Kutipan Terbaik Okky Madasari

Kutipan Okky Madasari ini berasal dari berbagai novelnya. Okky Puspa Madasari yang juga dikenal sebagai Okky Madasari adalah seorang pengarang Indonesia pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2012 untuk novel ketiganya, Maryam.

Cinta mungkin hanya kata kecil yang belum ditemukan, terselip di antara segala kemudahan dan kenyamanan.

Okky Madasari, Entrok

Hati yang sudah terikat oleh beban tak bisa menghasilkan apa-apa selain kegelisahan dan ketakpuasan.

Okky Madasari, Maryam

Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda.

Okky Madasari, Pasung Jiwa

Jangan mudah termakan opini yang dibangun media massa dan orang-orang yang berkuasa. Jangan biarkan orang baik menjadi korban.

Sumber: Yang Bertahan dan Binasa Perlahan 138

Percuma pakai seragam kalo belinya sama calo.

Apalagi yang lebih baik dari seorang ibu yang menjadi sumber segala cerita?

Sumber: Mata di Tanah Melus 13

Hati yang sudah terikat oleh beban tak bisa menghasilkan apa-apa selain kegelisahan dan ketakpuasan.

Sumber: Maryam

Kutipan-kutipan terbaik dari Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari

“Setiap orang selalu merindukan cerita dari dunia yang tak pernah bisa miliki.”

“Semua orang hanya boleh tahu: aku tidak apa-apa.”

“Kami pun menjadi pemain komedi yang lihat. Selalu melucu dan bicara ngelantur tentang banyak hal, tertawa dan gembira, hanya agar tak memberi kesempatan pada kesedihan untuk muncul menunjukkan wajah aslinya.” (hlm. 18)

“Pada satu sudut yang tersembunyi, aku tetaplah jiwa yang rapuh dan penuh luka, yang begitu lembut dan perasa namun tercabik koyakan di mana-mana.”

“Dengan pulang, tak akan ada yang perlu dipertaruhkan. Kesepian dan kesenangan adalah sepaket rasa yang telah biasa kutelan.”

“Manusia zaman baru itu tidak lagi hidup untuk masa lalu. Kamu harus maju. Bersaing dengan banyak orang, jadi pemenang.”

“Kita hidup di dunia yang dibangun oleh cerita”.

“Jakarta adalah rimba yang begitu asing dan menakutkan tapi sekaligus menyimpan harapan untuk bisa kami taklukan.”

“Tapi masa depan memang bukan bus kota yang bergerak melambat menuju ke arah kita. Masa depan adalah bayangan hitam yang terus berlari menjauh dari kira setiap kali kita melangkah mendekatinya.”

  “Apa lagi yang lebih menyedihkan selain menggantungan kebahagiaan kita di tangan orang?”

“Apa arti kebenaran jika kita telah membuang bertahun-tahun waktu kita dalam kesia-siaan? Dan apa sebenarnya kebenaran yang sedang kita tunggu itu?”

“Seseorang bisa datang kapan saja dan menghilang sewaktu-waktu. Pertemanan bisa terbangun hanya dengan sekali sapa dan permusuhan bisa terjadi tanpa pernah saling bicara.”

“Pada akhirnya, masa lalu adalah rumah yang selalu menungguku.”

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *