Solo Traveling ke Coban Parang Tejo yang Berkabut

Gerimis turun tipis. Bermodalkan petunjuk dari petugas parkir saat ke Coban Putri, katanya di dekat situ ada Coban Parang Tejo. Kupakai jas hujan plastikku, dan sendiri aku menembus dinginnya Kota Batu menuju Coban Parang Tejo. Itu bukan solo traveling pertamaku. Tapi itulah kali pertama aku melakukan treking sendirian saat pagi masih diselimuti kabut, tanpa ada seorang pun di tempat tujuan.



Kabut di Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo

Bermodalkan kenekatan, aku terus berjalan mengikuti petunjuk arah menuju Peacock Pine Porest dan Coban Parang Tejo. Kuketahui kemudian, bahwa keduanya satu lokasi.

Peacock Pine Forest atau Hutan Pinus Merak adalah semacam bumi perkemahan dengan pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang. Dari tempat perkemahan itu, kita perlu berjalan kaki melewati jalan setapak di pinggir tebing sejauh sekitar 800 meter untuk sampai ke Coban Parang Tejo.

Begitulah kemudian aku berjalan sendirian di jalan setapak itu. Kabut pun perlahan mulai naik dan nampaklah air terjun yang kutuju dari kejauhan. Air terjun itu tinggi sekali. Dan sepanjang jalan aku berzikir karena dalam keadaan sendiri, hanya Allah yang bisa menjadi pelindung.

Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo memiliki ketinggian sekitar 100 meter dengan air yang halus. Air terjun ini terletak di lereng Gunung Butak yang membentuk aliran Sungai Metro di perbatasan Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu yang mengalir hingga Kabupaten Blitar.

Saat sedang menyiapkan kamera agar bisa mendapatkan foto terbaik, anak-anak yang camping di Peacock Pine Forest ternyata juga ikut turun ke sini. Akhirnya, aku pun gagal mendapatkan foto sendirian yang ciamik. Keburu ramai deh.

Lokasi Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo lokasinya berada di Dusun Princi, Desa Ngading Kulon 02. Letaknya berada di perbatasan Malang dan Batu.
Bila kamu berangkat dari pusat kota Malang, berjalanlah menuju UNMER (Universitas Merdeka) ➱Jalan Bondowoso ➱ Jalan Tidar ➱ Jalan Puncak Mandala ➱ Jalan Puncak Yamin ➱ Jalan Esberg sampai ketemu Pangkalan Mikrolet AT ➱ Dari tempat itu lanjut ke ➱ Jalan Candi V ➱ Desa Karangwidoro ➱ Petungsewu Tegalweru ➱ Setelah kalian menemukan Pertigaan Dukuh Sempu, ambil arah ke kiri Desa Gadingkulon ➱ Dukuh Princi ➱ Parang Tejo.

Sementara jika kamu berangkat dari alun-alun kota Batu Menuju arah Sengkaling ➱ pertigaan Polsek Dau ke kiri ➱ perempatan Semanding ke kiri ➱ Asrama Putri Arrohmah ➱ Dukuh Sempu lurus ➱ Desa Gadingkulon ➱ Dukuh Princi ➱ Parang Tejo.

Spot Foto Instagramable di Coban Parang Tejo

Coban Parang Tejo terkenal juga karena di kawasan hutan pinusnya terdapat beberapa tempat untuk berfoto. Ada Hutan Peterpan sampai bisa naik ayunan di ketinggian. Hanya saja, aku nggak begitu suka untuk berfoto begitu. Selain karena, rumah-rumah Peterpan berada di Tusuk Sate, yang biasanya angker, sedangkan ayunannya tampak tidak begitu terjamin standar keamanannya.

Credit: Instagram.com/lidiiaputrii

Tengoklah ayunannya, begitu doang. Kalau tiba-tiba angin kencang, gimana?

View this post on Instagram

Coban Parang Tejo Pagi-pagi sekali saya nekat ke Coban Parang Tejo. Sendirian. Bermodalkan motor sewaan. Tidak tahu jalan dan bergantung pada Google Maps. Sensasinya luar biasa. Saya memilih melewati jalan pinggiran. Melewati banyak rumah penduduk, lalu ketika jalan mulai menanjak banget, di sisi jalan penuh kebun jeruk. Banyak yang sudah matang pula. Sampai bertemu pohon-pohon pinus. Itu pertanda sudah dekat. Jalan santai menuju Coban, kurang lebih 650 meter dari camping ground Peacock Pine Forest. Asli sendirian menuruni jalan setapak di tengah kepungan kabut. Seram? Ya lah. Karena jam 10 sudah harus briefing Kemenkeu Mengajar, setelah mengambil beberapa foto, saya pun kembali pulang ke Malang. #cobanparangtejo #parangtejo #cobanmalang #airterjunparangtejo #peacockpineforest #odtexplore #pendakicantik #treking #trekingday #waterfall #idpetualang #travelblogger #travelingphotography #solotraveler #solobackpacker

A post shared by Pringadi Abdi Surya (@pringadisurya) on


Kalau mau ke Coban Parang Tejo, kamu bisa menikmati semua keindahan dengan hanya membayar tiket masuk Rp15.000. Murah ‘kan?

 

17 thoughts on “Solo Traveling ke Coban Parang Tejo yang Berkabut”

  1. Masha Allah,, air terjunnya keren. Tiketnya juga murah aja. Cuma 15rebu. Kalau Yuni keknya nggak berani lah solo travelling ke tempat itu.

    Heleh, solo travelling kemana-mana juga Yuni mesti ngajak minimal satu orang teman lah. Kan sekalian biar ada yang motoin. Hehehe

    1. Saya pernah ke air terjun saat ada camp di Malang tahun 2008, hanya saja saya lupa namanya. Saya penasaran, apakah ini tempat yang sama ya? Tapi belum ada ayunan instagrammable itu.

  2. jujur saya baru dengar tempat wisata ini. ternyata bagus juga bagi orang yang setiap hari kerja, sekali-kali tidak ada salahnya pergi ke tempat itu di temani pacar

  3. Tempatnya sih bagus, sepadan lah dengan jalan yang udah dilewatin. Aku jadi keinget waktu pulang dari kantor ke rumah, perjalanan di malam hari dengan kegelapan sempurna melewati jalanan yang kiri kana cuma hutan, sepanjang jalan aku cuma berzikir sekencang-kencangnya

  4. Anjir.. liat ayunan aja merinding gua.
    Kok berani banget tu orang main ayunan kyak gtu. Luar biasa adrenalinnya.

  5. Coban Parang Tejo ini malah aku baru tau lho mas, karena selama d Malang itu pernah ke Coban Rondo, Coban Talun dan Coban Raiz hihi. Menarik nih!

  6. MashaAllah sejuk sekali, liat air terjunnya juga indah :)) Kudu dicari nih, kayaknya belom/gak banyak yang tau loh Kak, tempat wisata ini. Apalagi tiket masuknya terjangkau pula :))

  7. Wahh solo traveling ke coban parang tejo sesuatu banget ya kak , dan berkabut pula. Tapi pas sampe destinasi belum banyak orang2 ya . Keren .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *