Keindahan Curug Walet, Green Canyon Ala Bogor

Keindahan Curug Walet menjadi primadona di media sosial belakangan ini. Curug Walet, yang terletak di Kampung Raina, Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan ini dianggap sebagai Green Canyon Ala Bogor.

Ya, lokasi Curug Walet sama dengan Curug Kiara. Hanya saja beda pengelola. Setelah sampai di Kampung Raina, kita hanya akan treking melewati sedikit persawahan, lalu sedikit mendaki, sampai menemukan irigasi yang sudah dibeton. Kita tinggal mengikuti jalur irigasi tersebut sampai menemukan pondokan yang pertama. Penunjuk arah juga terpampang jelas di sana.

Nah, di sana kita akan dimintai bayar lagi Rp15 ribu per orang. Di luar biaya masuk taman nasional dan biaya parkir yang sudah dipungut saat masuk kawasan.

Rute Treking ke Curug Walet

Rute treking ke Curug Walet sungguh menarik. Ia terjal seperti halnya ke Curug Seribu. Namun, jaraknya tidak sejauh itu. Untuk pria berperut gendut sepertiku, waktu tempuh menuruninya hanya sekitar 10-15 menit saja. Memang beda kasus pada saat pulang, mendakinya.

Sesampainya di bawah, kita akan berjalan di pinggiran sungai. Sampai akhirnya kita harus memilih jalan: menyusuri sungai atau lewat jalan kecil di tebing batu. Aku tentu saja memilih susur sungai. Kebetulan sungainya tidak dalam. Kita bisa berpindah dari batu ke batu dengan kedalaman air paling selutut. Hanya saja, risikonya adalah apabila mendadak terjadi hujan, bisa jadi ada air bandang datang menyapu kita semua.

Oleh karena itu, ada pemberitahuan untuk selalu mengawasi cuaca saat ke Curug Walet. Kusarankan sih datang ke Curug Walet ini pagi-pagi. Sebab, Bogor atas itu rawan hujan setelah pukul 12 siang.

Untungnya, pada saat aku ke sana, Bogor sudah memasuki musim kemarau. Curah hujannya cukup rendah. Biasanya sih tetap terjadi hujan, namun tidak deras. Dan waktu hujannya jadi bergeser lebih sore.

Keunikan Curug Walet

Curug ini dinamakan Curug Walet karena banyak burung walet yang membangun sangkar di sekitar curug. Area susur sungai ke Curug Walet juga disebut-sebut sebagai Green Canyon Ala Bogor karena diapit tebing bebatuan dengan warna hijau dari lumut dan berbagai tumbuhan yang ada.

Di perjalanan menuju Curug Walet, kita akan menemui Curug Payung. Curug Payung ini memiliki ketinggian 3 meter dengan kolam yang bening yang tidak terlalu dalam. Namun, sebenarnya, ada air terjun lain yang lebih tinggi namun tipis atau air yang jatuh hanya seperti berderai-derai dari atasnya. Kalau musim hujan, tentu saja debit air jatuhnya lebih banyak.

Setelah melewati Curug Payung inilah, aku melakukan susur sungai. Banyak hal yang kulihat selain batu-batu besar. Misalnya ada pohon jatuh yang melintang di tengah sungai. Seru sekali pokoknya.

Waktu susur sungai ini juga sekitar 10 menit. Kehati-hatian tetap diutamakan.

Setelah itu barulah kita menyaksikan Curug Walet yang bertingkat tiga sebenarnya, Airnya bening sekali kebiruan dan tidak disarankan berenang di kolam air terjun karena kami merasa ada pusaran air di bawah sana.

Menakjubkan, bukan? Untuk menaiki tingkat pertama ada tangga yang terbuat dari kayu. Tampak tidak begitu kokoh jadi harus pelan-pelan menaikinya. Untuk menuju curug paling atas, kita harus sedikit berjuang menaiki bebatuan yang ada. Sayangnya, aku memutuskan tidak melakukannya karena aura mistis Curug Walet mulai kurasakan. Seperti ada yang memintaku segera meninggalkan tempat itu, mengingat saat aku berada di sana, aku hanya berempat.

Faktor lainnya, aku kebelet pipis. Dan rasanya konyol sekali jika harus pipis di area Curug Walet yang mistis itu.

Leuwi Hejo, Tempat Berenang di Lokasi Curug Walet

Memang ada pemberitahuan bahwa maksimal kunjungan, disarankan hanya 15 menit di area terakhir. Ada area lain yang disiapkan untuk berenang dan bersantai. Ya, di pangkal perjalanan, ada leuwi yang hampir sama beningnya. Namun, warnanya tidak kebiruan seperti kolam di Curug Walet, melainkan kehijauan. Karena itulah, leuwi itu dinamakan Leuwi Hejo. Jangan tertukar ya dengan Leuwi Hejo yang ada di Sentul.

Sayang sekali kan kalau tidak berenang. Akhirnya aku dan Maman berenang di Leuwi Hejo itu.

Awalnya sih agak ngeri-ngeri juga karena belum tahu kedalamannya. Setelah dikonfirmasi oleh Maman bahwa kedalamannya sekitar 2 meter dan terdapat batu di beberapa titik untuk menyangga kaki, aku pun mulai berenang dengan gembira dan lebih tenang. Rasanya segar sekali.

Setelah puas berenang, barulah terpikir, bagaimana nanti aku harus mendaki. Wkwkwk.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

16 Comments

  1. Dari fotonya aja sudah sangat menarik. Ini bisa masuk list tempat wisata yang harus dikunjungi (setelah pandemi) nantinya. Tapi kayaknya ahrus siap2 bawa baju ganti, karena ga mungkin ga bakal mandi dan main air di kalo ke tempat ini.

  2. Kalau ke sini kayaknya lebih enak musim kemarau ya, lebih safety sepertinya karena tangganya dari kayu. Kalau hujan biasanya airnya tercampur lumpur bukan sih? Semoga bisa ke sana

    1. Tangga apanya yang dari kayu??? Ke Curug Walet mah susur sungai doang. Tangga kayu ini cuma buat ke curug bagian atas.
      Kalau curug-curug di Bogor tidak berlumpur. Mau musim apapun tetap jernih.

  3. Kangennn pengen nulis wisata lagi ih.. MasyaAllah.. Indah banget. Pasti sensasinya juga bikin beda ya mas. Yang penging Hepi hahha

  4. Horeee.. akhirnya mampir lagi ke blog, Mas Pring. Dan langsung seru nih, lihat curug Walet yang memikat. tapi kata teman, memang di Bogor itu banyak curug ya Mas. Dan enaknya lagi saling bedekatan dan satu lokasi.
    Semoga saya segera bisa main ke curug-curug Bogor nih, Mas Pring.

  5. Wah curugnya asri dan keliatan indah banget…. Adem ngeliatnya dan langsung bikin ide puisi banyak ya pas pri

  6. Kalau aja pandemik ga ada tapi tetep Work from home bisa banget nih langsung ke Curug walet.. ngeliat fotonya aja udah seger Banget.. air terjunnya juga indah.. keliatannya sih ga begitu angker mas.. hehe

  7. Senangnya yang bisa main ke alam. Curug Walet Green Canyon keliatan asri dan menyegarkan.
    Biasanya ada percikan air yang bisa membuat kita bertambah segar, ya, Mas

  8. Duh Bogor ini luar biasa banyak curug-nya ya. Ada Curug Walet pula sekarang. Tapi ya ternyata nggak semua curug itu aman dipakai sebagai tempat berenang ya. Dari fotonya aja berasa deep eh mistis mistis gitu.

  9. Kela, Pring. Kenapa ada penekanan pada waktu tempuh si “pria berperut gendut” ya? Kalo nggak gendut, waktu tempuhnya jadi lebih cepat atau lebih lama? Yaaa…buat ancer-ancer aja sih. Siapa tau kan suatu hari nanti aku ke sana.

    1. Jelas bisa lebih cepat. Kalau gendut, pas mendakinya lama banget wkwkw.

  10. wadaw sudah murah, dekat, gak perlu sampe ke dalam sudah merasakan keindahan curug walet green canyon ala bogor widihh keren

  11. Wah, anakku paling seneng diajak bertualang ke curug2 begini. Tapi keknya ini terlalu susah dilewati bareng anak-anak nggak sih? Seger banget keknya nyebur di situ.

  12. Air terjun yang memesona bikin hati ingin segera melangkah keluar runah untuk refreshin
    Apa daya, pandemi menghilangkan bujet dan kesempatan itu

  13. Seru banget nih kayaknya. Aku kalau ke curug justru suka sama perjalanan menuju curugnya, bukan pas di curugnya. Hehe. Tapi aku masih belum berani renang di sekitar curug. Entah kenapa, masih serem denger cerita yang aneh2 soal curug.

  14. Memanjakan mata sekali, curugnya bertingkat gitu ya jadi bisa eksplor-eksplor, selain itu sekitarnya terasa lebih hijau gitu, apa hanya perasaanku saja? Hahaha

Leave a Reply to Marfa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *