Memahami Inflasi di Tengah Pandemi

Inflasi di Tengah Pandemi. Bagaimanakah kita harus memandangnya?

Dulu, hampir setiap lewat Jalan Ganesha di Bandung, aku membeli martabak mini. Harganya Rp1000. Sepuluh tahun kemudian, aku membeli martabak mini di tempat yang sama. Namun, harganya tak lagi sama. Ia sudah menjadi Rp4000. Menjadi empat kali lipat.

Mulanya, aku pikir itulah yang namanya inflasi. Kenaikan harga adalah inflasi. Sambil mengutuk Pemerintah yang tiap tahun melaporkan inflasi hanya 3-5%–karena kenyataannya, dalam 10 tahun harga martabak mini naik 300%. Harusnya inflasinya 30% per tahun dong?

Namun, inflasi bukan itu. Secara sederhana, inflasi didefinisikan sebagai proses meningkatnya harga barang secara terus-menerus dan saling mempengaruhi harga barang yang lain. Kenaikan harga barang itu menyebabkan turunnya nilai mata uang.

Apakah martabak mini punya kekuatan untuk mempengaruhi harga barang lain?

Ada sejumlah barang yang ditetapkan, yang rata-rata harganya terus dipantau. Badan Pusat Statistik menyebutnya Indeks Harga Konsumen (IHK). Pada umumnya, ada 8 kelompok besar barang dan jasa yang dihitung: makanan, perumahan, pakaian, transportasi, biaya perawatan medis, rekreasi, pendidikan, dan barang dan jasa lainnya.

Tentu, pada dasarnya kenaikan harga dapat terjadi secara alami sebagai hukum akibat permintaan dan penawaran. Fenomena tersebut selalu bisa kita lihat pada bulan Ramadan. Penyebab utamanya, tentu saja permintaan konsumsi yang meningkat.

Baca Juga: Mencermati Inflasi Selama Ramadan dimuat di Detik

Bila kita melihat komponen inflasi, Inflasi Ramadan ini adalah yang disebut volatile—inflasi yang dominan dipengaruhi oleh tekanan dalam kelompok bahan makanan, dll. Selain inflasi volatile,  ada komponen lain yang cenderung persisten di dalam pergerakan inflasi yakni inflasi inti (core inflation) yang dipengaruhi oleh faktor fundamental kurs Rupiah terhadap USD; dan komponen administered price atau inflasi yang dominan dipengaruhi kebijakan Pemerintah seperti harga BBM dan tarif listrik. Kedua komponen inflasi ini sebaik-baiknya dijaga agar tidak terjadi bebarengan dengan inflasi volatile.

Inflasi Ramadan ini bisa dipandang baik selama terkendali. Di satu sisi, akan ada redistribusi pendapatan kepada rantai penjual bahan makanan dan pakaian. Di sisi lain, Pemerintah mengatur soal Tunjangan Hari Raya sebagai stimulus kepada masyarakat agar daya beli masyarakat terjaga. Ekonomi pun tumbuh.

Sebab itulah, Pemerintah selalu menetapkan target inflasi. Inflasi tidak melulu dipandang buruk karena ia menjadi tanda pertambahan ekonomi. Bank Indonesia sendiri menetapkan target inflasi 2020 3 +/- 1 %. Inflasi dianggap terkendali bila mencapai target tersebut. Wajar, karena target pertumbuhan ekonomi kita 5%. Syaratnya memang, inflasi harus di bawah pertumbuhan ekonomi.

Namun, karena pandemi, kita tak bisa lagi memandang sama inflasi Ramadan tahun ini.

Tahun lalu, kita juga punya masalah. Ada ilusi inflasi terkendali sebagai akibat dari penurunan daya beli. Penurunan daya beli tersebut bisa dilihat dengan membandingkan kenaikan upah profesi dengan inflasi untuk menunjukkan upah riil. Harga tidak bisa naik banyak-banyak karena permintaan yang cenderung menurun.

Tahun ini, pandemi memperparahnya. Banyak orang kehilangan pekerjaannya. Yang masih sedikit beruntung, hanya mengalami pemotongan penghasilan. Daya beli masyarakat tentu saja menurun drastis. Namun, ada sisi yang lebih mengkhawatirkan. Rantai supply yang terganggu. Mulai dari persoalan pasokan bahan baku yang menyebabkan turunnya produksi hingga persoalan distribusi yang tidak lancar. Baik di sisi penawaran maupun permintaan terimbas karena wabah.

Kalau kita lihat laporan BPS, angka inflasi tahun kalender (Januari-April) sebesar 0,84% dan tingkat inflasi tahunan (yoy) sebesar 2,67%–turun dari Februari 2,98% (yoy) dan Maret 2,96% (yoy). Dilihat dari kotanya, 31 kota mengalami inflasi, sedangkan 51 kota mengalami deflasi.

Bila dilihat dari komponennya, inflasi inti (core inflation) menunjukkan angka sebesar 0,79% (Januari-April) dan 2,85% (yoy)– dan itu terjadi karena fluktuasi kurs kita sepanjang bulan. Sedangkan, administered price menunjukkan angka -0,72%,(Januari-April) dan -0,09% (yoy); dan volatile menunjukkan angka 2,74% (Januari-April) dan 5,04% (yoy). Hal ini nyata sekali menunjukkan tekanan harga terjadi pada komponen volatile yang didominasi bahan makanan.

Meski secara rata-rata, angka masih dalam kisaran target inflasi, hal ini menjadi PR besar bagi Pemerintah apalagi melihat pertumbuhan ekonomi kuartal pertama hanya 2,97%. Sedikit sekali selisihnya dengan inflasi di tengah pandemi. Padahal, kurva Covid-19 masih belum kelihatan puncaknya. Kuartal I ini masih gerbang neraka menuju neraka sesungguhnya, yang banyak pengamat memprediksi growth bahkan akan minus.

Kebijakan yang benar-benar tepat diperlukan. Jika kebijakan tersebut hanya berupa jaminan perlindungan sosial dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT), bukannya malah menjaga daya beli masyarakat, inflasi malah bisa bergerak di luar kendali karena penawaran yang terus menurun. Pemerintah juga harus memikirkan sisi penawaran itu agar dunia usaha (khususnya Usaha Kecil, Menengah, dan Mikro) tetap bisa menggerakkan rodanya.

Baca Juga: Definisi Inflasi

Sambil memeluk rindu pada Bandung, aku memikirkan martabak mini di Jalan Ganesha itu, berapa kini harganya? Bagaimana ia terdampak inflasi di tengah pandemi ini? Apakah ia masih berjualan? Sementara di sudut kamar, buku Ernest Hemmingway tergeletak, belum selesai dibaca. Sebuah pandangan lain dari Pak Tua itu membuatku bergidik. Katanya, “Obat yang pertama untuk sebuah Negara yang berantakan adalah inflasi mata uang, dan yang kedua adalah perang. Keduanya membawa kesejahteraan yang sementara. Keduanya memberikan kehancuran selamanya. Tapi keduanya adalah perlindungan dari oportunis politik dan ekonomi.”

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *