Tag Archives: cerpen haruki murakami

Cerpen Haruki Murakami: Hari yang Sempurna untuk Kanguru

Cerpen Haruki Murakami (Koran Tempo, 9 Juni 2013) dialihbahasakan oleh Habi Hidayat

ADA empat ekor kangguru di kandang—satu jantan, dua betina, dan satu ekor lagi adalah bayi kangguru yang baru lahir.

Aku dan pacarku berdiri di depan kandang kangguru. Kebun binatang ini tidak terlalu populer di pagi hari Senin seperti ini, jumlah binatangnya melebihi jumlah pengunjung. Tidak ada yang menarik di kebun binatang ini.

Hal yang menarik kami mendatangi kebun binatang ini adalah seekor bayi kangguru. Maksudku, apa lagi coba yang bisa dilihat di kebun binatang ini?

Sebulan sebelumnya, di sebuah rubrik di sebuah koran lokal, kami tak sengaja membaca sebuah pemberitahuan tentang lahirnya seekor bayi kangguru, dan sejak saat itulah kami sudah menunggu-nunggu sebuah pagi yang sempurna untuk mengunjungi bayi kangguru tersebut. Namun bagaimana pun juga, hari yang tepat tidak juga datang. Suatu pagi, turun hujan deras, dan kami cukup yakin hujan bakal turun lagi di hari-hari berikutnya, dan angin pun berembus-embus kencang untuk dua hari berturut-turut. Suatu pagi, pacarku mengeluh sakit gigi, dan di pagi yang lain aku punya urusan yang harus aku selesaikan di pusat kota. Aku tidak hendak membuat pernyataan yang dibesar-besarkan di sini, namun aku berani untuk mengatakan bahwa:

Inilah kehidupan.

Jadi bagaimana pun juga satu bulan itu waktu yang singkat.

Selama sebulan sesuatu bisa berlalu apa adanya. Aku tidak pernah benar-benar mengingat sesuatu yang sudah kulakukan selama sebulan. Sewaktu-waktu, seolah-olah aku sudah melakukan banyak hal, namun sewaktu-waktu yang lain aku merasa tidak menyelesaikan satu hal pun. Satu hal yang membuatku sadar kalau satu bulan telah berlalu adalah ketika lelaki yang mengantarkan koran harian datang ke rumah untuk menagih uang langganan.

Ya, itulah hidup.


Pada akhirnya, pagi yang kami tunggu-tunggu untuk melihat bayi kangguru datang juga. Kami bangun dari tidur pada pukul enam pagi, membuka gorden, dan yakin hari itu adalah hari yang sempurna untuk kangguru. Kami buru-buru membersihkan diri, sarapan, memberi makan kucing, buru-buru mencuci baju lalu mengenakan topi untuk menghalau sinar matahari, dan kami pun berangkat.

“Apa kau pikir bayi kangguru itu masih hidup?” pacarku bertanya saat kami di kereta.

“Aku yakin ia masih hidup. Tak ada satu berita pun yang mengabarkan bahwa bayi kangguru itu mati. Jika saja ia mati, aku yakin kita sudah membacanya di koran.”

“Mungkin saja tidak mati, tapi bisa saja ia sakit dan dirawat di rumah sakit.”

“Ya, tapi kalau pun itu terjadi, kita sudah membaca di koran.”

“Bagaimana jika kangguru itu ketakutan dan bersembunyi di sudut kandang?”

“Apa bayi kangguru punya rasa takut?”

“Bukan bayinya. Tapi ibunya! Mungkin ia mengalami trauma dan menyudutkan diri bersama bayinya di kandang yang gelap.”

Seorang wanita memang selalu memikirkan setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Trauma? Trauma macam apa coba yang bisa menyerang seekor kangguru?

“Jika aku tak melihat bayi kangguru hari ini, aku pikir aku tidak akan punya kesempatan untuk melihatnya lagi,” katanya.

“Kupikir juga begitu.”

“Maksudku, pernahkah kau melihat bayi kangguru?”

“Tidak, aku tak pernah melihatnya.”

“Apa kau yakin kau bakal punya kesempatan lain untuk melihat bayi kangguru?”

“Aku tak tahu.”

“Nah, karena itulah aku gelisah.”

“Ya, tapi dengar dulu,” kataku nyerocos balik. “Aku tak pernah melihat seekor jerapah melahirkan, atau bahkan melihat hiu yang berenang-renang. Jadi apa masalahnya dengan bayi kangguru?”

“Ya karena ia bayi kangguru,” katanya. “Karena itulah.”

Aku pun menyerah dan mulai membalik-balikkan halaman koran. Aku tidak pernah satu kali pun menang-argumen dengan seorang perempuan.

BAYI kangguru itu, sesuai perkiraan, masih hidup dan sehat, ia (entah jantan atau betina) terlihat tampak jauh lebih besar dibandingkan dengan gambarnya yang dimuat di koran, bahkan ia melompat-lompat di sekitar pagar kandang. Ia tak lagi seekor bayi kangguru, hanya kangguru mini. Pacarku pun kecewa.

“Ia bukan bayi lagi,” katanya.

“Tentu saja ia masih bayi,” kataku mencoba menghiburnya.

Aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan. Ia cuma menggelengkan kepala. Aku ingin berbuat sesuatu untuk menghiburnya, tapi apa pun yang kukatakan tidak bakal mengubah kenyataan bahwa si bayi kangguru ternyata sudah besar. Jadi aku cuma diam.

Aku bergegas menuju warung kudapan dan membeli dua cokelat es krim, dan ketika aku kembali ia masih bersandar menghadap kandang kangguru, menatap bayi kangguru itu lekat-lekat.

“Ia bukan lagi seekor bayi kangguru.”

“Kau yakin?” kataku seraya memberinya es krim.

“Seekor bayi kangguru mesti berada di kantung induknya.”

Aku mengangguk dan menjilat es krimku.

“Tapi yang ini tidak lagi berada di kantung induknya.”

Kami berusaha mengenali induk kangguru. Sang ayah, mudah untuk dilihat, ia tampak paling besar dan begitu tenang di antara lainnya. Layaknya seorang komposer yang bakatnya telah memudar, ia hanya diam saja, menatapi dedaunan yang menjadi makanannya. Dua kangguru lainnya adalah betina, terlihat dari bentuk, warna, dan air muka mereka. Salah satunya mesti ibu si bayi kangguru.

“Satu di antara dua kangguru itu mesti ibu si bayi, dan satu lagi bukan,” kataku berkomentar.

“Um.”

“Jadi yang mana yang bukan ibunya?”

“Aku tak tahu,” katanya.

Kami tak sadar bahwa ternyata bayi kangguru itu melompat-lompat di pagar kandang, lalu sesekali mengorek-ngorek tanah untuk alasan yang tidak jelas. Ia (entah jantan atau betina) tampaknya menemukan cara untuk membuat dirinya sibuk. Si bayi kangguru melompat-lompat di sekitar bapaknya berdiri, mengunyah sedikit dedaunan, dan mengorek-ngorek lumpur, mengganggu kangguru betina, lalu berbaring di tanah, berdiri lalu melompat-lompat lagi.

“Bagaimana bisa kangguru melompat-lompat begitu cepat?”

“Agar bisa melarikan diri dari musuh?”

“Musuh apa?”

“Manusia,” kataku. “Manusia membunuh mereka dengan bumerang dan menyantap mereka.”

“Kenapa bayi kangguru sanggup naik ke kantong ibunya?”

“Agar bayi kangguru bisa menyelamatkan diri bersama ibunya. Bayi kangguru tidak bisa berlari cepat.”

“Jadi mereka terlindungi?”

“Ya,” kataku. “Sang ibu melindungi anak-anaknya.”

“Berapa lama sang ibu melindungi anak-anaknya seperti itu?”

Aku sadar aku seharusnya membaca beberapa hal tentang kangguru di sebuah ensiklopedia sebelum kami bertamasya kecil seperti ini. Rentetan pertanyaan seperti ini memang sudah seharusnya aku perkirakan.

“Sebulan sampai dua bulan, aku bayangkan.”

“Tapi bayi itu cuma berumur sebulan sekarang,” katanya seraya menunjuk bayi kangguru. “Jadi mestinya ia masih di kantung ibunya.”

“Ya, aku pikir juga begitu.”

Matahari mengangkasa di atas kepala, dan kami tak bisa mendengar teriakan anak-anak di kolam renang di dekat kami. Sepotong awan putih melintasi kami.

Seorang pelajar tengah bekerja di warung hotdog yang dibentuk layaknya sebuah minivan dengan beberapa kotak pengeras suara yang mengedarkan alunan suara Stevie Wonder dan Billy Joel saat aku menunggu hotdog yang tengah dimasak.

Saat aku kembali ke kandang kangguru, pacarku buru-buru berkata, “Lihat!” menjerit, seraya menunjuk satu di antara kangguru betina. “Kau lihat, bukan? Bayi kangguru di kantong ibunya!”

Aku cukup yakin bayi kangguru itu sudah meringkuk di kantung ibunya (anggap saja kangguru betina itu adalah benar-benar ibunya). Kantung kangguru betina itu benar-benar terisi penuh, dan sepasang telinga mungil dan sepucuk ujung ekor mengintip dari balik kantungnya. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa dan benar-benar membuat tamasya kami tak sia-sia.

“Mungkin terasa berat membawa bayi kangguru di dalam kantung,” katanya.

“Jangan khawatir, kangguru itu hewan yang kuat.”

“Betul begitu?”

“Ya, tentu. Karena itulah mereka bertahan hidup.”

Meski hidup dengan panasnya matahari, ibu kangguru tidak menderita. Pacarku terlihat layaknya seorang perempuan yang baru saja menyelesaikan belanjaan sorenya di supermarket di sekitar wilayah Aoyama yang indah, dan tengah bersantai istirahat menikmati secangkir kopi di warung kopi.

“Ibu kangguru itu benar-benar melindungi bayinya, bukan?”

“Ya.”

“Aku bayangkan bayi kangguru itu tidur lelap.”

“Ya, mungkin saja.”

KAMI menyantap hotdog dan meminum kola seraya berjalan meninggalkan kandang kangguru.

Saat kami pergi, sang ayah kangguru masih menatapi makanannya seolah mencari sesuatu yang hilang. Sang ibu kangguru dan bayinya menyatu, istirahat di antara aliran waktu yang tenang, ketika satu kangguru misterius lainnya melompat-lompat di pagar seolah-olah ingin melarikan dirinya dari kandang.

Hari itu rupanya jadi hari yang panas, hari yang panas pertama bagi kami setelah beberapa waktu yang lama.

“Hei, kau ingin minum bir?” taya pacarku.

“Ayo.”(*)

 

Cerpen Haruki Murakami: The Wind Cave (Segera Diterjemahkan)

When I was fifteen, my younger sister died. It happened very suddenly. She was twelve then, in her first year of junior high. She had been born with a congenital heart problem, but since her last surgeries, in the upper grades of elementary school, she hadn’t shown any more symptoms, and our family had felt reassured, holding on to the faint hope that her life would go on without incident. But, in May of that year, her heartbeat became more irregular. It was especially bad when she lay down, and she suffered many sleepless nights. She underwent tests at the university hospital, but no matter how detailed the tests the doctors couldn’t pinpoint any changes in her physical condition. The basic issue had ostensibly been resolved by the operations, and they were baffled.

“Avoid strenuous exercise and follow a regular routine, and things should settle down soon,” her doctor said. That was probably all he could say. And he wrote out a few prescriptions for her.

But her arrhythmia didn’t settle down. As I sat across from her at the dining table I often looked at her chest and imagined the heart inside it. Her breasts were beginning to develop noticeably. Yet, within that chest, my sister’s heart was defective. And even a specialist couldn’t locate the defect. That fact alone had my brain in constant turmoil. I spent my adolescence in a state of anxiety, fearful that, at any moment, I might lose my little sister.

 

My parents told me to watch over her, since her body was so delicate. While we were attending the same elementary school, I always kept my eye on her. If need be, I was willing to risk my life to protect her and her tiny heart. But the opportunity never presented itself.

She was on her way home from school one day when she collapsed. She lost consciousness while climbing the stairs at Seibu Shinjuku Station and was rushed by ambulance to the nearest emergency room. When I heard, I raced to the hospital, but by the time I got there her heart had already stopped. It all happened in the blink of an eye. That morning we’d eaten breakfast together, said goodbye to each other at the front door, me going off to high school, she to junior high. The next time I saw her, she’d stopped breathing. Her large eyes were closed forever, her mouth slightly open, as if she were about to say something.

 

And the next time I saw her she was in a coffin. She was wearing her favorite black velvet dress, with a touch of makeup and her hair neatly combed; she had on black patent-leather shoes and lay face up in the modestly sized coffin. The dress had a white lace collar, so white it looked unnatural.

Lying there, she appeared to be peacefully sleeping. Shake her lightly and she’d wake up, it seemed. But that was an illusion. Shake her all you want—she would never awaken again.

I didn’t want my sister’s delicate little body to be stuffed into that cramped, confining box. I felt that her body should be laid to rest in a much more spacious place. In the middle of a meadow, for instance. We would wordlessly go to visit her, pushing our way through the lush green grass as we went. The wind would slowly rustle the grass, and birds and insects would call out all around her. The raw smell of wildflowers would fill the air, pollen swirling. When night fell, the sky above her would be dotted with countless silvery stars. In the morning, a new sun would make the dew on the blades of grass sparkle like jewels. But, in reality, she was packed away in some ridiculous coffin. The only decorations around her coffin were ominous white flowers that had been snipped and stuck in vases. The narrow room had fluorescent lighting and was drained of color. From a small speaker set into the ceiling came the artificial strains of organ music.

I couldn’t stand to see her be cremated. When the coffin lid was shut and locked, I left the room. I didn’t help when my family ritually placed her bones inside an urn. I went out into the crematorium courtyard and cried soundlessly by myself. During her all too short life, I’d never once helped my little sister, a thought that hurt me deeply.

After my sister’s death, our family changed. My father became even more taciturn, my mother even more nervous and jumpy. Basically, I kept on with the same life as always. I joined the mountaineering club at school, which kept me busy, and when I wasn’t doing that I started oil painting. My art teacher recommended that I find a good instructor and really study painting. And when I finally did start attending art classes my interest became serious. I think I was trying to keep myself busy so I wouldn’t think about my dead sister.

For a long time—I’m not sure how many years—my parents kept her room exactly as it was. Textbooks and study guides, pens, erasers, and paper clips piled on her desk, sheets, blankets, and pillows on her bed, her laundered and folded pajamas, her junior-high-school uniform hanging in the closet—all untouched. The calendar on the wall still had her schedule noted in her minute writing. Itwas left at the month she died, as if time had frozen solid at that point. It felt as if the door could open at any moment and she’d come in. When no one else was at home, I’d sometimes go into her room, sit down gently on the neatly made bed, and gaze around me. But I never touched anything. I didn’t want to disturb, even a little, any of the silent objects left behind, signs that my sister had once been among the living.

I often tried to imagine what sort of life my sister would have had if she hadn’t died at twelve. Though there was no way I could know. I couldn’t even picture how my own life would turn out, so I had no idea what her future would have held. But I knew that if only she hadn’t had a problem with one of her heart valves she would have grown up to be a capable, attractive adult. I’m sure many men would have loved her, and held her in their arms. But I couldn’t picture any of that in detail. For me, she was forever my little sister, three years younger, who needed my protection.

For a time, after she died, I drew sketches of her over and over. Reproducing in my sketchbook, from all different angles, my memory of her face, so I wouldn’t forget it. Not that I was about to forget her face. It will remain etched in my mind until the day I die. What I sought was not to forget the face I remembered at that point in time. In order to do that, I had to give form to it by drawing. I was only fifteen then, and there was so much I didn’t know about memory, drawing, and the flow of time. But one thing I did know was that I needed to do something in order to hold on to an accurate record of my memory. Leave it alone, and it would disappear somewhere. No matter how vivid the memory, the power of time was stronger. I knew this instinctively.

I would sit alone in her room on her bed, drawing her. I tried to reproduce on the blank paper how she looked in my mind’s eye. I lacked experience then, and the requisite technical skill, so it wasn’t an easy process. I’d draw, rip up my effort, draw and rip up, endlessly. But now when I look at the drawings I did keep (I still treasure my sketchbook from back then), I can see that they are filled with a genuine sense of grief. They may be technically immature, but they were the result of a sincere effort, my soul trying to awaken my sister’s. When I looked at those sketches, I couldn’t help crying. I’ve done countless drawings since, but never again has anything I’ve drawn brought me to tears.

My sister’s death had one other effect on me: it triggered a very severe case of claustrophobia. Since I saw her placed in that cramped little coffin, the lid shut and locked tight, and taken away to the crematorium, I haven’t been able to go into tight, enclosed places. For a long time, I couldn’t take elevators. I’d stand in front of an elevator and all I could think about was it automatically shutting down in an earthquake, with me trapped inside that confined space. Just the thought of it was enough to induce a choking sense of panic.

These symptoms didn’t appear right after my sister’s death. It took nearly three years for them to surface. The first time I had a panic attack was soon after I’d started art school, when I had a part-time job with a moving company. I was the driver’s assistant in a box truck, loading boxes and taking them out, and one time I got mistakenly locked inside the empty cargo compartment. Work was done for the day and the driver forgot to check if anyone was still in the truck. He locked the rear door from the outside.

About two and half hours passed before the door was opened and I was able to crawl out. That whole time I was locked inside a sealed, totally dark place. It wasn’t a refrigerated truck or anything, so there were gaps where air could get in. If I’d thought about it calmly, I would have known that I wouldn’t suffocate.

But, still, a terrible panic had me in its grip. There was plenty of oxygen, yet no matter how deeply I breathed I wasn’t able to absorb it. My breathing got more and more ragged and I started to hyperventilate. I felt dizzy. “It’s O.K., calm down,” I told myself. “You’ll be able to get out soon. It’s impossible to suffocate here.” But logic didn’t work. The only thing in my mind was my little sister, crammed into a tiny coffin and hauled off to the crematorium. Terrified, I pounded on the walls of the truck.

The truck was in the company parking lot, and all the employees, their workday done, had gone home. Nobody noticed that I was missing. I pounded like crazy, but no one seemed to hear. I knew that, if I was unlucky, I could be shut inside there until morning. At the thought of that, I felt as if all my muscles were about to disintegrate.

It was the night security guard, making his rounds in the parking lot, who finally heard the noise I was making and unlocked the door. When he saw how agitated and exhausted I was, he had me lie down on the bed in the company break room and gave me a cup of hot tea. I don’t know how long I lay there. But finally my breathing became normal again. Dawn was coming, so I thanked the guard and took the first train of the day back home. I slipped into my own bed and lay there, shaking like crazy for the longest time.

Ever since then, riding in elevators has triggered the same panic. The incident must have awoken a fear that had been lurking within me. I have little doubt that it was set off by memories of my dead sister. And it wasn’t only elevators but any enclosed space. I couldn’t even watch movies with scenes in submarines or tanks. Just imagining myself shut inside such confined spaces—merelyimagining it—made me unable to breathe. Often I had to get up and leave the theatre. That was why I seldom went to movies with anyone else.

When I was thirteen and my little sister was ten, the two of us travelled by ourselves to Yamanashi Prefecture during summer vacation. Our mother’s brother worked in a research lab at a university in Yamanashi and we went to stay with him. This was the first trip we kids had taken by ourselves. My sister was feeling relatively good then, so our parents gave us permission to travel alone.

Our uncle was single (and still is single, even now), and had just turned thirty, I think. He was doing gene research (and still is), was very quiet and kind of unworldly, though an open, straightforward person. He loved reading and knew everything about nature. He enjoyed taking walks in the mountains more than anything, which, he said, was why he had taken a university job in rural, mountainous Yamanashi. My sister and I liked our uncle a lot.

Backpacks on our backs, we boarded an express train at Shinjuku Station bound for Matsumoto, and got off at Kofu. Our uncle came to pick us up at Kofu Station. He was spectacularly tall, and even in the crowded station we spotted him right away. He was renting a small house in Kofu along with a friend of his, but his roommate was abroad so we were given our own room to sleep in. We stayed in that house for a week. And almost every day we took walks with our uncle in the nearby mountains. He taught us the names of all kinds of flowers and insects. We cherished our memories of that summer.

One day we hiked a bit farther than usual and visited a wind cave near Mt. Fuji. Among the numerous wind caves around Mt. Fuji this one was the largest. Our uncle told us about how these caves were formed. They were made of basalt, so inside them you heard hardly any echoes at all, he said. Even in the summer the temperature remained low; in the past people stored ice they’d cut in the winter inside the caves. He explained the distinction between the two types of caves: fuketsu, the larger ones that were big enough for people to go into, and kaza-ana, the smaller ones that people couldn’t enter. Both terms were alternate readings of the same Chinese characters meaning “wind” and “hole.” Our uncle seemed to know everything.

At the large wind cave, you paid an entrance fee and went inside. Our uncle didn’t go with us. He’d been there numerous times, plus he was so tall and the ceiling of the cave so low he’d end up with a backache. “It’s not dangerous,” he said, “so you two go on ahead. I’ll stay by the entrance and read a book.” At the entrance the person in charge handed us each a flashlight and put yellow plastic helmets on us. There were lights on the ceiling of the cave, but it was still pretty dark inside. The deeper into the cave we went, the lower the ceiling got. No wonder our lanky uncle had stayed behind.

My kid sister and I shone the flashlights at our feet as we went. It was midsummer outside—ninety degrees Fahrenheit—but inside the cave it was chilly, below fifty. Following our uncle’s advice, we were both wearing thick windbreakers we’d brought along. My sister held my hand tightly, either wanting me to protect her or else hoping to protect me (or maybe she just didn’t want to get separated). The whole time we were inside the cave that small, warm hand was in mine. The only other visitors were a middle-aged couple. But they soon left, and it was just the two of us.

My little sister’s name was Komichi, but everyone in the family called her Komi. Her friends called her Micchi or Micchan. As far as I know, no one called her by her full name, Komichi. She was a small, slim girl. She had straight black hair, neatly cut just above her shoulders. Her eyes were big for the size of her face (with large pupils), which made her resemble a fairy. That day she was wearing a white T-shirt, faded jeans, and pink sneakers.

After we’d made our way deeper into the cave, my sister discovered a small side cave a little way off the prescribed path. Its mouth was hidden in the shadows of the rocks. She was very interested in that little cave. “Don’t you think it looks like Alice’s rabbit hole?” she asked me.

My sister was a big fan of Lewis Carroll’s “Alice’s Adventures in Wonderland.” I don’t know how many times she had me read the book to her. Must have been at least a hundred. She had been able to read since she was little, but she liked me to read that book aloud to her. She’d memorized the story, yet, still, each time I read it she got excited. Her favorite part was the Lobster Quadrille. Even now I remember that part, word for word.

“No rabbit, though,” I said.

“I’m going to peek inside,” she said.

“Be careful,” I said.

It really was a narrow hole (close to a kaza-ana, in my uncle’s definition), but my little sister was able to slip through it with no trouble. Most of her was inside, just the bottom half of her legs sticking out. She seemed to be shining her flashlight inside the hole. Then she slowly edged out backward.

“It gets really deep in back,” she reported. “The floor drops off sharply. Just like Alice’s rabbit hole. I’m going to check out the far end.”

“No, don’t do it. It’s too dangerous,” I said.

“It’s O.K. I’m small and I can get out O.K.”

She took off her windbreaker, so that she was wearing just her T-shirt, and handed the jacket to me along with her helmet. Before I could get in a word of protest, she’d wriggled into the cave, flashlight in hand. In an instant she’d vanished.

A long time passed, but she didn’t come out. I couldn’t hear a sound.

“Komi,” I called into the hole. “Komi! Are you O.K.?”

There was no answer. With no echo, my voice was sucked right up into the darkness. I was starting to get concerned. She might be stuck inside the hole, unable to move forward or back. Or maybe she had had a convulsion in there and lost consciousness. If that had happened I wouldn’t be able to help her. All kinds of terrible scenarios ran through my head, and I felt choked by the darkness surrounding me.

If my little sister really did disappear in the hole, never to return to this world, how would I ever explain that to my parents? Should I run and tell my uncle, waiting outside the entrance? Or should I sit tight and wait for her to emerge? I crouched down and peered into the hole. But the beam from my flashlight didn’t reach far. It was a tiny hole, and the darkness was overwhelming.

“Komi,” I called out again. No response. “Komi,” I called more loudly. Still no answer. A wave of cold air chilled me to the core. I might lose my sister forever. Perhaps she had been sucked into Alice’s hole, into the world of the Mock Turtle, the Cheshire Cat, and the Queen of Hearts. A place where logic did not apply. We never should have come here, I thought.

But finally my sister did return. She didn’t back out like before but crawled out head first. Her black hair emerged from the hole first, then her shoulders and arms, and finally her pink sneakers. She stood in front of me, without a word, stretched, took a slow, deep breath, and brushed the dirt off her jeans.

My heart was still pounding. I reached out and tidied her dishevelled hair. I couldn’t quite make it out in the weak light inside the cave, but there seemed to be dirt and dust and other debris clinging to her white T-shirt. I put the windbreaker on her and handed her the yellow helmet.

“I didn’t think you were coming back,” I said, hugging her to me.

“Were you worried?”

“A lot.”

She grabbed my hand tightly. And, in an excited voice, she said, “I managed to squeeze through the narrow part, and then, deeper in, it suddenly got lower, and down from there it was like a small room. A round room, like a ball. The ceiling was round, the walls were round, and the floor, too. And it was so, so silent there, like you could search the whole world and never find any place that silent. Like I was at the bottom of an ocean, in a crater that went even deeper. I turned off the flashlight and it was pitch dark, but I didn’t feel scared or lonely. That room was a special place that only I’m allowed into. A room just for me. No one else can get there. You can’t go in, either.”

“ ’Cause I’m too big.”

My little sister bobbed her head. “Right. You’ve gotten too big to get in. And what’s really amazing about that place is that it’s darker than anything could ever be. So dark that when you turn off the flashlight it feels like you can grab the darkness with your hands. Like your body is gradually coming apart and disappearing. But since it’s dark you can’t see it happen. You don’t know if you still have a body or not. But even if, say, my body completely disappeared, I’d still be there. Like the Cheshire Cat’s grin staying on after he vanished. Pretty weird, huh? But when I was there I didn’t think it was weird at all. I wanted to stay there forever, but I thought you’d be worried, so I came out.”

“Let’s get out of here,” I said. She was so worked up it seemed as if she were going to go on talking forever, and I had to put a stop to that. “I can’t breathe well in here.”

“Are you O.K.?” my sister asked, concerned.

“I’m O.K. I just want to go outside.”

Holding hands, we headed for the exit.

“Do you know?” my sister said in a small voice as we walked, so no one else would hear (though there wasn’t anyone else around). “Alice really existed. It wasn’t made up. It was real. The March Hare, the Mad Hatter, the Cheshire Cat, the Playing Card soldiers—they all really exist.”

“Maybe so,” I said.

We emerged from the wind cave, back into the bright real world. There was a thin layer of clouds in the sky that afternoon, but I remember how terribly glaring the sunlight seemed. The screech of the cicadas was overpowering, like a violent squall drowning everything out. My uncle was seated on a bench near the entrance, absorbed in his book. When he saw us, he grinned and stood up.

Two years later, my sister died. And was put in a tiny coffin and cremated. I was fifteen, and she was twelve. While she was being cremated I went off, apart from the rest of the family, sat on a bench in the courtyard of the crematorium, and remembered what had happened in that wind cave: the weight of time as I waited for my little sister to come out, the thickness of the darkness enveloping me, the profound chill I felt. Her black hair emerging from the hole, then her shoulders. All the random dirt and dust stuck to her white T-shirt.

At that time, a thought struck me: that maybe, even before the doctor at the hospital officially pronounced her dead two years later, her life had already been snatched from her while she was deep inside that cave. I was actually convinced of it. She’d already been lost inside that hole, and left this world, but I, mistakenly thinking she was still alive, had put her on the train with me and taken her back to Tokyo. Holding her hand tightly. And we’d lived as brother and sister for two more years. But that was nothing more than a fleeting grace period. Two years later, death had crawled out of that cave to grab hold of my sister’s soul. As if her time were up, it was necessary to pay for what had been lent to us, and the owner had come to take back what was his.

Years later, as an adult, I realized that what my little sister had confided to me in a quiet voice in that wind cave was indeed true. Alice really does exist in the world. The March Hare, the Mad Hatter, the Cheshire Cat—they all really exist. ♦

(Translated, from the Japanese, by Philip Gabriel.)

 

Cerpen Haruki Murakami: Kino

Penerjemah Ika Yuliana. Sumber: Ceruk Aksara

LAKI-LAKI itu selalu duduk di tempat yang sama, di bangku terjauh di ujung meja bar. Ketika tempat itu kosong, tentu saja, tapi bangku itu nyaris tidak pernah ditempati. Barnya jarang penuh sesak, dan tempat duduk itu adalah yang paling tersembunyi sekaligus paling tidak nyaman. Tangga di belakangnya membuat atapnya miring dan rendah, jadi sulit sekali berdiri di sana tanpa membuat kepalamu terbentur. Laki-laki itu tinggi, tapi karena suatu alasan, memilih tempat yang menyempil dan sempit itu.

Kino ingat kali pertama laki-laki itu datang ke barnya. Penampilannya langsung menarik perhatian Kino—kepala gundul kebiruan, tubuh yang kurus tapi berbahu lebar, kilatan mata tajam, tulang pipi menonjol, dan kening yang lebar. Laki-laki itu tampaknya berumur tiga puluhan, dan dia mengenakan jas hujan panjang berwarna abu-abu meskipun tidak sedang turun hujan. Awalnya, Kino menganggap laki-laki itu anggota yakuza yang sedang berjaga di daerahnya. Waktu itu pukul 7.30, pada suatu malam yang dingin di bulan April, dan barnya sedang tak berpengunjung. Laki-laki itu memilih duduk di ujung meja bar, menanggalkan jas hujannya, memesan bir dengan suara pelan, kemudian membaca buku tebal dengan tenang. Setengah jam kemudian, birnya sudah habis, dia mengangkat tangannya satu atau dua inci untuk memanggil Kino, kemudian memesan wiski. “Merek apa?” tanya Kino, tapi laki-laki itu bilang dia tidak punya merek favorit. Continue reading Cerpen Haruki Murakami: Kino

Cerpen Haruki Murakami: Monyet Shinagawa

Penerjemah:  

Wanita itu kesulitan mengingat namanya sendiri. Biasanya masalah ini terjadi saat ada orang yang tiba-tiba menanyakan namanya. Di butik, misalnya. Saat hendak mengukur jahitan untuk gaunnya, pramuniagawati akan bertanya, “Nama Anda, Bu?” lalu sekejap pikirannya buyar. Ia mengakalinya dengan mengeluarkan surat izin mengemudi, lalu perlahan membaca tulisan yang tertera pada kolom nama—yang tentu agak aneh buat lawan bicaranya. Jika kejadian macam ini berlangsung di telepon, tanpa sadar ia menciptakan kecanggungan, harus merogoh dompetnya dulu hingga membuat orang lain bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di ujung sana.

Ia bisa ingat perkara-perkara lain. Ia tak pernah lupa nama orang lain di sekitarnya. Alamatnya sendiri, nomor telepon, tanggal lahir, dan nomor paspor bukanlah masalah. Ia bisa menyebutkan nomor telepon teman-temannya, juga milik beberapa klien penting. Dan saat ia sendiri yang mencoba mengingat-ingat namanya, ia selalu bisa. Selama ia tahu yang ia inginkan, memorinya baik-baik saja. Tapi dalam keadaan terburu-buru atau tidak siap, ingatannya bak sirkuit listrik yang korsleting. Makin ia berusaha, makin ia tak bisa mengingat namanya sendiri.

***

Namanya sekarang Mizuki Ando, nama gadisnya Ozawa. Tak satupun dari namanya unik atau keren, meski begitu ketidakunikan itu tetap tak dapat menjelaskan bagaimana namanya hilang dari memorinya. Dia telah menjadi Mizuki Ando selama tiga tahun, sejak menikahi pria bernama Takashi Ando. Pada awalnya, ia belum terbiasa memakai nama barunya. Nama itu tak terlihat dan terdengar cocok untuknya. Namun perlahan, setelah berungkali melafalkannya, ia mulai nyaman menggunakannya. Dibanding dengan kemungkinan nama-nama lain—Mizuki Mizuki, contohnya, atau Mizuki Miki (ia memang pernah pacaran sebentar dengan lelaki bernama Miki)—Mizuki Ando sebenarnya tak begitu buruk.

Saat ia mulai pikun soal namanya, usia pernikahannya telah menginjak dua tahun. Awalnya masalah ini memang cuma terjadi sebulan sekali, tapi lama-lama makin kerap. Sekarang, paling tidak ia lupa namanya sendiri seminggu sekali. Kalau dompetnya ada bersamanya, maka tidak masalah. Namun, jika satu hari ia kehilangan dompetnya, ia juga akan kehilangan dirinya sendiri, pikirnya. Sebenarnya, ia pun tak akan betul-betul menghilang—ia masih ingat alamat dan nomor teleponnya. Kasus ini tidak seperti adegan-adegan amnesia yang ada di film-film. Tapi tetap, fakta kau melupakan namamu sendiri memang menyedihkan. Hidup tanpa nama seperti terperangkap dalam mimpi yang tak kunjung usai.

Mizuki mengunjungi toko perhiasan, beli gelang sederhana, dan mengukir namanya di situ: “Mizuki (Ozawa) Ando.” Ia merasa seperti kucing atau anjing, tapi tetap saja, ia terus membawa gelang itu ke mana pun. Kalau tiba-tiba lupa namanya, yang perlu ia lakukan hanya melirik pergelangan tangannya. Tak perlu panik mencari SIM-nya, tak ada lagi orang yang menatapnya aneh.

Mizuki tak memberi tahu suaminya. Ia tahu suaminya hanya akan berpikir bahwa itu artinya ia tak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya sangat logis pada segala sesuatu. Bukannya bermaksud jahat, suaminya memang begitu—suka berteori. Suaminya juga cerewet, sekali mulai satu topik pembicaraan, dia akan terus mengoceh tanpa henti. Karena itu, Mizuki menyimpan semua masalah rapat-rapat. Tetap saja, pikirnya, perkataan suaminya—atau yang mungkin dikatakan kalau suaminya tahu masalahnya—kadang ada benarnya. Bukannya tak bahagia dengan pernikahannya, tapi suaminya terlalu rasional. Meski begitu, suaminya tak pernah menggerutu sedikitpun.

Baru-baru ini, Mizuki dan suaminya mengajukan kredit untuk membeli sebuah apartemen di Shinagawa. Suaminya, sekarang tiga puluh tahun, bekerja di laboratorium sebuah perusahaan farmasi. Usia Mizuki dua puluh enam tahun dan kini bekerja di sebuah dealer Honda, menjawab telepon, membuat kopi untuk calon pembeli, membuat salinan arsip, dan memperbarui database pembeli. Paman Mizuki, seorang eksekutif di Honda, menariknya setelah ia lulus dari sebuah perguruan tinggi khusus wanita di Tokyo. Tentu pekerjaan ini bukan pekerjaan idamannya, tapi setidaknya ia punya beberapa tanggungjawab, dan itu tak begitu buruk. Setiap para sales sedang keluar ia menggantikan mereka, dan Mizuki cukup piawai saat menjawab pertanyaan pembeli. Ia memperhatikan sales-sales itu saat bekerja, lalu menyerap semua informasi penting dengan cepat. Ia hafal perbandingan jarak yang bisa ditempuh oleh mobil-mobil yang ada di galeri dan bisa membuat siapa pun percaya bahwa Odyssey dapat dikendarai seperti minivan daripada seperti sedan pada umumnya. Mizuki juga pencengkerama handal, ia senantiasa memunculkan senyum kemenangan yang membuat pembeli merasa nyaman. Dia juga tahu cara halus mengarahkan pembicaraan ke topik-topik tertentu, pengetahuan ini ia dapat dari kesehariannya mengamati jenis karakter setiap pembelinya. Sayangnya, dia tak punya wewenang untuk memberi diskon, atau sekadar negosiasi tukar-tambah, atau menawarkan pilihan, jadi, jika calon pembeli sudah setuju untuk tanda tangan, akhirnya ia tetap mengembalikannya kepada sales, di mana sales itu lah yang mendapat komisi. Satu-satunya upah yang diterimanya hanya traktiran makan malam sekali-dua kali dari sales-sales yang kebagian jatah penjualan Mizuki.

Pernah terlintas di benaknya kalau saja ia diperbolehkan mengurusi transaksi, perusahaan dealer itu bisa menjual lebih banyak mobil. Sayangnya ide itu tak terpikirkan orang lain. Memang begitu cara perusahannya beroperasi: divisi penjualan mengurusi transaksi, staf administrasi mengurusi hal lain, dan, di saat-saat tertentu, batas-batas ini tak bisa diterobos. Tapi persoalan itu tak jadi masalah; Mizuki tidak ambisius dan memang tidak mencari jenjang karir. Ia nyaman bekerja delapan jam, berangkat jam sembilan pagi dan pulang jam lima sore, mengambil jatah liburan dan menikmati waktu senggangnya.

Saat bekerja, Mizuki masih menggunakan nama gadisnya. Untuk menggantinya, ia harus berurusan dengan segala hal merepotkan perihal sistem data di komputer. Karena itu, ia malas menggantinya. Untuk urusan pajak, statusnya pun terdaftar sebagai karyawati yang sudah menikah, tapi namanya belum diganti. Ia tahu ini bukan cara administrasi yang benar, tapi sejauh ini tak ada yang protes. Yang tertera di kartu namanya pun masih “Mizuki Ozawa.” Suaminya juga tahu, Mizuki masih memakai nama gadisnya saat bekerja (ia meneleponnya beberapa kali), tapi ia tak mempermasalahkannya. Suaminya paham, ini cuma soal nyaman-tidak nyaman. Selama ia melihat sisi logis dari segala hal yang dilakukan istrinya, ia takkan mengeluh. Pendek kata, ia lelaki yang tak banyak menuntut.

***

Mizuki khawatir, lupa nama sendiri barangkali gejala penyakit ganas, mungkin Alzheimer. Dunia memang dipenuhi penyakit mematikan yang sering datang tiba-tiba. Dia bahkan baru tahu kalau penyakit macam myasthenia dan Huntington benar-benar ada. Pasti di luar sana tak terhitung jumlah penyakit-penyakit yang belum pernah ia dengar, pikirnya. Penyakit seperti itu biasanya diawali gejala sepele. Sepele tapi tak biasa, seperti -lupa nama sendiri?

Ia ke rumah sakit dan menjelaskan masalahnya. Tapi dokter muda itu—tampak pucat dan lunglai, lebih terlihat seperti pasien daripada seorang dokter—tak serius menanggapi keluhan Mizuki. “Begini, jadi apa Ibu juga lupa hal-hal lain selain nama Ibu?” tanya dokter itu. “Nggak,” jawabnya. “Sekarang sih, baru nama saja.” “Hmm. Sepertinya ini terdengar seperti kasus psikiatrik,” kata dokter itu, suaranya tak menyiratkan ketertarikan atau simpati. “Barangkali kalau Ibu mulai lupa hal-hal lain, silakan kembali lagi. Kami bisa melakukan serangkaian tes untuk Ibu.” Saat ini kami sedang banyak pasien yang penyakitnya lebih serius dari Ibu, mungkin itu maksud sebenarnya.

Satu hari di surat kabar untuk distrik lokal, Mizuki membaca sebuah artikel pengumuman pembukaan pusat konseling di kantor distrik. Artikel itu terselempit artikel lain, sesuatu yang biasanya ia lewatkan. Pusat konseling itu akan buka dua kali sebulan dan diisi para konselor profesional yang menawarkan sesi privat berbiaya murah. Penduduk Shinagawa yang berusia di atas delapan belas tahun dipersilakan menggunakan layanan ini dan dijamin kerahasiaannya. Awalnya, Mizuki meragukan kualitas segala hal yang dimiliki pemerintah, tapi apa salahnya mencoba. Kantornya sibuk di akhir pekan, tapi izin kerja sehari dalam seminggu bukanlah hal sulit. Kini ia bisa menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal pusat konseling, di mana kurang memungkinkan bagi pekerja lain. Biaya untuk satu sesi berdurasi tiga puluh menit adalah dua ribu yen, bukan jumlah yang besar untuknya.

Saat tiba di pusat konseling, Mizuki sadar dia adalah satu-satunya klien. “Sebetulnya, program ini agak mendadak,” jelas resepsionis. “Kebanyakan orang belum tahu. Begitu orang tahu, kami pasti jadi lebih sibuk.”

Konselornya bernama Tetsuko Sakaki, seorang wanita gemuk berusia kira-kira akhir empat puluhan. Rambut pendeknya dicat coklat terang, wajah lebarnya dilingkari senyum yang senantiasa menenangkan. Ia mengenakan setelan musim panas berwarna pucat, blus sutera berkilau, kalung mutiara sintetis, dan sepasang sepatu hak rendah. Ia terlihat lebih cocok seperti ibu-ibu rumah tangga yang gemar menebar sapa di pagi hari daripada seorang konselor.

“Suami saya bekerja di kantor distrik,” katanya memperkenalkan diri. “Dia kepala seksi di Dinas Pekerjaan Umum. Makanya kami dapat dukungan dari kantor distrik dan membuka pusat konseling ini. Kebetulan, Anda klien pertama kami. Saya tak punya janji lain hari ini, jadi santai saja, kita bisa bicara dari hati ke hati.” Wanita itu berujar dalam kecepatan yang terukur; semua yang ia ucapkan mengalir pelan dan terdengar terencana.

“Senang berjumpa dengan Ibu,” kata Mizuki. Padahal, saat itu Mizuki bertanya-tanya apa benar orang macam dia bisa membantunya.

“Tak perlu khawatir, saya punya gelar di bidang konseling dan segudang pengalaman,” wanita itu seperti bisa membaca pikiran Mizuki.

Bu Sakaki duduk di balik meja logam polos. Mizuki duduk di atas sofa kuno yang terlihat seperti baru saja diangkut dari gudang penyimpanan. Pegas-pegasnya tak lagi responsif, bau apeknya membuat hidung Mizuki berkedut-kedut.

Mizuki bersandar ke belakang dan mulai menjelaskan kesialannya. Bu Sakaki mengangguk senada. Ia tak bertanya, juga tak sedikitpun terlihat terkejut. Ia mendengarkan Mizuki dengan saksama, dan, kecuali sesekali mengerut seolah-olah ia sedang menimbang sesuatu, wajahnya tetap tak berubah; senyum samarnya, bak bulan musim semi saat senja, tak tergoyah.

“Mengukir nama di gelang itu ide bagus, lho,” komentar Bu Sakaki setelah Mizuki selesai menjelaskan. “Saya suka cara Anda mengatasinya. Tujuan awalnya memang memberikan solusi praktis, meminimalisir ketidaknyamanan. Lebih baik mencari solusi realistis daripada mengeluh, kan? Saya lihat, Anda lumayan pintar. Dan, yah, gelang itu bagus. Cocok sekali dengan Anda.”

“Menurut Anda lupa nama sendiri ada hubungannya dengan penyakit ganas?” tanya Mizuki.

“Saya ragu ada penyakit yang gejalanya lupa nama sendiri,” kata Bu Sakaki. “Saya agak khawatir. Dari cerita Anda, gejalanya sudah semakin parah setahun belakangan. Asumsi saya, bisa jadi gejala ini mengarah ke gejala berikutnya, atau hilangnya memori soal nama mungkin bisa menyebar ke memori lain. Jadi, mari kita selangkah demi selangkah mencari awal mula masalahnya.”

Bu Sakaki mulai dengan menanyakan beberapa pertanyaan mendasar soal kehidupan Mizuki. “Sudah berapa lama menikah?” “Seperti apa pekerjaan Anda?” “Bagaimana kesehatan Anda secara umum?” Ia lalu bertanya mengenai masa kecilnya, keluarganya, sekolahnya. Hal-hal yang ia sukai, dan hal-hal yang kurang ia sukai. Hal-hal di mana ia menonjol, dan hal-hal yang menjadi kelemahannya. Mizuki menjawab setiap pertanyaan sejujur-jujurnya.

Mizuki tumbuh di keluarga biasa. Ayahnya bekerja untuk perusahaan asuransi, dan meski orang tuanya tidak begitu kaya, mereka tak pernah kesulitan soal uang. Ayahnya orang yang serius; ibunya di sisi lain adalah orang yang halus meski sesekali mengomel. Kakak perempuannya selalu jadi juara kelas, kendati Mizuki tak pernah mengakuinya. Tetap saja, Mizuki tak bermasalah dengan keluarganya. Mereka tak pernah berkelahi. Mizuki sejak dahulu tidak butuh perhatian lebih. Ia tak pernah jatuh sakit. Ia tak mempermasalahkan penampilannya, meski tiada seorang pun yang pernah memujinya cantik. Ia menilai dirinya lumayan pintar, dan selalu berada lebih dekat di peringkat atas kelas daripada peringkat bawah, tapi ia juga tak unggul-unggul amat di mata pelajaran apapun. Ia punya beberapa teman dekat, tapi kebanyakan dari mereka sudah menikah dan pindah ke luar kota, dan sekarang mereka jarang berkabar satu sama lain.

Ia tak mengatakan apapun seputar perkawinannya. Di masa-masa awal perkawinannya, ia dan suaminya memang membuat kesalahan-kesalahan yang sewajarnya dilakukan pasangan muda, tapi seiring berjalannya waktu mereka bisa menyesuaikan satu sama lain. Suaminya memang tak sempurna, tapi punya berbagai kelebihan: baik, bertanggungjawab, bersih, mau makan apa pun, dan tak pernah mengeluh. Ia juga menjalin hubungan baik dengan kolega dan atasan-atasannya.

Sepanjang menjawab pertanyaan, Mizuki tersentak oleh kenyataan betapa membosankannya hidupnya. Tak satupun peristiwa dramatis pernah menyentuhnya. Jika hidupnya adalah sebuah film, filmnya lebih seperti film dokumenter beranggaran terbatas yang dijamin akan membuatmu tidur seketika. Hamparan lanskap pemandangan meregang hingga horizon, terus berulang, tak ada habisnya. Tak ada pergantian adegan, closeup, konflik, atau sesuatu yang menginspirasi. Mizuki tahu benar, memang tugas konselor untuk mendengarkan keluhan kliennya, tapi ia kasihan pada perempuan yang mendengarkan cerita hidupnya. Jika kami bertukar tempat dan harus mendengarkan cerita seperti ini, pikir Mizuki, aku sudah terjungkal di jurang kebosanan yang terlampau curam.

Meski begitu, Tetsuko Sakaki tetap mendengarkan saksama keluhan Mizuki, sambil sesekali membuat catatan kecil. Saat mulai bicara, suaranya tak menyiratkan kebosanan sama sekali, malah terasa hangat dan menunjukkan perhatian yang tulen. Mizuki tenggelam dalam ketenangan yang asing. Ia sadar, tidak seorangpun pernah mendengarkan ceritanya setelaten itu. Waktu sesi itu selesai, setelah satu jam berlalu, Mizuki merasa seperti satu beban terangkat dari pundaknya.

“Bu Ando bisa datang di jam yang sama Rabu depan?” tanya Bu Sakaki tersenyum lebar.

“Bisa,” jawab Mizuki. “Ibu tak keberatan, kan?”

“Nggak, lah. Selama Anda masih tertarik, sih. Butuh banyak sesi untuk melihat progresnya. Ini bukan seperti acara-acara curhat di radio dan penyiar menyuruh si penelepon menunggu sebentar, lalu langsung diberi solusi. Pelan-pelan saja, kita nikmati sesi-sesi kita ke depan.”

***

“Punya memori yang ada hubungannya dengan nama-nama?” tanya Bu Sakaki di sesi kedua. “Nama Anda, nama orang lain, nama binatang peliharaan, nama tempat yang pernah Anda kunjungi, atau nama julukan, barangkali? Kalau punya, ceritakan pada saya. Bisa dimulai dengan hal sepele, selama ada hubungannya dengan nama. Silakan coba ingat-ingat.”

Mizuki berpikir untuk beberapa saat.

“Setelah dipikir-pikir, saya tak punya ingatan tertentu yang berhubungan dengan nama,” katanya. “Setidaknya belum, sih. Oh, tunggu… ada ding. Sebuah papan nama.”

“Sebuah papan nama. Bagus.”

“Tapi bukan punya saya,” kata Mizuki. “Punya orang lain.”

“Tidak apa-apa,” balas Bu Sakaki. “Coba ceritakan.”

“Saya sudah singgung minggu lalu, saya sekolah di sekolah swasta khusus perempuan saat SMP dan SMA,” Mizuki mengawali. “Rumah saya di Nagoya dan sekolah saya di Yokohama, jadi saya tinggal di asrama dan pulang tiap akhir pekan. Saya pulang naik Shinkansen di hari Jumat dan kembali ke sekolah Minggu malam. Hanya dua jam ke Nagoya, jadi saya tak begitu kesepian.”

Bu Sakaki mengangguk. “Bukannya banyak sekolah swasta bagus di Nagoya? Kenapa jauh-jauh ke Yokohama?”

“Kebetulan itu sekolah ibu saya dan dia kepengin salah satu putrinya sekolah di sana juga. Saya pikir lumayan enak kalau jauh dari orang tua. Sekolah saya dikelola misionaris, tapi lumayan bebas. Saya punya beberapa teman dekat di sana. Kebanyakan seperti saya—berasal dari tempat berbeda di mana ibu kami juga dulu sekolah di sana. Saya enam tahun di sana. Secara umum, sih, saya menikmatinya. Sayang, makanannya tidak enak.”

Bu Sakaki tersenyum. “Anda bilang, Anda punya kakak perempuan?”

“Ya betul. Dia dua tahun di atas saya.”

“Kenapa bukan dia saja yang sekolah di sana?”

“Dia anak rumahan, dan yah, penyakitan. Jadi dia memilih sekolah dekat rumah. Saya pikir, kalau dibandingkan, saya jauh lebih independen. Begitu saya lulus SD, orang tua meminta saya sekolah di Yokohama, saya langsung jawab oke. Naik Shinkansen tiap akhir pekan ternyata menyenangkan, lho.

“Sewaktu di asrama, saya punya teman sekamar. Tapi begitu jadi senior, saya diberi kamar sendiri. Kebetulan saya dipilih jadi perwakilan asrama. Setiap siswi di asrama punya papan nama yang digantung di dekat pintu masuk asrama. Bagian depan papan nama itu tertulis nama dengan warna hitam, sedangkan bagian belakangnya berwarna merah. Setiap keluar, Anda harus membalik papan nama Anda, kemudian membaliknya lagi saat kembali. Jadi, waktu nama yang tertera berwarna hitam, orang itu sedang berada di dalam asrama; tapi kalau warnanya merah, Anda jadi tahu orang itu sedang di luar. Kalau mau menginap di luar, atau barangkali mau pergi beberapa hari, Anda harus mencopot papan nama Anda dari gantungan. Begitulah sistem kenyamanan kami. Para siswi punya giliran jaga di resepsionis dan kalau ada panggilan telepon, kami tinggal melirik ke arah gantungan untuk mengecek keberadaan para siswi.

“Ngomong-ngomong, peristiwa ini terjadi di bulan Oktober. Satu hari sebelum makan malam, saat saya di kamar mengerjakan pekerjaan rumah, adik kelas saya Yuko Matsunaka tiba-tiba menemui saya. Dia perempuan yang paling cantik di asrama kami—kulitnya putih, rambutnya panjang, wajahnya macam barbie. Orang tuanya punya losmen yang lumayan terkenal di Kanazawa jadi saya pikir sih keluarganya cukup berada. Kami tidak sekelas, makanya saya kurang yakin, tapi konon nilainya bagus-bagus. Dengan kata lain, sepertinya dia cukup pintar. Siswi-siswi lain memujanya. Tapi Yuko sendiri orangnya ramah dan tidak sombong sedikitpun. Dia lumayan pendiam, jarang menunjukkan perasaanya. Karena itu, sulit menebak isi pikirannya. Meski banyak junior tergila-gila padanya, tapi saya kasihan, temannya sedikit.”

Waktu Mizuki membuka pintu kamarnya, Yuko Matsunaka berdiri di depan pintu, mengenakan sweater turtleneck ketat dan celana jeans. “Punya waktu sebentar? Kalau boleh aku mau ngomong sesuatu,” tanya Yuko. “Boleh,” kata Mizuki terkejut. “Aku lagi nggak ngapa-ngapain sih.” Meski ia kenal Yuko, sebelumnya Mizuki tak pernah bicara empat mata dengannya, dan tak pernah terpikir olehnya Yuko minta nasehatnya, apalagi mengenai persoalan pribadi. Mizuki mempersilakannya duduk sambil menyeduh teh dengan air panas dari termosnya.

“Mizuki, kau pernah cemburu?” kata Yuko tiba-tiba.

Mizuki dikagetkan oleh pertanyaan itu, tapi ia tetap mencoba menjawab serius.

“Hmm belum sih,” jawabnya.

“Sekalipun?”

Mizuki menggelengkan kepalanya. “Duh, bagaimana ya. Kalau kau tanya tiba-tiba begitu, aku nggak kepikiran. Cemburu yang seperti apa maksudmu?”

“Seperti saat kau sayang seseorang, tapi dia sayang orang lain. Seperti ada sesuatu yang kau inginkan, tapi orang lain mengambilnya lebih dulu. Atau ada sesuatu yang kurang mahir kau lakukan, tapi orang lain dengan mudah bisa melakukannya… yah kira-kira seperti itu lah.”

“Kok aku nggak pernah ya,” kata Mizuki. “Kamu pernah?”

“Sering.”

Mizuki bingung memilih kata. Bagaimana bisa gadis sesempurna Yuko ingin sesuatu yang lebih di hidupnya? Ia cantik, kaya, pintar, dan populer. Orang tuanya juga memanjakannya. Mizuki pernah dengar gosip kalau pacar Yuko adalah seorang mahasiswa, ganteng pula. Jadi, kira-kira apa lagi yang masih kurang?

“Kalau sering, kapan? Coba ceritakan,” tanya Mizuki.

“Tak perlu,” kata Yuko berhati-hati memilih kata-katanya. “Lagipula, dijelaskan panjang-panjang juga percuma. Sebetulnya aku cuma mau tanya aja sih—siapa tahu kau pernah cemburu.”

Mizuki tak tahu apa yang Yuko inginkan darinya, tapi ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Yuko sejujur mungkin. “Kupikir aku tak pernah mengalami cemburu,” ulangnya. “Aku tak tahu kenapa, dan mungkin ini agak aneh buatmu. Maksudku, ini bukan seolah-olah aku begitu percaya diri atau bisa mendapatkan semua yang kuinginkan. Sebenarnya, banyak persoalan yang seharusnya membuatku frustasi, tapi, biar bagaimanapun, persoalan itu tak membuatku cemburu pada orang lain. Aku sendiri juga bingung.”

Yuko Matsunaka tersenyum samar. “Menurutku, rasa cemburu tidak ada sangkut-pautnya pada keadaan-keadaan obyektif tertentu—seperti kalau sedang bahagia maka kau tak merasakannya, tapi kalau hidup sedang tak memberkatimu barulah cemburu datang padamu. Cemburu tak sesederhana itu. Cemburu seperti daging tumbuh yang menggerogotimu sedikit demi sedikit, lama-lama daging itu membesar dan semakin membesar tanpa alasan yang jelas. Sekalipun kau tahu rasa itu ada di sana, kau tak mungkin bisa menghentikannya.”

Mizuki mendengarkan Yuko dengan saksama. Yuko tak pernah berbicara sepanjang ini sebelumnya.

“Sulit sih menafsirkan cemburu pada orang yang belum pernah merasakannya,” lanjut Yuko. “Satu hal yang kutahu, tak mudah menjalani hidup bila dipenuhi rasa cemburu. Seperti membawa neraka kecil ke mana pun, hari demi hari. Kau seharusnya bersyukur belum pernah cemburu.”

Yuko berhenti bicara dan menutup penjelasannya dengan senyuman kecil. Ia memang sungguh cantik, pikir Mizuki. Bagaimana rasanya menjadi perempuan seperti Yuko—sangat cantik sampai-sampai semua kepala berpaling padamu ke mana pun kau pergi? Apa itu sesuatu yang kau banggakan? Atau kecantikan malah seperti beban buatmu? Kendati begitu, Mizuki tak pernah sekalipun cemburu pada Yuko.

“Aku pulang ya,” kata Yuko, memandangi tangannya di pangkuannya. “Saudaraku meninggal dan aku harus ke pemakamannya. Aku sudah izin ke kepala asrama. Senin pagi aku sudah kembali, kok. Tapi, sebelumnya apa kau keberatan kalau kutitipkan papan namaku padamu?”

Ia mengeluarkan papan nama miliknya dari sakunya dan memberikannya pada Mizuki.

“Aku nggak keberatan sih,” kata Mizuki. “Tapi kenapa harus dititipkan padaku? Kenapa tak kau taruh saja di laci?”

Yuko menelan tatapan Mizuki. “Aku cuma ingin menitipkannya padamu,” katanya. “Ada sesuatu yang menggangguku, dan aku malas menyimpannya di kamarku.”

“Oke,” kata Mizuki.

“Aku takut ada monyet yang mencurinya saat aku pergi,” kata Yuko.

“Monyet? Mana ada monyet di sekitar sini,” kata Mizuki. Tapi saat itu raut Yuko tidak sedang bercanda. Sesaat kemudian Yuko keluar, meninggalkan papan namanya, secangkir teh yang belum diminum, dan kekosongan yang aneh di tempat tadi ia berada.

***

“Senin pagi, Yuko tak kembali ke asrama,” jelas Mizuki ke Bu Sakaki. “Guru kelasnya khawatir, jadi dia menelepon orang tuanya. Ternyata, Yuko tidak pernah sampai rumah. Tak satu pun anggota keluarganya meninggal, jadi tidak ada upacara pemakaman. Itu artinya, cerita dia ke saya bohong semua, kan? Hampir seminggu kemudian, pihak sekolah menemukan tubuhnya tergeletak. Saya juga baru dengar pada hari Minggu setelahnya, waktu saya kembali dari Nagoya. Konon dia mengiris pergelangan tangannya di hutan. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Dia juga tak meninggalkan wasiat. Teman sekamarnya bilang kalau sebelum bunuh diri, dia kelihatan seperti biasa, tak seperti orang yang dirundung masalah. Yuko bunuh diri tanpa bilang apa pun ke semua orang.”

“Tapi bukannya Yuko mencoba mengisyaratkan sesuatu?” tanya Bu Sakaki. “Saat dia datang ke kamar dan menitipkan papan namanya. Lalu dia juga bicara soal… cemburu.”

“Betul dia bicara soal cemburu. Saya juga kurang ngeh pada awalnya, tapi kemudian saya baru sadar pasti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan ke orang lain sebelum bunuh diri.”

“Pernah cerita ke orang lain kalau Yuko mendatangi Anda malam itu?”

“Tidak, saya merahasiakannya.”

“Kenapa?”

Mizuki memiringkan kepalanya lalu memikirkan sesuatu. “Kalau bilang-bilang ke orang, yang ada hanya makin memperkeruh kebingungan. Menurut saya, tak ada seorang pun yang bisa mengerti.”

“Maksud Anda, Yuko bunuh diri karena cemburu?”

“Kurang lebih. Seperti yang saya bilang, gadis seperti Yuko mau cemburu sama siapa sih? Semua orang sedang kacau waktu itu. Jadi saya putuskan, lebih baik saya menyimpan rahasia ini sendiri saja. Bisa Anda bayangkan suasana asrama kami saat itu—bicara sedikit tentang Yuko seperti memantik korek di ruangan penuh gas elpiji.”

“Dan papan nama Yuko?”

“Ada di saya. Di kotak kardus di dalam lemari. Saya simpan bersama papan nama saya.”

“Kenapa Anda simpan?”

“Keadaan di sekolah makin memburuk jadi saya tak sempat mengembalikannya. Semakin lama menunggu, semakin sulit untuk mengembalikannya begitu saja. Saya juga tak sampai hati kalau mau buang. Lalu, saya pikir mungkin Yuko memang sengaja minta saya menyimpan papan namanya. Kenapa dia pilih saya, saya kurang tahu.”

“Barangkali Yuko tertarik pada Anda karena satu atau dua hal. Mungkin ada sesuatu dalam diri Anda yang menyita perhatiannya.”

“Entahlah.”

Bu Sakaki terdiam, menatap Mizuki beberapa saat seperti mencoba memastikan sesuatu.

“Di samping itu, Anda memang tak pernah cemburu?”

Mizuki tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Saya kok nggak merasa pernah ya. Tentu banyak orang yang lebih beruntung dari saya. Tapi bukan berarti saya lantas cemburu pada mereka. Saya kira hidup setiap orang memang ditakdirkan berbeda.”

“Dan karena hidup orang ditakdirkan berbeda, hidup bukan untuk dibanding-bandingkan?”

“Saya rasa begitu.”

“Pola pikir yang menarik,” kata Bu Sakaki sambil melipat tangannya di atas meja, suaranya yang tenang mengkhianati segenap kegirangan yang terbentuk di ruangan itu. “Jadi itu artinya, Anda takkan pernah bisa memahami rasa cemburu?”

“Kurang lebih saya paham penyebab perasaan cemburu muncul. Tapi, begitulah, saya tidak tahu kira-kira seperti apa sih rasanya saat cemburu—bagaimana cara kita menghadapi cemburu, berapa lama rasa itu bertahan, seberapa banyak kita menderita karenanya.”

***

Begitu Mizuki sampai di rumah, ia memeriksa lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak kardus di mana ia menyimpan papan nama Yuko, juga papan namanya. Benda-benda memorabilia lawas Mizuki disatukan dalam kotak tersebut—surat-surat, buku diari, album foto, dan kartu-kartu laporan. Ia memang berencana membuang benda-benda tertentu, tapi tak pernah sempat untuk memilah-milah satu-persatu, jadi ia selalu membawa kotak kardus itu ke mana pun ia pindah tempat tinggal. Tapi saat itu, meski seberapa keras ia mencari, ia tak menemukan amplop tempat ia menyimpan papan namanya. Ia bingung. Ia yakin pernah melihat amplop itu di dalam kardus saat pertama kali pindah ke apartemen barunya. Semenjak itu, ia juga tak pernah membuka kotak kardus tersebut. Jadi, amplop itu seharusnya ada di dalam. Di mana lagi kalau bukan di dalam sana?

***

Mizuki merahasiakan sesi konselingnya dari suaminya. Ia tak bermaksud jahat, tapi menjelaskan kondisinya ke suaminya bisa berbuah lebih banyak masalah. Selain itu, kenyataan bahwa Mizuki lupa namanya sendiri lalu pergi seminggu sekali ke konselor sebenarnya takkan membuat suaminya terganggu sama sekali.

Mizuki juga merahasiakan hilangnya papan nama miliknya dan Yuko. Ia menyimpulkan, hal itu takkan membuat perbedaan signifikan pada sesi konselingnya jika Bu Sakaki tak tahu.

Dua bulan berlalu. Setiap Rabu, Mizuki mendatangi kantor distrik untuk konseling. Jumlah klien di sana mulai bertambah, Bu Sakaki terpaksa mengurangi jatah sesi Mizuki dari satu jam menjadi tiga puluh menit. Meski begitu, toh kini mereka lebih saling mengerti satu sama lain, jadi waktu bukan lah masalah. Kadang-kadang, Mizuki berharap mereka bisa bicara lebih lama, tapi, mengingat biayanya yang murah, ia tak bisa mengeluh.

“Ini pertemuan kita yang kesembilan,” kata Bu Sakaki, lima menit sebelum pertemuan berakhir. “Anda masih sering lupa nama sendiri, tapi kondisinya tak memburuk, kan?”

“Untungnya tidak,”

“Bagus,” kata Bu Sakaki. Ia mengembalikan pulpen hitamnya ke saku kemejanya lalu mengepal erat tangannya di atas meja. Kemudian ia diam sebentar. “Barangkali—barangkali, lho—minggu depan akan ada kemajuan pesat terkait masalah Anda.”

“Maksudnya, tentang saya lupa nama sendiri?”

“Betul. Kalau sesuai rencana, seharusnya minggu depan saya sudah tahu penyebabnya, bahkan bisa memperlihatkannya kalau Anda bersedia.”

“Penyebab utama saya lupa nama saya?”

“Tepat sekali.”

Mizuki kurang bisa menangkap maksud Bu Sakaki. “Tadi Anda bilang memperlihatkan penyebab utamanya… maksudnya, sesuatu yang bisa dilihat?”

“Oh, jelas kelihatan,” kata Bu Sakaki sambil mengusap tangannya puas. “Saya belum bisa bilang apa-apa sampai minggu depan. Untuk saat ini, saya juga belum yakin rencana saya bisa berjalan lancar atau tidak. Saya harap sih, semua baik-baik saja.”

Mizuki mengangguk.

“Bagaimanapun juga, kita sudah banyak jatuh bangun menyelesaikan masalah ini, tapi syukurlah akhirnya semua ini mengarah ke sebuah solusi. Anda tahu, pepatah mengatakan, hidup itu tiga langkah maju dan dua langkah mundur? Jadi jangan khawatir. Percaya pada saya, dan Anda tunggu tanggal mainnya. Lalu, jangan lupa membuat janji baru begitu Anda keluar lewat resepsionis nanti,” tukas Bu Sakaki diselingi sebuah kedipan.

***

Sepekan berikutnya, saat Mizuki memasuki ruangan konseling, Bu Sakaki menyambutnya dengan senyum terlebar yang pernah ia lihat seumur hidupnya.

“Saya sudah tahu penyebab masalah Anda,” umumnya bangga. “Juga solusinya.”

“Jadi, saya tidak akan lupa nama saya lagi?” tanya Mizuki.

“Dijamin. Anda tidak akan lupa nama Anda lagi. Misteri terpecahkan.”

Bu Sakaki mengambil sesuatu dari tas kecil miliknya dan meletakkannya di atas meja. “Saya yakin, ini milik Anda.”

Mizuki bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja Bu Sakaki. Di atas meja tergeletak dua papan nama. “Mizuki Ozawa” tertulis di salah satunya, “Yuko Matsunaka” di papan yang lain. Mizuki mendadak pucat. Ia kembali ke sofa dan duduk terdiam untuk beberapa saat. Ia melekapkan kedua telapak tangannya ke arah mulut seperti mencegah kata-kata yang tak diinginkan tercecer dari mulutnya.

“Saya sih tidak heran Anda kaget,” kata Bu Sakaki. “Tapi tak usah takut.”

“Bagaimana Anda bisa…” kata Mizuki.

“Menemukan papan nama Anda?”

Mizuki mengangguk.

“Saya mencarikannya untuk Anda,” kata Bu Sakaki. “Dua bilah papan itu dicuri dan itulah mengapa Anda lupa nama Anda.”

“Tapi, siapa yang…”

“Masuk ke rumah Anda, mencuri dua papan nama, dan untuk apa tujuannya?” kata Bu Sakaki. “Lebih baik Anda tanya langsung ke pelakunya.”

“Pelakunya di sini?” tanya Mizuki terkaget-kaget.

“Oh jelas. Kami berhasil menangkapnya dan menyita papan nama Anda. Tapi, sebenarnya bukan saya sih yang menangkapnya. Suami saya dan anak buahnya yang terjun langsung. Ingat kan, saya pernah bilang suami saya kepala seksi di Dinas PU?”

Mizuki mengangguk tanpa berpikir.

“Jadi, mari bertemu pelakunya. Anda bisa bicara empat mata.”

Mizuki membuntuti Bu Sakaki keluar dari ruangan konseling, turun ke lobi, lalu memasuki lift. Mereka turun ke lantai bawah tanah kemudian berjalan melalui koridor panjang yang tampak tak terurus, hingga menuju pintu yang berada di ujung.

Di dalam, berdiri seorang pria kurus, tinggi, kira-kira berusia lima puluhan, dan seorang pria yang berbadan lebih besar, kira-kira pertengahan dua puluhan, keduanya mengenakan kemeja seragam kerja berwarna hijau khaki terang. Di dada pria yang lebih tua tersemat papan nama yang terbaca “Sakaki”; sedangkan yang lebih muda “Sakurada.” Sakurada sedang membawa sebuah tongkat polisi berwarna hitam.

“Bu Ando, ya?” tanya Pak Sakaki. “Saya Yoshio Sakaki, suaminya Bu Tetsuko. Dan ini Pak Sakurada, beliau kerja bersama saya.”

“Senang bertemu dengan Anda,” kata Mizuki.

“Apa dia merepotkanmu?” Bu Sakaki bertanya pada suaminya.

“Nggak, kupikir dia semacam menyerahkan dirinya pada situasi,” kata Pak Sakaki. “Sakuradasejak pagi menjaganya, dan sebetulnya dari tadi kelakuannya biasa saja. Kalau begitu, mari kita lanjutkan.”

Ada satu pintu lain di bagian belakang ruangan itu. Pak Sakurada membukanya dan menghidupkan lampu. Ia menengok sebentar ke seluruh sisi ruangan, lalu kembali menghadap yang lainnya. “Aman,” katanya. “Silakan masuk.”

Mereka memasuki sebuah ruangan, semacam gudang kecil; di dalamnya hanya terdapat satu kursi, seekor monyet duduk di atasnya. Tubuhnya termasuk besar untuk ukuran monyet—lebih kecil dari manusia dewasa, tapi lebih besar dari, katakanlah, anak SD. Rambutnya sedikit lebih panjang dari monyet-monyet kebanyakan, dan juga beruban. Sulit menebak usianya, tapi yang jelas ia tak lagi muda. Kedua tangan dan kaki monyet itu diikat pada kursi kayu yang ia duduki, ekor panjangnya terkulai di lantai. Begitu Mizuki masuk, monyet itu menatap matanya, lalu kembali menunduk ke tanah.

“Monyet?” Mizuki terkejut.

“Betul,” jawab Bu Sakaki. “Monyet ini lah yang mencuri papan nama Anda dari apartemen Anda, kira-kira saat Anda mulai lupa nama sendiri.”

Aku takut ada monyet yang mencurinya, Yuko sendiri pernah mengatakannya. Jadi saat itu Yuko memang tidak sedang bercanda, Mizuki baru sadar. Sensasi ngeri tiba-tiba menjalar liar di sekujur tulang belakangnya.

“Maafkan aku,” kata monyet, suaranya rendah tapi terdengar hidup. Sangat hidup, sampai-sampai seperti ada sejentik kualitas musik yang terkandung di dalamnya.

“Dia bisa bicara!” teriak Mizuki terkejut, ia tampak tolol.

“Lalu kenapa kalau bisa bicara?” balas monyet itu, mimik mukanya tak berubah. “Ada hal lain yang harus kuakui. Saat masuk apartemenmu, aku cuma berniat mengambil papan nama, tapi aku lapar jadi aku mengambil dua buah pisang yang tergeletak di atas meja. Maaf ya, tapi dua pisang itu sepertinya sayang kalau sampai kulewatkan.”

“Bajingan! Lancang sekali, ya,” kata Pak Sakurada, sambil menepuk-nepukkan tongkat polisinya ke telapak tangannya beberapa kali. “Siapa tahu ada lagi barang lain yang dia curi? Kita bakar saja dia untuk cari tahu.”

“Santai dulu,” kata Pak Sakaki. “Pengakuannya soal pisang itu sukarela, lho. Selain itu, sejak tadi dia juga tak melawan. Buat sekarang, jangan bertindak ekstrim dulu sampai kita mengerti kejadian yang sebenarnya. Kalau ada yang tahu kita menganiaya binatang di wilayah kantor, bisa-bisa kita kena masalah.”

“Kenapa kau mencuri papan namaku?” tanya Mizuki pada si monyet.

“Kenapa? Memang itu yang kulakukan,” jawab monyet itu. “Aku ini monyet yang mengambil nama manusia. Itu adalah penyakit yang kuderita. Sekalinya mataku tertuju pada sebuah nama, aku bisa gila. Bukan sembarang nama, ya, kuperingatkan. Kalau ada nama yang menarik perhatianku, aku harus mengambilnya. Aku tahu itu salah, tapi aku tak bisa mengontrol diriku sendiri.”

“Jadi kau juga, yang mau ambil papan nama Yuko?”

“Benar. Aku benar-benar cinta mati pada Matsunaka. Seumur hidupku, aku belum pernah setertarik itu pada seseorang. Namun jika aku gagal memilikinya, paling tidak aku harus punya namanya. Begitu sudah punya namanya, baru aku bisa puas. Sayangnya, sebelum aku berhasil melakukannya, Yuko terlanjur mati.”

“Apa kau ada sangkut pautnya dengan kematian Yuko?”

“Yang benar saja,” kata monyet itu sambil menggeleng kepalanya penuh empati. “Aku tak melakukan apapun. Dia hanya terlalu dikuasai kegelapan yang berasal dari dalam dirinya sendiri.”

“Tapi bagaimana kau bisa tahu, setelah selama ini, papan nama Yuko ada padaku?”

“Butuh waktu lama untuk menyadarinya. Segera setelah Matsunaka mati, aku berniat mengambil papan namanya dari gantungan, tapi tak kutemukan. Tak seorang pun tahu keberadaan papan nama itu. Aku mencarinya ke sana ke mari, tapi tetap tak ketemu. Waktu itu, sama sekali nggak kepikiran kalau Matsunaka bakal menitipkan papan namanya padamu, karena kupikir kalian tidak begitu dekat.”

“Memang nggak,” potong Mizuki.

“Tapi suatu hari aku dapat inspirasi kalau mungkin—masih kemungkinan—dia memberikannya padamu. Menyelidiki keberadaanmu memang lama dan melelahkan. Hingga kira-kira musim semi tahun lalu, akhirnya aku tahu kau sudah menikah, dan sekarang namamu Mizuki Ando, lalu kau tinggal di sebuah apartemen di Shinagawa. Menjadi seekor monyet, artinya memperlambat proses investigasi macam itu, kau bisa bayangkan. Pokoknya, begitulah, akhirnya aku berhasil mencurinya.”

“Tapi kenapa papan namaku harus kau curi juga? Kenapa nggak cuma ambil milik Yuko? Aku menderita karena kelakuanmu!”

“Aku benar-benar menyesal,” kata monyet seraya menjatuhkan kepalanya dalam rasa malu. “Begitu aku melihat nama yang kusuka, aku pasti mengambilnya. Yah, agak memalukan sih, tapi namamu benar-benar menggerakkan hatiku, lho. Seperti yang kubilang, ini sebuah penyakit. Kau tahu, aku tidak bisa dengan mudahnya menahan nafsu menggebu-gebu yang muncul sesukanya. Aku sadar itu salah, tapi tetap kulakukan. Aku benar-benar minta maaf atas semua masalah yang kusebabkan.”

“Monyet ini bersembunyi di kanal-kanal pembuangan di daerah Shinagawa,” potong Bu Sakaki. “Jadi saya minta suami saya agar rekan kerjanya yang lebih muda bisa menangkapnya.”

“Sakurada yang paling banyak berkontribusi,” ujar Pak Sakaki.

“Dinas PU memang harus selalu siaga mengawasi saluran-saluran pembuangan kita dari makhluk-makhluk seperti ini,” kata Sakurada bangga. “Dan rupanya, monyet ini punya markas di bawah Takanawa untuk menjalankan operasinya di seluruh Tokyo.”

“Kau pikir saja, tak ada tempat bagi kami di kota,” kata si monyet. “Sekarang pohon tinggal sedikit, juga tempat teduh saat matahari sedang panas-panasnya. Kalau kami keluar ke permukaan, orang-orang akan memburu kami. Anak-anak kecil melempari kami atau menembaki kami dengan senapan BB mereka. Anjing-anjing juga mengejar kami. Lalu kru stasiun televisi bisa tiba-tiba muncul dan menyoroti kami dengan lampu yang menyilaukan. Jadi, yah, mau tidak mau kami sembunyi di bawah tanah.”

“Bu, bagaimana Anda bisa tahu monyet ini sembunyi di got bawah tanah?” tanya Mizuki pada Bu Sakaki.

“Banyak hal yang akhirnya menjadi jelas di mata saya,” ujar Bu Sakaki. “Kurang lebih, bisa dibilang ini seperti kabut yang mulai terangkat. Saya sadar pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan pencurian nama, dan apapun bentuknya pasti bersembunyi di bawah tanah. Yah, kemungkinan terbatas macam itu—kalau bukan di stasiun bawah tanah ya di got. Jadi saya bilang ke suami saya kalau ada sesuatu yang, kalau pun bukan manusia, tinggal di saluran-saluran itu, lalu minta dia memeriksanya. Dan, benar kan? Dia tahu-tahu membawa monyet ini.”

Mizuki sekejap tak sanggup berkata-kata. “Tapi… bagaimana mungkin hanya mendengarkan celotehan saya, Anda langsung paham hal-hal macam itu?” ia akhirnya membuka mulut.

“Mungkin bukan tempat saya, sebagai suaminya, untuk bicara seperti ini,” sela Pak Sakaki dibarengi sorot mata yang serius, “Istri saya ini orang sakti. Selama dua puluh tahun kami bersama, saya sering melihat kejadian aneh. Makanya saya benar-benar mengusahakan supaya istri saya bisa membuka pusat konseling di kantor ini. Saya yakin, selama ia diberi tempat agar bisa menggunakan kesaktiannya untuk kebaikan, penduduk Shinagawa lah yang akan menuai untungnya.”

“Lalu, bagaimana nasib monyet ini selanjutnya?”

“Tak bisa dibiarkan hidup,” celetuk Sakurada sambil lalu. “Apapun yang dia bilang aku tak percaya. Yang namanya kebiasaan buruk itu, suatu saat pasti kembali lagi. Jangan percaya pada janji dia akan berubah. Sekali saja dia begini, maka ke depannya…”

“Tunggu dulu,” potong Pak Sakaki. “Apapun alasan kita, kalau sampai kelompok pecinta binatang tahu kita membunuh seekor monyet, kita bakal tak bisa berkelit. Apalagi kalau orang-orang mulai komplain, semua bisa kacau balau. Kau ingat waktu kita membantai gagak-gagak itu, ujung-ujungnya bagaimana? Saya sih maaf-maaf saja ya, kalau harus mengulang kejadian macam itu.”

“Kumohon, jangan bunuh aku,” kata monyet yang malang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Yang kuperbuat memang salah. Aku tak menyangkalnya, tapi beberapa hal baik juga berasal dari perbuatanku.”

“Hal baik macam apa yang mungkin dihasilkan dari mencuri nama orang?” tanya Pak Sakaki pedas.

“Aku memang mencuri nama orang. Tapi, dengan melakukannya, aku secara tak langsung membuang beberapa elemen negatif yang menempel pada nama-nama yang kucuri. Bukannya sesumbar, tapi kalau saja dulu aku berhasil mencuri papan nama Yuko Matsunaka, bisa jadi sekarang dia masih hidup.”

“Maksudmu?” tanya Mizuki.

“Kalau aku mengambil namanya, barangkali aku bisa sekalian mengambil beberapa kegelapan yang mengendap dalam dirinya,” jawab si monyet.

“Apa-apaan, sih,” kata Sakurada. “Aku tak percaya. Nyawa monyet ini sudah di ujung tanduk—tentu dia sedang melakukan segala cara buat membenarkan perbuatannya.”

“Hmm. Mungkin ya, mungkin tidak,” ujar Bu Sakaki sambil melipat kedua tangannya. “Bisa jadi ada benarnya.” Bu Sakaki menoleh ke arah monyet itu. “Waktu mencuri nama, kau tadi sempat bilang kau juga mengambil elemen baik dan buruk sekaligus?”

“Begitulah,” jawab monyet. “Tapi aku tak bisa pilih salah satu saja. Harus keduanya, utuh, seperti apa adanya.”

“Baiklah—memangnya apa saja hal-hal buruk yang dibawa namaku?” tanya Mizuki pada monyet.

“Wah, sebaiknya aku tak usah bilang,”

“Beri tahu aku,” Mizuki memaksa. Ia diam sejenak. “Kalau kau menjawab pertanyaanku, aku akan memaafkanmu. Dan aku akan meminta semua yang ada di sini untuk memaafkanmu.”

“Kau sungguh-sungguh?”

“Apabila monyet ini berkata jujur, maukah Anda memaafkannya?” Mizuki bertanya pada Pak Sakaki. “Secara alamiah, dia bukan binatang jahat, kan? Hanya saja, menurut saya ia terlanjur menderita. Jadi kita dengar bersama-sama penuturannya kemudian terserah saja, silakan bawa dia ke Gunung Takao dan membebaskannya. Saya pikir monyet ini tak akan mengganggu kita lagi. Pendapat Anda?”

“Saya sih tak apa-apa, selama Anda juga tak keberatan,” kata Pak Sakaki. Ia berbalik ke arah monyet. “Kalau kami melepaskanmu di gunung, kau berani sumpah tidak akan menapakkan kakimu sejengkal pun ke perbatasan kota Tokyo?”

“Yes, Sir. Aku berani sumpah tak akan kembali,” ujar monyet itu lembut. “Aku juga berjanji tidak akan membuat onar lagi. Lagipula, aku juga sudah tua, jadi kupikir ini tentu jadi awal baru dalam hidupku.”

“Baiklah, sekarang, lebih baik kau mulai ceritakan kejelekan-kejelekan yang tersangkut di namaku” pinta Mizuki, tatapanya menusuk tajam ke mata monyet yang mungil kemerahan itu.

“Kalau kuceritakan, nanti kau terluka.”

“Aku nggak peduli. Buruan.”

Untuk beberapa saat, si monyet berpikir keras hingga timbul garis-garis kerutan tegas yang melintang panjang pada dahinya. “Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kau tak perlu mendengarnya, sih,” katanya.

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku benar-benar ingin tahu.”

“Oke. Kalau begitu, aku akan cerita,” kata monyet. “Ibumu tak menyayangimu. Bisa dibilang, ia nggak pernah menyayangimu, tak semenit pun, bahkan sejak kau lahir dari rahimnya sendiri. Aku tak tahu kenapa, tapi memang begitu kenyataannya. Kakak perempuanmu juga dari dulu benci padamu. Ibumu mengirimmu sekolah ke Yokohama hanya karena ia tak ingin melihat rupa wajahmu berkeliaran di bawah atap yang sama dengannya. Sebisa mungkin, ia ingin membuangmu sejauh-jauhnya. Sebenarnya, kalau boleh jujur ayahmu bukan lah orang jahat, tapi ia bukan tipe ayah yang bisa kau andalkan, dan lagi, dia tidak cukup tegas untuk berdiri membelamu. Karena alasan-alasan ini, sedari kecil kau tak pernah memperoleh kasih sayang yang cukup. Kupikir seharusnya kau sudah punya firasat soal ini sejak lama, tapi kau terlanjur sengaja memalingkan matamu jauh-jauh dari kepahitan ini. Kau, pun, mengunci seluruh kenyataan menyakitkan ini dalam-dalam di suatu tempat kecil yang gelap di antara ujung dan pangkal hatimu lalu menutupnya rapat-rapat hingga kau sendiri kesulitan menggapainya, apalagi membukanya. Kau selalu berusaha menekan semua perasaan negatif yang seketika muncul begitu saja. Seribu kuda-kuda bertahan yang telah kau siapkan untuk melawan hal-hal seperti ini juga sudah menjadi bagian yang terlanjur menyatu dengan dirimu sekarang. Karenanya, kau tumbuh menjadi seseorang yang tidak pernah bisa benar-benar mencintai orang lain secara tulus dan ikhlas.”

Mizuki hanya terdiam kaku.

“Pernikahanmu terlihat bahagia dan bebas dari masalah. Dan barangkali memang begitu adanya. Tapi kau tak pernah benar-benar mencintai suamimu, kan? Bahkan kalau suatu saat kau punya anak nanti, kupikir keadaannya tak akan banyak berubah.”

Mizuki tetap diam seribu bahasa. Ia jatuh tersungkur ke lantai lalu menutup matanya. Ia merasakan seluruh tubuhnya mencoba memisahkan diri satu sama lain, tercerai berai sesuai kehendaknya masing-masing. Kulitnya, organ-organnya, tulang-tulangnya, semuanya berangsur remuk satu demi satu. Satu-satunya yang bisa ia dengar hanya suara nafasnya sendiri.

“Kontol! Mulutmu benar-benar keterlaluan, monyet!” kata Sakurada. “Bos, aku muak sekali. Kita habisi saja hewan ini!”

“Tahan dulu,” kata Mizuki. “Kata-kata monyet ini memang benar adanya. Saya sudah sadar sejak lama, tapi saya sendiri selalu berusaha menutup mata dan telinga. Dia mengatakan yang sebenarnya, jadi tolong, maafkan dia. Bawa dia ke gunung dan biarkan saja dia bebas di sana.”

Bu Sakaki dengan lembut menaruh tangannya di atas pundak Mizuki. “Benar, Anda baik-baik saja?”

“Saya tak apa-apa, yang penting nama saya kembali. Mulai sekarang, saya akan menjalani hidup apa adanya. Biar bagaimanapun, ini nama saya, ini hidup saya.”

***

Sewaktu Mizuki mengucap salam perpisahan kepada monyet itu, ia memberikan papan nama Yuko Matsunaka padanya sebagai kenang-kenangan.

“Kau yang seharusnya menyimpannya, bukan aku,” katanya. “Jaga baik-baik namanya. Dan, jangan pernah curi nama orang lain lagi.”

“Tentu. Aku takkan pernah mencuri lagi, janji,” kata monyet itu dengan raut serius.

“Ngomong-ngomong, kau tahu motivasi Yuko menitipkan papan namanya padaku? Kenapa dia memilihku?”

“Entahlah, aku juga bingung,” jawabnya. “Tapi, karenanya, kau dan aku bisa bertemu, kan? Kurasa ini yang disebut, takdir selalu bergerak dengan cara-cara misterius.”

“Mungkin saja,” balas Mizuki.

“Tapi, benarkah apa yang kusampaikan menyakitimu?”

“Menurutmu?”

“Maaf ya. Padahal aku tak berniat menyampaikannya padamu, kan?”

“Tak apa. Jauh di dalam sana, aku sudah tahu. Sebenarnya memang hal itu lah yang suatu hari nanti mau tidak mau harus kuhadapi.”

“Yah, mendengarnya saja aku lega, lho,” kata si monyet.

“Bye bye,” pamit Mizuki. “Sepertinya kita nggak bakal ketemu lagi.”

“Jaga dirimu,” jawabnya. “Terima kasih telah menyelamatkan nyawa yang tak berharga ini.”

“Sebaiknya batang hidungmu itu jangan sampai terlihat lagi di sekitar Shinagawa,” kata Sakurada memperingatkan, sambil menepuk-nepukkan tongkat polisinya ke telapak tangannya. “Kau mungkin beruntung hari ini karena Bos menyuruhku membebaskanmu, tapi kalau suatu hari aku menangkapmu lagi, kupastikan kau takkan keluar dari sini hidup-hidup.”

***

“Oke, kalau begitu apa yang akan kita bahas di sesi minggu depan?” tanya Bu Sakaki pada Mizuki sambil mereka berjalan menuju pusat konseling. “Masih punya masalah yang perlu didiskusikan?”

Mizuki menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Terima kasih banyak, berkat Anda masalah saya terselesaikan.”

“Anda tak merasa perlu mendiskusikan ucapan monyet tadi?”

“Tak usah, harusnya saya bisa menanganinya sendiri. Saya akan coba mereflesikan masalah itu sendiri sementara waktu.”

Bu Sakaki mengangguk. “Kalau memang Anda mau memikirkannya,” katanya, “saya yakin ke depannya hal itu akan banyak manfaatnya.”

Dua wanita itu berjabat tangan lalu berpamitan.

Sesampainya di rumah, Mizuki mengambil papan nama dan gelang miliknya dan memasukannya ke dalam sebuah amplop coklat. Ia lalu menaruh amplop itu ke dalam kotak kardus di dalam lemarinya. Akhirnya ia kembali mendapatkan namanya kembali dan bisa melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Selanjutnya, mungkin segalanya akan baik-baik saja. Mungkin juga tidak. Setidaknya sekarang ia kembali memiliki namanya, sebuah nama yang memang miliknya, dan miliknya seorang.

***

Cerpen di atas dapat dibaca di The New Yorker. Diterjemahkan oleh Philip Gabriel dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris.

Listening to : The Grateful Dead – Scarlet Begonias

Cerpen Haruki Murakami: Lenyapnya Si Gajah

Cerita yang ditulis Haruki Murakami berjudul “The Elephant Vanishes” ini dimuat di The New Yorker, 18 November 1991, sepanjang sembilan halaman.
Lenyapnya Si Gajah

Aku membaca perihal si gajah yang lenyap dari kandangnya di surat kabar. Jam weker membangunkan aku hari itu, seperti biasanya, pada pukul 6:13. Aku beranjak menuju dapur, menyiapkan kopi dan roti panggang, menyalakan radio, membuka lebar-lebar lembaran surat kabar di atas meja dapur. Lalu seraya mengunyah, aku teruskan membaca. Aku adalah salah satu dari orang-orang yang biasa membaca surat kabar dari depan ke belakang, secara berurutan. Karena itu, butuh waktu yang lama hingga akhirnya aku membaca berita tentang si gajah yang lenyap. Halaman utama surat kabar dipenuhi oleh berita tentang SDI dan sengketa dagang dengan Amerika. Setelahnya aku menyelisik berita nasional, politik internasional, ekonomi, surat pembaca, ulasan buku, iklan perumahan, laporan olahraga, dan akhirnya berita daerah.

 

Artikel mengenai si gajah adalah tajuk utama di bagian berita daerah. Judul yang ditulis besar-besar- tidak seperti biasanya- menarik perhatianku: GAJAH HILANG DI PINGGIRAN KOTA TOKYO, dan di bawahnya, diketik dalam huruf berukuran lebih kecil, Ketakutan Warga Meningkat, Sejumlah Pihak Melakukan Pencarian. Terdapat foto beberapa polisi tampak memeriksa kandang gajah yang kosong. Tanpa gajah, tempat itu terlihat ganjil. Terlihat lebih besar daripada yang seharusnya, hampa dan kosong seperti raksasa kerontang yang baru saja dicabut isi tubuhnya.

Sambil menyeka remah roti, aku terus mempelajari setiap baris dari artikel itu. Hilangnya si gajah pertama kali diketahui pada tanggal 18 Mei, pukul dua siang, -kemarin- ketika pekerja perusahaan katering sekolah mengantar truk berisi makanan seperti biasanya (si gajah seringnya menyantap sisa makan siang murid-murid sekolah dasar setempat). Di atas tanah, masih terkunci, belenggu baja yang digunakan untuk mengekang kaki belakang si gajah tergeletak, seolah si gajah meloloskan dirinya begitu saja. Si gajah bukanlah satu-satunya yang lenyap. Turut lenyap bersamanya, seorang pawang, lelaki yang selama ini bertanggung jawab atas si gajah.

Menurut artikel yang kubaca, terakhir kali si gajah dan pawangnya terlihat sekitar pukul lima pada hari sebelumnya (17 Mei) oleh beberapa murid sekolah dasar setempat yang tengah mengunjungi si gajah untuk menggambar sketsanya dengan krayon. Murid-murid ini adalah saksi terakhir yang melihat si gajah, menurut surat kabar, karena si pawang selalu menutup gerbang kandang gajah setiap sirene pukul enam berbunyi.

Baik si gajah maupun pawangnya tak menampakkan gelagat yang aneh, menurut kesaksian seorang murid yang tak disebutkan namanya. Si gajah tampak berdiri di tempat biasa, di tengah-tengah kandang, kadangkala menggoyangkan belalainya ke kiri dan ke kanan atau menyipitkan sepasang matanya yang keriput. Si gajah telah teramat tua sehingga setiap gerakan yang dilakukannya tampak memerlukan usaha yang luar biasa- terlalu tua dan rapuh sehingga orang-orang yang baru melihatnya untuk pertama kali bisa jadi merasa takut kalau-kalau si gajah akan tumbang dan mengembuskan napas terakhirnya.

Usia si gajah yang menyebabkan kota ini mengadopsinya setahun yang lalu. Ketika kesulitan keuangan memaksa kebun binatang swasta kecil di pinggir kota untuk menutup pintu usahanya, seorang agen satwa liar berkeliling ke penjuru negeri mencari tempat bagi hewan-hewan penghuni kebun binatang yang terancam tak berumah. Tetapi sepertinya semua kebun binatang telah memiliki banyak gajah, dan tak satupun bersedia menampung benda tua lemah yang kapan saja bisa mati akibat serangan jantung tiba-tiba itu. Dan lalu, setelah teman-temannya pergi, si gajah tetap tinggal sendirian di kebun binatang yang perlahan melapuk hingga kira-kira empat bulan lamanya tanpa ada hal berarti yang bisa dilakukannya- memang sih dari dulu juga si gajah tak melakukan apa-apa.

Kejadian ini menyebabkan banyak kesulitan, baik bagi pihak kebun binatang maupun pemerintah kota. Kebun binatang telah menjual tanahnya kepada pengembang yang memiliki rencana untuk membangun gedung kondominium yang menjulang, dan pemerintah kota telah mengeluarkan ijin. Semakin lama masalah si gajah ini dibiarkan tanpa penyelesaian, semakin besar jumlah pajak sia-sia yang harus dibayar oleh pihak pengembang. Meski begitu, membunuh si gajah sama sekali bukan pilihan. Mungkin saja, jika yang sedang dibicarakan ini adalah seekor monyet atau kelelawar, tetapi pembunuhan seekor gajah akan terlalu sulit untuk ditutup-tutupi, dan kalau sampai ketahuan, dampaknya akan sangat luar biasa. Setelah beragam pihak bertemu untuk membicarakan masalah ini, mereka merumuskan sebuah kesepakatan disposisi bagi si gajah tua:

  1. Pihak kota akan mengambil alih hak kepemilikan si gajah tanpa ongkos apapun.
  2. Pihak pengembang akan, tanpa kompensasi, menyediakan lahan bagi kandang si gajah.
  3. Bekas pemilik kebun binatang akan bertanggung jawab atas gaji pawang gajah.

Dari awal, aku telah menaruh perhatian pada masalah si gajah ini, dan aku menyimpan sebuah buku berisi kliping setiap pemberitaan yang bisa kutemukan. Bahkan, aku mengikuti debat dewan kota atas masalah ini. Maka dari itu, aku dapat memberikan informasi penuh dan akurat mengenai kejadian ini. Dan meskipun catatanku ini sepertinya cukup panjang, aku memilih untuk menuliskannya di sini, mungkin saja penanganan masalah si gajah sebelumnya ternyata berkaitan langsung dengan peristiwa lenyapnya si gajah.

Ketika negosiasi yang dilakukan oleh walikota telah mencapai kesepakatan- dengan keputusan bahwa pihak kota akan bertanggung jawab atas si gajah- gerakan perlawanan bergejolak dari dalam jajaran partai oposisi (yang keberadaannya tak pernah aku ketahui hingga saat itu). “Mengapa pihak kota harus mengambil alih hak kepemilikan gajah itu?” tanya mereka pada walikota, dan mereka mengajukan beberapa pokok tuntutan (aku mohon maaf atas daftar ini, tetapi aku membuatnya agar lebih mudah dimengerti):

  1. Masalah mengenai gajah adalah urusan pihak pengusaha swasta- kebun binatang dan pengembang; tidak ada alasan bagi pihak kota untuk ikut campur.
  2. Biaya perawatan dan makan akan sangat tinggi.
  3. Apa yang akan walikota lakukan terkait dengan masalah keamanan?
  4. Apa keuntungan yang akan didapatkan jika kota ini memiliki gajah sendiri?

“Kota ini telah memiliki banyak sekali tanggung jawab yang harus diselesaikan sebelum menambahinya dengan memelihara seekor gajah- perbaikan selokan, pembelian mobil pemadam kebakaran yang baru, dan lain-lain,” ujar kelompok oposisi, dan meskipun tidak secara terang-terangan menyatakannya, mereka memberi isyarat bahwa kemungkinan telah terjadi semacam kesepakatan rahasia antara walikota dan pihak pengembang.

Sebagai balasannya, walikota menyatakan hal-hal sebagai berikut:

  1. Jika pihak kota mengijinkan pembangunan kondominium mewah, pendapatan kota dari pajak akan meningkat secara dramatis sehingga biaya pemeliharaan seekor gajah tidak perlu dirisaukan; maka dari itu sangatlah masuk akal bahwa pihak kota memutuskan untuk memelihara sang gajah.
  2. Sang gajah sudah sangat tua sehingga kemungkinan besar ia tidak akan makan banyak dan tidak akan membahayakan orang.
  3. Jika sang gajah mati, pihak kota memiliki hak penuh atas kepemilikan tanah yang telah disumbangkan oleh pihak pengembang.
  4. Sang gajah bisa menjadi simbol kota.

Debat panjang itu akhirnya mencapai kesimpulan bahwa pihak kota akan bertanggung jawab atas si gajah. Sebagai sebuah wilayah pemukiman yang telah mapan, kota ini dapat dengan mudah membangga-banggakan taraf hidup masyarakatnya yang relatif makmur, dan juga pijakan ekonomi yang aman. Mengadopsi seekor gajah tunawisma adalah sebuah langkah yang dapat diterima oleh masyarakat dengan senang hati. Orang-orang lebih menyukai seekor gajah tua ketimbang selokan dan mobil pemadam kebakaran.

Aku sendiri mendukung keputusan kota untuk merawat si gajah. Memang benar, aku mulai muak dengan kondominium yang menjulang tinggi, tetapi aku menyukai ide sebuah kota yang memiliki seekor gajah.

Sebuah wilayah yang ditumbuhi pohon-pohon serupa hutan kecil dibersihkan, dan bangunan pusat kebugaran sekolah dasar yang mulai usang dipindahkan ke sana lalu berubah fungsi menjadi kandang si gajah. Lelaki yang telah bertugas merawat si gajah selama bertahun-tahun ikut tinggal di sana. Sisa makan siang murid-murid sekolah menjadi makanan si gajah. Akhirnya, si gajah itu sendiri dipindahkan menggunakan mobil karavan ke rumah barunya, di sana ia akan melanjutkan hidupnya.

Aku berada di sana, di tengah kerumunan orang-orang, pada saat upacara peresmian kandang si gajah. Berdiri di hadapan si gajah, walikota memberikan pidatonya (mengenai pembangunan kota dan peningkatan fasilitas budayanya); seorang anak, sebagai wakil dari murid-murid sekolah dasar, berdiri membacakan sebuah puisi (“Semoga panjang umur dan sehat selalu, Tuan Gajah”); sebuah kontes menggambar diadakan (menggambar sketsa si gajah kemudian menjadi bagian dari kurikulum pendidikan seni sekolah dasar); dan dua perempuan dalam balutan gaun yang melambai (kedua-keduanya tidak ada yang cantik) memberi makan si gajah dengan setumpuk buah pisang. Si gajah melewati semua formalitas tak berarti itu (untuk si gajah memang semua ini tak ada artinya sama sekali) tanpa berkedip sekalipun, ia mengunyah buah pisang dengan tatapan kosong. Ketika ia selesai melahap buah pisang, semua orang bertepuk tangan.

Pada kaki belakang sebelah kanan, si gajah memakai belenggu baja yang terlihat kokoh dan berat. Dari belenggu itu, rantai tebal dengan panjang kira-kira tiga puluh kaki terentang, terikat kencang pada sebuah lempengan beton. Siapapun bisa melihat jangkar kokoh semacam apa yang menahan raksasa itu: Meski si gajah berjuang mati-matian selama seratus tahun untuk melepaskan diri, ia tak akan pernah bisa merusak benda yang berada di kakinya itu.

Aku tidak bisa memastikan apakah si gajah terganggu oleh belenggu itu. Setidaknya dari apa yang bisa kulihat, tampaknya ia tak menyadari ada sebuah potongan besar logam melilit kakinya. Si gajah terus menatap kosong ke titik yang entah ada di mana, sesekali telinganya melambai lembut, dan beberapa helai rambut putih di tubuhnya bergerak tertiup angin sepoi-sepoi.

Pawang si gajah adalah seorang lelaki tua yang kecil dan kurus. Sulit menebak usianya; mungkin saja ia baru memasuki usia enam puluh atau di ambang akhir tujuh puluh. Penampilannya tak lagi dipengaruhi oleh usia. Warna kulitnya gelap kemerahan seperti terbakar oleh matahari, tak peduli musim panas atau musim dingin, rambut pendeknya kaku, matanya kecil. Wajahnya tidak memiliki karakter khusus, tetapi ia memiliki sepasang telinga yang hampir-hampir bulat sempurna mencuat di kedua sisi wajahnya, terlihat sungguh mengganggu.

Bisa dibilang, ia cukup ramah. Jika seseorang berbicara padanya, ia akan menjawab dengan jelas. Kalau saja ia mau, ia bisa saja mempesona- walaupun semua orang tahu ia agak canggung. Secara umum, ia pendiam, seorang lelaki yang tampak kesepian. Agaknya, ia menyukai anak-anak yang mengunjungi kandang si gajah, dan ia berusaha untuk bersikap baik kepada mereka, tetapi anak-anak itu tak pernah benar-benar balas menyukainya.

Satu-satunya yang tulus menyukainya adalah si gajah. Si pawang menempati sebuah kamar kecil yang menempel pada kandang gajah, dan sepanjang hari ia tinggal dengan si gajah, mencukupi kebutuhan si gajah. Mereka telah hidup bersama selama lebih dari sepuluh tahun, dan semua orang bisa merasakan kedekatan mereka berdua dari setiap gerakan dan cara mereka saling memandang. Setiap kali si gajah berdiri di tengah-tengah kandangnya dengan tatapan kosong dan si pawang menginginkannya untuk bergerak, yang harus ia lakukan hanyalah berdiri di samping si gajah, menepuk kaki depannya, dan membisikkan sesuatu di telinganya. Lalu, bergeraklah si gajah sesuai kehendak si pawang, mengambil posisi baru, dan meneruskan tatapan kosongnya yang tertunda.

Pada akhir pekan, biasanya aku berkunjung ke kandang si gajah dan mempelajari kebiasaan mereka berdua tetapi aku tidak pernah bisa mengetahui prinsip dasar komunikasi antara si pawang dan si gajah. Mungkin si gajah mengerti beberapa kata sederhana (dipikir-pikir, ia memang sudah hidup dalam waktu yang amat lama untuk mengerti sedikit bahasa manusia), atau mungkin si gajah menerima informasi dari variasi tepukan di kakinya. Atau bisa jadi si gajah memiliki kemampuan khusus semacam telepati mental dan bisa membaca pikiran si pawang. Sekali waktu aku pernah bertanya pada si pawang mengenai bagaimana cara ia memberi perintah pada si gajah, tetapi lelaki tua itu hanya tersenyum dan berkata, “Kami sudah hidup bersama-sama sejak lama”

Dan lalu setahun telah berlalu. Kemudian, tanpa peringatan apa-apa, si gajah lenyap. Hari ini ia ada di sana, keesokannya ia lenyap tak berbekas.

Aku menuang kopi cangkir kedua dan membaca ulang berita itu dari awal hingga akhir. Sebenarnya, artikel itu cukup aneh- cukup aneh hingga bisa membangkitkan semangat Sherlock Holmes. “Lihat ini, Watson,” sang detektif berkata seraya menepuk pipa cerutunya. “Artikel yang sangat menarik. Sangat amat menarik.”

Hal yang menambah keganjilan dari artikel tersebut adalah kebingungan wartawan yang jelas-jelas terbaca dari tulisannya. Dan kebingungan ini nampaknya berasal dari absurditas situasi itu sendiri. Kau bisa melihat bagaimana si wartawan berjuang untuk menemukan cara yang cerdas dalam menuliskan situasi ganjil ini agar menjadi sebuah artikel yang “normal”. Tetapi perjuangannya sia-sia, ia bahkan mengubah keadaan dari sekedar kebingungan menjadi keputusasaan yang luar biasa. Sebagai contoh, artikel tersebut menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “gajah melarikan diri,” tetapi jika kau telah membaca keseluruhan tulisan jelas sekali bahwa tidak mungkin si gajah bisa “melarikan diri.” Si gajah telah lenyap, hilang tertelan udara. Si wartawan menunjukkan konflik yang berkecamuk dalam pikirannya sendiri dengan mengatakan bahwa beberapa “detail tidak jelas,” tetapi aku rasa fenomena semacam ini tidak bisa dikecilkan maknanya dengan menggunakan terminologi awam seperti “detail tidak jelas.”

Pertama, masalah terletak pada belenggu baja yang terikat kencang pada kaki si gajah. Benda ini ditemukan masih terkunci. Penjelasan yang paling masuk akal adalah si pawang telah membuka kunci belenggu, melepaskannya dari kaki si gajah, mengunci kembali belenggu tersebut, dan kabur bersama si gajah- hipotesis yang dengan gigih dipertahankan oleh surat kabar tetapi pada kenyataannya si pawang tidak memiliki kunci! Hanya ada dua kunci, dan keduanya, atas nama keamanan, disimpan di lemari besi, satu berada di kantor polisi dan satu lagi berada di kantor pemadam kebakaran, dua-duanya berada di luar jangkauan si pawang- atau orang lain jika ada yang berniat mencurinya. Dan meskipun seseorang telah berhasil mencuri kunci-kunci tersebut, tentu ia tak perlu repot-repot mengembalikan setelah menggunakannya. Namun esok harinya, kedua kunci tersebut ditemukan tergeletak dengan aman di lemari besi masing-masing- di kantor polisi dan kantor pemadam kebakaran. Kesimpulan yang bisa diambil adalah si gajah menarik keluar kakinya dari belenggu baja yang kokoh itu tanpa bantuan kunci- sebuah kemustahilan kecuali seseorang telah menggergaji kaki gajah tersebut hingga putus.

Masalah kedua adalah rute pelarian. Kandang si gajah dikelilingi oleh pagar besar setinggi hampir sepuluh kaki. Persoalan keamanan telah diperdebatkan dengan sangat sengit di dewan kota, dan pihak kota telah menetapkan sebuah sistem  keamanan yang bisa dibilang cukup berlebihan untuk menjaga seekor gajah tua. Jeruji besi yang berat ditancapkan pada pondasi beton yang tebal (biaya produksi pagar ditanggung oleh pihak pengembang), dan hanya ada satu pintu masuk, yang pada saat peristiwa lenyapnya si gajah terjadi ditemukan dalam keadaan terkunci dari dalam. Tidak mungkin si gajah bisa melarikan diri dari kandang serupa benteng ini.

Masalah ketiga adalah jejak. Tepat di belakang kandang si gajah ada sebuah bukit curam, tidak mungkin binatang itu mampu menaikinya, anggap  saja si gajah berhasil menarik keluar kakinya dari belenggu baja dan melompati pagar setinggi sepuluh kaki, ia tetap harus melewati jalan yang berada di depan kandang, dan tidak ditemukan satupun jejak kaki gajah pada tanah basah di jalan tersebut.

Dengan semua pernyataan tak masuk akal dan kebingungan yang jelas-jelas ditunjukkan, hanya ada satu kesimpulan dari artikel di surat kabar tersebut: Si gajah tidak melarikan diri. Si gajah lenyap.

Akan tetapi, baik surat kabar maupun kepolisian tidak bersedia mengakui- paling tidak, secara terbuka- bahwa si gajah telah lenyap. Polisi meneruskan penyelidikan, juru bicara mereka menyatakan bahwa hanya ada dua kemungkinan, si gajah “diambil atau dibiarkan melarikan diri dengan langkah-langkah yang telah diperhitungkan secara seksama. Akan tetapi karena menyembunyikan seekor gajah adalah pekerjaan yang sulit, tunggu saja, kami akan segera menyelesaikan kasus ini.” Pernyataan penuh optimisme ini ditambah dengan rencana pencarian di area hutan dengan bantuan klub pemburu lokal dan penembak jitu dari Tentara Pertahanan Nasional.

Walikota telah mengadakan konferensi pers, ia meminta maaf atas kurangnya sumber daya manusia di pihak kepolisian. Pada saat yang sama, ia menyatakan, “Sistem keamanan gajah kota ini tidak kalah dengan fasilitas serupa di setiap kebun binatang di negara ini. Tidak diragukan lagi, sistem ini jauh lebih kuat dan aman daripada kandang umumnya.” Ia juga menambahkan, “Tindakan berbahaya dan tidak masuk di akal ini tidak boleh kita biarkan begitu saja tanpa mendapatkan hukuman yang setimpal.”

Seperti yang terjadi setahun lalu, anggota partai oposisi kembali menyatakan tuduhan, “Kami ingin melihat tanggung jawab politik dari walikota; ia telah melakukan kolusi dengan perusahaan swasta dengan cara menjual warga kota sebagai solusi dari masalah gajah ini.”

Seorang ibu yang “tampak khawatir”, tiga puluh tujuh tahun, diwawancarai oleh surat kabar. “Sekarang saya takut untuk membiarkan anak-anak saya bermain di luar,” katanya.

Pemberitaan di surat kabar mencakup ringkasan rinci mengenai langkah-langkah yang mengarah pada keputusan kota untuk mengadopsi si gajah, sketsa kandang gajah, dan sejarah singkat si gajah dan si pawang yang ikut lenyap bersamanya. Lelaki itu, Noboru Watanabe, enam puluh tiga tahun, berasal dari Tateyama, di Prefektur Chiba. Ia telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai pawang di bagian hewan mamalia di kebun binatang, dan “telah dipercaya secara penuh oleh pihak kebun binatang, baik karena pengetahuannya yang mendalam tentang hewan maupun karena kepribadiannya yang tulus dan hangat.” Si gajah dikirim dari Afrika Timur dua puluh dua tahun yang lalu, tetapi tidak ada yang bisa memastikan usia si gajah yang sebenarnya juga bagaimana kepribadiannya. Laporan itu diakhiri dengan permintaan dari pihak kepolisian kepada warga kota untuk terus memberikan informasi yang mereka ketahui berkenaan dengan si gajah.

Aku memikirkan permintaan dari pihak kepolisian seraya meneguk kopi dari cangkir kedua, tetapi aku memutuskan untuk tidak menelepon polisi- baik karena aku tidak ingin berhubungan langsung dengan pihak kepolisian juga karena aku merasa polisi tidak akan mempercayai perkataanku. Apa gunanya berbicara dengan orang-orang seperti itu, yang bahkan tidak mempertimbangkan adanya kemungkinan bahwa si gajah telah lenyap begitu saja.

Aku mengambil buku catatanku dari atas rak, menggunting artikel si gajah, dan menempelkannya di sana. Lalu aku mencuci piring dan berangkat ke kantor.

Aku menonton berita pukul tujuh malam mengenai pencarian si gajah di televisi. Ada pemburu membawa senapan besar yang diisi penuh panah bius, Tentara Pertahanan Nasional, polisi, dan pemadam kebakaran menyisiri tiap inci hutan dan bukit di area sekitar sementara helikopter berputar-putar di atas mereka. Tentu saja, kita sedang membicarakan jenis “hutan” dan “bukit” yang bisa ditemukan di daerah pinggiran kota Tokyo, sehingga area yang harus ditelusuri tidaklah terlalu luas. Dengan banyaknya orang yang terlibat, seharusnya satu hari lebih dari cukup untuk melakukan pekerjaan itu. Dan lagi, mereka bukannya mencari seorang pembunuh maniak berukuran kecil: Mereka mencari seekor gajah Afrika raksasa. Si gajah hanya dapat bersembunyi di beberapa tempat tertentu. Tetapi tetap saja mereka gagal menemukannya. Kepala polisi muncul di layar televisi dan berkata, “Kami bermaksud untuk meneruskan pencarian.” Dan penyiar berita menyimpulkan laporan, “Siapa yang telah membebaskan gajah tersebut dan bagaimanakah caranya? Di mana mereka menyembunyikannya? Apakah motivasi mereka? Semuanya masih terselubung dalam misteri.”

Pencarian berlangsung selama beberapa hari, tetapi pihak yang berwenang tidak menemukan satupun petunjuk mengenai keberadaan si gajah. Aku mempelajari laporan-laporan di surat kabar, memotong semuanya, dan menempel klipingnya di buku catatanku- termasuk kartun editorial mengenai masalah ini. Buku catatanku segera habis, dan aku harus membeli buku yang baru. Meskipun sudah banyak kliping yang kukumpulkan, tidak ada satupun memuat fakta yang aku cari. Laporan-laporan itu sia-sia saja: GAJAH MASIH HILANG, MENDUNG MENEBAL DI PUSAT PENCARIAN, MAFIA DI BALIK HILANGNYA GAJAH? Setelah seminggu berlalu, artikel-artikel semacam ini semakin jarang dimuat hingga akhirnya tak ada sama sekali. Beberapa majalah mingguan memuat cerita sensasional- bahkan ada satu majalah yang menyewa cenayang- tetapi tidak satu artikel pun yang benar-benar berisi kecuali judul-judul luar biasa yang menarik perhatian saja. Tampaknya orang-orang mulai menggolongkan kasus si gajah sebagai “misteri tak terpecahkan.” Lenyapnya seekor gajah tua dan seorang pawang tua tidak akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Bumi akan terus berputar secara monoton pada rotasinya, politisi akan terus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, orang-orang akan terus mengantuk dalam perjalanan mereka menuju ke kantor, anak-anak akan terus belajar untuk ujian masuk kuliah.

Di tengah gelombang pasang surut kehidupan sehari-hari yang tak ada habisnya, perhatian terhadap hilangnya gajah tak akan bertahan selamanya. Dan lalu, bulan demi bulan yang biasa-biasa saja berlalu, seperti pasukan tentara yang letih berbaris melewati jendela.

Tiap kali aku memiliki waktu luang, aku akan mengunjungi kandang gajah yang kosong. Sebuah rantai tebal mengikat jeruji besi pagar untuk mencegah orang-orang yang datang memasuki kandang. Mengintip ke dalam, aku bisa melihat pintu kandang gajah juga telah dikunci dengan rantai, seolah-olah pihak kepolisian tengah menebus kesalahan mereka dengan cara meningkatkan keamanan hingga berlapis-lapis atas kandang gajah yang sekarang kosong.

Area itu sekarang dilupakan, kerumunan orang sekarang berganti dengan kawanan merpati yang beristirahat di atas atap. Tidak ada yang merawat tanah di sekitar kandang, dan rumput musim panas yang berwarna hijau tumbuh dengan lebat di sana seakan-akan mereka telah menunggu kesempatan ini sejak lama. Rantai yang melingkar di pintu kandang gajah mengingatkan aku pada seekor ular raksasa yang menjaga puing-puing istana di sebuah hutan rimba. Beberapa bulan tanpa kehadiran si gajah, tempat itu seakan digelayuti mendung kesedihan yang tebal.

Aku bertemu dengannya di akhir bulan September. Saat itu, hujan turun seharian, dari pagi hingga malam- hujan berkabut yang kerap turun di waktu-waktu yang sama setiap tahunnya, sedikit demi sedikit membasuh kenangan musim panas yang membakar bumi. Mengalir turun sepanjang selokan, semua kenangan mengalir ke parit dan sungai, terbawa ke laut yang dalam dan gelap.

Kami berkenalan di sebuah pesta peluncuran kampanye iklan paling mutakhir yang diselenggarakan oleh perusahaanku. Aku bekerja di bagian PR sebuah produsen utama peralatan elektronik, dan pada saat itu aku bertanggungjawab atas publisitas lini peralatan dapur, yang dijadwalkan akan diluncurkan ke pasar pada musim semi (masa-masa saat banyak pernikahan dilaksanakan) dan musim dingin (masa-masa saat banyak kado dibeli dan bonus diberikan). Tugasku untuk bernegosiasi dengan beberapa majalah wanita agar memuat artikel mengenai produk perusahaan kami- memang bukan pekerjaan yang memerlukan tingkat intelektual yang tinggi, tetapi aku harus memastikan artikel yang mereka tulis tidak berseberangan dengan iklan kami. Tiap publisitas yang diberikan oleh majalah akan kami hargai dengan menempatkan iklan di halaman mereka. Mereka menggaruk punggung kami, kami menggaruk punggung mereka.

Sebagai seorang editor majalah yang menyasar ibu-ibu muda, ia datang ke pesta seraya membawa materi untuk salah satu “artikel.” Kebetulan, aku yang bertanggungjawab mengajaknya berkeliling, menunjukkan kelebihan dari kulkas berwarna-warni dan mesin pembuat kopi dan oven yang dikerjakan khusus oleh perancang terkenal dari Italia.

“Yang terpenting adalah kesatuan,” jelasku. “Bahkan peralatan dengan desain paling cantik akan mati jika tidak seimbang dengan lingkungannya. Kesatuan desain, kesatuan warna, kesatuan fungsi: Semua ini sangat diperlukan oleh peralatan kit-chin. Riset menyatakan bahwa ibu rumah tangga menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka di kitchin. Kit-chin adalah ruang kerja, ruang belajar, ruang keluarga mereka. Maka dari itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan lingkungan kit-chin yang nyaman. Seberapa luas kitchin tidaklah menjadi persoalan penting. Apakah kit-chin itu besar atau kecil, prinsip dasar sebuah kit-chin yang sempurna adalah kesatuan. Inilah konsep yang menggarisbawahi desain dari seri terbaru kami. Lihatlah kompor ini, contohnya…”

Ia mengangguk dan menulis beberapa hal di buku catatan kecil, tetapi jelas sekali ia tak terlalu tertarik dengan materi artikel, aku pun tak punya kepentingan pribadi atas kompor seri terbaru itu. Baik aku maupun dirinya hanyalah menjalankan pekerjaan kami.

“Kau tahu banyak tentang dapur,” katanya ketika aku selesai berbicara. Ia menggunakan kata ‘dapur’ dalam bahasa Jepang, tanpa menyinggung pilihan kataku ‘kit-chin.

“Itulah mata pencaharianku,” aku menjawab seraya menyungging senyum profesional.

“Selain itu, aku memang suka memasak. Bukan masakan yang mewah, hanya saja aku memasak untuk diriku sendiri setiap hari.”

“Namun, aku ragu kesatuan adalah hal yang paling penting untuk sebuah dapur.”

“Kami menyebutnya ‘kit-chin,’” saranku. “Bukan masalah besar, tetapi perusahaan menginginkan kami untuk menggunakan bahasa Inggris.”

“Oh. Maaf. Namun, aku masih ragu. Apakah kesatuan sangatlah penting bagi sebuah kit-chin? Bagaimana menurutmu?”

“Pendapat pribadiku? Tidak akan ada pendapat pribadi sampai aku melepas dasi,” ucapku seraya menyeringai. “Tetapi hari ini aku akan membuat pengecualian. Sebuah dapur mungkin saja membutuhkan hal-hal lainnya lebih dari sekadar kesatuan. Tetapi elemen-elemen lainnya itu tidak bisa dijual. Di dunia pragmatis yang kita huni ini, hal-hal yang tidak bisa dijual menjadi tidak penting.”

“Apakah dunia ini adalah tempat yang pragmatis?”

Aku mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.

“Aku tidak tahu- kata-kata itu muncul begitu saja,” ujarku. “Tetapi itu menjelaskan banyak hal. Membuat pekerjaan menjadi lebih mudah juga. Kau dapat bermain-main dengan hal itu, menciptakan pernyataan semacam: ‘pada dasarnya pragmatis,’ atau ‘pragmatis dalam esensinya.’ Jika kau melihat dari sudut pandang itu, kau bisa menghindari masalah-masalah rumit.”

“Pandangan yang sungguh menarik!”

“Tidak juga. Semua orang berpikir serupa. Oh, ngomong-ngomong, kami punya sampanye yang cukup enak. Mau mencobanya?”

“Terima kasih. Aku mau mencobanya.”

Sembari meneguk sampanye, kami berbincang-bincang. Ternyata kami memiliki beberapa kenalan yang sama. Jika diandaikan sebagai sebuah kolam, dunia bisnis yang kami geluti bukanlah sebuah kolam yang besar, sehingga jika beberapa kelereng dilemparkan ke dalamnya, mungkin saja satu atau dua saling mengenai satu sama lain. Selain itu, ia dan anak kakak perempuanku kebetulan lulus dari universitas yang sama. Akibat kebetulan-kebetulan itu, obrolan kami berjalan dengan mulus.

Dia tidak menikah, aku juga. Dia berusia dua puluh enam, aku berusia tiga puluh satu. Dia menggunakan lensa kontak, aku memakai kacamata. Dia memuji dasiku, dan aku memuji jaketnya. Kami saling membandingkan rumah kontrakan dan saling mengeluh mengenai pekerjaan dan gaji. Dengan kata lain, kami mulai menyukai satu sama lain. Dia adalah wanita yang menarik, dan tidak suka memaksa. Aku berdiri di hadapannya seraya menghabiskan waktu selama dua puluh menit untuk mengobrol, gagal menemukan satupun alasan untuk tidak menyukainya. Setelah pesta selesai, aku mengundang dia untuk menemaniku minum di lounge hotel, kami meneruskan perbincangan di sana. Hujan yang senyap turun di luar jendela, lampu-lampu kota mengirimkan pesan yang mengabur lewat kabut. Keheningan yang basah tercipta di lounge yang hampir kosong. Dia memesan frozen daiquiri dan aku memesan scotch on the rocks.

Sambil menyesap minuman, kami terbawa percakapan layaknya sepasang lelaki dan perempuan yang baru saja bertemu di sebuah bar dan mulai menyukai satu sama lain. Kami membicarakan masa-masa kuliah, selera musik, olahraga, dan kegiatan sehari-hari.

Lalu aku menyinggung perihal si gajah. Bagaimana mulanya, aku tak ingat. Mungkin kami tengah berbicara mengenai sesuatu yang ada hubungannya dengan hewan, mungkin itulah awal mulanya. Atau mungkin, tanpa aku sadari, aku telah lama berharap ada seseorang- seorang pendengar yang baik- yang dapat kuberitahu tentang pendapatku sendiri mengenai masalah lenyapnya si gajah. Atau, mungkin saja, pengaruh minuman keraslah yang membuatku berbicara.

Apapun itu, begitu kata-kata meluncur dari bibirku, aku menyadari bahwa aku telah menyinggung topik yang tidak cocok. Tidak, seharusnya aku tidak menyebut perihal si gajah. Topik ini- apa, ya?- terlalu kompleks, terlalu rahasia.

Aku mencoba mengubah arah pembicaraan, tetapi nasib berkata lain, dia lebih tertarik pada kasus lenyapnya si gajah, dan setelah aku mengakui bahwa aku sering melihat si gajah, dia menghujaniku dengan berbagai pertanyaan- apa jenis gajah itu, menurutku bagaimana gajah itu bisa meloloskan diri, apa yang dimakan gajah itu, apakah lenyapnya gajah itu dapat membahayakan masyarakat, dan seterusnya.

Apa yang kukatakan padanya tak lebih dari apa yang telah diberitakan sebelumnya, tetapi tampaknya dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari nada suaraku. Memang, aku bukan pembohong yang baik.

Seolah-olah tak menyadari perilaku anehku, ia menyesap gelas daiquiri kedua dan bertanya, “Tidakkah kau terkejut ketika gajah itu lenyap? Siapa yang menduga hal semacam ini bisa terjadi.”

“Tidak, mungkin tidak ada yang bisa menduganya,” ucapku. Aku mengambil pretzel dari dalam piring kaca di atas meja kami, mematahkannya menjadi dua, dan memakan setengahnya. Pelayan mengganti asbak kami dengan asbak kosong.

Dia menatapku penuh harap. Aku mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Aku berhenti merokok tiga tahun yang lalu, tetapi mulai merokok lagi semenjak si gajah lenyap.

“Mengapa ‘mungkin tidak ada yang bisa menduganya’? Mengapa ‘mungkin’? Apakah maksudmu kau bisa saja telah menduganya?”

“Tidak, tentu aku tidak bisa menduganya,” ucapku seraya tersenyum. “Seekor gajah tiba-tiba lenyap pada suatu hari- tentu tidak bisa diduga akan terjadi. Sungguh tidak masuk di akal.”

“Tetapi jawabanmu terdengar sungguh aneh. Ketika aku berkata, ‘Siapa yang menduga hal semacam ini bisa terjadi,’ kau menjawab, ‘Tidak, mungkin tidak ada yang bisa menduganya.’ Kebanyakan orang akan menjawab ‘Kau benar,’ atau ‘Yah, ini aneh sekali,’ atau jawaban lain semacam itu. Kau mengerti maksudku?”

Aku mengangguk sekilas dan mengangkat tanganku untuk memanggil pelayan. Keheningan yang tak pasti terjadi sementara aku menunggu pelayan membawakan scotch untukku.

“Aku sulit memahami semua ini,” ujarnya lembut. “Obrolan kita berdua benar-benar normal hingga beberapa menit yang lalu- setidaknya hingga topik pembicaraan mengenai gajah itu muncul. Lalu sesuatu yang lucu terjadi. Aku tidak mengerti dirimu lagi. Ada sesuatu yang salah. Apakah gajah itu? Atau telingaku sedang melakukan tipu daya padaku?”

“Tidak ada yang salah dengan telingamu,” ucapku.

“Jadi masalahnya ada di dirimu.”

Aku mengaduk es di dalam gelas minuman dengan ujung jariku. Aku suka suara es di dalam gelas.

“Aku tidak akan menyebutnya ‘masalah’. Bukan hal yang besar. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Hanya saja, aku tak yakin bisa membicarakannya secara jelas, jadi aku berusaha tidak mengatakan apapun. Tetapi kau benar- hal ini memanglah aneh.”

“Apa maksudmu?”

Tidak ada gunanya: aku harus menceritakannya. Satu tegukan wiski dan aku memulainya.

“Begini, mungkin saja akulah orang terakhir yang melihat si gajah sebelum ia lenyap. Aku melihatnya setelah pukul tujuh malam pada tanggal tujuh belas Mei, dan mereka menyadari hilangnya si gajah pada sore hari tanggal delapan belas. Karena mereka mengunci kandang gajah pada pukul enam, tidak ada yang melihat si gajah semenjak itu.”

“Aku tak mengerti. Jika mereka mengunci kandang pada pukul enam, bagaimana bisa kau melihatnya pada pukul tujuh?”

“Ada semacam tebing di belakang kandang gajah. Sebuah bukit curam di area properti pribadi seseorang, tanpa akses jalan. Ada satu titik, di belakang bukit, kau bisa melihat ke arah kandang gajah dari sana. Mungkin, aku adalah satu-satunya orang yang mengetahui tempat itu.”

Aku menemukan tempat itu secara tidak sengaja. Suatu hari, Minggu sore tepatnya, ketika tengah berjalan-jalan di sekitar situ, tiba-tiba saja aku tersesat dan sampai di puncak tebing. Ada sepetak tanah datar di sana, cukup besar untuk satu orang, dan saat aku melihat ke arah bawah melewati semak-semak, tampaklah atap kandang gajah.

Di bawah tepi atap terdapat sebuah ventilasi yang cukup besar, dan melalui itu aku bisa melihat dengan jelas bagian dalam kandang gajah.

Setelahnya aku menjadi terbiasa, sesekali berkunjung ke tempat itu untuk melihat apakah si gajah ada di kandangnya atau tidak. Jika ada orang yang bertanya mengapa aku rela bersusah payah melakukan hal semacam itu, sesungguhnya aku tidak memiliki jawaban yang bagus. Hanya saja, aku menikmatinya, memerhatikan si gajah selama ia sendirian saja. Tidak lebih dari itu.

Aku tidak bisa melihat si gajah ketika hari telah gelap, tentu saja, tetapi saat malam masih muda, si pawang biasanya menyalakan lampu sembari ia menunaikan kewajibannya untuk merawat si gajah.Oleh karena itu, aku bisa mempelajari situasi secara rinci.

Apa yang menarik perhatianku adalah kasih sayang yang sungguh nyata ditunjukkan oleh si gajah dan si pawang ketika mereka hanya tinggal berdua, mereka benar-benar menyukai satu sama lain- hal ini tak pernah mereka tunjukkan di hadapan publik. Rasa kasih dan sayang mereka jelas tergambar dari tiap gerakan. Seolah-olah, di siang hari mereka menyimpan seluruh emosi yang ada untuk dikeluarkan di malam harinya.

Sebenarnya mereka tidak melakukan hal-hal yang berbeda ketika mereka hanya berdua saja di dalam kandang. Si gajah hanya berdiri di tempatnya, menatap kosong seperti biasa, dan si pawang akan mengerjakan tugas-tugas yang umumnya dikerjakan oleh seorang pawang: menggosok bagian bawah si gajah dengan sapu, memungut kotoran si gajah yang ukurannya sungguh besar, membersihkan bekas makan si gajah. Tetapi tidak salah lagi, terlihat ada semacam kehangatan yang istimewa, rasa saling memercayai, di antara mereka berdua.

Sementara si pawang menyapu lantai, si gajah akan melambaikan belalainya dan menepuk-nepuk pelan punggung si pawang. Aku suka melihat si gajah melakukan hal itu.

“Apakah kau selalu menyukai gajah?” dia bertanya. “Maksudku gajah pada umumnya?”

“Hmm… kalau dipikir-pikir, aku memang suka gajah,” jawabku. “Ada sesuatu pada gajah yang membuatku bergairah. Kurasa, aku selalu menyukai mereka. Tidak tahu kenapa.”

“Dan hari itu, hari lenyapnya gajah itu, setelah matahari terbenam, kau ada di atas bukit sendirian, untuk melihat si gajah. Mei- tanggal berapa, ya?”

“Tujuh belas. Tujuh belas Mei, pukul tujuh malam. Hari telah gelap saat itu, langit berwarna kemerahan, tetapi lampu di kandang gajah masih menyala.”

“Apakah ada sesuatu yang aneh dengan gajah itu atau pawangnya?”

“Ya, ada dan tidak ada. Aku tak bisa mengatakannya secara pasti. Mereka kan tidak benar-benar berdiri di hadapanku. Aku mungkin bukanlah saksi yang bisa diandalkan.”

“Apa yang terjadi, tepatnya?”

Aku meneguk scotch, es di dalamnya sudah mencair. Di luar jendela, hujan masih turun, tidak menderas dan tidak pula mereda, bagaikan elemen statis dari sebuah lanskap yang tidak akan pernah berubah.

“Sebenarnya tidak ada yang terjadi. Si gajah dan si pawang menyelesaikan rutinitas yang selalu mereka lakukan: bersih-bersih, makan, bermain-main berdua. Semuanya sama saja. Tetapi mereka memang terlihat berbeda. Ada sesuatu mengenai keseimbangan di antara mereka.”

“Keseimbangan?”

“Pada ukuran. Tubuh mereka berdua. Tubuh si gajah dan si pawang. Keseimbangan antara mereka berdua berubah. Aku merasa, hingga batas tertentu, perbedaan di antara mereka berdua telah menyusut.”

Sesaat, dia menatap lekat-lekat gelas berisi daiquiri di tangannya. Aku bisa melihat es di dalam gelas itu telah mencair dan air seolah berjuang keras melewati minuman di dalamnya seperti arus laut kecil.

“Artinya gajah itu mengecil?”

“Atau si pawang yang membesar. Atau kedua-duanya berubah ukuran secara bersamaan.”

“Dan kau tidak mengatakan hal ini kepada pihak kepolisian?”

“Tidak, tentu saja tidak,” ucapku. “Aku yakin mereka tidak akan percaya padaku. Dan jika kukatakan pada mereka bahwa aku diam-diam menyaksikan si gajah dari atas bukit di malam hari, mungkin saja aku akan menjadi tersangka nomor satu.”

“Namun, apakah kamu benar-benar yakin bahwa keseimbangan ukuran tubuh mereka berubah?”

“Mungkin. Aku hanya bisa berkata ‘mungkin.’ Aku tidak punya bukti, dan seperti yang telah aku katakan, aku menyaksikan mereka lewat lubang ventilasi udara. Tetapi aku telah melihat mereka berdua berkali-kali, sehingga rasanya tidak mungkin aku membuat kesalahan mengenai sesuatu yang amat mendasar seperti ukuran tubuh mereka.”

Kenyataannya, pada saat itu aku bertanya-tanya, apakah mataku telah menipuku. Aku berusaha menutup dan membuka mataku dan menggeleng-gelengkan kepalaku, tetapi ukuran si gajah tetap sama. Jelas, tampak seolah-olah ia telah menyusut- sangat menyusut hingga pada awalnya kukira pihak kota telah memiliki seekor gajah baru yang berukuran lebih kecil.

Tetapi aku tidak mendengar apa-apa tentang hal tersebut, dan aku tidak pernah melewatkan pemberitaan mengenai si gajah. Jika ini bukan gajah yang baru, satu-satunya kesimpulan yang mungkin diambil adalah bahwa si gajah tua telah, oleh karena sesuatu hal dan lainnya, menyusut. Semakin lama aku melihat kejadian tersebut, semakin jelas bahwa gajah yang lebih kecil ini memiliki gerakan-gerakan serupa gajah yang lama.

Saat dimandikan, gajah ini akan menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah dengan senangnya, dan dengan belalainya yang tampak mengecil ia menepuk-nepuk punggung si pawang.

Sungguh pemandangan yang misterius. Melalui lubang ventilasi udara, aku merasa, waktu yang berbeda telah mengalir melewati kandang gajah- hanya di kandang si gajah dan tidak di tempat lainnya. Dan bagiku, tampaknya si gajah dan si pawang dengan senang hati menyerahkan diri kepada tatanan baru yang mencoba menyelimuti mereka- atau yang sebagian telah berhasil menyelimuti mereka. Secara keseluruhan, aku mungkin menyaksikan adegan di kandang si gajah itu selama kurang dari setengah jam. Lampu dipadamkan pada pukul tujuh lewat tiga puluh menit- lebih awal dari biasanya- dan semenjak itu segalanya terbungkus kegelapan.

Itulah kali terakhir aku melihat si gajah.

“Jadi, kalau begitu, kau percaya bahwa si gajah terus menerus mengecil hingga ukuran tubunya cukup untuk meloloskan diri melewati jeruji besi kandang, ataukah ia akhirnya larut ke dalam kehampaan. Begitukah?”

“Aku tidak tahu,” ujarku. “Yang aku coba lakukan hanyalah mengingat-ingat apa yang telah aku saksikan dengan kedua mataku sendiri, seakurat mungkin. Aku tidak berpikir mengenai apa yang terjadi setelahnya. Citra visual dalam ingatanku begitu kuat, sehingga jujur saja, aku tidak bisa membayangkan hal-hal lain di luar itu.”

Hanya itu yang bisa kukatakan mengenai lenyapnya si gajah. Dan seperti yang kutakutkan sebelumnya, cerita mengenai si gajah ini terlalu istimewa, terlalu kompleks, untuk ukuran topik pembicaraan antara seorang lelaki dan seorang perempuan yang baru saja bertemu.

Keheningan turun di atas kami berdua setelah aku menyelesaikan kisahku.

Obrolan apa yang mungkin kami angkat setelah cerita tentang seekor gajah yang lenyap- sebuah cerita yang tak menawarkan apapun sebagai bahan diskusi lebih lanjut?

Dia menelusuri bibir gelas dengan ujung jarinya, dan aku duduk di sana membaca dan membaca ulang tulisan yang dicetak pada tatakan gelasku. Seharusnya, aku tak perlu menceritakan perihal si gajah padanya. Memang bukan jenis cerita yang bisa diceritakan secara sembarangan pada semua orang.

“Ketika aku masih kecil, kucingku lenyap,” ujarnya memecah keheningan yang panjang. “Tetapi, tetap saja, mudah sekali bagi seekor kucing untuk lenyap, sementara bagi seekor gajah untuk lenyap- keduanya adalah cerita yang berbeda.”

“Ya, benar. Tidak bisa dibandingkan. Mengingat perbedaan tubuh mereka.”

Tiga puluh menit kemudian, kami saling berpamitan di luar hotel. Tiba-tiba dia teringat bahwa payung yang dibawanya tertinggal di lounge, maka aku kembali naik ke atas menggunakan elevator dan membawakan payung itu untuknya. Sebuah payung berwarna merah bata dengan pegangan yang tebal.

“Terima kasih,” katanya.

“Selamat malam,” ucapku.

Itulah kali terakhir aku bertemu dengannya. Kami mengobrol melalui telepon setelahnya, berkaitan dengan artikel pesanan perusahaanku yang tengah dia tulis. Ketika kami berbicara, aku benar-benar berpikir untuk mengundangnya makan malam, tetapi akhirnya tidak kulakukan. Segalanya tampak tak penting.

Aku seringkali merasakan hal semacam ini sejak pengalamanku menyaksikan lenyapnya si gajah. Aku mulai berpikir, mungkin saja aku ingin melakukan sesuatu, tetapi kemudian aku tak dapat menemukan perbedaan yang berarti jika aku melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Seringkali, aku merasa bahwa benda-benda di sekelilingku telah kehilangan keseimbangan, meskipun mungkin saja persepsiku telah memperdayaku. Keseimbangan di dalam diriku telah hancur semenjak urusan gajah itu terjadi, dan mungkin menyebabkan cara pandangku berubah, aku memandang fenomena di luar keberadaanku secara aneh. Mungkin saja ada sesuatu di dalam diriku.

Aku terus menjual kulkas dan oven dan mesin pembuat kopi di dunia yang pragmatis, berdasakan sensasi atas citra visual yang tertinggal dalam kenangan yang aku pertahankan dari dunia itu. Semakin aku mencoba menjadi lebih pragmatis, semakin sukses penjualanku- kampanye iklan kami telah berhasil melampaui prediksi paling optimis yang kami perkirakan sebelumnya- dan semakin berhasil aku menjual diriku sendiri kepada lebih banyak orang. Hal ini mungkin terjadi karena orang mencari semacam kesatuan pada dunia yang serupa kit-chin ini. Kesatuan desain. Kesatuan warna. Kesatuan fungsi.

Surat kabar hampir tak pernah lagi memberitakan apapun berkenaan dengan si gajah. Tampaknya, orang-orang telah melupakan bahwa pernah ada suatu masa ketika kota yang mereka huni memiliki seekor gajah. Rumput yang tumbuh mengambil alih kandang si gajah telah layu sekarang, dan nuansa musim dingin telah mendatangi tempat itu.

Si gajah dan si pawang telah lenyap sama sekali. Mereka tak akan pernah kembali.

—diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Jay Rubin. Bahasa Indonesia oleh Amalia Achmad.