Coban Rondo

Mengenang Perjalanan ke Coban Rondo di Malang

Perjalanan ke Coban Rondo di Malang sebenarnya sudah terjadi lama sekali, yaitu pada tahun 2015. Saat itu, aku memisahkan diri setelah jalan-jalan bareng teman seangkatan kuliah di D4 Akuntansi STAN. Ya, kami jalan-jalan saat liburan semester ke Bromo. Dari Bromo (yang sebenarnya di Probolinggo) perjalanan dilanjutkan ke Batu, dan di situlah aku yang suka air terjun memutuskan untuk jalan-jalan sendirian.

Tidak sulit menemukan Coban Rondo. Aku hanya bermodalkan Google Maps. Air terjun berketinggian 84 meter ini terletak di Jl. Coban Rondo, Krajan, Pandesari, Kec. Pujon, Malang, Jawa Timur 65391, berada 1.135 m di atas permukaan laut. Kebayang kan dinginnya?

Bila teman-teman berangkat dari pusat kota Malang, hanya perlu mengendarai kendaraan sejauh 20 km saja. Atau sekitar 1 jam perjalanan (tergantung kondisi jalan). Sedangkan bila pusat kota wisata Batu, perjalanan ke Coban Rondo hanya berjarak 12 km saja dan bisa dicapai dalam 30 menit berkendara.

Saat aku ke sana, harga tiket masuk Coban Rondo ini juga terbilang murah dan terjangkau. Untuk hari biasa, wisatawan domestik hanya dikenakan tarif Rp15.000 sedangkan wisatawan asing dikenakan biaya Rp25.000. Untuk weekend, harga tiket wisatawan domestik adalah Rp18.000 sedangkan untuk wisatawan asing adalah Rp30.000. Kayaknya sih sekarang sudah mengalami kenaikan.

Baca Juga: Kecantikan Coban Putri di Batu

Perjalanan ke Coban Rondo

Saat itu sedang tidak musim hujan, jadi debit air di Coban Rondo tidak begitu besar. Kelihatan kan airnya sedikit?

Namun, yang kuingat adalah anginnya yang sedemikian besar. Dalam perjalanan menuju Coban Rondo, beberapa kali aku menghadapi angin samping lembah yang menghantam sepeda motor yang kukendarai.

Coban Rondo sebenarnya merupakan bagian dari kelompok air terjun bertingkat (dimulai dengan air terjun kembar bernama Coban Manten yang bergabung menjadi satu dinamakan Coban Dudo, dan kemudian mengalir ke bawah dengan nama Coban Rondo). Sayangnya aku belum berkesempatan mengunjungi coban lain itu.

Baca Juga: 5 Hal yang Harus Kamu Ketahui dari Coban Talun

Mitos Coban Rondo

Mitos Coban Rondo cukup terkenal di masyarakat sekitar. Kenapa sampai dinamakan Rondo, yang dalam bahasa Jawa berarti janda? Seperti apa mitosnya?

Mitos ini berawal dari sepasang pengantin baru bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dan suaminya Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmara. Setelah usia pernikahan mencapai 36 hari atau dikenal dengan istilah selapan, Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmara.

Sempat dilarang pergi oleh orang tuanya, tetapi keduanya bersikeras melanjutkan keinginannya. Hingga akhirnya, sesampainya di tengah jalan, pasangan suami istri itu bertemu dengan Joko Lelono. Joko Lelono yang tidak jelas asal usulnya terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha untuk merebutnya dari tangan Raden Baron. Perkelahian pun terjadi, Raden Baron lalu meminta agar Dewi Anjarwati disembunyikan di tempat yang ada air terjunnya. Sementara itu, perkelahian sengit selama tiga hari tiga malam terjadi antara Joko Lelono dan Raden Baron. Hingga akhirnya keduanya sama – sama meninggal. Sejak saat itu, Dewi Anjarwati berstatus janda atau rondo.

Air terjun tempat Dewi Anjarwati menunggu suaminya itu pun diberi nama Coban Rondo yang artinya air terjun janda. Konon, batu besar yang ada di bawah air terjun itu merupakan tempat duduk Dewi Anjarwati sembari menunggu suaminya.

Nah, hingga kini ada kepercayaan, pada malam-malam tertentu, akan ada suara perempuan menangis di Coban Rondo. Suara itu adalah suara Dewi Anjarwati yang menunggu suaminya. Selain itu, banyak yang percaya kalau ratapan Dewi Anjarwati mendatangkan kesialan bagi pasangan-pasangan yang datang ke sana. Pasangan muda-mudi yang belum terikat dalam pernikahan, diyakini tidak akan sampai ke pelaminan usai berkunjung ke Coban Rondo. Itu adalah tuah kutukan dari Dewi Anjarwati tersebut.

Mitos lainnya adalah tentang larangan untuk buang sampah bahkan buang air sembarangan. Lokasi wisata ini dipercayai banyak dihuni makhluk penunggu. Maka wisatawan yang datang harus menaati peraturan tertulis di sana. Di antara peraturan itu adalah larangan untuk buang air sembarangan dan buang sampah sembarangan. Konon wisatawan yang melanggar peraturan ini dapat kena tulah. Selain itu, resiko yang didapatkan ketika melanggar adalah kerasukan makhluk halus.

Masyarakat di sekitar Coban Rondo juga percaya pada tradisi Selapanan. Selapanan merupakan tradisi 35 hari setelah berlangsungnya pernikahan dalam adat Jawa. Tradisi ini merupakan pelarangan pertemuan dengan anaknya setelah acara perkawinan. Baru setelah selapan selesai ada tradisi untuk mempertemukan kedua keluarga besar mempelai. Mitos ini dipercayai oleh masyarakat sekitar daerah Coban Rondo. Bahkan jika tidak melakukan atau melanggar, yang terkena hukuman adalah pasangan itu sendiri.

Baca juga: Traveling ke Coban Parang Tejo

Mengulang Perjalanan ke Coban Rondo

Ya, sejujurnya aku kepengen mengulang perjalanan ke Coban Rondo. Terutama saat debit airnya besar. Terlebih saat itu ada hal yang belum kesampaian juga, yakni mencoba paralayang di Gunung Banyak. Sorry kalau salah nama tempatnya.

Selepas dari Coban Rondo, aku sempat ke Rumah Pohon dan Gunung Banyak. Di sana ada landasan paralayang. Sialnya, karena angin kencang, jadi waktu itu dilarang terbang. Bahaya.

Pernah kurekomendasikan ke seorang teman yang sedang ada pekerjaan di Malang, tentang Coban Rondo dan paralayang itu, ia beruntung bisa terbang di sana. Seru sekali katanya. Menggugah adrenalin.

Di Coban Rondo sendiai, telah hadir beberapa fasilitas baru seperti Taman Labirin. Taman Labirin ini dibentuk dari tanaman yang tinggi. Kita cukup membayar Rp10.000 saja untuk dapat menikmati taman labirin di Coban Rondo.

Di Wisata Coban Rondo juga ada beberapa fasilitas outbond yang menyenangkan dan bisa dicoba. Berikut beberapa pilihan fasilitas outbond beserta harganya.

  • Fun tubing – Berenang mengitari sungai dengan ban dan pelampung dengan harga Rp 35.000
  • Paint ball – Simulasi perang-perangan per tim 6 orang dengan biaya Rp 450.000 (150 peluru)
  • Flying fox – Mencoba keseruan meluncur di udara dengan harga Rp 30.000
  • Sepeda gunung – Mencoba keseruan menggunakan sepeda gunung dengan harga Rp 5.000
  • Camping ground – Berkemah di bumi perkemahan Coban Rondo untuk berbagai acara.

Malang (sekarang sudah pecah menjadi Batu) adalah tempat yang ingin paling aku kunjungi lagi selain Yogyakarta. Suasana di Malang itu enak banget, Makanan murah. Universitas malang juga banyak dan berkualitas. Kakak iparku sendiri lulusan Muhammadiyah Malang. Di sana juga ada kampus binus lho. Keberadaan Binus di Malang (alamat: raya Mansion No. 8 – 22, Genitri, Tirtomoyo, Kec. Pakis, Malang) itu bukti bahwa gairah pendidikan di Malang semakin tinggi sebab gengsi dan kualitas anak-anak IT Binus masuk dalam yang terbaik.

Kebayang kan berarti di Indonesia ini ada dua kota yang layak disebut sebagai kota pendidikan, yaitu Yogyakarta dan Malang. Sampai-sampai aku pernah kepikiran buat melanjutkan S2 di Malang saja. Sayang, kalau pulang ke Palembang rasanya sih terlalu jauh.


Begitulah kenangan perjalanan ke Coban Rondo. Entah kapan aku akan dapat mengulang perjalanan ke Coban Rondo tersebut. Bisakah kita melakukan perjalanan itu bersama-sama?

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

24 Comments

  1. Wah ternyata asal usul nama Coban Rondo cukup unik ya, perkelahiannya itu loh, bisa sampe 3 hari 3 malam, emang gak capek ya?!

    Terus nasib si Dewi Anjarwati gimana tuh Mas? Kasian amat nasibnya. Mungkin kalo saat itu Twitter udah ada, peristiwa itu bisa viral. Dengan hastag #dewianjarwati hahahaha…

    Ngikutin Google maps ke Coban Rondo gak nyasar Mas? Biasanya Google Maps suka bikin nyasar orang hehehe

  2. Aku pernah liat foto liburan teman ke coban rondo ini, asli mupeng, apalagi ada taman labirinnya.. sebenarnya tahun ini pengen menjelajah sebagian pulau jawa, namun terhambat pandemi, semoga masih ada kesempata berkunjung ke rondo dan batu deh…

  3. nah kan bener rondo yang dimaksud coban rondo itu janda. waaah penasaran sama kecantikan Dewi Anjarwati sampai bisa bikin perkelahian yang lama itu.
    aku padahal beberapa kali ke malang, tp kok ya belum pernah kesini >.<

  4. aihh… Perjalanan ke Coban Rondo ini membuatku terkenang kembali saat di Malang Juga… kebetulan kulaih di Brawijaya dan punya kebun percobaan disekitar situ sehingga sering bertandang kesana. Semacam flashback yang menyenangkan

  5. Coban Rondo Malang ini salah satu destinasi yang wajib didatangi jika ke Malang. Coban Rondo Malang udah pernah kuabadikan juga di YouTubeku di Didik Jatmiko Channel mas.

  6. Asyik baca postingan Mas Pring seputar curug lagi. Dan curug di indonesia memang Indah-indah semua, termasuk Curug Coban Ronda. Pastinya terlepas dari mitosnya dan cerita legendanya. Tapi kayaknya kalau ke curug memang harus pas musim galau ya, Mas Pring. Maksudnya sudah masuk hujan, tapi masih sering panas juga hehehe.

  7. Waktu saya kecil ada satu film keluarga yang berlatarbelakang tempat wisata air terjun. Saya ga inget apa namanya. Tapi membaca cerita tentang Coban Rondo ini jadi mengingatkan saya pada film tersebut. Betewe semoga kesampaian jalan-jalan ke Yogyakarta ya, siapa tahu tanpa sengaja kita bisa ketemu di jalan (salam dari Yogya).

  8. “Larangan buang sampah dan buar air sembarangan”. Dan di sana memang bersihkah? Kalau iya, mungkin mitos tentang makhluk halus ini bisa diterapkan di kota -_- supaya masyarakat nggak buang sampah dan buang air sembarangan -_-

  9. Kalo ngomongin destinasi wisata di Malang gak akan ada habisnya ya. Mulai dari yang bernuansa alam, eco wisata, pacu adrenalin sampai tempat nongki asyik pun, semua ada 😍

  10. Ouw, ternyata Rondo itu artinya Janda ya. Dan di atasnya ada coban manten, terus coba dudo, baru paling bawahny itu coban rondo.

    Jadi pengen main ke Batu deh.

  11. sekitar 1,5 tahun tinggl di Malang , kami malah belum pernah ke coban Rondo. Terakhir bulan lalu ke coban Talun aja sekeluarga.

    Nah karena biasanya kalau mbolang bareng anak-anak, kira-kira coban rondo ook nggak trek nya untuk anak ya?
    Dengar ceritanya kok jadi… hhmmm…. maju mundur mau ke sana kalau bareng anak-anak. hehehe

  12. Banyak tempat di tanah air ini yang dikaitkan dengan cerita mitos ya. Entah benar atauvtidak cerita tersebut, yang pasti ada local wisdom yg mengajak menjaga dan menghargai alam

  13. Kalau cari di google daerah tujuan wisata Malang, Coban Rondo salah satunya. Tapi aku belum pernah ke sana nih, walaupun beberapa kali ke Malang. Kayaknya asyik juga tuh, ke air terjun. Adem dan fresh.
    Baru tahu kisah mitosnya…Tapi seru aja sih ada mitos kayak gitu, biasanya tetep lestari, engga ada yg ganggu…

  14. Tempo hari teman inspirator Kelas Inspirasi berbagi foto perjalanan salah satunya Coban Rondo. Memang sangat indah dan menawan walaupun saya belum pernah singgah ke sana. Bagus juga itu mitos soal tulah kalau buang sampah semabarangan, Mas. Kalau di tempat lain dibuat gitu kayaknya efektif biar orang enggak gampang buang sampah sembarangan. Jadi pengin ke Malang lagi. Awal tahun sebenrnya kebayang mau ke Malang bareng keluarga tapi kepentok pandemi ya sabar dulu deh. Memang suasananya enak dan makanan masih murah.

  15. Waktu ke Malang aku belum sempat jalan-jalan alam begini, padahal seru ya ke coban rondo & jaraknya juga gak terlalu jauh dari kota malang ya. Padahal aku juga menginap di Batu dua malam harusnya bisa mampir ke sini. Semoga ada kesempatan ke sana lagi. Ternyata gak cuma satu air terjunnya ya di sana

  16. Jadi sedih baca sejarah ceritanya asal usul namanya.. huhu. Tapi walaupun kayanya tempatnya agak “horor” tapi indah ya pemandangannyaaaa.. pengen cobain juga paralayang, seru banget pasti itu yaaaa

  17. Coban Rondo Malang, tempat paling berkesan saat masih jadi karyawan pemula, dan diajak liburan ke tempat ini bareng rekan2 dan atasan. Auuhh, jadi inget momen2nya dehh,
    Kalau nggak salah waktu itu juga tahun 2015 an aku ke sana mas, tapi pas pertengahan tahun heheee

  18. Malang ini memang kota kenangan. Selain tempat wisata, makananya juga enak. Sekarang coban Rondo memang jadi lebih tertata. Tapi sempat sih kena musibah air bah. Beberapa penjual oleh-oleh dan makanan terkena imbasnya.
    Ayo kapan-kapan main paralayang bareng di Batu, hehehe.

  19. wah lokasinya bagus banget yaa dan menikmati liburan ke coban rondo, pasti masih sangat alami dan ada air terjun

  20. waa mitosnya serem juga ya, tapi bagus mitosnya salah satunya gak boleh buang sampah sembarangan, hal itu minimal membuat orang orang menjaga kebersihan daerah coban rondo,

  21. Seru yaa..ada banyak kegiatan asyik yang bisa dilakukan saat berkunjung ke Coban Rondo. Mungkin ini juga bisa diterapkan di tempat wisata alam air terjun lainnya. Yaa biar wisatawan ke sana gak hanya menikmati air terjunnya saja.

  22. Cuban Rondo memang luar biasa dan itu di foto bagus banget air terjunnya. kalau musim kemarau biasanya gak gitu airnya. Ah, akan selalu ada mitos-mitos menarik ya, kak, di setiap tempat, tapi tak ada salahnya mengikuti larangan yang ada, karena hal-hal yang tak nyata bisa jadi ada.

  23. Aku juga pengen traveling ke Malang, belum pernah. Btw kisah mitos Conan Rondo ini menarik juga. Kalau percaya mitosnya, berarti berkunjung ke sana gak usah sama pasangan kali ya, barangkali ketemu ratapan Dewi Anjarwati, hehe.

    Meski debit airnya sedang sedikit, keliatan air terjunnya indah pemandangannya.

  24. seru sekali perjalanannya, destinasinya jg bs sekalian ada labirin yg harga tiketnya murah. Berbicara mengenai Malang sy jg pengin ke sini, terutama sih ngebuktiin harga2 murah makannya wkwkwk terus suasananya jg menyenangkan ya sepertinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *