Puisi-puisi Indah Rizqi Dwiyanti

Bersama Ingatan Masa Lalu (Purwokerto, 14 April 2020) Jawablah dengan ingatan masa lalua Pernahkah? Terbesit rasa gundah di hatimu Bayang-bayang akan janji di masa itu Yang saat ini menyisakan tangis pilu Katakanlah dengan ingatan masa lalu Bahwa kau tak akan pernah melihat ke belakang Sekadar melihatku jatuh rapuh dengan isakan Ucapkanlah dengan ingatan masa lalu Bahwa hujan tak berarti apa-apa bagimu Kenangan di kala itu, ikut terhapus seiring derasnya hujan…

Sesudah Membaca “Fragmen: Sajak-sajak Baru” Goenawan Mohamad

Berkat WFH, aku jadi berkesempatan membaca lagi buku sajak Goenawan Mohamad. Judulnya “Fragmen: Sajak-sajak Baru”. Cetakan pertamanya September 2016. Rasanya aku punya dua buah buku ini. Keduanya kubeli dengan harga obral. 10 ribuan. Sedih memang bila melihat nasib buku sastra, apalagi puisi. Nasibnya seringkali berakhir diobral. Di satu sisi, aku senang sih karena mendapatkan buku GM yang sedemikian berharga dengan harga murah. Takut…

Puisi Pratama Okta

Cahaya Lorong //1// Aku seketika terbangun dari jerat mimpiku Dari luapan angan yang berseteru dengan masa kelam Dalam mimpi terlihat sosok perempuan terlintas buram Semakin kudekati, semakin jelas wajah pesona itu Tampak tak asing dengan pesona raut wajah si perempuan //2// Perempuan yang selama ini memberiku pelajaran Betapa indahnya rasa bersyukur kepada Tuhan Betapa indahnya menikmati proses kehidupan Nan hanya saja kelabu setelah ia berucap suatu perihal “ Jaga…

Puisi Aris Setiyanto

SEPANJANG JALAN CORNICHE sepanjang jalan cornichemenuju taman miadi mana ombak menghentak jiwaaku merindukan: tanah kelahiran—kibar dwiwarnadan keberadaanmu selaluyang bergerilya menjajahi hatiku seperti apa rasa kesepian?saat malam melepas layarmemaksa senja terasingkangelap menyesap secangkir kisahbertabur rerintik bintang satu sinar permintaankusatu sinar permohonankumelesatlah. oh, kabulkanlah! Temanggung, 15-10-2019 ALE seorang tanpa namabeta mencari ale di jalan-jalanmenuju sekolahanmenuju tempat kerjadi…

Tak Mungkin Tak Ada Puisi yang Bisa Aku Bawa Kembali ke Sumbawa

1.empat pengembara muda memutuskan memintamenjadi anak-anak lagi, ketika sebuah lampu tuamereka temukan di perjalanan, “kita tak akan lagibingung soal cinta, atau patah hati.” karena perasaan kadangkala terbagi sepertibertemu persimpangan, kanan, kiri atau lurus sajakemudian mereka berdebat arah mana lebih cepatuntuk mencapai kebahagiaan. kecuali dalam pendakian, mereka bersepakatuntuk mencondongkan badan lima belas derajatagar berkurang beban yang…

1 2 3 4 32