Resensi Buku Love Your Self

Resensi Buku LOVE YOUR SELF karya Relevantiana Juniarti

PERCAYA DIRIMU SENDIRI MESKI DUNIA MELIHATMU BERBEDA

Pikanti Endah Artanti

            Mencintai diri sendiri atau yang sering kita dengar dengan istilah love your self merupakan cara terbaik untuk tidak memandang keburukan dalam diri kita.  Buku berjudul LOVE YOUR SELF ditulis oleh Relevantiana Juniarti akrab dipanggil Nana yang lahir pada tanggal 2 Juni 1998 dan beralamat tinggal di Yogyakarta. Beliau merupakan seorang lulusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Saat ini, beliau berprofesi sebagai editor dan sebagai penulis. Beliau sering menulis cerita pendek dimedia masa, karyanya yang telah terbit ialah buku antologi dengan judul ‘Pejuang Wanita, Kisah Inspiratif’. 

            Sewaktu kecil Nana pernah mengalami sakit yang menyebabkan dirinya saat ini berkembang menjadi berbeda dengan yang lainnya. Namun Nana selalu mengucap syukur kepada Tuhan. Hal ini membuat Nana memiliki sikap yang positif akan menerima hidupnya, walau sangat sulit nanun beliau tidak menyerah begitu saja. Sikap Nana ini membawanya untuk menulis buku ini dan ahkirnya beliau terbitkan.

            Buku yang ditulis oleh Nana ini memberi semangat para pembaca untuk mencintai diri sendiri dengan menyembuhkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, mengenali diri sendiri dan tentunya dengan bersyukur diri sendiri. Selain itu, buku ini juga digunakan untuk memperbaiki diri dengan menyembuhkan dari rasa tidak percaya diri, rasa takut akan kegagalan dan hal-hal yang membuat pikiran menjadi negatif. Buku ini juga merupakan opini penulis mengenai mencintai diri sendiri dan tidak berpikiran negatif.

Baca Juga: Review Buku A Little Book About You

            Hal pertama yang ditulis dalam buku ini ialah pengertian mengenai lunturnya keyakinan dan kepercayaan pada diri, pembaca diajak untuk mengenali akibat lunturnya rasa percaya diri hanya akan merugikan diri sendiri karena hilangnya rasa percaya diri ini justru menjadikan orang lain menganggap kita rendah dan akan menertawakan kita. Dengan disuguhkan contoh antara lain, kita sering merasa rendah atau menganggap diri sendiri tidak mampu melakukan sesuatu. Jika kita menjaditidak percaya diri kunci dari ketidak percaya diri itu adalah pada diri kita sendiri, kita menentukan kita mau sengsara atau kita mau berbahagia.

Baca Juga: Review Buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini

            Lunturnya keyakinan dan kepercayaan juga membuat diri kita merasa mudah menyerah atas kegagalan dan apa yang kita hadapi. Dalam buku ini penulis memberikan ajakan untuk para pembaca untuk tidak menyerah. Disebutkan dalam kutipan berikut “Padahal sejatinya kegagalan hanyalah kegagalan. Ketika gagal, yang perlu kita lakukan hanyalah bangkit dan berusaha kembali” Dalam kutipan tersebut penulis memberikan semangat atau motivasi kepada kita para pembaca untuk mengagap kegagalan itu menjadi sebuah proses dari keberhasilan. Obat dari lunturnya keyakinan itu adalah diri kita sendiri. Kita yang menetukan akan terus bersedih dan terpuruk atau kita akan bangkit dan terus maju menatap masa depan.Penulis mengajak kita untuk merefleksikan yang terjadi di dalam diri kita, “ Apa yang terjadi, apa yang kita alami, apa yang kita lihat dan sebagainya didalam hidup ini sangat bergantung dengan bagaimana kita menyikapinya, tergantung bagaimana kita memberi nilai kedepannya”

            Menyembuhkan diri sendiri atau healing your self  merupakan cara untuk kita mampu menerima keadaan kita dan praktek mencintai diri sendiri. Penulis mengajak kita untuk selalu menyembuhkan diri sendiri dengan  melalui praktek mererima kenyataan hidup dan berhenti bersikap negatif pada diri sendiri, berdamai dengan sakit hati, memaafkan diri yang tidak pernah luput dari banyak kesalah, berlapang dada menerima kenyataan yang terjadi, dan mengizinkan diri untuk bahagia.

            Mungkin banyak beban yang tanpa kita sadari malah menjadikan kita makin berpikiran negatif seperti terlalu cepat berasumsi sendiri, overthingking, terlalu mendengarkan komentar orang lain, dan membandingankan diri dengan orang lain. Maka dari itu hal pertama yang kita lakukan adalah mengubah pola pandang yang kita miliki. Pola pandang yang mengangap semua itu negatif, kita ubah dan tanamkan dalam diri bahwa kita itu mampu.Lalu kita juga mencintai fisik kita sendiri dengan terus bersyukur dan berhenti membanding-bandingkan dengan orang lain. “Fokus pada kelemahan diri sendiri hanya akan menyita banyak sekali waktu anda, sementara kelebihan yang ada tidak anda maksimalkan. Dan inilah kesalahan yang sering dilakukan” penulis mengajak untuk kita tidak hanya fokus pada kelemahan justru dibaliknya, kita harus memandang kelemahan yang dalam diri kita akan menjadi  kelebihan yang tidak terduga dan kadang tidak kita sadari.

            Terkadang kita sering mengeluh dan merasa sedih namun, mengeluh dan bersedih sama sekali tidak mengubah keadaan kita menjadi lebih baik, justru membuat kita lebih terpuruk lagi. Kita juga sering menyalahkan diri sendiri yang menyebabkan bahagia dalam diri kita terasa sangat sedikit, kesalahan yang terjadi pada diri kita bukan untuk diratapi melainkan untuk diperbaiki dan menjadikan kita lebih baik. “Menyalahkan diri sendiri merupakan sebuah perasaan yang tidak puas dengan kegagalan, mengalami keputus-asaan, dan kadang berahkir dengan depresi” Oleh karena itu, penulis mengajak untuk memetik hikmah dari setiap peristiwa dan menjadikan diri kita lebih berpikiran postif. Selain itu kita juga diajak untuk memandang masalah tidak hanya dari satu sisi saja, melainkan dari berbagai sisi atau banyak sisi yang terkadang kita abaikan. Justru masalah itu merupakan awal kita menjadi kuat dan lebih bahagia.

            Kunci dari semua permasalahan dalam Healing self ini adalah memaafkan. Memaafkan bukan berarti kita menyerah dan mengalah pada keadaan. Memaafkan juga bukan berarti kita menyangkal semua peristiwa yang tidak menyenangkan tapi justu kita diajak untuk menerima diri kita dan berpikiran positif. “Memaafkan diri sendiri merupakan hasil dari proses panjang. Memaafkan diri sendiri dicapai ketika individu berhasil mengenali bahwa mereka tidak sempurna dan bisa gagal. Hingga ahkirnya menciptakan ideal self  bagi diri mereka sendiri” Memaafkan diri sendiri ini merupakan pintu gerbang sebelum kita memaafkan orang lain.

            Selain membahas mengenai mencintai diri sendiri, buku ini juga memberikan penjelasaan mengenai menfaat dari berdamai dengan diri sendiri. Sehingga kita mampu untuk bertahan di dalam kekurangan kita. Buku ini juga memiliki bahasa yang mudah di pahami dan isinya sangat menarik untuk kita yang merasa diri nya insecure. Buku ini cocok untuk pembaca yang kurang percaya diri karena penulis mengajarkan agar bersyukur. Buku ini juga memiliki animasi yang cukup membuat pembaca tidak merasa bosan dalam membaca. Namun, terdapat sedikit kesalahan dalam penulisan di dalam buku ini.

            Inti dari buku ini ialah kita sebagai manusia harus tetap bersyukur dan terus mencintai diri kita apa adanya. Orang yang mampu bersyukur merupakan orang yang hebat. Jangan banyak mengeluh, bersusah hati atau merasa diri paling sengsara karena itu justru menghambat kita untuk berkembang. Jadi banyak lihat sekita bahwa kita istimewa berbeda dari yang lain yang menyebabkan kita memiliki keunikan masing-masing.

Identitas Buku

Judul buku      : Love Your Self
Penulis             : Relevantiana Juniarti
Penerbit           : Caesa Media Pustaka
Desain cover   : Tim Caesar Media
Tahun              : 2020
Tebal               : 240 halaman
Ukuran buku  :135 mm x 200 mm
ISBN               : 978-602-5964-22-0

Biodata Peresensi

Resensi Buku Love Your Self

Pikanti Endah Artanti merupakan mahasiswa Universitas Sanata Dharma prodi Pendidikan Ekonomi Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *