Mitos Gerhana Matahari di Indonesia

Kita sudah membahas mitos gerhana matahari di berbagai negara. Nah, sekarang saatnya kita membahas mitos gerhana matahari di Indonesia.

Ternyata banyak lho mitos gerhana matahari di Indonesia. Berbagai daerah punya mitos gerhana matahari itu. Mau tahu apa saja?

Mitos Gerhana Matahari di Ternate

Mitos yang beredar di kalangan masyarakat Ternate, Maluku Utara, meyakini bahwa peristiwa gerhana matahari total disebabkan oleh naga jahat bernama Jambewangi yang menelan matahari. Ketika Sang Surya dilahap oleh Sang Naga, langit di pagi hari yang biasanya cerah berubah pun menjadi gelap gulita.

Untuk mengusir Sang Naga tersebut, dibutuhkan suara yang gaduh, misalnya memukul piring dengan sendok beramai-ramai. Hal tersebut merupakan satu-satunya cara agar Naga Jambewangi memuntahkan kembali matahari yang sudah ditelannya.

Mitos Gerhana Matahari di Banten

Mitos yang beredar di kalangan penduduk Banten terkait gerhana matahari tidak kalah menarik. Masyarakat Banten meyakini bahwa wanita hamil harus bersembunyi di bawah meja atau kasur. Tujuannya, agar calon bayi tidak berkulit belang. Tak jarang ada beberapa orangtua yang melakukan ritual memandikan kucing dan hamil mandi. Tidak cuma itu saja, sebagian masyarakat juga melumuri perut sang ibu dengan kunyit yang dibalut kain atau sarung yang dibalik supaya calon anak yang lahir tidak berkulit belang.

Mitos Gerhana Matahari di Jawa

Di Jawa Tengah khususnya Magelang, GMT merupakan peristiwa dilahapnya matahari oleh sosok buto (monster) yang bernama Batara Kala. Menurut Budayawan Jawa, ES Wibowo, mitos Batara Kala yang melahap matahari berasal dari negeri kayangan Suralaya yang terletak di puncak pegunungan Menoreh, di perbatasan Kabupaten Magelang dan Kulonprogo, Yogyakarta.

Gunung tersebut memiliki sembilan puncak yang dikenal sebagai punthuk songo, dan dihuni dewa. Sang pemimpin dewa, Batara Guru, hendak memberikan air Tirta Kamandanu yang memiliki khasiat luar biasa, seperti memberikan umur panjang, menyejahterakan umat hingga menyembuhkan penyakit. Seluruh Batara berkumpul untuk mendapatkan air suci itu, kecuali Batara Kala yang bersikap curang dengan menyamar menjadi Batara Indra (Batara Hujan) dan menyusup di tengah antrean. Perbuatan curang tersebut pun diketahui dan dilaporkan oleh Batara Surya (Batara Matahari) kepada Batara Guru, sehingga Batara Kala dihujat dan diserang oleh Dewa Wisnu.

Konon, sejak saat itu Batara Kala murka dan bersumpah akan membalas dendam perbuatan Batara Surya. Pada saat tertentu, Batara Kala akan turun ke bumi dan memakan matahari. Peristiwa tersebutlah yang dikenal sebagai Gerhana Matahari Total versi dongeng masyarakat Jawa.

Selain cerita di atas, terdapat kepercayaan lain di mana para orangtua tidak mengijinkan anaknya ke luar rumah. Bahkan, mereka menyembunyikan anak-anaknya di kolong tempat tidur sambil menaruh sesajen di atas tempat tidur. Hal ini berlaku terutama bagi orangtua yang memiliki anak yang terlahir pada saat julung wangi (fajar), julung sungsang (siang), julung caplok (petang). Hal ini ditujukan agar sang Buto ketika turun ke bumi,tak ikut melahap anak mereka.

Adapun ritual yang harus dilakukan oleh wanita hamil ketika gerhana matahari total terjadi, seperti membuat bubur merah putih sebagai penolak bala. Tujuannya agar kegelapan yang terjadi ketika gerhana matahari total tidak membawa malapetaka lainnya seperti penderitaan, wabah penyakit dan gagalnya panen.

Mitos Gerhana Matahari di Sulawesi Selatan

Di Sulawesi Selatan, mitos gerhana matahari adalah larangan untuk memakan daging babi. Akan ada sanksi adat yang tegas dan keras bagi siapa saja yang melanggarnya.

Orang-orang zaman dahulu di Sulawesi Selatan mempercayai bahwa dengan tidak memakan babi saat terjadinya gerhana matahari, maka dapat membuat langit kembali terang dan sinar matahari muncul lagi. Sayangnya tidak banyak informasi dan penjelasan mengenai mitos larangan makan babi tersebut.

Mitos Gerhana Matahari Lain yang Dikaitkan dengan Sains

Nah, selain mitos yang berhubungan dengan kebudayaan, ada juga mitos lain yang berkembang di Indonesia yang justru dipercaya sebagai sains. Padahal semua itu hanyalah mitos atau paling tidak pseudo-sains. Apa saja itu?

Gerhana Matahari Menyebabkan Kebutaan

Saat saya kecil, beredar kabar bahwa melihat gerhana matahari secara langsung akan membuat kebutaan pada mata. Pada saat itu, populerlah kacamata antiradiasi khusus untuk melihat gerhana matahari.

Sinar matahari memang berbahaya buat kita. Bukan cuma pas gerhana. Namun, melihatnya tidak akan sampai membuat mata kita buta.

Melihat gerhana matahari dengan mata telanjang cukup untuk membuat kita mengalami solar retinopathy. Mata akan menjadi kabur dan sulit untuk melihat hal-hal yang detail. Kebutaan memang mungkin terjadi jika kamu melihat gerhana dalam jangka waktu yang lama. Namun biasanya mata tidak akan mampu melakukannya.

Gerhana Matahari Menyebabkan Perubahan Cuaca

Ada mitos bahwa setelah gerhana terjadi, akan muncul embun dan kabut yang mengandung racun dari langit. Nyatanya, gerhana matahari tidak akan menimbulkan perubahan cuaca yang berarti. Setelah gerhana matahari terjadi, langit akan menjadi lebih gelap daripada biasanya, suhu udara turun, serta berubahnya arah angin. Tidak ada perubahan yang membahayakan.

Gerhana Matahari Menyebabkan Makanan Jadi Beracun

Banyak orang yang percaya bahwa mitos gerhana matahari dapat mengubah makanan menjadi beracun. Sampai-sampai ada larangan untuk makan dan minum ketika gerhana matahari itu terjadi.

Padahal radiasi yang dipancarkan oleh gerhana matahari tidak akan mengubah senyawa dalam makanan. Tak hanya itu, tingkat radiasi sebenarnya juga tidak berubah saat gerhana. 

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *