Bisnis yang Gagal: Mutiara

Tidak banyak yang tahu ada beberapa cerita pengalaman berbisnis yang pernah kujalani. Dan yah, sayangnya, pengalaman itu masih berbuah kegagalan. Pengalaman yang paling sering kukenang adalah berjualan mutiara. Kenapa? Karena jika saja aku bisa lebih serius menjalaninya, saat ini aku sudah kaya raya. Haha.

Perjalanan mengenal mutiara ini sebenarnya tidak sengaja. Mulanya, ada penjual mutiara di Sumbawa yang memiliki pelanggan tetanggaku. Ibu itu lantas menjajakan dagangannya ke rumah. Dia manis sekali menawarkan dagangannya sehingga kami pun tertarik membuat sebuah perhiasan mutiara. Liontin dengan 3 mutiara kecil yang diikat emas. Hasilnya cantik sekali.

Entah kenapa saya jadi sering berinteraksi dengan penjual mutiara tersebut. Muncul ketertarikan untuk ikut berjualan mutiara. Bagaimana kalau saya mempromosikan mutiara ini? Soalnya bagus sekali dan selisih harganya lumayan jauh dengan mutiara yang dijual di Sumatra.

Namanya kode alam, niat itu bersambut. Ibu itu mempercayakan barang dagangannya untuk dipromosikan. Saya membawa banyak stok mutiara saat pulang ke Palembang, dan omsetnya saat itu lebih dari 10 juta rupiah dengan keuntungan hingga 20% yang cukup untuk mengganti ongkos tiket pesawat.

Dari situ aku makin menyeriusi bisnis ini. Mencoba mencari ide lebih baik dalam berjualan mutiara. Sang Ibu pun menyambut ide dengan memberi saran bagaimana kalau membeli emas di Pegadaian. Nanti emas tersebut dilebur dan dibuat ulang dalam bentuk perhiasan yang diinginkan.

Suatu sore kami pergi ke Pegadaian dan berhasil membeli emas yang digadai di sana. Total 6 juta rupiah. Aku serahkan emas tersebut ke Sang Ibu untuk dibuat menjadi perhiasan baru dengan mutiara.

Namun, tak selamanya yang dikira indah memang indah adanya. Perhiasan ini tak kunjung jadi. Bisnisku mandeg, sementara tuntutan dari kawan di Palembang terus ada. Kawan yang sudah kukenal sejak zaman sekolah memang juga bersemangat menjadi rekanan jualan mutiaraku.

Akhirnya aku memberanikan diri mencari supplier lain. Kali ini asli orang Lombok. Kukenal dia dari web toko mutiara. Aku pun memulai perjalananku mencari mutiara di Lombok. Mutiara-mutiara laut, yang kemudian diborong oleh kawanku ini.

Harganya lebih murah dari harga Sang Ibu. Namun, secara kualitas sebenarnya ia tidak begitu jujur. Mutiara yang berwarna-warni, meskipun menarik, warnanya adalah buatan. Mutiara yang asli warnanya hanyalah hitam, silver, putih, dan kuning (dengan variannya). Mutiara yang berwarna pink, cokelat, itu sudah hasil campur tangan manusia.

Persoalan kedua adalah aku yang merasa tak cukup puas dengan harga-harga yang diberikan yang saat itu masih di atas 250 ribu/gram. Akhirnya aku mencari supplier lain yang bisa memberikan harga lebih murah. Dan sepertinya ia sadar, kalau aku bertanya harga kepadanya, aku membanding-bandingkan harga. Sikapnya berubah, tak seramah seperti awal-awal kenal.

Bagaimana soal cerita dengan Ibu pertama tadi? Ya, sayang sekali, emas itu tidak pernah kembali ke saya. Saya selalu tagih sampai akhir masa tinggal saya di Sumbawa, ia selalu berkelit dengan berbagai alasan. Lantas bagaimana solusinya? Saat kembali ke Jakarta, saya balik kasih tipu daya. Kebetulan saat itu ada teman yang sedang mencari mutiara. Sebenarnya saya sudah berhenti. Tapi saya jadi kepikiran untuk menelepon Ibu itu dan mengatakan kepadanya ada kesempatan bisnis mutiara lagi. Tapi saya butuh sampel. Dia pun dengan segera mengirimkan mutiara kepada saya yang nilainya tidak sampai 5 juta. Ya, benar, saya anggap itu ganti dari emas saya yang tidak ia kembalikan. Apakah saya jahat?

Kembali ke kisah perjalanan mencari mutiara di Lombok, sayangnya itu tak berakhir baik. Secara total, omset saya sepertinya sudah lebih dari 100 juta selama berjualan mutiara. Tapi semua itu berakhir begitu saja.

Kisah saya dengan kawan di Palembang dan Toko Mutiara Lombok retak. Ini dari perspektif saya yang mungkin berbeda dengan kawan saya itu. Mulanya, sang toko memajang gambar beberapa perhiasan mutiara yang siap jual. Bagus-bagus sekali. Kawan itu kepincut untuk membelinya terlebih dahulu sebelum dijajakan.

Masalahnya adalah total barang itu sekitar 50 juta. Apa saya punya duit? Ndak! Sementara kawan saya juga bilang tidak punya modalnya. Akhirnya saya pinjam uang dari ortu dan teman. Saya beli perhiasan itu dan kirim ke Palembang.

Nah, setelah itu barulah kawan saya ini bertanya bagaimana pembagian keuntungan? Dan kaget ketika mulanya ia menyebut 10%. Padahal modal dari saya, saya yang pergi bolak-balik ke Lombok dari Sumbawa dengan ongkos yang tak murah, belum ditambah capeknya. Pelajaran penting, berbisnis dengan orang, seakrab apa pun, segalanya harus jelas dari awal. Salah komunikasi bukan hanya menggagalkan bisnis tapi juga merusak pertemanan.

Di sisi lain mungkin dia merasa aku memark-up harga. Jadi, ya dia jengkel juga sama aku.

Kisahku dengan kawan itu berakhir di sana dan aku kembali mulai berjualan sendiri. Sang Toko Mutiara pun sudah mulai terkenal dan tak butuh aku banget. Dia sudah mulai jadi pembudidaya mutiara dan resellernya makin banyak sehingga aku yang ketahuan juga cari supplier lain tak begitu diindahkannya.

Supplierku yang lain adalah seorang ibu muda. Harga mutiara di dia lebih murah. Hanya kualitas emang bicara. Dari dia aku belajar bahwa jaringan mutiara di Lombok itu sangat panjang sekali. Dia saja tangan ketiga.

Tangan pertama adalah pembudi daya. Tangan kedua adalah pemborong yang membeli mutiara dalam jumlah besar. Tangan ketiga yang membelinya dalam skala ons. Di luar itu, pengrajin emas adalah entitas yang berbeda yang biasanya punya stok mutiara sendiri.

Nah, masalahnya adalah tiap dapat order perhiasan mutiara, sangat sulit sekali mengontrol pengrajin emas ini. Dari segi waktu. Dari segi hasil. Ini yang membuatku kelabakan gimana mengomunikasikannya kepada pelanggan karena molor mulu. Dan kadang salah pula.

Hubunganku dengan ibu muda ini awalnya baik, sangat komunikatif. Namun, kemudian ia terjun ke Paytren dan mulai tidak begitu fokus dalam berkomunikasi. Aneh, percaya betul dia dengan Yusuf Mansyur. Akhirnya, karena nggak sabar, ada pesanan yang membuatku mungkin kelewatan dalam mengkritiknya. Sebab salah, tidak sesuai spesifikasi. Dia pun berbalik marah kepadaku. Jadinya, end.

Saat sudah vakum berjualan itu, salah satu pelangganku, ibu-ibu dari kepolisian mengabarkan bahwa ada tetangganya jual mutiara langsung dari Sekotong (pusat mutiara). Kuiyakan untuk bertemu. Dan bagus-bagus sekali mutiaranya. Harganya sangat miring pula.

Mungkin itulah yang namanya adrenaline rush. Atau tertipu sesaat. Nggak sadar kok bisa ada mutiara bagus tapi murah banget. Malamnya, aku mulai ragu dan kuteslah. Kunyalakan lilin. Kubakar. Awalnya tidak kenapa-kenapa. Tapi masih ragu. Kubakar lebih lama dan yak…. lapisannya mulai meleleh. Ternyata palsu saudara-saudara!

Segera kuinfokan ibu-ibu kepolisian mengatakan bahwa mutiaranya palsu. Sang ibu tidak percaya karena ibu-ibu kapolres pun beli. Saya terangkan kondisinya. Dia menangis karena sudah beli 20 juta. Sementara saya tak sampai 5 juta. Ya sudahlah.

Di situ saya berpikir mungkin memang jodohku dengan mutiara itu hanya sebentar. Atau aku yang gagal naik kelas dengan berbagai cobaan yang ada!

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *