Pelajaran Membangun Start Up dari Han Ji Pyeong

“Halo, Pring, bisa aku minta bantuan, nggak?”

Tiba-tiba, Riky Hartaman, teman karibku sejak SMA menghubungiku. Ia memintaku menulis tentang Rentbook, sebuah start up di bidang manajemen penyewaan. Kini, ia menjadi representative di Indonesia untuk start up asal Dubai tersebut. Riky memang salah satu temanku yang bergelut di bidang start up. Sebelumnya ia sempat memegang sebuah market place asal Tiongkok di Indonesia sebelum pandemi mengubah segala kalkulasi yang ada, termasuk peruntungannya.

Ada lagi teman sekelasku saat di Matematika ITB. Namanya Pamitra Eka. Ia adalah co-founder dari Tanigroup yang terkenal dengan Tanihub di bidang penjualan dan distribusi produk pertanian dan Tanifund di bidang pembiayaannya.

Dari mereka aku belajar banyak hal. Terutama tentang keberanian untuk berkreativitas.

Baca Juga: Kelola Stok Barang Bisnis

Pelajaran dari Han Ji Pyeong dan Drama Start Up

Masih segar dalam ingatan manakala demam Start Up, serial drama Korea Selatan, melanda kita semua. Penonton pun terbagi dua tim. Tim pertama adalah Nam Do San, sang programer andal. Tim Kedua adalah Han Ji Pyeong, Sang Analis Bisnis yang mengambil keputusan investasi.

Aku sebenarnya sudah membuat janji dengan Riky Hartaman untuk membuat podcast membahas realitas dunia start up dengan pendekatan dari serial drama tersebut. Namun sayang, hingga kini, waktu belum mempertemukan keluangan kami berdua.

Dari Han Ji Pyeong kita belajar, berbisnis adalah hal yang sulit. Dunia start up tidak untuk semua orang. Hanya orang yang mau dan berani mengambil risiko, menjalani proses yang panjang, dan berani bertaruh pada kegagalanlah yang biasanya mampu bertahan. Mental dan tekad yang kuat diperlukan untuk menjalankan start up.

Bukan keinginan untuk meraub laba, visi dari membangun sebuah bisnis adalah tentang value/nilai dari bisnis itu sendiri. Senada dengan yang dikatakan CEO Sand Box dalam drama tersebut, “Jangan meminum air laut, kau harus bertahan sampai hujan turun. Hanya mengejar keuntungan pada awal bisnis sama saja dengan meminum air laut.”

Nilai itu yang akan memandu kita dalam mendatangkan hujan. Sebab nilailah yang akan diamini oleh semua orang. Bukan laba.

Ambil contoh, Rentbook, sebuah aplikasi catatan sewa digital itu, memiliki nilai yang memudahkan pemilik aset dalam skala kecil (bukan hanya skala UMKM, tetapi juga ultramikro) untuk mendaftarkan asetnya. Start up ini langsung mempertemukan calon customer dengan pemilik aset, memudahkan mereka dalam berinteraksi tanpa memungut biaya sama sekali. Begitu pun Tanifund yang lewat P2P Lending mempertemukan petani dengan para pemodalnya… hanya mengambil 2% dari keuntungan yang diterima. Nilai untuk mengembangkan ekosistem pertanian, membebaskan petani dari tengkulak dengan memanfaatkan masyarakat yang memiliki idle cash dan tertarik pada investasi yang mendatangkan hujan berupa suntikan dana dari investor-investor besar sehingga perusahaan mereka makin berkembang.

Maka, pelajaran pertama ketika hendak membangun start up adalah miliki visi yang bernilai itu!

Setelah menemukan visi itu, sadarilah bahwa kamu tidak bisa sendirian. Harus ada tim yang kokoh dan saling melengkapi.

Han Ji Pyeong pun dengan jujur mengatakan kepada Nam Do San bahwa ia tidak cocok menjadi CEO. Bila tim ini hendak bertahan, Seo Dal Mi yang harus maju. Ini bukan hanya menunjukkan soal tim, tetapi juga komposisi tim.

Saya punya pengalaman menarik tentang rencana membangun start up ini. Beberapa tahun silam, saya sudah bulat untuk membangun sebuah platform menulis dari hulu ke hilir. Mulai dari wadah menulis hingga penerbitannya, dan tentu saja harus berbasis aplikasi. Beberapa pertemuan sudah dilakukan, namun kami terkendala pada tidak adanya peran Nam Do San, sang programer andal.

Sayang sekali, karena setelah pandemi, platform semacam itu ternyata semakin menjamur dan diminati banyak orang. Andai beberapa tahun lalu, aku punya tim yang lebih matang dan lebih memiliki tekad yang kuat, tentu saja, solusi dari permasalahan yang ada bisa dicari.

Jika tim tidak bisa bekerja sama, tidak mungkin akan jadi besar. Begitulah kata Han Ji Pyeong.

Jika tim sudah terbentuk, buatlah strategi. Sebagus apapun produk yang ditawarkan tetapi jika tidak memiliki business plan yang jelas maka tidak ada investor yang akan tertarik.

Lagi-lagi kita melihat hal tersebut pada Samsan Tech. Trio programer itu sebenarnya punya produk yang bagus. Sayangnya mereka tidak bisa membuat rencana bisnis yang baik dan tidak tahu strategi bisnis yang baik sehingga bertahun-tahun produk yang bagus itu menjadi sia-sia.

Bagaimana rencana bisnis yang baik itu? Semuanya harus berdasarkan data. Seorang pebisnis profesional akan lebih melihat data untuk menentukan sikapnya. Sebab, menggunakan data akan jauh lebih valid terhadap kebenaran.

Terakhir, bila hendak menjalankan start up, bagian tersulitnya adalah berani membuat keputusan. Pada titik tertentu, bisnis harus memilih untuk melakukan A atau B. Semua rencana dan strategi tidak ada gunanya jika tidak dieksekusi. Eksekusi ini membutuhkan keberanian karena pilihannya hanya ada di antara berhasil dan gagal. Tentu semakin matang rencana, semakin mengecilkan peluang gagal. Tinggal langkah terakhir adalah menekan tombol untuk menjalankannya dengan segala risiko yang ada.

Dukungan Dalam Menjalankan Bisnis

Dalam menjalankan bisnis, tentu saja kita perlu dukungan. Dukungan yang utama berupa mentor. Ya beruntung kalau punya mentor seperti Han Ji Pyeong atau setidaknya punya ruang untuk saling berdiskusi bersama teman-teman yang berpengalaman di bidangnya.

Dukungan lain yang tak kalah penting adalah dukungan peralatan yang bisa menunjang segala aktivitas dalam memaintain bisnis. Salah satunya adalah pemilihan printer yang tepat.

Aku sih merekomendasikan produk printer dari HP. Kamu boleh memilih salah satu dari produk ini: Deskjet Series 2335, 2336, 2337, Laserjet Pro M404DN,  Laserjet Pro M454DN,  Laserjet Pro MFP M428FDN & Laserjet Pro MFP M479FDW. Mana suka pokoknya.

Tapi kalau aku akan memilih seri terbaru Laserjet Pro MFP M479FDW. Kenapa?

Printer adalah tentang efisiensi. Sejiwa dengan cara berbisnis toh. Nah LasetJet Pro MFP pada dasarnya sangat efisien. Baik dari segi energi, waktu, dan tintanya. Printer multifungsi ini hemat energi jika dibandingkan dengan produk serupa. Mampu mencetak dengan kecepatan 28/28 ppm (black/colour). Kualitasnya tak perlu diragukan karena menghasilkan warna cerah dan cemerlang.

Nah, ketika hendak membuat flier atau informasi start up untuk pemasaran misalnya, bila harus berhemat, ya kita tidak perlu ke vendor lain. Cukup mencetak sendiri lewat printer ini.

Apalagi desainnya sederhana dan elegan. Tidak banyak makan tempat. Bahkan kita tidak perlu memikirkan kabel yang berseliweran karena wireless printer. Pokoknya mah printer bagus untuk kantor.


Kalau kamu sudah memiliki kesemua hal di atas, tunggu apalagi, yuk kita bangun start up!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *