Sejarah Perkembangan KBBI

Sejarah Perkembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Tahu nggak Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kita sekarang sudah edisi keberapa? Jawabannya adalah edisi kelima. Yak, pada 28 Oktober 2016, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, KBBI edisi kelima resmi diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Pada edisi ini, KBBI memuat 127.036 lema yang versi cetaknya setebal 2.040 halaman. Jumlah ini hampir dua kali lipat versi sebelumnya, yakni 1.400-an halaman.

Penasaran nggak sih bagaimana sejarah perkembangan KBBI ini?

Pusat Bahasa dulunya merupakan lembaga bahasa di Universiteit van Indonesia. Namun sebelum itu, lembaga bahasa berdiri di Nusantara, sekumpulan daftar kata sudah lebih dulu ada. Karya leksikografi tertua dalam sejarah studi bahasa di Indonesia adalah daftar kata Tionghoa-Melayu pada awal abad ke-15 yang berisi 500 lema (kata). Ada juga daftar kata Italia-Melayu yang disusun oleh Pigafetta pada 1522. Kamus antarbahasa tertua dalam sejarah bahasa Melayu adalah Spraeck ende woord-boek, Inde Malaysche ende Madagaskarsche Talen met vele Arabische ende Turcsche Woorden karya Frederick de Houtman yang diterbitkan pada 1603.

Nah, kamus ekabahasa bahasa Melayu pertama di Nusantara ditulis oleh Raja Ali Haji. Judulnya Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama. Kamus ini terbit pada abad ke-19. Baru pada pertengahan abad ke-20, Pusat Bahasa yang masih bernama Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indonesia menerbitkan Kamus Umum Bahasa Indonesia atau KUBI (1953) karya Wilfridus Joseph Sabarija Poerwadarminta.

KUBI selanjutnya mengalami beberapa revisi sampai edisi ke-5 pada tahun 1976. Tim penyusunnya yakni Tim Bidang Perkamusan Pusat Bahasa Republik Indonesia, terdiri atas Harimurti Kridalaksana (konsultan), Sri Timur Suratman (koordinator), Sri Sukesi Adiwimarta (koordinator), serta beberapa anggota lain menyusun dan menyesuaikan ejaannya. Seribu lema ditambahkan pada Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi ke-5 ini.


Baca Juga: Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia


Dari KUBI ke KBI

Setelah KBBI, sebenarnya Pusat Bahasa sempat menerbitkan kamus yaitu Kamus Bahasa Indonesia. Hanya beredar di kalangan tertentu. Sayangnya, jumlah lema dan informasi yang disajikan di dalamnya masih sedikit,

Dari KBI ke KBBI

Sejarah Perkembangan KBBI

Pusat Bahasa membentuk sebuah tim yang bertugas menyusun sebuah kamus besar. Tim ini dipimpin oleh Anton M Moeliono yang bertindak sebagai penyunting penyelia. Kamus yang diberi nama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ini diterbitkan saat Kongres Bahasa Indonesia V pada 28 Oktober 1988.

Di KBBI edisi pertama ini terdapat kurang lebih 62.100 lema. KBBI edisi pertama dicetak ulang sekaligus mengalami empat kali revisi, yaitu 1988, 1989, 1990, dan 1990.

KBBI Edisi Kedua

KBBI edisi kedua pada 1991 disusun di bawah pimpinan Hasan Alwi. Jumlah lema yang ada dalam edisi ini sekitar 72.000.

KBBI Edisi Ketiga

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga terbit pada 2001. KBBI ini disusun di bawah pimpinan Dendy Sugono. Jumlah lema yang ada dalam edisi ini kurang lebih 78.000 dan 2.034 peribahasa. KBBI edisi ketiga ini dicetak ulang dan tiga kali direvisi, yaitu pada 2001, 2002, dan 2005.

KBBI Edisi Keempat

Pada tahun 2008, Pusat Bahasa KBBI edisi keempat terbit. Di edisi keempat ini terdapat peningkatan jumlah lema. Dalam edisi keempat ini, ada 90.049 lema yang terdiri dari 41.250 buah lema pokok dan 48.799 buah sublema. Selain itu, peribahasa dalam edisi ini juga bertambah dua buah menjadi 2.036 buah peribahasa.

Tak hanya perkembangan jumlah lema dan sublema, KBBI edisi keempat juga mengalami perbaikan definisi atau penjelasan lema dan sublemanya. Di antaranya, penambahan makna, perbaikan untuk penulisan nama Latin hewan dan tumbuhan, perubahan urutan sublema, dan perbaikan isi lampiran.




Begitulah sejarah perkembangan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hingga kini telah sampai di edisi kelima. Sevagai masyarakat kita dapat memberikan saran atas entri atau definisi yang termuat dalam kamus daring ini. Sebab ebuah kamus yang hidup adalah kamus yang terus mengikuti perkembangan zaman.

SUMBER

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *