Gagal ke Curug Cibentang

Berawal dari keinginan jalan-jalan tipis di masa pandemi, aku pun mencari curug yang paling dekat dengan rumahku. Muncul nama Curug Cibentang. Jaraknya hanya sekitar 14 km dari rumah.

Masih sedikit sekali orang yang mengulas Curug Cibentang. Bahkan sepertinya tidak ada blog yang menulis tentang Curug Cibentang. Beberapa foto tampak di Google Maps menunjukkan sebuah air terjun kecil dengan aliran sungai berwarna kecoklatan. Sudah barang tentu, curug ini tidak bisa diberenangi.

Namun, karena dahaga ingin jalan-jalan, setelah terakhir kali ke Geopark Ciletuh pada akbhir Februari lalu, kupikir Curug Cibentang jadilah untuk melepas dahaga itu.

Pukul 9.30 aku berangkat dari rumah. Jalanan sudah ramai banget, kayak bukan masa pandemi. Orang-orang naik motor tanpa memakai masker. Check point di Parung nggak ada gunanya.

Rute menuju Curug Cibentang sebenarnya mudah. Dari Pasar Parung hanya lurus saja melewati Jalan Raya Ciseeng. Kemudian nanti belok kanan ke arah yang sama dengan pemandian air panas Tirta Sanira.

Curug Cibentang ini memiliki ketinggian sekitar 3 meter saja. Curug ini bisa diakses melalui perumahan Cibentang Indah Residence atau juga Taman Kopsas Ciseeng.

Nah, aku tadi sudah sampai ke perumahan tersebut. Seorang satpam menjaga pintu depan yang dipalang. Aku ditanya punya keperluan apa. Kujawab mau ke curug. Di Maps, jaraknya tinggal 400 meter lagi dari gerbang, setelah itu berjalan kaki sedikit.

Sayangnya sang satpam menolakku masuk. Katanya kalau dibiarkan masuk satu, nanti makin banyak yang masuk dan bikin warga resah. Soalnya ini masa lockdown. Plus, curugnya sudah lama tidak terurus. Serut katanya.

Aku terpaksa mengelus dada sembari mencari jalan lain untuk bisa masuk. Berbekal menebak-nebak jalan, geometri melingkar, di Google Maps, aku pun memasuki gang-gang kampung. Sayangnya, tidak ketemu jalannya.

Mau bertanya juga nggak keenakan karena ya semua warga pasti memandang penuh sinis kepada orang luar yang datang. Takut membawa virus. Meski aku sudah bermasker lengkap dan nggak jauh-jauh amat.

Sayangnya, motor bernopol D. Bandung. Itu bikin mereka insecure.

Begitulah kisah perjalanan pagi ini, gagal ke Curug Cibentang. Foto-foto kudapatkan dari Google Maps saja. Menarik sebenarnya turenya bisa melewati sawah, sungai, dan jembatan bambu. Belum rejeki saja.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *