Mengusir Keterasingan dalam Kerja Kolaboratif di Dunia Literasi

Keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar segala keterasingan manusia. Ucapan Karl Marx itu keluar dari bibir Irwan Bajang manakala saya bertemu dengannya beberapa tahun silam.

Ia mengundangku ke Yogyakarta dalam pagelaran Pasar Buku di Condongcatur. Ia siapkan sebuah tempat untuk membincangkan kumpulan cerpenku, Hari yang Sempurna untuk Tidak Berpikir, yang diterbitkan oleh penerbit miliknya, Indie Book Corner.

Lebih dari 10 tahun telah kukenal penerima Satu Indonesia Award 2014 itu. Kekaguman demi kekagumanlah yang muncul dari benakku. Terutama tahun ini ketika orang-orang terpaksa “mengurung diri” di rumah, sulit ke mana-mana. Aku pikir itu akan menghentikan langkahnya. Ternyata aku salah. Kreativitasnya malah menjadi-jadi.

Dalam beberapa tahun terakhir, Irwan Bajang bersama Windy Ariestanty, dkk. sukses menggelar Festival Patjar Merah, sebuah festival buku yang sangat besar yang berpindah dari kota ke kota. Tidak hanya menjual buku, berbagai kegiatan turut mengiringinya. Mulai dari bincang bersama penulis hingga pengumpulan donasi untuk menyumbangkan buku ke berbagai daerah di Indonesia.

Pandemi membuat mereka berpikir di luar kotak. Lahirlah Festival Patjar Merah virtual. Berbagai kegiatan menarik diselenggarakan di antaranya kelas menulis.

Nah, sejatinya setiap kelas menulis selalu berbayar. Bahkan tidak murah. Namun, Patjar Merah memberikan banyak tiket kelas gratis bagi mereka yang sangat membutuhkan dan berminat mengikuti kelas. Saya sempat mendapat satu tiket gratis mengikuti Kelas Menulis Resensi yang diampu oleh Muhidin M. Dahlan, penulis buku Kabar Buruk dari Langit, yang juga telah banyak sekali menulis ulasan buku di media massa.

Sistem ini seperti sistem subsidi silang. Mereka yang punya uang membayar kelas dan dengan begitu panitia bisa menghargai para narasumber yang mereka undang. Di sisi lain, ada spot untuk berbagi kesempatan kepada mereka yang memang belum mampu membayar, tetapi sangat ingin belajar.

Sistem ini sebenarnya sangat mewakili kerendahhatian Irwan Bajang. Buat yang belum mengenalnya, Bajang (begitu ia kupanggil) datang merantau ke Yogyakarta dari Lombok. Sejak awal ia memang ingin jadi penulis. Sambil berkuliah di jurusan Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Veteran, ia sempat bekerja di sebuah penerbit sebagai editor dan layouter. Di sana, ia mengajak teman-temannya mengirimkan naskah. Sayangnya, hampir semua naskah yang dikirimkan itu, ditolak oleh penerbit tersebut.

Merasa telah mengecewakan teman-temannya, Irwan Bajang merenung dan kemudian memberanikan dirinya menciptakan satu alternatif. Alternatif itu bernama Indie Book Corner, sebuah penerbit Indie yang berusaha memperjuangkan semangat indie yang penuh idealisme di hadapan penilaian pasar.

Indie Book Corner menjadi langkahnya memenuhi jalan pedang dalam kalimat Karl Marx. Kalimat Karl Marx tersebut kerap salah ditafsirkan bahwa kita harus bekerja sesuai passion kita. Padahal bukan itu. Ada keterasingan yang lebih sublim yakni ketika kita sudah menempuh passion kita, tapi kita tetap merasa terasing.

Menikmati pekerjaan itu menjadi jalan utama Bajang. Dan keinginannya untuk membantu banyak orang itulah yang direpresentasikan dalam berbagai kegiatan yang ia lakukan.

Sebelum puisi meledak di pasaran lewat film Ada Apa dengan Cinta 2, dengan Rangga aka Aan Mansyur, diikuti budaya instapoet yang luar biasa berterima, Irwan Bajang turut memulai langkah memasyarakatkan puisi dengan menerbitkan buku-buku puisi dari banyak penyair muda. Mulai dari Dea Anugrah yang kini ngetop sebagai pembaca acara Asumsi Distrik hingga penyair-penyair lain yang kualitas puisinya mumpuni.

Keinginannya untuk berjuang dalam dunia literasi patut diacungi jempol. Bukan hanya Patjar Merah, sebelumnya Irwan Bajang juga terdapat dalam MocoSik, sebuah festival yang memadukan literasi dan musik. Bukan Cuma menerbitkan buku, Irwan Bajang juga keliling Indonesia sebagai pembicara dalam dunia literasi.

Menurut Bajang, ada beberapa pilar penting yang harus dibangun untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat. Pertama, mengubah cara pandang terhadap literasi itu sendiri. Selama ini, literasi sering disalahartikan sebagai dunia baca dan tulis saja. Padahal, literasi itu dalam arti luas bermakna pengetahuan itu sendiri. Tulisan hanyalah medianya saja. Dan kedua, karena itu literasi membutuhkan kerja kolaboratif. Aan Mansyur dalam buku puisinya berkolaborasi dengan pelukis. Sosok Rangga di kehidupan nyata itu pun baru-baru ini berkolaborasi dengan seniman grafis, musik, dan Nicholas Saputra sebagai pembaca puisinya tentu saja dalam proyek puisi Tidak Ada New York Hari Ini. Irwan Bajang membangun dirinya dengan kerja kolaboratif semacam itu sehingga mendapatkan jejaring yang lebih luas.Dan terakhir, kerja literasi (dan kerja apa pun) membutuhkan komitmen dan konsistensi.

Mimpi-mimpi Bajang masih panjang. Sinerginya dalam Serikat Buku Indie menunjukkan bahwa Bajang bukanlah sosok yang individualis. Ia merangkul penerbit indie dan menggagas pemasarannya lewat satu pintu. Ke depan, ia tengah membuat aplikasi berbasis android terkait pemasaran buku indie tersebut. Lebih jauh, ia juga tengah mengupayakan buku-buku indie itu dapat dibaca digital dengan sistem yang saling menguntungkan segala pihak, baik itu pembaca, penulis, dan penerbitnya.

Kita tahu di negeri ini “tidak mudah”menjadi penulis. Hanya sedikit penulis yang bisa hidup dari menulis, apalagi yang kaya. Penjualan buku belum bisa dibanggakan.

Tugas yang berat dan panjang menanti Bajang ke depan. Ia ingin menciptakan ekosistem literasi itu. Orang-orang makin cinta pengetahuan, salah satunya dengan banyak membaca. Penulis-penulis berlahiran tanpa takut bukunya tidak ada yang baca. Itu memang sulit, tapi aku yakin, Irwan Bajang beserta teman-temannya akan mengambil peran di sana.

(2020)

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *