya sistem yang berlaku.

Aku ingin sekali menunjukkan kepadamu, di rumahku kini ada sebuah kolam dengan ikan-ikan kecil yang berenang dengan tenang. Sebenarnya ingin sekali kuciptakan sungai seperti yang pernah kau impi-impikan. Sebuah sungai kecil dengan batu-batu koral yang mengalir jernih di tiap seluk ibukota. Tidak ada sampah. Tidak ada limbah. Tidak ada air kuning yang mendadak memanggil banjir ketika hujan tengah bertandang menyampaikan salam dari gundulnya bukit-bukit di sebelah timur. Tetapi aku pikir, sudah cukup ada sungai kecil lain yang mengalir dari pori-pori kulitku, dari kedua bola mataku yang pernah kau nyalakan apinya malam itu. Tetapi, harus kau maafkan aku kini, tak ada lagi nyala api itu.

Aku memandang kerdil kematian yang kau pertunjukkan hari itu. Kematian yang klasik namun kucintai seperti laki-laki mencintai laying-layangnya yang putus sambil memandang langit lapang yang selalu haus untuk dipandang. Seperti pula kelereng-kelereng bulat yang warna-warni, dipertaruhkan dalam sebuah permainan namun bukan kemenangan yang kuraih. Atau seperti setiap hitungan petak umpet dan aku mencari sampai sore hari, tak pernah menemukan sosok teman-teman yang sudah kembali ke rumah sementara aku harus menunggu di balik pohon, berhati-hati bila ada yang mengelabui penjagaanku.

Perubahan yang kau impikan dulu hanya terjadi sebatas kulit. Reformasi yang kau gaung-gaungkan dan kematian yang kau persembahkan tampaknya belum cukup untuk membuat mereka paham bahwa kebebasan bukan sebatas bebas menyuarakan pendapat namun pendapat itu menjadi pertimbangan yang agung laiknya suara Tuhan. Tetapi yang terjadi, suara-suara itu hanyalah sekadar mampir untuk lewat dari kuping kiri ke kuping kanan.

Dari sekian kematian, aku mencintai kematianmu. Dan di ruang ini, aku saksikan rekan-rekanku sedang tertidur sementara pimpinan sidang yang malang itu berbicara sampai berbusa-busa saja. Aku kembali mencoba memejamkan mata, berharap jutaan kunang-kunang yang dulu pernah berhamburan itu kembali ke mataku.

(2010)

1, 2 Kutipan dari puisi berjudul “Tiga Catatan Kecil” karya Aan Mansyur
3 Kutipan dari puisi berjudul “Dari Sekian Kematian” karya Pringadi Abdi

Mengandung Bidadari

Kau hamil. Tujuh bulan. Aku yakin kau sedang mengandung bidadari.

Aku sudah pelajari baik-baik Hukum Mendel. Dari ketiga saudara perempuanmu, hanya kau yang memiliki alel dominan. Dan aku berani bertaruh anak pertamamulah yang akan mewarisi kedominanmu itu. Tidak hanya secara genotipe, tetapi juga fenotip. Ia akan memiliki wajah secantik kau. Ia juga akan memiliki sayap. Itulah alasan yang kutanyakan dulu ketika kita kali pertama bertemu, “Aku tahu mengapa kau memakai pakaian setertutup itu… pasti kau sedang menyembunyikan sayapmu, bukan?”

Continue reading Mengandung Bidadari

Seseorang dengan Agenda di Tubuh (Suara Merdeka, 6 Juni 2010)

(1)

BIASANYA, setiap cerita pembunuhan akan dimulai dengan ditemukannya mayat korban. Lalu dimulailah penyelidikan oleh seorang inspektur polisi, meneliti satu per satu misteri sampai ditemukan motif dan bukti-bukti yang mengarahkan kebenaran siapa pelaku pembunuhan. Tetapi, saya tidak akan bercerita dengan metode kuno seperti itu. Saya akan mulai dengan sebuah pengakuan, sayalah yang telah melakukan pembunuhan dengan memukulkan benda keras ke kepala, berkali-kali (saya akan berhenti kalau sudah merasa puas), sampai berdarah-darah dan sang korban sudah tak lagi menghembuskan napas. Kemudian, akan saya tinggalkan sebuah jam dinding di samping mayat korban. Jam dinding yang jarum-jarumnya sudah saya atur sesuai urutan dan waktu pembunuhan.

Continue reading Seseorang dengan Agenda di Tubuh (Suara Merdeka, 6 Juni 2010)

Cerpen: Oompa Loompa

Dia bukan Charlie. Dia juga bukan Willy Wonka. Tetapi cita-citanya ingin mendirikan pabrik cokelat terbesar di dunia.

“Tapi, di Sumbawa, tanaman cokelat tidak akan tumbuh. Lebih baik kau beternak sapi di sini, Teruna…” Kata-kata orang yang skeptis atas keinginannya tidak diindahkan. Dia tahu betul, Sumbawa berbeda nasib dengan Lombok yang tanahnya dapat menumbuhkan apa pun. Tanah Sumbawa begitu gersang. Setiap kenalan barunya di media sosial bertanya, hasil bumi apa yang dimiliki Sumbawa, dia hanya bisa menjawab Sumbawa menghasilkan banyak tenaga kerja ke luar negeri. Ke Saudi, ke Qatar, ke Iran. Maka jangan heran, selain suku Bugis yang pernah melarikan diri dari Sulawesi ke tanah ini, orang-orang keturunan padang pasir juga banyak berkeliaran di Labuhan. Dari orang-orang itulah, Teruna sering mendapat cokelat. Cokelat Arab benar-benar berbeda dengan cokelat yang sering dibelinya di toko. Dia sangat menyukai cokelat Arab.

“Kalau kau begitu suka cokelat, kenapa tidak pergi ke sana sekalian?” rayu seorang calo TKI. Teruna tak suka Mustafa. Selain karena sudah beristri tiga, Mustafa terkenal suka merayu perempuan-perempuan muda untuk berangkat menjadi TKI dengan memberikan pinjaman berbunga tinggi. “Aku bisa membantumu pergi…” tawarnya lagi. Banyak yang tergoda untuk pergi. Tinggal di kampung sendiri seringkali seperti berada di neraka. Tidak mendapatkan pekerjaan. Nasib berakhir kawin muda, dengan status istri kesekian. Teruna tidak mau bernasib sama, Tetapi Teruna juga tidak mau pergi ke timur tengah, apalagi dengan meminjam uang Mustafa guna mengurus segala keperluan seperti paspor dan visa. Tidak tanggung-tanggung, lintah darat berjanggut itu kerap menaruh bunga hingga 100% per tahun. Orang-orang kampung yang tidak sekolah tidak jarang terenggut juga keluguannya oleh tawaran Mustafa itu.

“Kakak, tahu Oompa Loompa?” Teruna bertanya kepada Muji. Sudah seminggu ini Teruna berpraktik kerja lapangan di KPPN Sumbawa Besar. “Apa Oompa Loompa ada hubungannya dengan orang kerdil di Flores?” tanyanya lagi.

Tentu saja Muji tidak tahu. Ia masih sibuk mengurusi server yang sedang anjlok. Tidak ada SPM yang dapat diproses hari itu. Para petugas satuan kerja yang tumben datang sejak pukul delapan pagi terdengar menggerutu di ruang antrian.

“Coba kamu tanya Kak Diapinar? Biasanya dia tahu segalanya,” jawab Muji.

Teruna menghambur ke bagian umum. Diapinar sedang menyusun laporan bendahara. Melihat itu, dia jadi segan untuk bertanya. Di dalam situasi seperti ini, hanya orang-orang di front office yang menganggur. Teruna tahu sebagai anak PKL, dia tidak boleh masuk ke garis depan pencairan dana itu.

Sedang asik-asiknya menunduk, memperhatikan lorong dengan lebar hanya satu meter, tak cukup untuk dua orang berbadan sedikit gemuk bila saling berpapasan, satu sosok muncul dari pintu front office. Badannya gemuk. Rambutnya tampak baru dicukur. Ukuran 2cm. Matanya merah. Tapi laki-laki itu tersenyum dan menyapanya, “Kamu sedang memikirkan apa, Teruna?” Tak disangka dia tahu nama Teruna.

“Bapak tahu Oompa Loompa?” Teruna memanggilnya Bapak karena tampak uban sudah banyak di kepalanya.

“Jangan panggil aku Bapak. Aku tidak setua itu…”

“Maaf…”

“Pasti karena uban-ubanku kan?”

Teruna mengangguk. “Jadi, Kakak tahu Oompa Loompa?” Teruna bertanya yang sama.

“Kamu pasti semalam nonton di HBO kan? Willy Wonka mempekerjakan Oompa Loompa dengan pertukaran mereka dapat mengolah cokelat setiap saat. Itu menjijikkan.”

“Menjijikkan?”

“Kamu tahu, Oompa Loompa itu sebenarnya sebuah ungkapan. Ejekan atas kekerdilan cara berpikir kita.” Laki-laki muda beruban itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mengelus-elus janggutnya, memilin-milin kumisnya yang tak pernah lebih dari 1 cm—dan tentu selalu gagal. “Tidak, tidak, kamu masih terlalu kecil untuk tahu lebih banyak…” lanjutnya lagi.

Daebak. Pantas saja sering Teruna dengar, orang-orang di kantor kas negara (yang sekarang bernama KPPN) adalah tempatnya segala tahu.

“Teruna, baiknya kamu belajar saja, biar pintar… ya?”

“Satu pertanyaan lagi, boleh nggak?”

“Tanya aja, tapi jangan kebanyakan bertanya, nanti nggak jalan-jalan…”

“Kakak suka cokelat?”

Mendengar pertanyaan itu, laki-laki tersebut mengelus perutnya, menarik lipatan-lipatan lemak di bawah dagu dan di sekitar lehernya. “Kalau di es krim ada gelate, di cokelat juga pasti ada cokelat rendah lemak. Tapi apa ada orang menjual cokelat rendah lemak dengan harga seperti cokelat merk ayam jago?” Matanya memias sebelum ia menambahkan, “Kamu masih kecil, Teruna. Pasti tak punya kenangan pada si Ayam Jago?”

“Aku ini perempuan, Kakak. Aku tak pernah bermain ayam jago.” Teruna salah paham. Teruna tahu, waktu membuatnya seperti lelaki. Jalannya tidak gemulai seperti perempuan pada umumnya, bahkan cenderung mengangkang. Beberapa lelaki menganggap cara jalannya berarti klaim bahwa Teruna sudah tak perawan. “Pasti Mustafa sudah mencicipinya,” atau, “Dia pasti perempuan bispak di sekolahnya.” Komentar-komentar seperti itu sudah sering Teruna dapatkan.

“Jadi berita bahwa kamu suka cokelat itu omong kosong?” Kakak di depannya bertanya itu sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebatang cokelat. Ratu Silver.

Teruna menerimanya ragu. Baru kali ini ia bicara dengan lelaki-si petugas front office-tambun-beruban-bermata merah itu, ada kenyamanan di sana. Teruna tahu laki-laki itu baru ditinggal istrinya. Kebanyakan pegawai perbendaharaan menjadi jomblo lokal karena tidak dapat membawa istrinya sementara lelaki itu kebalikannya. Hidup sungguh aneh, pikir Teruna. Hari itu ia takut menjadi dewasa.

 

~

 

Orang-orang Sumbawa, dari Sumbawa Timur sampai Sumbawa Barat tak bosan-bosannya datang silih berganti dari pagi-pagi sekali di sebelah KPPN ini. Ialah kantor Imigrasi, tempat membuat paspor yang menjadi tujuan. Sebelum masuk kantor, Teruna kerap membantu Ama berjualan nasi bungkus dan air kelapa di seberang jalan. Ama menganggap Teruna sebagai anaknya. Meski beristri dua, Ama tak punya anak.

Kemarin Teruna mendengarkan pembicaraan Kak Muji dan lelaki itu yang baru ia tahu namanya—Onang Sadino. Ia mengamini soal kegagalan otonomi daerah bisa diparameteri dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai di daerahnya sendiri. Lebih lanjut, Onang Sadino itu mengkritik formasi PNS di Sumbawa Besar yang banyak diisi orang-orang Lombok. “Begini sih sama saja dengan Banyuasin terhadap Palembang. Orang-orang Lombok yang bekerja di Sumbawa menerima uang dari pemerintah daerah Sumbawa, menyimpannya, dan dibawa pulang setidaknya satu bulan sekali ke Lombok, itu sama saja menihilkan fungsi konsumsi. Pertumbuhan ekonomi macet!” Kalimat-kalimat itu diucapkan berapi-api. Teruna tidak tahu apa-apa tentang ekonomi, tapi dari bicaranya, Teruna tahu itu meyakinkan.

Pasalnya pula, Sumbawa lambat maju. Jauh dibandingkan dengan Lombok Timur. Masyarakat menyalahkan ketidakadilan pada distribusi anggaran dan kepedulian Gubernur terhadap wilayah-wilayah di Sumbawa. Makanya, baru-baru ini makin santer isu pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa pada tahun 2015. “Ah, itu pasti cuma akal-akalan Fahri Hamzah yang mau jadi gubernur PPS nantinya…” Onang Sadino berkata sinis. Tapi mungkin saja itu benar, Fahri Hamzah yang asal Alas itu rajin pulang dan mengoar-ngoarkan pembentukan PPS. Teruna tahu karena ia selalu ada setiap ada keramaian di Sumbawa untuk berjualan.

Kak Onang Sadino itu tampak di seberang jalan. Ia hendak menyeberang. Teruna tahu, kalau tidak membeli nasi kuning di kampung Arab, Kak Onang akan makan di tempat Ama. Ia akan memilih nasi bungkus berlambang T yang berisi telur lalu meminta segelas air kelapa, airnya saja. Teruna menatap lelaki itu, yang sedang menunduk memainkan tabletnya. Pasti sedang mengobrol dengan istrinya. Teruna berpikir, andai saja Kak Onang belum menikah, ia akan mau bersama lelaki itu, meski tambun-beruban-bermata merah sekalipun.

“Sampai kapan kamu magang?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Teruna. Kak Onang tahu-tahu sudah menatap Teruna tajam. “Kamu, apa cita-citamu? Tidak seperti mereka kan?” Pandangan kak Onang menuju orang-orang di kantor imigrasi.

“Tidak, Kak.  Teruna mau bikin pabrik cokelat,” jawab Teruna yakin.

“Mana ada cokelat di Sumbawa…” sahut Ama.

Mendengar itu Kak Onang mendekat ke Teruna, lalu memegang tangannya, “Teruna, bermimpilah. Jangan takut bermimpi. Swiss tidak punya cokelat, tapi bisa jadi tempat pabrik cokelat terbaik di dunia. Setidaknya di Sumbawa sudah banyak sapi. Susunya bisa diperah di sini.” Teruna tidak paham apa Kak Onang sedang menyemangati atau merayunya. “Omong-omong namamu lucu… Teruna, seperti teru-teru bozu.” Kali ini ucapan itu disertai dengan remasan yang lebih kencang di tangan kanannya.

Hari itu hujan tidak turun seperti hari-hari lainnya. Matahari di Sumbawa masih sembilan adanya. Dipandanginya kantor Imigrasi itu lagi. Kak Onang Sadino pasti tidak tahu kalau Teruna adalah anak semata wayang. Orang tuanya sudah bercerai. Ibunya menjadi TKI di Saudi dan tak pernah pulang. Ayahnya sudah menikah lagi dan pergi entah ke mana.

Sejenak, Teruna lupa pada segala masalah di hidupnya. Ia menerima kembali satu batang cokelat dari Onang Sadino. Lelaki itu masih menatapnya tanpa bahasa.

Teruna tahu, cokelat itu bukan cokelat Arab yang digemarinya.

Teruna juga tahu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di dadanya saat tangannya digenggam.

Namun, ketika memakan sepotong cokelat itu, yang paling Teruna tidak tahu adalah dosa termanis bisa saja baru dimulai di dalam hidupnya

Joeng

I.
Sudah dua kali hari ini, ada orang datang ke kantor kas negara sambil berurai air mata dan terbata-bata berkata, “Bapak, di mana saya bisa meminta uang dari Tuhan?”

II.
Sebenarnya saya terhitung baru bertugas sebagai front office di Seksi Pencairan Dana, kurang lebih 9 bulan. Ibarat janin, saya baru bersiap diri untuk dilahirkan, merancang tangis pertama agar udara berkenan hadir di paru-paru.

Dunia masih hitam putih, Benar dan salah. Saya periksa SPM1 dengan uji substantif dan formal. Jangan macam-macam, satu huruf saja salah, akan saya kembalikan. Ada kalanya ibu-ibu petugas satker2 menangis, memohon supaya SPM itu diloloskan. Tapi apa daya, peraturan berkata tidak. Air mata gombal tidak cukup untuk jadi alasan kebenaran. Macam-macam saja tingkah pola petugas satker. Tapi kali ini tetap yang paling aneh, meminta uang dari Tuhan?

“Bapak dari satker mana ya?” Seseorang berpakaian bebas, memakai kaos dan celana tiga perempat, bersandal jepit dan belum mematikan rokoknya tiba-tiba menyelonong masuk, bertanya, tanpa nomor antrian.
“Satker itu apa?” dia balik bertanya.
“Satuan kerja, Pak. Stakeholder kita dari satuan kerja yang menerima DIPA APBN. Kalau Bapak mau mengajukan SPM ke loket 1, dalam hal ini saya. Kalau mau rekonsiliasi, ke loket 2 di sebelah kiri, Pak.”
“Stikholder itu makanan jenis apa? Daging sapi atau kerbau?”
“Bapak jangan main-main dengan saya!” Saya menggebrak meja, marah. Akhir-akhir ini saya cukup sensitif. Apalagi saya baru saja ditinggal kekasih. Karena tak kuat pacaran jarak jauh, dia bilang tidak cinta lagi. “Maaf kalau saya tidak sopan dengan Bapak, tapi tolong dong, kalau ke kantor itu harus berpakaian minimal celana panjang dan bersepatu!” Nada saya kali ini lebih keras.

Dia tidak menjawab. Tiba-tiba membalikkan badan, dan langsung keluar ruangan. Saya ditinggalkan dengan penuh tanda tanya. Tuhan tampaknya senang sekali memberi tanda tanya, selain tanda seru. Pacar saya itu, sudah sembilan tahun kami pacaran, sudah semua saya berikan, bahkan kejantanan pun sudah rela saya pasrahkan. Beginilah perempuan sekarang—banyak merayu, banyak menipu. Kedok lugu dan imej sebagai korban selalu digembar-gemborkan. Padahal, seringkali perempuanlah yang merusak lelaki, memperkosa kecintabutaan kami pada keindahan perempuan.

Minggu terakhir bulan. Sepi. Saya memandang keluar, tampak pohon perdu menggugurkan daunnya. Jalan muram, tapi tetap harus hati-hati. Tentang sapi dan kerbau, bila orang Mataram berkendaraan diibaratkan sapi, di Sumbawa Besar mereka seperti kerbau. Normalnya, kita bisa memperkirakan laju kendaraan untuk jarak tertentu. Di sini tidak. Bila dari jauhan ada yang bermotor, berjalan lambat, kita tetap harus waspada, karena bisa saja tiba-tiba ia mengebut, menarik putaran gasnya hingga maksimal, menderu-deru, seolah memamerkan diri sebagai orang pertama yang punya motor di muka bumi ini.

Saya jadi merindukan Palembang. Meski tanpa suara ombak, tanpa bunyi printer dot matrix—pencetak SP2D3 yang dalam satu tahun mencapai dua puluh lima ribu lembar. Pagu 900an milyar. Tapi belanja modalnya seperti daging koyor-koyor, gelondongan, menumpuk di akhir tahun anggaran, mepet-mepet dengan batas akhir pengajuan SPM. Padahal Presiden sudah marah-marah. Penyerapan anggaran dengan tren demikian tentu tidak akan berefek pada masyarakat. Alhamdulillah, kadang-kadang Presiden kita itu ada benarnya.

III.
Saya agak sensi sama sekretaris kantor ini. Kemarin saya pergoki dia bikin teh pakai air kamar mandi. Serta merta saya disemprot dan diancam akan dikempesi badan saya yang gemuk ini bila berani-beraninya membocorkan hal itu. Saya ini pintar menyimpan rahasia, jadi saya cukup mengatakannya kepada Pak Slamet sambil berbisik, “Ini rahasia ya, jangan bilang ke siapa-siapa!” Sore harinya saya kena semprot lagi, karena teh di dalam ceret itu sedikit pun tak berkurang. Dia bilang pasti saya telah memprovokasi orang-orang.

Pagi-pagi tidak ada satker. Pukul 11 ke atas mereka baru akan datang sekalian pulang. Pegawai Pemda memang parah-parah. Karena absen tidak handkey, mereka bisa bebas datang jam berapa pun dan pulang bila anak-anak mereka kelar bersekolah. “Sekalian menjemput,” kilahnya.

Asumsi saya pun terbukti. Pukul 12 kurang, nyaris istirahat, seorang petugas satker datang dengan setumpuk SPM dibungkus map di tangannya. Dari seragamnya saya tahu dia dari Badan Pusat Statistik. Saya agak heran sama satker satu ini karena SPM yang setumpuk itu hanya berisi belanja 52 yang berupa honor. Semua kegiatan survey dari a-z diberi honor. Saya pun berseloroh, “Mbak mbak… kalau semua hal dihonorin, jadi tupoksi pekerjaan Mbak di kantor apa sih?”

Yang menjawab malah bukan dia. Pak Slamet menyeringai sinis di samping saya dan berkata, “Tupoksinya ya absen, Pring. Mereka digaji cuma buat absen….”

Di dalam hati saya mengaminkan tetapi tidak ikut menyeringai karena khawatir si mbak makin tersinggung nantinya.

Saya bertanya begitu bukan karena saya marah pernah tidak lulus ujian masuk STIS dan malah diterima di STAN. Tetapi, saya benar-benar peduli pada nasib anggaran belanja negara dan daerah yang sudah mayoritas dihabiskan di belanja pegawai (51) malah ditambah seenaknya di 52 untuk keperluan pegawai. Harusnya, jenis belanja itu digemukkan di 53 alias belanja modal guna pembangunan infrastruktur. Penyerapan anggaran yang ideal tentu harus berporsi demikian agar terasa manfaatnya pada masyarakat sekitar.

Saya periksa SPM pertama, sudah ada yang salah. Klasifikasi anggaran pada SPTB3 tidak ditulis dengan benar. Pasti hasil copy-paste dari lembar SPTB yang lain. Heran saya melihat bendahara-bendahara kadang belum paham dengan penulisan klasifikasi anggaran atau bahkan ada yang mengatakan bahwa ganti uang persediaan hanya dapat diajukan satu bulan sekali secara rutin. Padahal ganti uang persediaan itu bisa dimintakan berkali-kali dalam satu bulan selama pertanggungjawabannya mencapai 75% nilai uang persediaan.

Sedang asik-asiknya saya memeriksa SPM, suara sekretaris yang cempreng itu terdengar lantang mengusir seorang peminta sumbangan. Si Joeng, bahasa Sumbawanya cerewet, menghalang-halangi lelaki tua itu yang hendak memaksa masuk ke ruang kepala kantor. Merasa tidak berhasil, ia balik berlari ke arah saya. Beruntung ia tidak nekat melompati meja loket penerimaan SPM. “Bapak, katakan, harus ke mana lagi saya meminta uang dari Tuhan?”
Dahi saya bekernyit. “Siapa yang bilang kas negara itu tempat meminta uang dari Tuhan?” Nada saya agak tinggi.
“Orang.”
“Orang yang mana?”
“Orang ya orang.”

Hampir habis kesabaran saya, Si Joeng datang dan langsung memegang lengan peminta sumbangan. Dengan paksa, ia menyeretnya keluar. Sementara itu, satpam-satpam yang harusnya berjaga dan yang duduk di dekat pintu masuk, bertugas membukakan pintu bagi setiap tamu yang datang entah sudah menghilang ke mana. Kepala Kantor serba salah dalam hal ini. Pernah saya tanyakan kenapa kita tidak menggunakan tenaga penyedia jasa satpam dan cleaning service seperti halnya kantor pajak. Beliau menjawab tidak mudah untuk “memecat” dan mengganti mereka sebab sudah lama mereka bekerja di sini. “Mengganti mereka bisa saja sama dengan membunuh hidup mereka, Pring….” Saya diam kalau alasannya sudah perasaan.

Perasaan. Ah, perasaan. Saya kembali mengingat Aina. Apa Aina punya perasaan? Kalau tidak, harusnya Aina saja yang jadi kepala kantor. Biar kinerjanya bagus, pegawai tentu harus diperintah seperti robot. Kalau sudah usang, dipensiunkan. Kalau tidak bisa diinstalasi program terbaru, disingkirkan di gudang sampai menunggu penghapusan barang dari KPKNL. Duh.

Saya kemudian menghadap kepala seksi. Bapak satu ini dekat dengan Tuhan. Shalatnya selalu pas setelah adzan. Dia yang pernah bilang, Tuhan selalu mendatangi kita tapi kita tak sedang di rumah. Ah, saya selalu merasa di rumah. Hanya kadang-kadang saya sedang tidur dan tak mendengar ketukan pintu. Selain konsultasi masalah pencairan dana dan peraturan-peraturan terkait, beliau selalu mau mendengarkan keluhan-keluhan saya tentang Tuhan. Tuhan yang satu itu sering bikin saya galau.
“Permisi Pak…”
“Ya, duduk. Ada apa, Mas?”
“Begini, Pak… tadi ada orang datang ke sini…”
“Satker? Pihak ketiga? Kalau pihak ketiga, usir aja… jangan sungkan-sungkan.”
“Bukan. Bukan keduanya. Ini orang, tiba-tiba datang terus bertanya, di mana bisa meminta uang dari Tuhan.” Pak Kepala Seksi malah melongo. “Saya pikir di kantor ini bapak yang paling kenal Tuhan, barangkali bapak tahu di mana tempatnya,” lanjut saya.

Bapak itu tampak berpikir keras. Tetapi tidak ada adegan bola lampu menyala di samping kepalanya. Ia mengetuk-ngetukkan pensil di atas meja lalu berkata, “Ini berat, Mas. Saya tidak tahu caranya meminta uang dari Tuhan, kalau memanjatkan doa saya tahu…”
“Jadi bagaimana harusnya kita memberi jawaban, Pak? Saya tak tega melihat orang-orang itu datang dan penampakannya sangat lusuh sekali. Mungkin mereka benar-benar butuh uang. Sementara negara bukanlah Tuhan yang dapat memberikan uang kepada pihak yang benar-benar membutuhkan.” Saya pun menjadi iba dan prihatin seperti kebiasaan presiden.
“Iya sih… kamu benar. Nanti saya pikirkan sebuah cara,” tukasnya.

KPPN selama ini memang jadi tempat yang dituntut serba tahu. Jadi, kalau tak dapat menjawab saat ditanya, itu adalah aib. Beberapa hari yang lalu ada yang protes karena terdapat selisih antara saldo di aplikasi SAKPA4 dengan aplikasi BMN5. Saya jawab, KPPN tidak mengurusi masalah BMN, itu wewenangnya KPKNL6. “Lho kalian kan sama-sama Kementerian Keuangan, kok tidak tahu menahu sih?!” Dia agak marah. Saya jawab, “Apa Ibu tahu-menahu soal Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama, kan sama-sama 025?” Dia pun diam. Tapi itu belum seberapa, ada seorang lagi yang datang saat hujan, membawa mobil, parkir tepat di depan pintu masuk, lalu membawa beberapa perangkat komputer sambil berkata, “Tolong cek komputer saya, apanya yang rusak?” Duh.

IV.
Tepat sebelum istirahat, orang yang kali pertama datang menanyakan uang dari Tuhan itu datang lagi. Pertanyaannya agak berbeda, “Tolong jangan berbohong, saya tahu di sinilah tempat meminta uang dari Tuhan!”

Kami sudah mengantisipasi ini. Pak Kepala Seksi berinisiatif meminta sumbangan sukarela kepada para pegawai dengan dalih untuk membantu fakir miskin. Fakir miskin dan anak terlantar seharusnya dipelihara negara dan kami, para pegawai pemerintah juga harus ikut bertanggung jawab pada mereka. “Ini Pak, semalam Tuhan mengirimkannya diam-diam. Ini untuk semua orang yang meminta uang dari Tuhan.”

“Tuh kan, kalian ini jangan coba-coba menyimpan uang yang bukan hak kalian!” Dia membuka amplop. Saya yang geram. Seenaknya saja menuduh demikian. Biar pun dikata nanti saya masuk neraka, penyebabnya tak akan karena korupsi. “Hah, kok jumlahnya Cuma sembilan ratus lima puluh ribu? Saya mintanya kan satu juta!” tambahnya tak puas.

Karena bingung menjawab apa, saya katakan, “Pajak penghasilan 5%. Dipotong itu.”
“Ooo, memang dasar ya tukang pajak itu, Tuhan saja masih dipotong.” Dia mengangguk-angguk sebelum pergi dan saya harap tak akan pernah kembali.

V.
Saya datang ke KUA. Penjaga di loket pelayanan yang seadanya menyambut saya dengan muka kecut. “Maaf Bapak, ada keperluan apa?” tanyanya.
“Tolong katakan sejujurnya, di mana saya bisa minta istri dari Tuhan?!”

(2012)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Katak Bunuh Diri

 

“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.

“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.

“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sejarah umat katak itu. Katak-katak dikorbankan, dibelah perutnya, dikeluarkan isinya demi alasan pengetahuan.

“Mungkin.” Jawaban Randal Patisamba menggantung. Mukanya seperti memikirkan sesuatu, seperti ada yang diketahuinya, tapi tak mau dikatakannya.

Aku tak habis pikir pada rombongan yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka sama sekali mengabaikan katak-katak ini. Pantai Leppu di Labangka Tiga menjadi tujuan kami. Bersama-sama kami berangkat dari Sumbawa pukul delapan pagi tadi dan di jalan, motor yang kunaiki bersama Randal mengalami pecah ban. Kami tertinggal di belakang. Untungnya Randal bilang dia tahu jalan.

Mulanya aku tak hendak ikut ke Leppu. Aku masih kecewa dengan Nacinta setelah dikatakannya aku terlalu tua untuk jatuh cinta. Daging kambing yang berusia lebih dari tiga bulan itu alot dan berkolesterol, tidak enak dimakan. Aku disamakannya dengan kambing.

Tapi memang perempuan tidak bisa ditebak, pagi-pagi bakda subuh dia mengirimkan pesan singkat, pesan mesra yang tidak bisa ditolak siapa pun, “Mas, ikut ya ke Leppu, Nacinta sedih kalau Mas nggak ada.”  Aku lebih memilih ikut Lucky Prize di Line itu dehketimbang harus menebak apa maunya perempuan.

Satu motor kosong yang tersisa milik Randal Patisamba. Dua orang dengan berat badan lebih dari 70 kilogram akan menaiki motormatic kecil yang seharusnya dinaiki perempuan dengan perut rata dan pinggul seperti angsa. Pecah ban sudah sunatullah. Tidak ada pembenaran untuk menggerutu.

Sebelum berbelok ke Labangka, sebelum Plampang, aku tidak tahu kenapa pandanganku tertuju pada satu titik. Sebuah bukit besar menarik perhatian. Awan-awan bergumul di atasnya. “Apa itu?” Reflek aku bertanya pada Randal. Mataku belum beralih ke mana pun.

“Jaran susang.”

“Jaran susang?”

“Itu tempat tertinggi nomor dua di Sumbawa.”

“Setelah Tambora?”

“Tambora tidak dihitung. Tambora di Dompu.”

“Lalu?”

“Puncak Ngengas.”

“Apalagi itu?”

“Sebaiknya jangan lama-lama kau pandangi dia… tak baik.”

“Kenapa?” Aku makin penasaran dengan jawaban Randal. Tapi sahabatku sejak aku di Sumbawa itu sama sekali tak memberiku jawaban. Motor melaju seadanya. Sesekali ia dapat menyalip mobil-mobil bermuatan besar yang menuju ke Bima. Mobil-mobil dengan kapasitas beban seperti inilah yang menyebabkan jalan dari Poto Tano ke Bima sering rusak setiap tahunnya. Dengan struktur tanah yang tak stabil, anggaran yang terbatas untuk membuat lapisan yang tebal, jalan-jalan di Alas, Utan setiap tahun diperbaiki, dan setiap tahun juga rusak kembali. Terlepas dari itu, barangkali jalan-jalan adalah proyek abadi Kementerian Pekerjaan Umum. Atas nama penyerapan anggaran, terkutuklah mereka yang memakan anggaran demi perutnya sendiri.

Aku memikirkan Jaran Susang kembali ketika Randal dengan tergesa berkata, “Kita harus cepat pergi dari sini, Pring.” Begitu aku sudah bersedia di boncengan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Mayat-mayat katak itu ditinggalkan begitu saja tanpa satu pun yang sempat kami kuburkan. Aku merasa berdosa melihat mayat-mayat itu terlantar dan membayangkan bila saja ada ratusan mayat manusia yang terlantar, tak dipedulikan, tak dicatat sejarah seperti itu. Serta merta aku bergidik sebelum kudengar Randal mengatakan sesuatu. Perkataan itu yang membuat bulu romaku tegak seperti kemaluan. “Aku yakin sekali katak-katak itu dibunuh, bukan bunuh diri. Pernah ada cerita di sekitar Labangka…”

Ya, pernah ada cerita di sekitar Labangka. Puluhan ribu hektar ladang jagung yang terbentang di Labangka adalah komoditas utama pertanian di wilayah Sumbawa. “Batang-batang jagung itu tertekuk, Pring… bukan satu, tapi ribuan batang jagung.” Randal diam sejenak sebelum melanjutkan, “Malam sebelum itu terjadi, ada badai hebat. Banyak yang mengira, batang jagung itu tertekuk karena badai, tapi badai tidak mungkin membuat tekukan yang begitu rapi, sama di semua batang. Itu perbuatan seseorang, atau sesuatu….”

“Sesuatu?”

“Tadi aku melarangmu melihat Jaran Susang bukan tanpa alasan. Penduduk setempat meyakini di sana adalah kerajaan ghaib di seluruh tanah Samawa ini, Pring. Kalau sore, perhatikanlah nanti setelah kita pulang, awan-awan yang bergumul itu akan tampak seperti air terjun, awan yang ditumpahkan begitu saja dari ketinggian. Dan kalau ke atas sana, kita lemparkan batu ke sisi satunya, batu itu tidak akan terlempar. Ah, maksudku, batu itu akan seperti terhadang sesuatu. Kau pasti pahamlah maksudku. Mistis, Pring.”

Aku menyimak setiap kata Randal. Jalan aspal telah berakhir. Jalan tanah berbatu menggantikannya. Di sisi kiri dan kanan, di sejauh mata memandang, ladang jagung terbentang. Bongkol-bongkol jagung yang lebih besar dari kemaluan lelaki ada di pinggir-pinggir jalan. Penduduk Labangka baru panen jagung. Jagung-jagung itu akan dikirim ke Mataram, ke Bali, ke Surabaya. Dan lagi-lagi lewat darat. Mau dikata apa, transportasi darat masih lebih murah.

Andai saja orang Sumbawa ini membangun industri hulu. Jagung-jagung itu tidak akan cuma jadi jagung-jagung. Sama halnya juga sapi. Sapi melimpah di Sumbawa. Tapi untuk membawa sapi-sapi itu keluar Sumbawa butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Coba kalau ada industri pengolahan daging sapi, yang dikirim bukan sapi saja, bukan daging potong saja, tapi bisa kornet juga, bisa abon juga.

“Dulu di Labangka pernah dicoba peternakan sapi, Pring…” Randal membuyarkan pikiranku. “Tapi gagal,” lanjutnya. “Sapi-sapi itu, ah, mengerikan…” tambah Randal.

“Mengerikan?”

“Mereka mati. Massal. Seperti katak-katak tadi.”

“Sapi-sapi itu terlindas kendaraan?”

“Tidak, kendaraan apa yang bisa melindas sapi?”

“Lalu?”

“Tapi perut mereka berlubang. Lubang yang sama persis setiap sapinya. Empat belas centi jari-jarinya. Semua isi perutnya kosong dan tidak ada jejak darah sedikit pun.”

“Astaga! Semua sapi mati begitu?”

“Tidak semua sapi, tapi banyak sapi. Para peternak ketakutan membayangkan seseorang atau sesuatu berkeliaran melakukan itu. Mereka berhenti beternak sapi di sini dan pindah ke Utan.”

“Di Utan aman?”

“Ya, kau lihat kan sapi-sapi berkeliaran di sepanjang jalan, bahkan pada malam hari, tidak ada yang mencuri. Soalnya Fahri Hamzah sudah tidak di Utan. Haha…”

“Kamu masih bisa bercanda dalam topik begini? Huh!”

Randal Patisamba tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya baru terhenti ketika kami temui tanjakan yang cukup terjal. “Maju, Pring, rapatkan tubuhmu. Lebih rapat lagi!” pinta Randal dengan serius. Begitu triknya naik motor berdua bila harus melewati tanjakan, rapatkan tubuhmu serapat-rapatnya dengan yang di depan. Bila jalan menurun, kebalikannya, taruh pantatmu di ujung motor agar laju motor tidak bertambah. Soalnya ini matic, tidak ada rem gigi yang biasa otomatis menahan kecepatan maksimal sesuai giginya.

Aku penasaran dengan sapi-sapi yang diceritakan Randal. Mutilasi seperti itu tidak masuk akal. Kenapa harus sapi, kenapa sekarang katak, kenapa bukan kambing. Ah, menyebut kambing, aku teringat kembali dengan Nacinta. Di Lapangan Pahlawan tadi, dia bersama Ega. Mereka tampak begitu mesra meski dia bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan Ega. Semua hal dimulai dari nol. Semua kepunyaan dimulai dari tidak punya apa-apa. Menyebutku terlalu tua padahal Ega berumur sama denganku adalah penghinaan ketika dia memilih untuk menebeng di belakang Ega. “Uban-ubanmu itu tidak bisa berbohong,” canda Nacinta malam itu. Tapi candaan itu melukai harga diriku, meski memang uban-uban itu seperti amoeba, yang membelah diri dengan cepat. Asal tahu saja, uban-uban itu adalah kaffarat dosa-dosa. Satu uban telah tertutup pula satu pintu dosa. Semakin banyak uban, aku semakin pendosa dan Tuhan semakin sayang kepadaku.

“Ada makhluk-makhluk misterius di Jaran Susang itu, Pring. Beberapa kesaksian menyebutkannya,” ujar Randal melanjutkan cerita. Di sisi kanan, laut lepas di selatan Sumbawa mulai terlihat. Ombaknya menunjukkan ciri khas ombak pantai selatan yang selalu bersemangat. Biru. Aku mengabaikan ucapan Randal itu sejenak dan membayangkan perahu-perahu barangkali pernah berlabuh di pantai dengan ombak seganas itu.

 

Aku masih berpikir bawah katak-katak itu bunuh diri. Hidup setelah reformasi sudah sedemikian kejam. Katak-katak itu pasti juga merasakan betapa peliknya kesenjangan perekonomian, harga-harga yang terus melambung tinggi melampaui angka inflasi di makroekonomi, atau kehidupan percintaan yang tak selalu mulus.

Aku bergidik membayangkan aku juga akan bunuh diri dengan cara yang sama seperti katak-katak itu. Dengan sengaja aku akan berdiri di tengah jalan, menanti mobil berkecepatan tinggi menabrakku, melindasku, dan aku mati. Ya, aku mati. Barangkali kematian lebih indah ketimbang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kita sudah mau sampai,” ujar Randal. Randal membelokkan motor ke kanan di sebuah pertigaan. Jalan kerikil yang baru basah karena hujan semalam digantikan  dengan pasir. Pasir itu membuat roda motor sulit beranjak, ketidaktepatan pengendaraan akan membuat roda semakin terperosok ke kedalaman pasir itu. “Turun, Pring, turun…” pinta Randal Patisamba. Dengan segera aku meloncat dari jok dan motor itu pun dapat bergerak lebih mudah.

Dua buah pohon menarik perhatianku. Banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Randal yang mengetahui ekspresiku segera berkata, “Itu pohon kupu-kupu, Pring. Kau mau jadi kupu-kupu?”

Tak kujawab pertanyaan itu dan tak kubahas lebih jauh maksudnya. Aku mengikuti langkah Randal di jalan setapak dan betapa, pemandangan yang kusaksikan selanjutnya adalah pantai terindah yang pernah kulihat selama hidupku. Hamparan pasir putih, ombak yang menari, dan batu karang mirip-mirip di Uluwatu menjadi lanskap sempurna yang diciptakan Tuhan. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Ia memamerkan senyum bintang lima yang membuat segala kecemasanku menguap dengan segera. Nacinta. Lebih melegakan karena tidak ada laki-laki di sekitarnya.

Nacinta adalah gadis tercantik di grup Adventurous Sumbawa, tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, atau lebih ke kakaknya. Kadang-kadang beginilah nasib hati bila sudah terjebak zona pertemanan. Friend zone. Tak seperti yang pernah diucapkan Shakhrukh Khan di Kuch-kuch Hota Hai, cinta adalah persahabatan.

Ketimbang pantai itu, langkah kakiku bergerak ke arah Nacinta terlebih dahulu. Dia dan beberapa teman perempuan yang lain sedang menyiapkan makan siang buat kami. Inilah menariknya Adventurous Sumbawa. Kami akan makan sama-sama di tempat tujuan sambil menikmati alam.

Beberapa bumbu sudah disiapkan, ikan-ikan yang sudah dibersihkan, kayu bakar yang sudah dikumpulkan, tetapi mataku tertuju pada sesuatu di dalam baskom kecil. Bentuknya lunak dengan sudah dipotong kecil-kecil. Aku penasaran dan bertanya kepada Nacinta, “Yang itu apa, Nacinta?”

“Oh ini, ini daging katak. Belum pernah coba? Enak lho,” jawab Nacinta santai sambil mencelupkan tangannya ke dalam baskom, menaburinya dengan garam, dan menguleninya dengan seksama.

Sesuatu bergerak mendesak dari dalam perutku.

Aku mendadak mual.