All posts by Pringadi As

Pringadi Abdi Surya. Dilahirkan di Palembang, 18 Agustus 1988. Pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009. Sekarang tengah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Lulusan Akuntansi Pemerintahan STAN 2010 ini baru saja memenangkan Treasury Writer Festival 2013, sebuah apresiasi yang diberikan oleh Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan kepada para pegawainya yang berkecimpung dalam kepenulisan. Juga menjadi salah satu pengelola http://www.perbendaharaankata.com yang menjadi wadah literasi Ditjen Perbendaharaan ke depannya.

Puisi Pringadi Abdi | Dari Pembalut Hingga UFO, Keduanya Tak Punya Perasaan

Jika Kamu Bertanya Padaku tentang Perasaan

Aku akan mengajakmu ke bioskop. Sebuah film yang tayang di hari terakhir.
Semua bangku kosong, kecuali kita
Ketika lampu dimatikan, bayangkanlah sang produser, sang sutradara menyimak dua orang tolol di Cine Crib menganalisis seolah karib
dengan segala pikiran yang tersembunyi.
Sepanjang film, mata kita terpaku ke layar
Aku tak menggenggam tanganmu. Aku tak tahu di mana tanganmu.
Udara dingin yang tak alami itu
berusaha melempar semua praduga kita ke kutub.
Lalu waktu berlalu begitu saja. Kita bahkan tak hapal siapa-siapa saja
yang memerankan setiap tokoh. Kita bahkan lupa alasan kenapa kita memutuskan menonton film itu bersama-sama.

(2019)

Pelajaran Pertama Membeli Pembalut

Ia masuk minimarket, mengambil keranjang
mondar-mandir di lorong sambil berpura-pura melihat barang
Sesekali ia menengadah ke arah CCTV
Semoga ia tidak terlihat seperti pencuri

Ia tidak mencari tissue basah, tidak juga butuh popok
untuk anaknya yang baru berusia dua tahun
Yang lahir lebih kecil dari ukuran kebanyakan
Yang kini ia awasi betul-betul pertumbuhan, terutama lingkar kepala dan berat badan
Ia melongok ke atas rak, mencari pembalut wanita
Meski ia laki-laki

Ia pikir begitulah cara memulai untuk bisa memahami perempuan
Misi berbahaya, tak boleh salah
Sebuah pembalut yang memiliki sayap
Tak boleh tak bersayap
Meski tak tahu betul apa bedanya

Begitulah salah satu cara menjadi lelaki sejati
Setelah tak mampu berbuat apa-apa saat melihat wanita datang bulan,
mengandung, melahirkan, menyusui, dan sendiri
di rumah, menunggu kereta yang tak punya perasaan
mengantarkan lelakinya pulang ke rumah

(2019)

Dia Percaya pada UFO

Dia percaya pada UFO, pada yang asing, pada
yang tak dikenal, pada yang diragukan dan diperdebatkan,
pada sesuatu yang membuat orang penasaran
sekaligus mampu menghadirkan ketakutan.

“Jika suatu saat sebuah UFO raksasa
muncul di tengah kota
membunuh umat manusia, apa
kamu masih percaya pada Tuhan?”

Begitu pertanyaan muncul di kepalanya
dan dia bahagia jika ia mampu lari
dan bertahan atau tidak bertahan.

(2019)

Sebuah Catatan dari Bincang Dua Buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” dan “Kita Dua Kurva Saling Terbuka”

Minggu (8/9), akhirnya terselenggara bincang dua buku “Sejumlah Pertanyaan tentang Cinta” karya Pringadi Abdi Surya  dan “Kita Dua Kurva Saling Terbuka” karya Nugroho Putu. Dimoderatori oleh Bamby Cahyadi, perbincangan berlangsung hangat. Dari diskusi yang hangat itulah, aku menulis sebuah catatan kecil dari beberapa hal baru yang kudapatkan di sana.

Acara ini sempat berubah-ubah karena awalnya tanggal 31 Agustus 2019, bincang dua buku ini direncanakan di Chicking, Plasa Kalibata. Kemudian karena aku tugas di Danone Blogger Academy, acara mundur menjadi tanggal 8 September sekaligus berubah tempat ke Chicking Depok, Theatre Food di Margonda.

Tentang Dua Kurva yang Saling Terbuka

Saat aku diminta memberi pendapat tentang buku “Kita Dua Kurva yang Saling Terbuka” aku mulanya membayangkan bentuk kurva yang dimaksud itu seperti apa.

Kurva dibentuk oleh  X dan Y, gabungan dari beberapa titik koordinat pada diagram kartesius. Frasa “yang saling terbuka” membuatku membayangkan dua kurva yang saling berbelakangan. Satu terbuka ke atas. Satu terbuka ke bawah.  Satu berada pada Y positif. Satu berada pada Y negatif. Dan dari bentuk tersebut, bisa kupahami makna pada satu koordinat, perjalanan sang kurva menemui titik terendahnya, di saat kurva satunya justru mengalami titik tertingginya. Ketika menjadi “kita”, ada proses saling melengkapi antara kurva A dan B, antara “kamu” dan “aku”.

Namun, konfirmasi dari Mas Putu sangat luar biasa. Latar belakang frasa itu muncul dari sebuah buku berjudul “Strategi Kebudayaan” karya Cornelis Anthonio Van Peursen.  Mas Putu kemudian menjelaskan isi buku tersebut, tentang tiga tahap kebudayaan yakni dari mitos, ontologis, dan fungsional.

Tahap mitos ialah sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yaitu kekuasaan dewa-dewa alam raya. Di sini, manusia terkurung dalam lingkaran.

Tahap ontologis adalah sikap manusia yang tidak lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan secara bebas ingin meneliti segala hal ihwal, Manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dirasakan mengepung manusia. Namun, “lucunya” manusia dalam tahap ini membahas dunia seakan-akan tidak berada di dalam dunia.

Nah, Tahap fungsional ini menarik. Pada tahap ini manusia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Manusia dan dunia saling menunjukkan relasi, di mana manusia sebagai subyek (S) masih berhadapan dengan dunia (O), tetapi bukan lagi sebagai sesuatu yang bulat tertutup, melainkan subjek terbuka bagi objek dan sebaliknya.

Dua Kurva yang Saling Terbuka tersebut adalah tahaf fungsional dalam Strategi Kebudayaan tersebut. Keren ‘kan penjelasannya?

Bunyi sebagai Gerak

Kita Dua Kurva yang Saling Terbuka

Bukan Bamby Cahyadi namanya kalau tidak usil menggali pendapat. Lebih lanjut memandang puisi Nugroho Putu, aku berangkat dari kecurigaan pada latar belakang beliau. Begini, aku percaya, pengenalan awal seseorang pada sastra akan berpengaruh terhadap cara menulisnya.

Secara garis besar aku membedakannya menjadi tiga hal/kelompok. Kelompok pertama, menulis puisi dari kamar. Pendekatan yang dilakukan oleh penyair jenis pertama adalah lirisisme. Puisi mereka (termasuk saya) cenderung rapi. Manis. Ada emosi yang ditahan-tahan. Kelompok kedua, menulis puisi sebagai aktivis. Maka pendekatan penulisan yang biasanya terjadi adalah puisi yang meletup-letup, mengutamakan kalimat puitik yang menjadi sentra semacam jargon. Dan ketiga, menulis sebagai gerak. Biasanya, orang yang berteater akan mempunyai ciri khusus berupa bunyi sebagai gerak. Berbeda dengan penyair kamar yang fokus terhadap teks, penyair jenis ketiga fokus terhadap bunyi.

Bunyi sebagai gerak ini kadangkala melampaui makna leksikal, gramatikal, semantik, hingga sintaksis. Sehingga perlu memejamkan mata, mengucapkan puisi tersebut guna melahirkan efek bunyi tertentu yang bisa menghasilkan nuansa tertentu.


Kira-kira begitulah sedikit-banyak pendapatku. Saya menantikan Mas Nugroho Putu menuliskan hasil catatannya terhadap buku puisiku. Hehe.

Hari yang indah, habis makan di Chicking, makan pula ke Imperial Kitchen.

 

Beberapa Dampak yang Terjadi Jika Oli Mesin Habis

Baik itu motor maupun mobil, pastinya mesinnya membutuhkan oli mesin agar dapat mengurangi gesekan saat kendaraan digunakan. Untuk pemilihannya, kita harus membeli oli yang tepat agar kinerja mesin dapat berfungsi dengan baik dan umurnya yang panjang. Tidak ada salahnya kita membelinya di mobil.co.id karena secara lengkap mereka menyediakan jenis-jenis oli yang harganya kompetitif.

Terlepas dari itu, kita pun harus memperhatikan kapasitas oli sebelum digunakan. Cara mengeceknya sangat mudah. kita dapat memakai deep stick yang sudah memiliki garis levelnya sehingga kita bisa memperkirakan sampai mana batas kapasitas oli kendaraan kita.



Tapi, jika levelnya menunjukan garis yang terlalu rendah, tentu harus menjadi perhatian. Kekurangan bahkan kehabisan oli akan mengakibatkan berbagai masalah. Berikut beberapa dampak yang akan terjadi: Continue reading Beberapa Dampak yang Terjadi Jika Oli Mesin Habis

Mengenal Majas Sinekdoke Pars Pro Toto dan Totem Pro Parte

Majas sinekdoke pars pro toto dan totem pro parte, pernah mendengar kedua majas tersebut?  Aku yakin sekali hanya sebagian dari kita yang masih mengenal keduanya. Tentang kedua majas sinekdoke ini padahal pernah kita pelajari saat masih duduk di bangku SMP lho.

Sinekdoke adalah gaya bahasa yang menggunakan kata dengan maksud yang menunjukkan hal lain di luar kata yang diungkapkan. Sebagian orang mengatakan bahwa sinekdoke adalah majas perbandingan. Sebagian lagi bilang sinekdoke adalah majas pertautan. Sinekdoke ini terbagi menjadi 2 macam yaitu Pars Pro Toto dan Totem Pro Parte.

majas sinekdoke pars pro toto dan totem pro parte

Majas Sinekdoke Pars Pro Toto

Majas sinekdoke pars pro toto adalah majas yang menyatakan suatu objek yang utuh dengan suatu bagian dari objek itu.

Contoh majas pars pro toto yang paling umum adalah dalam kalimat, “Sejak kemarin aku tidak melihat batang hidung Zane.”

Frasa “batang hidung” merupakan majas pars pro toto. Batang hidung adalah sebuah bagian kecil dari Zane. Padahal frasa tersebut bermaksud untuk menyatakan Zane seutuhnya, tidak sebatas batang hidungnya saja.

Contoh lainnya ada frasa “seekor beruang”. Tentu bukan cuma ekornya beruang yang dimaksud, melainkan beruang seutuhnya.

Contoh majas sinekdoke pars pro toto juga dapat ditemukan dalam kalimat berikut ini:

  • Untuk dapat memasuki bioskop itu, per kepala diwajibkan membayar tiket seharga Rp10.000.
  • Warga Kendeng terpaksa angkat kaki dari tanah pemerintah yang sudah didiaminya selama puluhan tahun.
  • Kukirim sepucuk surat cinta ini untuk mengobati rasa rindu yang semakin menggebu.
  • Dari pintu ke pintu, aku mencoba menawarkan dagangan.
  • Gamelan yang dimainkan dalam acara itu berhasil memanjakan telinga pengunjung yang datang.

    Baca Juga: Diksi dalam Puisi


Majas Sinekdoke Totem Pro Parte

Majas sinekdoke totem pro parte adalah kebalikan dari majas sinekdoke pars pro toto.

Gaya bahasa totem pro parte adalah majas yang menyebutkan bagian besar dari sesuatu untuk mewakili sebagian atau menyatakan suatu bagian dari objek dengan objek lain yang lebih luas maknanya.

Contoh majas totem pro parte yang paling sering digunakan misalnya, “Indonesia baru saja kalah dari Malaysia dengan skor 2-3.”

Tentu saja maksud kalimat di atas adalah berhubungan dengan tim nasional sepakbola Indonesia yang kalah bertanding melawan tim nasional sepakbola Malaysia. Bukan menyatakan negara Indonesia secara keseluruhan melawan negara Malaysia.

Selain pada kalimat di atas, contoh majas sinekdoke totem pro parte juga bisa dilihat di dalam kalimat berikut:

  • Menjelang musim hujan, warga RT 01 sedang mengadakan kerja bakti membersihkan selokan.
  • SMA N 1 Sragi, Lampung Selatan berhasil menyabet juara 1 di semua lomba dalam acara peringatan 17 Agustus ini.
  • Penelitian-penelitian yang dilakukannya menjadi masukan bagi perkembangan teknologi Indonesia masa kini.
  • Liverpool mencetak gol kemenangannya pada menit ke 90.
  • Polri berhasil meringkus kawanan  begal yang sering beraksi di daerah Palembang.
  • DPR berusaha melemahkan KPK.

Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Makna leksikal dan makna gramatikal itu apa? Bedanya bagaimana?

Beberapa hari lalu ada yang bertanya seperti itu di salah satu WAG Menulis.  Dalam tulisan Diksi dalam Puisi, aku sempat mengutip bahwa sebelum menentukan pilihan kata, seorang pengarang harus memerhatikan masalah makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Dan  menurut (Chaer, 1994:60), terbagi atas beberapa kelompok yaitu, salah satunya yaitu Makna Leksikal dan Makna Gramatikal.

Makna Leksikal

Sederhananya, makna leksikal adalah makna kamus. Makna ini bersifat tetap. Tidak berubah.



Ribetnya begini:

Leksikal adalah makna yang bersifat leksikon, yang sesuai dengan referennya, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Makna leksikal merupakan gambaran nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata tersebut. Sebuah kata yang memiliki makna leksikal sudah jelas bahwa tanpa konteks pun memiliki referen atau makna langsung (Chaer, 2013: 59).

Tidak susah memahami makna leksikal ini. Contohnya kata “Mata”. Artinya ya, “indra untuk melihat”. Fix begitu.

Makna Gramatikal

Nah, kalau makna leksikal tadi tetap, tidak berubah, lain halnya dengan makna gramatikal. Makna gramatikal adalah makna yang berubah-ubah sesuai dengan konteks tata bahasa. Kata tersebut sudah mengalami proses gramatikalisasi, baik pengimbuhan, pengulangan, atau pun pemajemukan

Ribetnya begini:

Makna gramatikal ialah makna yang timbul akibat peristiwa tata bahasa, yaitu proses melekatnya bentuk kata (morfem) yang satu dengan bentuk yang lain. Bentuk (morfem) / ber / , / me-l / secara lepas atau berdiri sendiri belum memiliki makna. Morfem tersebut memiliki makna setelah bergabung dengan bentuk lain, peristiwa ini disebut proses morfologi.

Contohnya:
Bermata               : memiliki mata
Memata-matai : mengamati secara diam-diam
Continue reading Makna Leksikal dan Makna Gramatikal

Dream Island Mertasari Beach di Sanur Bebas Sampah

Dream Island Beach atau juga dikenal sebagai Pantai Mertasari adalah salah satu pantai di Bali yang punya keunikan. Kemarin, aku mengunjungi pantai tersebut dalam agenda BEBAS SAMPAH PLASTIK. Bersama teman-teman Danone Blogger Academy 2019, aku ikut serta memunguti sampah plastik di sepanjang pantai.

Aku nggak akan banyak bercerita tentang fakta bahwa Indonesia itu penyumpang sampah nomor 2 terbesar ke laut. Ironisnya, Indonesia sebenarnya bukanlah penghasil sampah terbesar. Artinya apa, di banyak negara, sampah sudah bisa dikelola dengan lumayan baik. Sedangkan di Indonesia, “mengelola sampah” berarti membuang sampah sejauh-jauhnya dari pandangan mata. Salah satunya, ke sungai, atau ke laut.

Pantai Mertasari bebas sampah

Sekilas, saat mulai memegang capit dan karung, kupikir pantainya sudah bersih. Di tepinya, hanya ada sampah rumput laut saja. Ternyata tidak, Gaes.

Banyak banget sampah plastiknya. Sebagian besar sampah rumah tangga seperti bekas bungkus sampo, bumbu masak, dan makanan.

Saat memungutnya, kita harus jeli. Kita harus memisahkan sampah yang bisa didaur ulang kembali dengan sampah-sampah residu seperti kain, popok, sisa pembalut. Bayangkan lho, ada sampah pembalut di pantai!


Baca Juga: Pantai Terindah di Sumbawa Barat



Partai Mertasari yang Indah

Dream Island Beach
Sumber: Kaskus

Pantai Mertasari ini sebenarnya indah banget, Gaes. Pantai ini adalah salah satu spot yang bisa jadi tempat melihat matahari terbit (sun rise) dan matahari tenggelam (sun set) sekaligus. Soalnya, pantai ini menghadap ke utara. Jadi matahari akan terlihat di sisi kiri atau kanan pantai.

Dream Island Mertasari ini juga sudah dikelola dengan baik. Pantai ini cocok banget buat jadi arena bermain keluarga karena ada ada berbagai wahana yang bisa dimainkan anak-anak. Bahkan naik unta pun bisa di sini.

Dream Island Mertasari Beach

Buat spot foto, Pantai Mertasari juga menyajikan ayunan seperti yang pertama kali ngehits banget di Gili Trawangan. Selain itu, ada dermaga kayu. Di ujungnya ada pohon mangrove kecil. Tak jauh dari situ, ada pohon mati yang batangnya menarik banget buat jadi tempat berfoto.

Kalau mau ke Mertasari…

Dream Island Mertasari Beach terletak di jalan Tirta Empul, Sanur, Bali dekat dengan daerah hutan mangrove. Untuk mencapai pantai tersebut, kita dapat melalui jalan Danau Poso Sanur kemudian belok ke selatan menuju jalan Pengembak dan langsung tembus ke pantai. Namun banyak orang lebih sering menuju Dream Island Mertasari Beach dari Jalan Danau Poso belok ke selatan menuju Jalan Sekar Waru kemudian belok kanan lalu ketemu pertigaan dengan pohon beringin besar di tengahnya lalu belok ke kiri dan sampailah di Pantai Mertasari. Di sana kamu akan langsung menemukan jembatan kayu yang merupakan jalan masuk menuju ke Dream Island.


Baca Juga: Keindahan Pantai Menganti



Dream Island Mertasari Beach Bebas Sampah

pantai bebas sampah

Biasanya kalau ke pantai, aku langsung pengen berenang. Namun, kalau melihat sampah, keinginan itu jadi terkubur. Aku berpesan banget buat siapa saja yang membaca tulisan ini. Tolong jangan buang sampah sembarangan. Mari bersama-sama belajar pengelolaan sampah biar nggak asal buang ke sungai, yang akhirnya menuju juga ke laut. Dan kalau berwisata, tolong sampahnya diletakkan pada tempatnya.

Keindahan alam itu harus kita jaga. Nggak usah jauh-jauh dulu sampai memikirkan penyu yang tersiksa karena sedotan plastik. Cukup tanya pada dirimu, apakah masih betah kalau berenang di pantai yang banyak sampah?