Belajar Mengelola Keuangan Demi Kebebasan Finansial

Sabtu lalu aku mengikuti webinar tentang Bijak Mengelola Keuangan yang diadakan oleh Amar Bank. Pematerinya seorang Perencana Keuangan Senior, Aidil Akbar Madjid.

Satu hal yang kusesali adalah kesadaran untuk belajar mengelola keuangan itu termasuk datang terlambat. Andaikata sejak masih kuliah aku sudah bijak mengelola keuangan, pasti akan ada hasil yang sudah terpampang nyata sekarang.

Hal yang paling penting adalah memanajemen keuangan dengan membagi pos-posnya terlebih dahulu. Sejak awal, langsung pisahkan antara tiap kebutuhan. Terutama kalau yang punya usaha. Segera pisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.

Aku pribadi langsung membagi penghasilan itu ke dalam beberapa rekening. Ada yang memang untuk operasional keluarga. Ada yang untuk kebutuhan lain-lain. Sehingga terpantau segalanya, agar tak sampai ada pengeluaran tak terduga.

Rasio untuk pos-pos itu adalah 40 : 30 : 20 : 10

  • 40% diperuntukkan untuk kebutuhan operasional rumah tangga, mulai dari kebutuhan sehari-hari, biaya anak sekolah, bensin, hingga pulsa dan listrik.
  • 30% diperuntukkan untuk cicilan yang bersifat produktif. Dalam hal ini cicilan tersebut boleh saja berupa cicilan rumah atau tanah karena nilainya yang tidak mungkin berkurang. Bisa juga berupa cicilan untuk modal usaha.
  • 20% diperuntukkan untuk investasi, asuransi, atau tabungan terencana.
  • 10% sisanya digunakan untuk dana sosial, having fun, dan dana darurat.

Nah, sebelum itu penting untuk melakukan financial check up. Ini sebenarnya upaya untuk menilai berapa “kekuatan finansial” kita saat ini. Apakah sudah cukup kuat dan sehat? Financial check up ini menghitung semua kekayaan yang kita miliki, aset-aset kita, juga utang kita. Negara saja punya batas rasio utang terhadap PDB, maksimal 60%. Jangan sampai utang kita terlalu banyak. Kalau terlalu banyak, kita harus menguranginya terlebih dahulu sebelum mengacu pada rasio pembagian pos keuangan di atas.

Alhamdulillah, sejak saya menerapkan rasio itu beberapa tahun lalu, profil keuangan saya tampak lebih baik. Ada beberapa keputusan penting yang saya buat untuk dapat mengelola keuangan.

Misalnya, dalam hal berinvestasi, saya memilih P2P Lending. P2P Lending adalah jenis investasi yang cukup aman. Kita melakukan pembiayaan untuk proyek-proyek tertentu. Ada pertanian, perikanan, hingga properti. Lebih aman karena OJK sudah mensyaratkan asuransi di sana. Imbal hasilnya rata-rata mencapai 15% juga.

Sebagai ASN, saya mendapatkan fasilitas pinjaman dengan bunga rendah. Setahun tidak sampai 6%. Dengan demikian, kalau saya investasikan di P2P Lending saya akan mendapatlan keuntungan sekitar 9% setahun (sebelum dipotong pajak). Saya hanya perlu mencari titik keseimbangan untuk cicilan pokok pinjaman tersebut.

Nah, di sini poin utang harus ditekankan sekali lagi memang ditujukan untuk hal-hal yang sifatnya produktif. Jangan sampai utang ditujukan untuk hal-hal konsumtif. Apalagi untuk gali lobang tutup lobang. Jangan deh.

Keputusan utang untuk investasi itu sesungguhnya memanfaatkan ruang fiskal yang ada. Menciptakan ruang fiskal bagi keuangan keluarga itu penting juga.

Misal saat ini penghasilan kita sebulan 15 juta. Sisihkan 6 juta langsung untuk operasional rumah tangga. 4,5 juta untuk cicilan. 3 juta untuk investasi. Dan 1,5 juta untuk dana sosial, having fun, dana darurat itu tadi. Gimana ruang fiskalnya?

Tentu operasional rumah tangga tidak bisa diganggu gugat. Saya serahkan itu ke istri sepenuhnya. Kalau lebih karena dia bisa mengelolanya, itu jadi hak dia dong.

Tadinya cicilanku tahun ini tuh sekitar 5,5 juta. Terpaksa, dana untuk investasi kualokasikan 1 juta dulu ke sana. Tahun ini satu cicilan lunas. Tercipta ruang fiskal sekitar 2,5 juta. Maka di situ bisa bridging, aku bisa mengambil cicilan maksimal 2,5 juta dengan keuntungan maksimal. Itu seharian kuhitung di Excel beneran.

Ruang fiskal sebenarnya bisa diciptakan dengan dua cara. Menekan pengeluaran dan menambah penghasilan. Inilah kenapa kami juga punya beberapa pekerjaan sampingan. Istri jualan baju online. Saya menulis.

Masalahnya tidak semua orang bisa mendapatkan fasilitas pinjaman seperti saya. Karena itu lahir pinjaman online yang sepertinya mudah meminjamkan tanpa jaminan apa-apa. Hanya pakai aplikasi, cepat pula cairnya. Contohnya seperti Tunaiku.

Cuma ya memang harus hati-hati melakukan pinjaman online. Meminjam di bank saja kita membutuhkan penilaian yang memadai atas kemampuan finansial kita kan…

  • Hal yang Harus Dipertimbangkan Ketika Memilih Pinjaman
  • Terpercaya & Reputable
  • Terdaftar Di OJK
  • Limit relatif besar
  • Cicilan bisa panjang
  • Jaminan?
  • Bunga kompetitif
  • Ada Aplikasi (online) di Platform

Kalau untuk modal usaha, ya kita harus menghitung berapa keuntungan yang akan kita dapatkan supaya bisa menutup bunga yang harus dicicil per bulan itu. Kembali lagi sangat penting untuk menilai dengan baik kemampuan finansial kita agar keputusan pembiayaan dilakukan dengan bijak dan tepat sasaran.

Pring

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di Subdit Pembinaan Proses Bisnis dan Hukum, Direktorat Sistem Perbendaharaan. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini suka jalan-jalan.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *