Antologi Puisi Seperti Belanda

Download Antologi Puisi SEPERTI BELANDA

Antologi puisi SEPERTI BELANDA adalah kumpulan puisi yang ditulis oleh 67 penyair dari seluruh Indonesia. Silakan download antologi puisi SEPERTI BELANDA.

Berikut puisi saya yang masuk dalam antologi tersebut:

Ranup Sigapu, Tiga Serangkai, Sebuah Pengantar

Melihat Aceh dari berbagai sudut pandang bahasa kepenyairan adalah anugerah yang tidak bisa dilupakan. Apalagi, sudut pandang tersebut mewarnai Aceh dalam fase ganas konflik, tsunami, hingga perdamaian.

Ingatan tiga masa ini menjadi perjalanan panjang tak berbatas. Bahkan, sebelum 1953, misalnya saat bergolak, Aceh telah lebur dari bab perang ke bab perang sejak Portugis, Amerika Serikat, Belanda, hingga Jepang. Alhasil, masyarakat Aceh banyak mengalami traumatik perang yang berdampak lambatnya pembangunan, rendahnya pendapatan ekonomi dibandingkan daerah lain. Aceh banyak ketertinggalan yang harus dikejar.

Saat konflik, misalnya, kota menjadi tumpuan pemuda-pemuda kampung untuk menyelamatkan diri dengan bekerja apa saja yang halal demi keberlangsungan hidup. Pasalnya, kampung tidak nyaman lagi baik untuk lelaki dan, sangat melelahkan bagi perempuan muda. Lelaki dan peremuan pada masa itu adalah sasaran kejam konflik. Kampung saat itu menjadi seolah yang paling menakutkan, yang menyebar kematian demi kematian ke seluruh pelosok. Ditambah, watak dan perilaku orang Aceh yang hampir sebagiannya keras kepala, menjadikan psikologi Aceh ikut hancur lantaran saat itu kampung marak dengan operasi militer dan kekerasan.

Otomatis, kampung di Aceh mati suri. Meski pun ada sebagaian besar yang terus berjuang mempertahankan hidup dengan tetap membuka usaha mereka. Namun sebenarnya Aceh berada di antara dua mata pedang, ke depan tertusuk perut, dan jika mundur punggungnya terluka. Simalakama!

Begitulah masa konflik yang perih hingga kita mendengar Tragedi Arakundoe (3 Februari 1999), Tragedi Simpang KKA (3 Mei 1999), Tragedi Beutong Ateuh (23 Juli 1999), Tragedi Rumoh Geudong selama era DOM dan lain-lain. Kejadian ini menjadi peringatan bahwa perang menghancurkan peradaban Aceh.

Download Juga: Kumpulan Cerpen Prosa Tujuh

Sebelumnya, Aceh juga telah koyak pada pagi 26 Desember 2004. Aceh dihantam tsunami, di mana-mana derai air mata jatuh. Gunung-gunung menjadi tempat pulang sementara untuk berlindung dari amuk laut yang tiba-tiba mengerikan. Ratusan ribu warga melayang saat itu. Rumah-rumah menjadi histeris karena pemiliknya tidak pernah kembali alias meninggal dunia. Kota yang semula bersih, menjadi luluh lantak seketika dalam hitungan menit. Bahkan, kapal Pembangkit Listrik Tenaga Air Kapal berbobot 2.600 ton terseret sejauh 2,4 km ke darat setelah diamuk ganasnya laut.

Namun, kejadian itu pula yang akhirnya mempercepat Aceh membuka babak baru kebangkitannya. Perundingan ini bisa diselesaikan dalam waktu paling cepat di dunia. Dimulai dialog pada Januari 2005 dan selesai pada Juli 2005 dan diteken pada Agustus 2005. Dialog tercepat ini untuk menghormati korban musibah, menyelamatkan yang masih terluka dan melanjutkan kehidupan secara wajar. Akhirnya, nilai kemanusiaan adalah segala-galanya di dunia.

Dengan demikian, Aceh memasuki babak baru. Apalagi saat itu partai lokal menjadi harapan baru bagi peradaban Aceh, ditambah dengan adanya Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) menjadi acuan perjalanan baru tersebut. Untuk pertama kali, Aceh dipimpin oleh pihak yang pernah bertikai dengan Indonesia.

Tentu pelajaran yang pahit ini, menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk serius menangani pelbagai kejadian yang belum diusut. Kejadian demi kejadian yang merenggut nyawa berakhir setelah perdamaian tegak di Aceh, sejak MoU Helsinki ditandatangani di Finlandia, 15 Agustus 2005.

Catatan singkat ini tidak bermaksud mengungkit kembali paku yang ditancapkan dalam kepala kami. Akan tetapi, untuk mewartakan kepada generasi Aceh, bahwa Aceh pernah berada pada masa-masa yang paling sulit, dan orang-orang tua Aceh telah mengemban tugas mereka secara baik hingga damai direkah dan laju pembangunan Aceh yang tertinggal dapat dikebut, baik dari sisi infrastruktur, ekonomi, hingga penyelesaian masalah HAM yang belum merata dapat diselesaikan.

Kami memberi judul Ranub Sigapu (sekapur sirih) yakni Tiga Serangkai yang mencakup konflik-gempa disusul tsunami, dan perdamaian. Menguliti Aceh kontemporer tidak terlepas dari tiga serangkai tersebut. Perang, Bcncana lalu Bersemi Damai.

Download Juga: Antologi Puisi Sesudah Zaman Tuhan

Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Fachry Ali yang telah menulis prolog secara apik, dan Ibu Christine Hakim yang telah menoreh epilog secara membumi sebagai “Tjoet Nja’ Dhien” untuk buku sederhana ini. Demikian juga kepada Salman Yoga di Gayo yang telah bertindak sebagai relawan kurator bunga rampai ini Selanjutnya kami ucapan Alhamdulillah kepada hamba Allah yang telah mewakafkan rezekinya untuk mencetak buku ini untuk dikirim kepada penyair dan lain-lain. Terima kasih juga kepada tokoh muda Aceh di Jakarta Bapak Almuniza Kamal S.STP, M.Si. Buku ini dibagi gratis kepada pembaca melalui pdf di internet sebagai bagian dari merawat ingatan kolektif bahwa kita bisa berbuat secara maksimal secara gotong-royong sebagai modal rakyat Indonesia. Selanjutnya, buku akan dicetak dan dikirimkan kepada seluruh penulis di dalamnya. Tentu saja, tanpa ada penyair yang telah sukarela mengirim puisi-puisi, buku ini sama sekali tidak ada di tangan pembaca. Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh penyair yang telah menyumbangkan puisi- puisinya dalam buku Bunga Rampai Puisi Indonesia, berjudul Seperti Belanda. Tanpa keseriusan dan komitmen para penyair, mungkin buku ini hanya akan menjadi wacana semata tanpa realisasi di masa pandemi Covid-19.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *