Curug Cihurang, Tempat Berkemah yang Asik di Gunung Picung, Bogor

Curug Cihurang, berbeda dengan Curug Ciherang. Curug Cihurang berada di kawasan Taman Nasional Halimun Gunung Salak. Sedangkan Curug Ciherang ada di Sukamakmur. Curug Cihurang ini terkenal sebagai lokasi camping ground/tempat berkemah yang asik lho.

Letaknya tidak jauh dari gerbang masuk taman nasional. Masuk ke dalam kawasan curug ini kita perlu membayar 10 ribu/orang. Parkir motornya 5 ribu saja.

Kemarin, aku ke sana nekat, menerobos pembatasan sosial berskala besar dengan motor yang mati pajak. Sempat diputar-putar oleh Google Maps karena kepengen mencoba jalan yamg tembus di Kalisuren. Karena mengetiknya Jalan Raya Parung, eh malah, diarahkan ke jalan yang melewati Inkopad, yang sama saja bohong (karena jadi memutar jauh). Alhasil aku baru sampai di kaki Gunung Salak sekitar jam 9.

Tujuan utamaku sebenarnya pengen ke Curug Ciampea. Entah kenapa malah diarahkan ke Curug Ciputri Tenjolaya. Bagus sebenarnya pemandangannya saat menuju ke sana. Hanya saja kami dicegat seorang warga. Dia bilang kawasan curug masih ditutup karena lockdown. Aku bertanya apakah taman nasional juga masih ditutup. Dijawab, iya. Ditutup semua.

Sedih rasanya mengingat perjalanan 40 km plus plus itu tidak menemukan hasil. Jadinya, aku mengambil foto-foto berlatar Gunung Salak saja, daripada nggak ada kenangan sama sekali.

Namun, apa salahnya mencoba ke gerbang taman nasional terlebih dahulu. Hasilnya? Yak, dibuka!

Sebelum masuk, petugas mengecek suhu terlebih dahulu. Tit tit. “35 derajat!”

Apa? Serius, Kang? Kan kalau 35 derajat itu tidak normal. Rusak itu alatnya.

Ini adalah kunjunganku yang kelima. Saat cek suhu itu aku bertanya, curug mana yang jalan kakinya nggak jauh. Soalnya sudah dua setengah bulan di rumah saja, nggak banyak gerak. Curiga badan nggak kuat kalau tereking jauh-jauh.

Sebenarnya tujuan utamaku ya ke Curug Ciampea. Namun karena katanya trekingnya sekitar 3 kilometer, niatku segera kuurungkan.

Alternatifnya, Curug Cihurang, Curug Ngumpet, Curug Pangeran. Aku sudah pernah ke Curug Ngumpet. Maka, menuruti si akang petugas, aku ke Curug Cihurang terlebih dahulu yang sebenarnya dari gambar tidak terlalu menarik karena debit airnya sedikit dibandingkan curug lain.

Kesimpupan pertama yang bisa kutarik saat masuk curug ini adalah Curug Cihurang sangat cocok untuk wisata keluarga. Bukan karena tampak beberapa keluarga duduk menggelar tikar, anak-anak bermain air… Tapi memang suasananya terbentuk sedemikian rupa, nyaman untuk orang-orang yang menyukai alam, tapi tidak sulit ditempuh.

Motor saja bisa masuk persis di dekat curug. Jadi, kita nggak perlu usaha treking sama sekali juga sudah sampai ke curugnya. Di sisi kanan dan kiri, tanahnya relatif datar. Tenda-tenda berdiri. Ini lokasi yang disukai sekali buat berkemah karena datar dan banyak tanah lapangnya. Apalagi di tengah-tengahnya ada sungai kecil yang mengalir dengan bebatuan yang indah sekali.

Kebersihannya terjaga. Tidak terlihat ada sampah. Bahkan pohon-pohon di sekitar curug tampak dipangkas rapi.

Curugnya sendiri terdiri dari dua mata air terjun. Mata pertama mengalir di bebatuan yang di bawahnya tidak ada kolamnya. Jadi air jatuh mengikuti lekukan bebatuan dan kita tetap bisa mandi pancuran. Mata kedua, air jatuh dari ketinggian sekitar 4-5 meter. Debitnya memang tidak besar. Di bawahnya ada kolam air yang sengaja dibuat dengan kedalaman kurang dari 1 meter. Sayangnya, hari itu airnya tidak terlihat bening dibandingkan dengan Balong Endah misalnya.

Setelah mengambil beberapa foto, tanpa berenang, aku pun beranjak menuju spot selanjutnya.

Ya, bukannya tidak merekomendasikan curug satu ini, hanya saja kalau masih pertama ke taman nasional, masih ada banyak pilihan curug yang lebih layak dikunjungi terlebih dahulu. Kecuali tadi, kamu membawa keluarga yang banyak anak-anaknya. Curug Cihurang ini termasuk yang paling aman untuk aktivitas keluarga.

Tips buat yang mau mendapatkan foto bagus: datang pagi-pagi sekali. Atau sengajakan kemah di sini. Jam 9 sudah terlalu banyak cahayanya. Saya kesulitan mendapatkan foto yang ciamik karena overexposured.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *