Fiksi Bukanlah Replika Kenyataan

Suatu hari, aku pernah diundang ke Taman Menteng oleh komunitas One Week One Book (OWOB). Di sana, aku akan diajak berbincang mengenai novel baruku waktu itu, PHI.

OWOB sendiri rutin menggelar lapak baca di Taman Menteng. Para pengunjung dipersilakan membaca gratis buku-buku yang dihamparkan.

Sembari menunggu, datang seorang pengunjung. Ia membuka halaman pertama sebuah novel, kemudian berkomentar, “Dialognya kok tidak terasa seperti dialog sehari-hari, ya? Seharusnya kan…” ujarnya sambil mencontohkan dialog dalam bahasa keseharian.

Tentu saja aku tidak setuju dengan pandangannya. Namun, aku diam, karena tidak asik juga mengajak orang random berdiksusi.

Aku ingin bilang kepadanya, fiksi bukanlah replika kenyataan. Fiksi bukan memindahkan apa yang terjadi di dunia nyata, termasuk pula memindahkan bahasa percakapan keseharian ke dalamnya.

Dialog adalah unsur fiksi yang seyogianya kuat dan khas. Dialog tidak terpisah dengan karakter fiksi (homofictus) yang secara teori, ditarik ke garis ekstrem, baik itu positif maupun negatif. Karena itulah, cara aman memilih karakter fiksi ialah, ia tidak boleh moderat. Meski tidak mutlak.

Fiksi adalah karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah. (Abrahams, 1981:61). Karya fiksi menyaran pada suatu karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan; sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata.

(“Teori Pengkajian Fiksi” karya Burhan Nurgiyantoro)

Kebenaran dalam dunia fiksi adalah keyakinan bahwa sesuai dengan pandangan penulis terhadap masalah hidup dan kehidupan. Kebenaran dalam fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dalam hal hukum, moral, agama, logika, dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin bahkan bisa terjadi di dunia nyata dan benar dalam dunia fiksi.

Saya lebih suka menyebut fiksi sebagai amplifikasi dari kenyataan.

amplifikasi/am·pli·fi·ka·si/n1 pembesaran, perluasan, atau pengembangan (tentang jumlah, kepentingan, dan sebagainya); 2Filol pengembangan naskah berupa uraian, penjelasan, atau penggunaan banyak kata oleh penyalin (pembaca), kemudian masuk ke salinan naskah berikutnya; 3Ling sarana dalam bahasa yang digunakan untuk memperluas, memperbesar, atau memberi tekanan pada suatu objek

Bagaimana, sepakat, tidak?

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *