Merayakan Anniversary ke-9 di Asana Grand Pangrango, Bogor

Mendadak, aku mengajak Zane buat staycation Rabu, 1 Juli 2020 kemarin. Awalnya dia nggak ada ide kenapa aku tiba-tiba mengajak doi jalan-jalan setelah sekian lama di rumah saja selama pandemi. Doi pikir, ini karena waktu liburan sekolah Hanna. Dan doi tidak memprotes meski statusku Work from Home, buat “kelayapan” jalan-jalan ke hotel.

Memang sih, pada saat merencanakan aku belum tahu bakal staycation di mana. Aku sebenarnya punya voucher Hotel Santika, Bogor dari MyValue yang sudah bisa diaktifkan mulai 1 Juli hingga Maret 2021. Tapi, waktu itu ada flash sale di Tr* (karena bukan konten sponsor, disensor ya). Dan aku mendapatkan hotel Asana Grand Pangrango dengan harga murah, tidak sampai 200 ribu sudah dengan sarapan. Biar nanti, Hotel Santikanya dipakai saat kondisi sudah lebih baik. Biar sekalian bisa ngemall kan (lokasi Santika persis di Botani Square Mall).

Kukatakan ke Zane, berangkatnya paling lambat setengah 7 pagi. Sebelum ke hotel, aku mengajaknya ke air terjun. Tepatnya, di Curug Lembah Pelangi di Kampung Jatake, Cibungbulang.

Aku sudah pernah ke Curug Lembah Pelangi dengan Kak Hanna. Waktu itu, aku dan Hanna berangkat pagi-pagi sekali juga, tapi via KRL. Di stasiun Bogor, Om Waldi menjemput kami dengan motornya. Lalu kami melesat ke curug. Curug Lembah Pelangi ini juga disebut Curug Jatake.

Karena Hanna belum sarapan, mungkin dia masuk angin. Belum sampai Ciampea, Hanna sudah mabok, muntah-muntah. Itu hari, entah berapa kali Hanna muntah-muntah selama naik motor pulang-pergi.

Zane dan Gianna belum pernah ke Curug Lembah Pelangi. Jadi, kami berempat naik motor jadul yang bunyi mesinnya keberatan membawa kami berdua. Bayangkan saja, total berat kami mungkin hampir 200 kg. Bunyi mesin motor meraung menempuh jarak 32 km dari Citayam ke Kampung Jatake.

Sebelum berangkat itu, Zane kupeluk. Lalu kubisikkan padanya, “Happy Anniversary ke-9, Sayang.” Dan baru dia sadar, 1 Juli 2011, adalah hari pernikahan kami. Terkenang dia memakai suntiang yang berat itu, berjalan di tengah kampung, diarak, dengan tari piring yang mengiringi kami. “Terima kasih telah menjadi istri dan ibu dari anak-anakku, Sayang…”

Kami sarapan di jalan. Membeli nasi uduk. Dan baru menjelang pukul 9 kami sampai di Curug Lembah Pelangi. Anak-anak sudah semangat pengen main air.

Untuk sampai ke curug, kami hanya perlu menuruni anak tangga sejauh kurang lebih 200 meter. Dekat. Dan di lokasi ini, setidaknya ada 4 curug, mulai dari yang sangat besar hingga yang agak kecil. Namun, lokasi favorit adalah curug yang airnya mengalir di bebatuan. Di depannya ada kolam buatan.

Di lokasi tersebut, hanya ada kami dan sepasang kekasih yang tampak bersantai di saung. Rasanya ini adalah curug di belakang rumah, curug pribadi sehingga foto-foto yang kami ambil hanya menampakkan kami sekeluarga.

Setelah puas bermain air, menjelang pukul 10, kami kembali ke atas untuk melanjutkan perjalanan ke Asana Grand Pangrango di Kota Bogor.

Staycation di Asana Grand Pangrango Hotel, Bogor

Dari Curug Lembah Pelangi ke Asana Grand Pangrango Hotel jaraknya 22 km di Google Maps. Dan yah, tahu sendiri, jalan ke Bogor lewat Ciampea selalu padat merayap. Jadi lumayan juga pegalnya.

Sekitar setengah 12, setelah beberapa kali salah belokan, karena aku nggak hapal Kota Bogor, kami sampai di hotel. Satpam mengukur suhu kami sebagai bagian dari protokol Covid-19. Setelah angka menunjukkan 36,5 derajat, kami dipersilakan masuk untuk melakukan check in.

Awalnya, sang resepsionis memberi tahu bahwa check in bisa dilakukan pada pukul 14.00. Ya sudah, aku bilang buat menitipkan tas terlebih dahulu. Kami mau cari makan di McDonald yang posisinya pas di seberang hotel. Mumpung harganya lagi promo. Ada promo 20 ribu, hamburger plus Sundae atau McFlurry. Lumayan kan sudah lama sekali nggak ajak anak-anak makan McD.

Saat menitipkan tes, barulah sang resepsionis memberi tahu bahwa kami bisa check in duluan. Kami mendapat kamar di lantai 1. Satu tingkat di atas Lobby dan sedihnya… Tidak ada pemandangannya sama sekali. Hiks. Jendela hanya menampakkan jalan menuju halaman belakang.

Namun, kamarnya luas banget. Sungguh. Kamar mandinya juga luas. Kami dapat kasur Twin dan sibuklah berdebat, siapa mau bobok sama Abi, siapa mau bobok sama Umi. Anak-anak bilang mau tidur berdua. Biar Abi sama Umi satu kasur. Yes.

Satu kesukaan mereka kalau ke hotel adalah Teve. Di rumah antenanya burik jadi gambarnya juga burik. Di hotel, gambarnya bagus. Puas-puaslah mereka nonton film kartun di hotel.

Aku pun keluar buat membeli makan siang. Sekalian membeli air minum dan susu buat anak-anak. Plus Pop Mie. Yes. Entah kenapa Pop Mie itu enaknya cuma dimakan saat jalan-jalan begini.

Tanpa sadar, di ponsel banyak pesan masuk. Tugas kantor menumpuk. Dan setelah makan siang, tidur sebentar, aku mengerjakan tugas kantor itu.

Kelemahan di Asana Grand Pangrango adalah sinyal ponsel jadi nggak bagus. Wifi di kamar pun lemot abis. Akhirnya, aku mengajak anak-anak keluar ke kolam renang. Di sana aku mengerjakan tugas. Mereka sebenarnya kubiarkan kalau mau berenang. Namun Zane tak mengizinkannya. Kasihan, kecapekan. Biar besok saja berenangnya. Benar juga.

Saat aku asik mengetik itu, mereka main lari-larian di area kolam renang yang luas. Di situ aku berpikir, hotel ini memang hotel tua. Namun, lokasinya strategis dan arealnya luas juga.

Sebelum ke kolam renang itu, kami melewati restoran hotel yang tampak tutup. Petugas hotel memberi tahu bahwa restoran memang belum buka. Sarapan besok pagi diantar ke kamar masing-masing.

Setelah tugas dikerjakan, aku melewati ruang Playground anaknya yang sudah dibuka. Kubiarkan anak-anak bermain sejenak di sana sebelum kami mencari makan malam. Tak jauh dari hotel ada penjual bubur ayam dan nasi goreng. Enak betulan lho.

Kami kembali ke hotel dan bercengkerama. Oom datang bakda Maghrib membawakan air minum dan donat. Dia nggak bisa lama-lama karena ada rapat katanya. Oom memang tinggal di Bogor dan kosannya nggak jauh dari hotel.

Tantangan punya anak lincah kayak Hanna dan Gianna adalah saat menyuruh mereka tidur. Susah betul. Penuh drama. Baru mereka bisa tidur.

Nggak tahu kenapa, AC di kamar terasa dingin sekali. Padahal sudah diatur suhunya ke 27 derajat celcius. Dan kebingungan mencari sakelar untuk mematikan lampu di kasur. Nggak enak kan kalau terang-terang saat bobok. Ehemm…

Besoknya kutunaikan janji buat anak berenang. Setengah 7 kami ke kolam renang dan serasa kolam renang pribadi. Nggak ada orang lain.

Kolam renangnya terdiri dari dua bagian. Satu buat anak kecil. Satu buat dewasa yang kedalamnnya hingga 2,5 m. Sayangnya, aku nggak ada hasrat berenang. Hanya menemani anak-anak. Soalnya, kolam renangnya tampak kotor dan spooky. Aku juga melarang Zane berenang di tempat yang dalam.

Ruang bilasnya pun mengecewakan. Airnya tidak hidup. Sehingga kami hanya ganti baju di sana sebelum mandi air hangat di kamar.

Sarapan pagi datang. Dua porsi. Isinya nasi ayam, sosis, dan sayur. Dua gelas air putih. Dua gelas teh. Dua piring kecil melon yang sudah diiris. Membandingkan manfaat sarapan pagi di hotel saat normal, jauh sekali. Nggak ada rotinya. Hehe. Namun, setelah dicoba, rasanya enak banget. Masakannya nggak mengecewakan.

Setelah makan kami beres-beres dan bersiap pulang ke kenyataan, menempuh jarak 30 km lagi. Capek bok.

Sampai jumpa di staycation berikutnya ah.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

  1. happy anniversary ya mas pring
    sukak nih kalau akses ke curug bisa dibilang mudah ya ini, nggak terlalu blusukan banget ke dalam hutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *