pringadi dan novel phi

Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

oleh W. Hanjarwadi  (Sumber)

Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika.

Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram alir (flowchart).

Dalam ilmu pemprograman komputer atau matematika, diagram alir diwakili oleh algoritma dan alir kerja (workflow) atau proses yang menampilkan simbol-simbol grafis berurutan yang saling terkoneksi oleh garis alir. Ada terminal awal atau akhir yang disimbolkan dengan rounded rectangle. Ada langkah atau proses yang disimbolkan dengan rectangle. Proses akan mengantarkan pada sebuah kondisi atau keputusan tertentu—disimbolkan dengan rhombus—yang berfungsi untuk memutuskan arah atau percabangan yang diambil sesuai dengan kondisi tertentu hasil dari proses atau tindakan.

Di titik rhombus inilah selalu ada dua keluaran (output) untuk melanjutkan aliran kondisi yang berbeda. Misalnya, keputusan memilih A akan menghasilkan keluaran yang berbeda dengan jika keputusan memilih B—atau boleh jadi tetap menghasilkan keluaran sama dengan rangkaian langkah yang berbeda. Takdir pun seperti itu. Ia adalah kepastian hasil pilihan yang ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi, jika seseorang memutuskan mengambil pilihan A, apakah pilihan B yang diabaikan itu akan gugur begitu saja? Atau, hipotesis tentang dunia paralel oleh para fisikawan itu memang benar adanya sehingga pilihan B tetap bergerak membentuk dunianya sendiri pada sisi yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya melahirkan PHI, novel terbaru Pringadi Abdi Surya yang dirilis akhir Agustus lalu. Berangkat dari teori relativitas Albert Einstein, PHI bercerita tentang kegelisahan seorang pemuda genius bernama Phi yang beberapa kali diseret ke masa lalu oleh Sakum. Dalam novel yang kental dengan nuansa realisme magis ini, Sakum digambarkan sebagai sosok imajiner yang selalu menghantui hari-hari Phi—hanya Phi yang bisa melihat keberadaan Sakum. Kesempatan kembali ke masa lalu itu pun digunakan Phi untuk membuat pilihan yang berbeda dari pilihan yang pernah ia ambil sebelumnya. Ia ingin tahu apa yang terjadi dalam hidupnya ketika mengambil pilihan yang pernah ia tinggalkan.

Semua dilakukan Phi karena pilihan hidup yang ia ambil sebelumnya hanya mengantarkannya pada pedihnya derita asmara. Phi, si anak pungut yang sepanjang hidupnya selalu diracuni perasaan terbuang itu cintanya selalu kandas di tengah jalan. Lantas, apakah pilihan lain yang diambil dari kehidupan masa lalu itu akan mengantarkan Phi pada takdir yang berbeda? Silakan membaca novelnya. Yang pasti, melalui novel yang mendapat peringkat 11 besar pada Lomba Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2014 lalu itu, Pringadi berusaha menyodorkan sebuah cerita romantis yang dibangun di atas fondasi sains dan psikologi. Agak menjelimetmemang, tapi menarik.

“Dalam novel ini sebenarnya banyak detail latar belakang psikologis. Perlakuan seperti itu akan membentuk manusia seperti apa sih? Di situ ada hal traumatis,” tutur Pringadi saat berbincang dengan Majalah Pajak, akhir September lalu.

Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

Dari hobi baca

Bagi sebagian pencinta genre sastra, nama Pringadi Abdi Suryo barangkali sudah tidak asing lagi. Cerita pendek (cerpen) dan puisi-puisi pria yang kesehariannya bekerja di Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan ini sudah banyak dimuat di banyak media masa nasional. Ia juga sudah menerbitkan beberapa buku fiksi, seperti novel Empat Musim Cintayang ia tulis dengan tiga orang temannya, Simbiosa Alina yang ia tulis bersama cerpenis Sungging Raga, Dongeng AfrizalHari yang Sempurna untuk Tidak Berpikir, dan beberapa buku lainnya.

Kecintaannya pria kelahiran Palembang 18 Agustus 1988 pada dunia literasi ini bermula dari hobi membaca yang ia tekuni sejak kecil. Masuk di bangku SMA, ia pun sudah terbiasa membaca sejumlah buku berat, seperti buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, dan lain-lain.

“Sejak kecil saya terdidik untuk banyak membaca. Bacaan di SMA, kalau fiksi hampir semua novel Indonesia terbit saya baca. Komik saya baca—saya penggila komik. Kalau yang nonfiksi, kebanyakan kalau enggak buku filsafat ilmu, sains, filsafat agama, ya sejarah. Karena di rumah, kan, koleksi Bapak banyak buku sejarah,” tutur pria yang pernah terpilih menjadi Duta Bahasa Sumatra Selatan 2009 ini.

Kemampuan menulis Pringadi pun kian terasah saat ia didapuk sebagai pemimpin redaksi di buletin yang diterbitkan oleh sekolahnya. Bagi duta Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan 2016 ini, awalnya menulis hanyalah upaya untuk menyampaikan perasaannya. Pringadi yang dulu mengaku tak pandai bicara itu memilih menuangkan perasaan dan atau gagasannya melalui tulisan. Dan menurutnya hal itu sangat efektif. Terutama ketika ia sedang jatuh cinta.

“Menulis itu sebenarnya melalui beberapa fase. Pertama, seperti orang pada umumnya menulis karena suka kepada seseorang. Mereka enggak pandai ngomong, jadi mengungkapkan perasaan kepada orang yang kita sukai ternyata itu bisa dilakukan lewat tulisan,” selorohnya.

Titik balik

Penulis muda yang 2014 lalu terpilih pada ajang Makassar International Writers Festival 2014 dan ASEAN Literary Festival 2016 ini pernah menjadi mahasiswa Matematika di Institut Teknologi Bandung, meski hanya empat semester sebelum akhirnya drop out (DO). Pringadi mengaku saat itu DO karena ia jarang masuk kuliah. Belakangan ia baru menyadari, tekanan pendidikan sejak kecil membuatnya frustrasi—Pringadi memulai pendidikan sekolah dasarnya pada usia empat tahun.

“Saya masuk SD umur 4 tahun. Harusnya, kan, enggak boleh. Dan selama sekolah itu dituntut selalu berprestasi. Setelah dia keluar rumah (kos di Bandung) kayak enggak punya beban apa-apa. Jadi, lebih kayak merayakan kebebasan dari melakukan kesalahan. Intinya saya broken heart-lah waktu itu.”

Setelah DO dari ITB, ia pindah haluan melanjutkan pendidikannya di STAN. Meninggalkan Bandung ternyata justru memberikan titik balik tersendiri bagi produktivitasnya dalam menulis. Ia mulai aktif dalam komunitas literasi untuk mengasah kemampuannya menulis.

“Di internet saya melihat salah satu komunitas menulis, saya gabung ke situ. Tahun 2007 mulai menulis puisi. Waktu itu menulis memang untuk pelarian, tapi lama kelamaan makin serius untuk dijalani. Akhirnya menemukan alasannya sendiri. Cara untuk berdialog dengan diri sendiri bisa lewat tulisan. Kadang kita terlalu sibuk mikirin banyak hal, tapi lupa mikirindiri sendiri yang benar-benar diri kita.”

Kini, di tengah kesibukannya sebagai pengawai negeri sipil, Pringadi masih produktif menulis. Tulisannya kian serius. Dari yang semula sekadar dokumentasi perasaan, menulis juga menjadi ajang menyampaikan gagasan atau kritik terhadap fenomena yang menyulut kegelisahannya. Ia juga bisa menyisihkan waktunya untuk mengisi kelas menulis gratis di beberapa komunitas. Meski terkadang hanya melalui dunia maya (on-line).

Hal itu dia lakukan karena ia merasakan betul betapa susahnya awal-awal memulai menulis tanpa kehadiran pembimbing atau teman yang bisa diajak bertukar pikiran. Tak jarang ia hanya menjadi epigon dari karya-karya yang dibaca. Kalaupun ada teman, kala itu kebanyakan teman sesama pemula sehingga banyak keingintahuan yang tak terjawab

“Karena itu, saya suka kalau ada orang yang memang niat ingin tahu, mengajukan pertanyaan, dalam suasana yang karib. Apalagi kalau tulisan mereka sampai dimuat di koran. Rasanya bahagia. Di sisi lain, membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

“Membagi pengetahuan itu juga secara enggak langsung memaksa saya buat belajar lebih banyak. Itu ibarat menempatkan kita pada posisi yang mengharuskan kita untuk terus jadi lebih baik.”

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *